Si Pemalu yang Pandai Berakting

 
0
164
Lidya Kandou
Lidya Kandou | Tokoh.ID

[SELEBRITI] Jalannya sebagai aktris film mulai terbuka lebar setelah tampil dalam film Wanita Segala Zaman di tahun 1979. Sejumlah penghargaan sudah ia terima diantaranya Piala Citra sebagai aktris terbaik untuk film ‘Boneka dari Indiana’ (FFI 1991) dan ‘Ramadhan dan Ramona’ (FFI 1992) dan Bintang Televisi Wanita Terfavorit dan Bintang Drama Wanita Terfavorit (Panasonic Award 1992).

Kehidupan Lydia Ruth Elizabeth atau yang populer dengan nama Lidya Kandou di masa lalu terbilang tidak berjalan dengan mulus. Sejak kecil, perempuan kelahiran Jakarta 21 Februari 1963 ini sering sakit-sakitan. Akibatnya, Lidya kecil tidak boleh terlalu gembira, tidak boleh terlalu kaget, dan terlalu sedih. Untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan, ia selalu dipisahkan oleh ibunya dari kakak-kakaknya dan dilarang bermain dengan saudara-saudara dan teman-temannya. Awalnya, ia sedih dan tak mengerti mengapa ibunya bersikap demikian. Akhirnya dia memahami bahwa apa yang dilakukan ibunya adalah untuk kebaikannya semata.

Akibat terlalu banyak menyendiri, ia tumbuh menjadi gadis pemalu dan tampil sederhana dalam bersikap maupun penampilan. Tawaran menjadi model menjadi terhambat karena sifat yang pemalu tadi. Kariernya bisa diraih setapak demi setapak berkat usaha orang-orang yang sabar membinanya. Ibunya selalu mendukung dan memberikan motivasi kepadanya hingga sedikit demi sedikit kepercayaan dirinya mulai tumbuh.

Lidya terjun pertama kali ke dunia hiburan sebagai model iklan Sakura Film. Setelah wajahnya semakin sering tampil di berbagai iklan, perempuan yang hobi memasak ini mulai mendapat tawaran bermain film di tahun 1979 setelah bertemu dengan sutradara Imam Tantowi. Lidya yang saat itu belum genap berusia 17 tahun diajak mendukung film arahan Has Manan, Wanita Segala Zaman. Meski tanpa latar belakang pendidikan dunia seni peran, Lidya langsung mengambil kesempatan itu. ”Pertama main film, gemeter, deh. Kaki kaku, tak bisa digerakkan,” ujar Lidya seraya mengenang masa lalunya.

Sebenarnya, aktingnya di film produksi Rapi Film itu dinilai biasa-biasa saja. Namun entah mengapa, meski kemampuannya ketika itu dianggap tak terlalu istimewa, para produser malah berbondong-bondong ingin mengontrak gadis blasteran Manado-Belanda itu. Dari yang awalnya kurang diperhitungkan, Lidya pun perlahan menjelma menjadi aktris yang kebanjiran tawaran berakting. Setelah melejit lewat Wanita Segala Zaman, di tahun yang sama, ia kembali berperan dalam film Kisah Cinta Rojali dan Juleha garapan Nya’ Abbas Akub.

Dalam film tersebut, Lidya tampil berakting dengan natural dan kali ini kemampuannya mulai mendapat pujian. Sejak saat itu, paras cantiknya semakin sering terlihat di berbagai judul film layar lebar terutama yang bertema percintaan remaja, diantaranya Melodi Cinta, Bunga-Bunga SMA, Mahkotaku Hilang, serta Seindah Rembulan. Saking larisnya, dalam setahun ia bisa teken kontrak empat hingga tujuh film sekaligus.

Kualitas aktingnya semakin matang dan namanya pun kerap masuk dalam nominasi aktris terbaik di ajang Festival Film Indonesia (FFI) di tahun 80 hingga 90-an, diantaranya lewat film Untukmu Kuserahkan Segalanya (FFI 1984), Kejarlah Daku Kau Kutangkap (FFI 1986), dan Cas Cis Cus (FFI 1990). Lidya baru berhasil membawa pulang Piala Citra pada FFI 1991 berkat aktingnya dalam film Boneka dari Indiana.

