BIOGRAFI TERBARU

Continue to the category
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
More
    27.6 C
    Jakarta
    Trending Hari Ini
    Populer Minggu Ini
    Populer (All Time)
    Ultah Minggu Ini
    Lama Membaca: 3 menit
    Lama Membaca: 3 menit
    Lama Membaca: 3 menit
    Lama Membaca: 3 menit
    Beranda Publikasi Majalah Islam dan Indonesia akan Jaya dari Al-Zaytun

    Islam dan Indonesia akan Jaya dari Al-Zaytun

    0
    Majalah Berita Indonesia Edisi 97
    Majalah Berita Indonesia Edisi 97 - Islam dan Indonesia akan Jaya dari Al-Zaytun
    Lama Membaca: 3 menit

    VISI BERITA (Kampus Kecerdasan Iman, Edisi 97) – Al-Zaytun menggelar kuliah umum bertajuk: “The Protestant Reformation: What Was It About and Why Is It Important?” Reformasi Protestan: Apa hal itu dan mengapa itu penting? Pembicaranya, Pendeta Prof. Douglas L. Rutt, PhD, Direktur Internasional Lutheran Hour Ministries (LHM) dari Amerika Serikat. Respon dan antusiasme 4.329 orang pesertanya sangat luar biasa, out of the box. Maka, reporter majalah ini membuat judul reportasenya: Kuliah Kecerdasan Iman di Al-Zaytun.

    Baca Online: Majalah Berita Indonesia Edisi 97 | Basic HTML

    Kita memaknai, kecerdasan iman itu adalah kecerdasan spiritual seorang umat beragama atau beriman. Para ahli psikologi menyebut manusia itu memiliki tiga dimensi kecerdasan yakni kecerdasan intelektual (intelligence quotient, disingkat IQ), kecerdasan emosional (emotional quotient, disingkat EQ) dan kecerdasan spiritual (spiritual quotient, disingkat SQ).

    Pertama, kecerdasan intelektual (IQ) adalah istilah untuk menjelaskan sifat pikiran yang mencakup kemampuan menalar, merencanakan, memecahkan masalah, berpikir abstrak, memahami gagasan, menggunakan bahasa, dan belajar. Kecerdasan yang erat kaitannya dengan kemampuan kognitif seseorang (individu). Kecerdasan intelektual ini dapat diukur dengan menggunakan alat psikometri yang biasa disebut sebagai tes IQ. IQ itu merupakan usia mental yang dimiliki seseorang berdasarkan perbandingan usia kronologis.

    Kedua, kecerdasan emosional (EQ) adalah kemampuan seseorang untuk menerima, menilai, mengelola, serta mengontrol emosi dirinya dan orang lain di sekitarnya. Emosi itu mengacu pada perasaan terhadap informasi atas suatu hubungan. Kecerdasan emosional (EQ) ini dinilai tidak kalah penting dari kecerdasan intelektual (IQ). Bahkan ada penelitian yang mengungkapkan bahwa kecerdasan emosional dua kali lebih penting daripada kecerdasan intelektual dalam memberikan kontribusi terhadap kesuksesan seseorang.

    Ketiga, kecerdasan spiritual (SQ) adalah kecerdasan batin dari pikiran dan jiwa seseorang untuk membangun diri menjadi manusia seutuhnya dengan selalu berpikir positif dalam menyikapi setiap kejadian yang dialaminya. Orang yang memiliki kecerdasan spiritual (SQ) mampu memaknai penderitaan hidup secara positif. Maka, kecerdasan spiritual (SQ) ini dianggap sebagai kecerdasan tertinggi dari kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosional (EQ). Karena jika seseorang telah memiliki kecerdasan spiritual (SQ), dia telah berkemampuan memaknai kehidupan sehingga hidup dengan penuh kebijaksanaan.

    Namun, beberapa ahli mengatakan bahwa kecerdasan spiritual tidak sama dengan beragama atau tidak berhubungan dengan agama. Disebut, seseorang yang memahami dengan baik ajaran dan hukum agama formal belum tentu atau tidak otomatis memiliki kecerdasan spiritual yang baik. Sebaliknya, seorang atheis atau humanis yang tidak beragama bisa saja memiliki kecerdasan spiritual yang baik. Menurut mereka, kecerdasan spiritual adalah kecerdasan jiwa yang dapat membantu seseorang menyembuhkan dan membangun diri secara utuh sebab kecerdasan spiritual terdapat di dalam bagian terdalam dari manusia itu sendiri.

    Maka dalam konteks ini, kita menggunakan terminologi kecerdasan iman (the faith quotient, disingkat FQ), yakni kecerdasan spiritual orang beriman atau beragama. Kecerdasan iman itu adalah kecerdasan spiritual (SQ) yang diilhami oleh iman (agama) seseorang. Artinya orang beriman (beragama) yang memiliki dan mengembangkan kecerdasan spiritualnya tidak hanya dari bagian terdalam (pikiran, jiwa dan batin) dari dirinya sendiri, melainkan lebih lagi oleh keyakinan imannya sendiri. Kita menyebutnya kecerdasan iman yakni kecerdasan spiritual orang beriman atau beragama. Kita mengategorikannya sebagai bagian tertinggi dari kecerdasan spiritual, karena tidak hanya bersumber dan berkembang dari kekuatan terdalam dari dirinya sendiri tetapi juga bersumber dan berkembang dari kekuatan imannya sendiri.

    Kecerdasan iman itulah yang dikembangkan dalam proses belajar dan proses pengalaman (sekolah kehidupan) keseharian di Al-Zaytun. Pengembangan kecerdasan iman itu terasa sangat menguat dan mengemuka saat digelarnya kuliah umum bertema Reformasi Protestan di Kampus Budaya Toleransi dan Perdamaian tersebut.

    Di kampus ini (Al-Zaytun) kita menemukan bagaimana sesungguhnya memahami dan mengoperasionalkan budaya toleransi dan perdamaian itu dengan kecerdasan iman. Di kampus ini, toleransi ditegakkan sebagai keyakinan pokok (aqidah) dalam beragama. Tidak justru dianggap mendegradasi aqidah atau iman, melainkan sebagai aplikasi iman. Di sini pengamalan toleransi telah menjadi (proses) kesadaran pribadi dan kelompok dalam wujud interaksi sosial keseharian (kecerdasan iman).

    Advertisement

    Maka bagi siapa pun, baik yang beragama samawi (Islam, Kristen dan Yahudi) maupun yang beragama ardli (Hindu, Buddha, Konghuchu dan lain-lain), di sinilah tempat yang amat baik untuk mengembangkan kecerdasan iman. Al-Zaytun adalah kampus kecerdasan iman bagi semua, tanpa batas. (red/BeritaIndonesia)

    Daftar Isi Majalah Berita Indonesia Edisi 97

    Iklan

    Salam Redaksi

    Visi Berita

    Berita Terdepan

    Berita Utama

    Berita Ekonomi

    Lentera

    Berita Sejarah

    Berita Iptek

    Berita Kesehatan

    Berita Khas

    Iklan

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini