Sang Murid Sosialisme

[ Batara N Simatupang ]
 
0
202
Batara N Simatupang
Batara N Simatupang | Tokoh.ID

[DIREKTORI] Hampir separuh abad ia tinggal di luar negeri. Akhirnya adik kandung Jenderal TB Simatupang ini pulang ke Indonesia. Mantan asisten Prof. Dr Sadli, ini ingin kembali jadi warga negara Indonesia, setelah beberapa waktu lalu terpaksa menjadi warga negara Belanda. Dia juga berceritera mengapa ia tertarik pada sosialisme.

Setinggi-tinggi bangau terbang, pulangnya ke kubangan juga. Metafor itu, agaknya, cocok ditujukan kepada Doktor Batara Ningrat Simatupang yang setelah Orde Baru tumbang dia pulang ke Indonesia. Dia berkumpul dengan keluarga, saudara dan teman-temannya di Indonesia, setelah terpisah selama 43 tahun, di antaranya teman sekelas ketika kuliah di Amerika dengan Dr. Emil Salim dan Dr Saleh Afif. Juga bertemu Prof Dr Sadli, Sabam Siagian, Dr Syahrir, Sitor Situmorang, dan puluhan ekonom lainnya.

Lelaki kelahiran 25 Mei 1932 di Pematang Siantar, Sumatera Utara, ini bahkan telah menjadi warga negara Belanda, sampai kini. Ada keinginan kembali jadi WNI? “Ada sih, sekarang saya tengah mencoba menyesuaikan diri di sini. Cuma, melihat kenyataan, belum ada kejelasan. Tapi kalau ada kepastian masih bisa, ya tinggallah di Indonesia, saya tidak mau menyombongkan diri sebagai patriotik dengan mengatakan right or wrong is my country,” kata Batara kepada GAMMA.

Batara keluar dari Indonesia pada 1959 setelah lulus sebagai sarjana ekonomi dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Ketika mahasiswa, Batara merangkap sebagai asisten Prof. Dr Sadli pada Lembaga Penelitian Ekonomi dan Masyarakat. Maka, tak aneh, ketika lulus sebagai sarjana ekonomi, Batara dikirim oleh UI melanjutkan studinya untuk program S2 di Stanford University, di Palo Alto, Amerika Serikat. “Saya keluar dikirim oleh FE-UI, saya dulu kan asisten fakultas, saya di sana belajar bersama Emil Salim, Saleh Afif, dan beberapa teman lain,” kata Batara lagi.

Di Stanford, dia hanya dua tahun (sampai 1961). “Tadinya saya di sana untuk studi, tetapi pimpinan Fakultas Ekonomi UI menginginkan saya untuk mempelajari Ekonomi Sosialisme, jadi saya dari Amerika langsung dikirim untuk belajar dan mengadakan penelitian di Beograd, Yugoslavia,” katanya. Di Beograd, ia tinggal dua tahun. Kemudian, sejak 1963-1964, ia mengikuti Higher Course in National Economic Planning di Warsawa, Polandia, juga atas perintah pimpinan FE UI.

Usai itu, Batara kemudian studi untuk meraih gelar doktor dalam Ilmu Perekonomian Sosialis di Universitas Warsawa. Tapi tugas itu tak selesai. “Karena, tahun 1966 saya dinyatakan Kedutaan Indonesia di Warsawa, orang yang tidak mempunyai iktikad baik terhadap Indonesia. Dengan alasan itu, mereka mencabut paspor saya. Lalu saya minta suaka dari pemerintah Polandia, dan mereka memberikan waktu boleh tinggal sampai 1969,” kata Batara, tamatan HIS di Pematang Siantar.

Keluar dari Polandia, Batara mendapat suaka di Jerman Barat, tinggal di Kota Mainz pada 1970. Di Jerman Barat, lulusan SMA/VHO Jalan Batu, Jakarta, itu tinggal sepanjang 1970-1977. “Untuk bisa hidup, saya bekerja sebagai buruh kasar di pabrik cat, sambil kuliah di Universitas Mainz,” katanya. Dari Jerman Barat, Batara pindah ke Belanda. Atas beasiswa dari Vrije Universiteit di Amsterdam, Belanda, pada 1978-1979, Batara mengadakan penelitian tentang “Sejarah Perekonomian Indonesia”.

Batara bekerja sebagai dosen di Fakultas Ekonomi Universiteit van Amsterdam dengan spesilaisasi perekonomian Sosialis Eropa Tengah & Timur pada 1980. Ketika itu, ia banyak menulis mengenai Ekonomi Sosialis Polandia dan Eropa Timur di jurnal ilmiah Belanda dan International, di seminar-seminar dan sering menjadi pembahas masalah ekonomi di Radio Nederland Hilversum. “Saya memang punya perhatian besar terhadap sosialisme, antara lain, karena dikirim untuk mempelajari sosialisme,” katanya.

