Ingin Unik dan Apa Adanya

[ Oppie Andaresta ]
 
0
73
Oppie Andaresta
Oppie Andaresta | Tokoh.ID

[SELEBRITI] Penyanyi yang namanya meroket lewat tembang Cuma Khayalan ini dikenal sebagai musisi yang banyak membawakan lagu-lagu bertemakan kritik sosial. Selain itu, ia juga banyak menyoroti masalah-masalah kaum perempuan. Pilihan jalur musiknya yang ‘menentang arus’ terbukti membuatnya nyaris tidak memiliki saingan di genre yang ditekuninya.

Karir perempuan yang populer dikenal dengan nama Oppie Andaresta ini diawali pada tahun 1990. Saat itu, ia menggunakan nama aslinya, Ovie Ariesta dengan merilis single Satu Macam Saja (1990) yang bernuansa pop-rock. Selain itu, ia juga sempat berduet dengan Mayangsari, lalu bertrio dengan Mayangsari dan Lady Avisha membawakan lagu-lagu slow rock.

Namanya baru melejit saat album perdananya dirilis tahun 1993. Saat itu, ia mengganti namanya menjadi Oppie Andaresta. Album berjudul Albumnya Oppie itu cukup mendapat tempat di hati para pecinta musik Tanah Air. Di album perdananya itu, Oppie tak hanya bertindak sebagai penyanyi tapi juga produser sekaligus pencipta lagu. Single andalannya Cuma Khayalan langsung menjadi hits kala itu. Tembang andalan lain dari album tersebut adalah Cuma Karena Aku Perempuan dan Pasir Putih.

Dua tahun berselang, Oppie meluncurkan album keduanya yang diberi judul Bidadari Badung. Dalam pemilihan judul, Oppie memang dikenal sebagai musisi yang cenderung “nyentrik”. Aliran musiknya pun boleh dibilang menentang arus. Tapi, hal itu justru berdampak positif pada eksistensinya. Terbukti, ia nyaris tak punya saingan di genre yang ditekuninya.

Tentang hal itu, Oppie mengakui bahwa setiap karya yang dia buat harus menonjolkan sisi unik. Ia mengaku selalu ingin mencari suatu hal yang beda dan tidak sama atau pasaran dengan musisi lainnya. “Ya, harus yang unik, dan pengen cari yang beda, yang unik,” ujarnya. Dengan membuat sesuatu yang berbeda dan unik, Oppie pun tetap bertahan di blantika musik Indonesia. Mengingat banyaknya saingan yang semuanya bisa dikatakan bagus-bagus, susah memang sebuah band atau penyanyi bisa bertahan lama.

Di tahun 1998, Oppie merilis album ketiganya, Berubah. Jika pada album pertama dan kedua ia banyak dibantu oleh Bimbim dan Kaka yang notabene adalah personil grup band Slank, di album ketiganya ia menggandeng mantan personil Slank, Bongky dan Indra. Wanita berdarah Minang ini memang dikenal dekat dengan sejumlah musisi dari Gang Potlot itu.

Di album yang rilis bertepatan dengan krisis ekonomi itu, ia mengandalkan lagu Nananana (Berakit Rakit 1). Pada lagu yang bercerita tentang tingkah laku anak muda modern yang sudah mulai kehilangan aturan itu, ia memasukkan unsur etnik Minang. Hanya saja, tidak seperti album-album sebelumnya yang berhasil menelurkan beberapa hits, album ini hanya berhasil mencetak satu hits saja.

Meski 1998 adalah tahun krisis, kreativitas Oppie Andaresta tidak ikut mengalami krisis. Buktinya, di tahun itu ia tidak hanya merilis album rekaman tapi juga ikut mendukung pertunjukan teater dan bermain dalam film layar lebar arahan sutradara Riri Riza yang berjudul Kuldesak.

Di usianya yang ke-29 tahun, tepatnya pada 23 September 2000, Oppie mengakhiri masa kesendiriannya dengan menerima pinangan seorang warga negara Amerika keturunan Jerman, Kurt Laster di Masjid Pondok Indah, Jakarta Selatan. Kurt yang juga berprofesi sebagai musisi itu sangat mendukung karir sang istri. Memasuki tahun ketujuh usia pernikahan, mereka dianugerahkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Kai Matari Bejo Kaler.

Sebagai istri seorang warga negara asing yang memiliki segudang perbedaan budaya, Oppie mengakui rumah tangganya memiliki tantangan tersendiri. Namun bukan berarti setiap perbedaan itu harus disikapi dengan perselisihan. Baginya, komunikasi dan saling pengertian adalah kunci penting dalam setiap rumah tangga.

Kurt baginya, sosok suami yang amat pengertian terhadap pekerjaan istrinya. Ketika Oppie sibuk, Kurt tak segan-segan menggantikan posisinya menjaga dan merawat si buah hati, Kai. Namun, seperti rumah tangga pada umumnya, Oppie juga mengakui bahwa mereka juga pernah bertengkar. “Misalnya, Kai waktu itu sedang batuk sehingga tidak aku perbolehkan berenang, tapi Kurt mempermasalahkan dengan mengatakan, Apa hubungannya batuk dengan berenang?” Menurut Oppie, perbedaan budaya seperti itu terkadang menjadi kesulitan tersendiri dalam membesarkan anak. Namun Oppie bersyukur, apapun masalahnya, semua dapat diselesaikan dengan baik.

