Rohaniawan Nasionalis

[ Albertus Sugiyopranoto ]
 
0
145
Albertus Sugiyopranoto
Albertus Sugiyopranoto | Tokoh.ID

[PAHLAWAN] Rohaniawan Katolik yang nasionalis ini dikenal dengan semboyan “100 persen Katholik, 100 persen Indonesia”. Uskup Agung pertama Indonesia ini menunjukkan kecintaannya pada negara dengan meniadakan sifat kebarat-baratan dalam upacara gereja Katolik di Indonesia.

Kedatangan tentara Jepang di tanah Jawa membuat ketenangan rakyat kala itu menjadi terusik. Tak terkecuali di bidang keagamaan. Hal ini dapat terlihat ketika gereja Katedral Randusari, Semarang akan dipakai sebagai kantor pemerintah Jepang. Tentu saja kenyataan tersebut memunculkan reaksi penolakan dari masyarakat terutama umat Katolik. Tak terkecuali Sugiyopranoto yang dikenal sebagai Uskup Agung Semarang kala itu. Pria berdarah Solo itu pun dengan tegas menentang rencana tersebut.

Hal itu tersirat jelas pada sebaris kalimat yang ia ucapkan pada Syucokan (Residen Jepang), “Katedral itu barang dan tempat yang disucikan. Saya tidak akan memberi izin. Penggal dulu kepala saya baru tuan boleh memasukinya”. Sebagai seorang pastor yang mempertahankan integritas gerejanya dari ancaman Jepang, pria yang lahir pada tanggal 25 November 1890 itu dengan gagah berani melancarkan protesnya pada Jepang hingga mempertaruhkan nyawanya.

Awalnya, Sugiyopranoto menempuh pendidikan formalnya di Sekolah Dasar Katolik di kota kelahirannya, Solo. Setelah itu ia hijrah ke Muntilan. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, ia kemudian melanjutkan studi di Sekolah Guru. Tamat dari Sekolah Guru pada tahun 1915, ia memulai karirnya sebagai guru selama satu tahun. Setelah itu ia mengikuti pendidikan imamat yang menjadi awal kegiatannya dalam bidang keagamaan. Guna memperdalam pengetahuan di bidang agama Kristen, bahasa Latin, bahasa Yunani, dan filsafat, Sugiyopranoto dikirim ke Belanda.

Sesudah menyelesaikan pendidikan di Belanda, ia kembali ke Tanah Air dengan nama Frater Sugiyo. Kemudian ia bekerja sebagai guru Ilmu Pasti, bahasa Jawa dan Agama di bagian Sekolah Guru pada Kolese di Muntilan. Di sela-sela kegiatannya sebagai seorang pengajar, ia masih sempat memimpin penerbitan mingguan berbahasa Jawa, Swara Tama. Di media tersebut ia banyak menulis tentang tari Jawa, pakaian adat Jawa, hubungan antara Barat dan Timur, dan lain sebagainya. Salah satu buah pikirannya yang terpenting ialah mengenai penyesuaian ajaran Katolik dengan kebiasaan bangsa Indonesia.

Setelah mempelajari bahasa dan filsafat, pada tahun 1928 Frater Sugiyo kembali mendapatkan kesempatan untuk belajar ke negeri Belanda guna memperdalam ilmu theologi. Di masa itu pula ia mewakili frater-frater Indonesia menghadiri perayaan kepausan di Roma. Pada tahun 1931, ia ditasbihkan sebagai imam.

Setelah lima tahun berada di Eropa, ia kembali ke Indonesia pada tahun 1935. Kiprahnya sebagai seorang pemuka agama semakin menanjak dengan pengangkatannya sebagai Pastor Pembantu di Bintaran. Setelah Pastor Pembantu, ia kemudian terpilih menjadi Pastor Paroki.

Integritasnya sebagai seorang pemuka agama yang sudah tak diragukan lagi membuatnya terpilih sebagai penasihat Misi Jesus di Pulau Jawa. Dua tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1940, ia diangkat menjadi Vikaris Apostolik untuk memangku jabatan keuskupan. Dengan pengangkatannya tersebut, ia sekaligus menjadi putra Indonesia pertama yang menjadi Uskup Agung.

Di zaman penjajahan Jepang, ia berhasil mempertahankan kewibawaan dari ancaman Jepang. Gereja mengatasi segala perbedaan politik dan ideologi agar dapat memusatkan perhatian pada kaum miskin yang senantiasa menjadi korban penindasan dan penjajahan. Hal itu dilakukan tanpa memandang golongan, suku, agama maupun aliran politik.

Predikatnya sebagai rohaniawan tak menghalanginya untuk menunjukkan rasa nasionalisme yang tinggi. Baginya tak ada kontradiksi atau pertentangan antara seorang Katolik dengan seorang nasionalis yang membela tanah airnya. Seperti semboyan yang selalu didengungkannya “100 persen Katholik, 100 persen Indonesia”.

Dari tata cara peribadatannya, gereja Katolik saat itu dipandang terlalu kebarat-baratan oleh sejumlah kalangan. Frater Sugiyo adalah imam Katolik yang untuk pertama kalinya menunjukkan kecintaannya pada negara dengan meniadakan sifat kebarat-baratan dalam upacara gereja di Indonesia. Seperti yang dilakukannya pada gereja-gereja di Jawa dengan mengganti musik organ atau piano dengan alunan alat musik tradisional khas Jawa, gamelan.