Dan setelah hampir 15 tahun stateless (tanpa kewarganegaraan), akhirnya pada 1985 ia jadi warga negara Belanda. Dan hingga kini masih tinggal di negeri bunga tulip itu. Pada 11 April 1985 ia menikah dengan Dra. Sekartini Markiahtoen Nawawi di Amsterdam. “Istri saya orang Jawa Barat, sebelumnya dosen IKIP di Bandung,” katanya. Kemudian, pada Februari 1992, ia memperoleh gelar PhD dalam ilmu ekonomi setelah berhasil mempertahankan disertasinya berjudul “The Polish Economic Crisis 1979-1982, dari Universitet van Amsterdam.

Penerbit Rout Legde, London, menerbitkan disertasinya itu menjadi buku berjudul The Polish Economic Crisis pada 1994. Selanjutnya, sejak Mei 1995, Batara measuki masa pensiun dan kemudian diangkat sebagai peneliti tamu (guest research fellow) pada Fakultas Ekonomi Universiteit van Amsterdam. Saat usianya memasuki 65 tahun, pada 1997, Batara pun pensiun.

Selama rezim Orde Baru berkuasa, Batara tak diizinkan masuk ke Indonesia. Akibatnya, ia tak bisa melihat ibunya, Mina boru Sibuea. Tapi, di usia 82 tahun, pada 1974, Mina terpaksa terbang ke Singapura, untuk bertemu dengan anak ketujuhnya tersebut. Tapi, tatkala Mina meninggal di usia 94 tahun, pada 1986 di Porsea, Batara tak bisa datang karena tak diizinkan masuk Indonesia. “Tapi setelah Orde Baru tumbang, saya mudah masuk ke Indonesia, tak ada persoalan. Dan kalau kesehatan saya baik, saya akan tiap tahun datang ke Indonesia, tinggal empat sampai enam bulan,” katanya.

Mengapa tertarik dengan sosialisme? Menurut penuturan Batara, bahwa tren pemikiran pada waktu itu adalah tren pemikiran kiri sosialisme. Jadi tahun 60-an sampai pertengahan 70-an di Eropah, pemikiran untuk pembangunan ekonomi, hanya melalui pemikiran jalan kiri sosialisme, keluar dari imperialisme ekonomi dunia dengan mengambil contoh pembangunan di Uni Soviet dan Cina. “Waktu di Stanford, saya mendapat seorang professor, Paul Barant, tokoh kiri di Amerika. Dia memberikan inspirasi buat saya untuk mempelajari sosialisme, model pembangunan sosialis, dan sistem sosialisme. Itu salah satu motif,” katanya.

Pada waktu itu, kata Batara, memang teori ekonomi pembangunan banyak diilhami oleh praktek pembangunan di Uni Soviet dan Cina. Buku mengenai ekonomi pembangunan juga berdasarkan contoh dan pengalaman dari negeri-negeri sosialis Eropa Timur. Banyak teori pembangunan yang terbit meminjam beberapa pengalaman dari Uni Soviet. Pembangunan di India tahun 50-an sampai 60-an juga berdasarkan pengalaman pembangunan Uni Soviet. Jadi India lebih dulu dari Indonesia membuat model apa yang disebut pembangunan lima tahun. Model ini diciptakan oleh seorang ekonom India, yaitu Mahala Noubiss. Mahala mengambil pengalaman Uni Soviet.

“Jadi memang pembangunan Eropa Timur, Uni Soviet, dan Cina merupakan sumber inspirasi bagi dunia ketiga untuk mengadakan pembangunan, pertumbuhan ekonomi di Timur Jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Barat, pada waktu itu, sedangkan Eropa Barat mengalami depresi yang mendalam,” kata Batara.

Tapi, kini apakah sosialisme masih relevan? Batara mengaku masih terus mengamati perkembangan keadaan di Eropa Timur, bekas Uni Soviet, atau negeri-negeri yang mengalami proses transisi dari ekonomi perencanaan sentral atau ekonomi komunis ke ekonomi pasar. Ternyata apa yang terjadi adalah kesulitan besar. Kemunduran ekonomi dan sosial yang tercipta sebagai akibat dari transisi dari ekonomi sosialis ke ekonomi pasar ini, biayanya sangat mahal, antara lain, tercermin dari resesi ekonom yang sangat besar.

Kejatuhan pendapatan domestik bruto yang sangat besar, konsumsi sosial yang sangat menurun, tingkat kesehatan yang sangat buruk, apalagi di negeri-negeri bekas Uni Soviet. Hongaria, Polandia, Ceko relatif agak masih baik. Sementara di Rusia, Ukrania, sampai ke Asia Tengah, kemunduran produksi, tingkat konsumsi sosial, tingkat kesehatan menurun. “Jadi tidak memberikan hasil seperti apa yang diharapkan. Boleh dikatakan, malapetaka. Tapi, kalau kita lihat yang terjadi di Cina, yang mengadakan reformasi sejak 1978, malah sangat baik,” katanya. Sarluhut Napitupulu & Evi Agustin

Data Singkat
Batara N Simatupang, Dosen dan Peneliti / Sang Murid Sosialisme | Direktori | Dosen, UI, peneliti

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here