Pada tahun 2001, Oppie mengeluarkan album keempatnya, Hitam Ke Putih. Dalam album ini, Oppie berubah menjadi lebih dewasa. Album yang berisi 20 lagu dengan dua single andalan yang berjudul Hanya Kau Yang Bisa dan Aku Pernah ini perilisannya sempat dicekal pihak Kejaksaan Negeri dengan alasan yang tidak pasti.

Tahun 2003 Oppie kembali merilis album bertajuk Lagu Bagusnya Oppie, kali ini dengan menggandeng Universal Music Indonesia. Album ini berisi dua lagu terbaru, Bintang Jatuh dan Asal Tau Sama Tau serta 10 lagu terdahulu dengan aransemen baru. Lagu-lagunya yang dulu kondang seperti Cuma Khayalan, Na Na Na, Untung VS Buntung, Ingat-Ingat Pesan Mama, dan Cuma Karena Aku Perempuan juga hadir di album Lagu Bagusnya Oppie ini.

Setelah sempat lama tidak terdengar kabarnya karena sibuk mengurus keluarga pasca kelahiran putranya pada tahun 2007, di awal tahun 2009, Oppie kembali ke dunia musik dengan merilis single terbarunya I Am Single, I Am Very Happy. Lagu itu awalnya diciptakan Oppie untuk dibawakan oleh penyanyi lain, tapi banyak yang menyarankan agar ia yang menyanyikannya sendiri. “Aku senang sekali karena ternyata karyaku masih diterima,” katanya menanggapi saran tersebut.

Single tersebut diakui Oppie terinspirasi dari teman-temannya yang sudah memasuki usia matang, tapi belum menikah. Makanya saat lagu itu diluncurkan, banyak yang mengucapkan terima kasih kepadanya. Ia pun merasa senang bila kemudian lagu itu bisa mewakili perasaan banyak orang. Ia berharap, mereka akan mendapat pasangan di waktu yang tepat dan cara yang indah.

Yang menarik, Oppie tidak merilis dalam bentuk album, namun hanya dalam bentuk single. Hal ini lantaran keprihatinannya akan tingkat pembajakan album yang cukup tinggi di Indonesia.

Selain masalah sosial pada umumnya, ibu satu anak ini sangat peduli terhadap nasib kaum hawa. Membuktikan kepeduliannya tersebut, bertepatan pada perayaan hari Kartini, 21 April 2009 misalnya, ia meluncurkan tiga single, yakni Habis Gelap Terbitlah Terang, Seperti Kartini, dan Wanita Indonesia. Lagu itu ia peruntukkan bagi wanita Indonesia. Oppie mengatakan, melalui lagu-lagunya itu ia ingin mencoba membangun kepercayaan diri perempuan dalam menjalani hidup. Hasil penjualan tiga lagu itu akan disumbangkan untuk program pemberdayaan perempuan di Indonesia.

Di samping itu, ia menjelaskan bahwa lagu Wanita Indonesia yang diciptakannya hanya dalam waktu 20 menit itu mencoba mengingatkan masyarakat, bahwa banyak perempuan Indonesia yang berprestasi. Ia juga berharap lagu itu bisa memberi semangat bagi perempuan lain yang belum beruntung.

Bertepatan dengan momen hari Kartini 2009, Oppie didaulat menjadi Duta Perempuan oleh 6 Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Dengan keterlibatannya di LSM itu, ia ingin menginspirasi perempuan Indonesia untuk terus bermimpi dan berani mewujudkannya. Selain itu, ia juga kerap menjadi pembicara dalam berbagai seminar. Bersama aktivis Baby Jim Aditya, ia juga rutin melakukan kampanye HIV/AIDS untuk perempuan.

Di penghujung tahun 2010, ia kembali menyapa para penggemarnya dengan karya teranyarnya, sebuah single berjudul Mau Have Fun. Lagu yang bercerita tentang perempuan itu disebutnya sebagai proyek idealis. Pasalnya, single tersebut dibuat lewat jalur Indie. Meski demikian, ia tetap optimis karyanya bisa dinikmati oleh pendengar musik Indonesia. Oppie yang juga aktivis perempuan ini mengungkapkan rasa salutnya kepada sesama musisi Indie yang lebih mementingkan sisi idealis daripada komersil.

“Ya salut aja sama band indie. Biarpun jarang perform, tapi lagu-lagunya, kan keren. Mereka memang jarang terdengar di industri, tapi karyanya beda dan unik. Karena saya sendiri juga suka sama lagu yang unik dan beda dari yang lain,” tutupnya.

Tidak hanya terhadap perempuan, Oppie juga menunjukkan kepeduliannya kepada sesama yang perlu bantuan. Pada tahun 2010, saat negeri ini banyak ditimpa musibah bencana alam, mulai dari banjir bandang di Wasior, tsunami Mentawai, hingga meletusnya Gunung Merapi misalnya, ia ikut memberikan sumbangan guna meringankan penderitaan para korban. Namun uniknya, ia tidak mengeluarkan dana secara langsung melainkan dengan melelang lagu yang pernah membawanya ke puncak popularitas, Cuma Khayalan. Ketika itu, lagu tersebut laku dilelang seharga Rp2,5 juta.

“Saya bangga ada di sini untuk meringankan saudara-saudara kita yang terkena bencana,” tutur Oppie sebelum menyanyi. Bagi Oppie, melelang lagu merupakan wujud kepedulian sosialnya terhadap korban-korban bencana. Sebagai penyanyi, ia mengatakan hanya itu yang bisa dia lakukan. e-ti | muli, red

Data Singkat
Oppie Andaresta, Penyanyi, Pencipta lagu / Ingin Unik dan Apa Adanya | Selebriti | Pencipta Lagu, Penyanyi, kritik sosial, aktivis perempuan

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here