Perubahan tak hanya dilakukan pada alat musik yang biasa digunakan dalam peribadatan umat Katolik. Bentuk bangunan gereja pun turut di-Indonesia-kan dengan model bangunan yang lebih bercorak Indonesia. Untuk mewujudkan hal itu, ia mengirim Pastor Y.B Mangunwijaya untuk mempelajari ilmu arsitektur di Jerman Barat. Tujuannya agar pastor itu dapat mempelopori bangunan-bangunan gereja bercorak Indonesia setelah menyelesaikan studinya di Jerman.

Sebagai seorang Uskup Agung, ia berusaha agar gereja Katolik hadir di tengah masyarakat dengan mendorong umat untuk menemukan corak penghayatan agama yang berakar dalam masyarakat Indonesia. Gereja tidak berarti bangunan atau gedung tetapi lebih dalam arti kehadiran yang mengabdi di tengah masyarakat. Untuk itu, ia mengirim banyak pastor ke luar negeri untuk belajar berbagai bidang ilmu agar kelak dapat menjawab kebutuhan masyarakat dan negara. Hal tersebut mencerminkan kepeduliannya yang tinggi dalam menyuarakan pentingnya menanamkan rasa nasionalisme bahkan untuk hal kecil sekalipun. Itu juga merupakan kontribusi nyatanya dalam menyerasikan tradisi Barat dan Timur.

Saat kemerdekaan Indonesia diproklamirkan, ia segera menyatakan dukungan atas Republik Indonesia. Sikapnya tersebut seakan menjadi panutan bagi umat Katolik-Indonesia dalam perjuangan. Karena tak dipungkiri, peran mereka dalam mempertahankan kemerdekaan bangsa dan negara amatlah penting. Frater Sugiyo juga berjuang menentang anggapan yang menyamaratakan gereja dengan pemerintah kolonial Belanda.

Sikap itu sekaligus menghapus dugaan bahwa umat Katolik-Indonesia akan berdiri di belakang Belanda karena persamaan agama. Demikian pula ketika kelompok tentara Belanda datang ke pastoran dan meminta Uskup menurunkan bendera merah putih. Frater Sugiyo dengan tegas menolak dengan mengatakan bahwa Semarang adalah Indonesia dan Belanda sudah pergi. “Kalau Tuan dapat merebutnya kembali dari rakyat barulah Tuan dapat memaksa saya”, mendengar ucapan sang Uskup Agung tersebut, tentara Belanda itu pun akhirnya pergi.

Dalam semangat mempertahankan kemerdekaan pula, ketika Belanda melancarkan agresi militer ke-2 yang terjadi antara tahun 1948 hingga 1949, ia memutuskan untuk menetap di Yogyakarta. Kepindahannya itu sekaligus menegaskan sikapnya untuk berpihak kepada Republik Indonesia yang masih berusia muda. Dari Yogyakarta ia menyatakan bahwa agresi militer Belanda yang intensif yang diumumkan sebagai Aksi Politionil tetapi dilaksanakan dengan cara perang atau militer hanya akan berbuah kesusahan dan penderitaan kepada ribuan orang. Karenanya, di masa mendatang tidak menguntungkan bagi kerja sama yang diharapkan akan berlangsung hangat atas dasar persamaan derajat menurut hukum dan keadilan.

Seakan tak mengenal kata lelah dalam melakukan perjuangan, ia tak henti mengobarkan semangat berjuang seluruh pemuda Katolik agar bahu membahu membela negara serta terlibat aktif dalam urusan negara.

Pada pertengahan Oktober 1945 meletus pertempuran sengit antara pemuda dengan pasukan Jepang yang dikenal dengan nama “Pertempuran Lima hari di Semarang”. Pasukan Inggris kemudian mendarat di kota itu untuk melucuti tentara Jepang ketika pertempuran tengah berlangsung. Seorang komandan tentara Inggris meminta izin uskup untuk menggunakan Pastoran Gedangan sebagai tempat perundingan dengan Jepang. Uskup mengizinkannya, tetapi mendesak agar segera diadakan gencatan senjata antara pasukan Indonesia dengan pasukan Jepang.

Meski gencatan senjata telah diberlakukan namun di beberapa tempat pertempuran masih terjadi. Melihat situasi tersebut, sebagai pemimpin umat Katolik di Keuskupan Agung Semarang, Frater Sugiyo mengutus dua orang bernama Dwijosiswoyo (Katholik) dan Kadarisman (Islam) untuk pergi ke Jakara menyampaikan permintaan agar Presiden RI segera mengirim utusan untuk secepatnya menangani kemelut di Semarang. Akhirnya permintaan itu mendapat respon dari pemerintah pusat dan kekacauan dapat dicegah dengan dikirimkannya Mr. Ikhsan sebagai utusan RI.

Di awal tahun 1963, kesehatan Frater Sugiyo mulai menurun. Karena itu ia perlu mendapatkan pengobatan di Eropa sekaligus menghadiri sidang Konsili Vatikan II di Roma. Mgr. Sugiyopranoto kemudian meninggal dunia di Nijmegen, Belanda akibat serangan jantung dan sesak nafas pada 10 Juli 1963. Jenazahnya dibawa ke Indonesia dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Giritunggal, Semarang.

Atas jasa-jasanya kepada negara, Mgr. Albertus Sugiyopranoto dianugerahi gelar sebagai Pahlawan Pembela Kemerdekaan berdasarkan SK Presiden Republik Indonesia No. 152 Tahun 1963, tanggal 26 Juli 1963. e-ti

Data Singkat
Albertus Sugiyopranoto, Pastor Paroki / Rohaniawan Nasionalis | Pahlawan | Pahlawan, Guru, pembela kemerdekaan

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here