Pada awal 1980, Gope Samtani dari Rapi Film memberinya peran dalam film Aladin dan Lampu Wasiat. Dalam film yang diadaptasi dari dongeng Timur Tengah itu, Lidya beradu akting bersama Rano Karno. Produser Raam Punjabi dari Parkit Film juga tak mau ketinggalan mengontrak aktris yang tengah naik daun itu. Raam menawarkan peran kepada Lidya di berbagai film, antara lain 5 Cewek Jagoan dan Perawan Rimba. Film-film yang dilakoninya tersebut semakin menempatkannya dalam deretan artis papan atas Indonesia.

Kualitas aktingnya semakin matang dan namanya pun kerap masuk dalam nominasi aktris terbaik di ajang Festival Film Indonesia (FFI) di tahun 80 hingga 90-an, diantaranya lewat film Untukmu Kuserahkan Segalanya (FFI 1984), Kejarlah Daku Kau Kutangkap (FFI 1986), dan Cas Cis Cus (FFI 1990). Lidya baru berhasil membawa pulang Piala Citra pada FFI 1991 berkat aktingnya dalam film Boneka dari Indiana. Masih di tahun 1991, pengagum Christine Hakim ini juga terpilih menjadi Bintang Wanita Berbinar 1991 versi Pembaca Tabloid C&R. Setahun kemudian, ia kembali dinobatkan sebagai Aktris Terbaik dalam ajang FFI lewat film Ramadhan dan Ramona.

Laris dalam film-film remaja, wanita yang di masa mudanya sempat bercita-cita menjadi psikolog ini semula menolak adegan-adegan panas dan buka-bukaan. ”Ciuman juga gue ogah,” kata aktris yang hobi olahraga senam dan renang itu. Namun, ketika film- film remaja mulai surut, digantikan film legenda, komedi, dan seks, demi kelangsungan karirnya, ia mulai berubah pendirian.

Seiring popularitasnya yang kian menanjak, segala sesuatu tentang Lidya tak lepas dari perhatian masyarakat termasuk dengan kehidupan pribadinya yang kerap dihinggapi kabar miring. Sebagai public figur, risiko itu pun sudah jauh-jauh hari disadari Lidya. Oleh sebab itu, setiap kali tertimpa gosip tak sedap, ia enteng saja menghadapinya, ”Masuk telinga kiri keluar telinga kanan,” demikian kata Lidya.

Meski demikian, suatu kali ia pernah berurusan dengan pengadilan gara-gara pemberitaan sebuah media mingguan Jakarta yang memberitakannya berbuat mesum dengan aktor Herman Felani di sebuah hotel di Jakarta. Merasa nama baiknya tercemar, Lidya pun melayangkan gugatan. Setelah menjalani beberapa kali sidang, pengadilan memutuskan media tersebut bersalah dan diharuskan membayar ganti rugi sebesar Rp 20 juta. Sekalipun memenangkan perkara, Lidya mengaku kecewa atas putusan pengadilan lantaran media itu tidak meminta maaf untuk memulihkan nama baiknya. ”Gue seperti mendapat burung indah. Tetapi burung itu mati. Sama aja bo’ong,” katanya.

Di tahun 90-an, saat bioskop-bioskop Tanah Air tengah sepi dari film-film nasional, Lidya banting stir menjadi pemain sinetron. Ia berakting sebagai Merry istri komedian Jimmy Gideon dalam 250 episode sitkom Gara-Gara yang tayang di RCTI sejak tahun 1993. ‘Gara-Gara’ mencetak sukses sebagai serial komedi terpanjang, selama lima tahun masa penayangan. Ia juga kebagian peran dalam sinetron Selendang Sutra Biru, serta berperan sebagai ibu Agnes Monica dalam sinetron Pernikahan Dini.

Di usianya yang sudah tak muda lagi, ibu empat anak ini masih menunjukkan kebolehan aktingnya di berbagai judul sinetron. Lydia menjadi salah satu dari sedikit aktris senior yang mampu mempertahankan eksistensinya. Hebatnya lagi, meski puluhan tahun bergelut dengan kesibukan di dunia hiburan, kehidupan rumah tangganya dengan penyanyi Jamal Mirdad masih sanggup bertahan hingga saat ini meski keduanya berbeda keyakinan.

Lydia menikah dengan Jamal pada 1986. Karena masalah perbedaan agama, peristiwa pernikahan pasangan artis berbeda bidang itu menjadi begitu kontroversial. Lydia beragama Kristen sementara Jamal adalah seorang muslim. Tentangan dan kecaman dari tokoh agama dan masyarakat menghantam pasangan yang tengah dimabuk cinta itu secara bertubi-tubi. Terlebih ketika itu mereka berdua memang sedang berada di puncak karier, liputan berbagai media saat itu membuat peristiwa pernikahan beda agama ini semakin heboh. Meski demikian, perbedaan agama di antara keduanya tidak menghentikan langkah mereka menuju mahligai pernikahan, walaupun UU Perkawinan 1974 pasal 2 ayat 1 menyatakan : “Perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya”.

Untuk itu, sebuah perkawinan harus disahkan lebih dulu oleh agama yang bersangkutan sebelum didaftar ke Kantor Catatan Sipil. Konsekuensinya, banyak pasangan berbeda agama tidak dapat mendaftarkan pernikahan mereka di Kantor Catatan Sipil. Karena UU tersebut, bagi mereka yang akan menikah namun berbeda agama melakukannya secara diam-diam atau menikah di luar negeri. Namun pasangan Jamal-Lydia nekad menikah di Indonesia dan memperjuangkan status mereka mati-matian di Pengadilan Negeri. Setelah melewati perjuangan panjang dan melelahkan dan didasari cinta yang kuat di antara keduanya, akhirnya dengan bantuan pengacara, pernikahan mereka disahkan juga oleh pengadilan pada tahun 1995.

Ibunda Lydia termasuk pihak yang menentang habis-habisan pernikahan Lydia yang saat itu berumur 22 tahun dengan Jamal. Karena hal itu pula, sang ibunda pindah dari Jakarta ke Bandung. Lydia tahu bahwa ia menyakiti hati ibunya, maka dua hari sekali Lydia dan Jamal menemui ibunya. Namun dalam kunjungan-kunjungan itu, Jamal selalu menunggu di depan rumah. Selama kurang lebih setahun, Jamal rela bolak-balik Jakarta-Bandung dan tidur di mobil, sementara Lydia menginap di rumah sang Ibu. Melihat kegigihan sang menantu, akhirnya ibunda Lydia menjadi luluh hatinya. Suatu hari, Lydia hendak menginap di rumah Ibundanya, dan tanpa disangka, sang Ibu menyuruh Lydia mengajak Jamal masuk ke dalam rumah. Saat diterima, Jamal pun langsung meminta maaf kepada Ibunda Lydia.

Agama dan orangtua bukan masalah satu-satunya yang dihadapi pasangan Lydia Kandou dan Jamal Mirdad ini. Masalah beda budaya juga merupakan masalah yang harus dihadapi keduanya. Lydia yang berdarah Manado-Belanda dan Jamal yang berdarah Jawa membuat mereka harus melakukan penyesuaian diri terhadap karakter dan latar belakang budaya masing-masing. Namun dengan prinsip kesabaran dan menghormati perbedaan, pasangan ini dapat melaluinya dengan baik sampai saat ini.

Dari pernikahannya tersebut, pasangan ini dikaruniai empat orang anak yakni, Natasya Maria, Kenang Kana, Nasyila, dan Nathana Ghaza. Natasya dan Naysila belakangan berkecimpung di dunia seni peran mengikuti jejak sang ibu. Kakak beradik itu bermain dalam sinetron besutan Noto Bagaskoro produksi SinemArt yang ditayangkan stasiun televisi RCTI berjudul Liontin 2. eti | muli, red

Data Singkat
Lidya Kandou, Aktris / Si Pemalu yang Pandai Berakting | Selebriti | sinetron, aktris, Bintang televisi

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here