Kartini Tentang Korupsi

 
0
36
Kartini Tentang Korupsi
Ch. Robin Simanullang | Ensikonesia.com | Hotsan

[OPINI] Kelak, Punya Atasan Panutan – Oleh Ch. Robin Simanullang ARSIP 05-08-1982: “Sering terjadi bahwa para petinggi pribumi itu menggadaikan perhiasan istri dan anak mereka untuk mendapatkan uang yang diperlukan. Maka bila orang datang kepada mereka dengan pemberian ketika mereka melihat istri serta anak-anak mereka ke sana ke mari dalam pakaian buruk – jangan hakimi mereka dengan keras, Stella.” Demikian tulis Kartini kepada sahabatnya Stella Zeenhandelaar pada tanggal 20 Januari 1900.

Kartini pun bercerita tentang seorang jurutulis distrik yang ditawari sesuatu, mungkin setandan pisang. Pertama kali mungkin ditolaknya dan juga pada kedua kalinya. Tapi ketiga kali ia akan menerima dengan ragu-ragu. Bodoh sekali kalau saya ragu-ragu menerima selama itu adalah adat atau pemberian yang tidak merugikan siapa-siapa.

Juga diceritakannya tentang asisten wedana yang bergaji rendah – yang harus menjamu para tamu — mungkin controleur atau wedana yang lagi turne. Para tamu seperti ini harus dilayani dengan sebaik mungkin. Dihidangi makanan dan disediakan tempat tidur. Maka Kartini menulis: “Jangan hakimi mereka dengan keras.”

Lalu, ini kisah seorang kepala sekolah. Ia kelihatan murung. Ia menggores-goreskan pena di atas kertas. Sederetan angka, rupiah. Kemarin ada inspeksi di sekolah itu. Kemudian pejabat yang inspeksi itu bermalam di hotel berbintang di kota itu. Hotel yang termahal di situ. “Kita harus melayani mereka yang datang itu sebaik mungkin. Juga perongkosan dan akomodasi,” ucap kepala sekolah lesu.

Ditulis di Pematang Siantar, 5 Agustus 1982. Diterbitkan di Harian Sinar Indonesia Baru, Medan, di bawah judul: Jangan Hakimi Mereka dengan Keras.

Teringat lagi pengeluaran dua tahun silam. Menjelang ia menjabat kepala sekolah. Pinjaman yang belum dikembalikan bersama bunga sampai hari ini. Serta hasil penjualan sebidang tanah warisan kakeknya. Belum kembali! Hingga ketika ‘pengawas’ pulang, suasana cukup krisis. Keadaan ekonomi melemah. Pada saat itulah ia terjebak, walau mungkin timbul juga pertentangan batin yang dahsyat. Tetapi untuk menutupi lobang-lobang yang masih menganga dan meningkatkan pelayanan kepada atasan, ia tidak menghiraukan lagi soal moralitas.

Kesempatan terbuka. Daya tampung sekolah amat terbatas. Di samping pemberian sesuatu juga berdatangan katebelece dari orang-orang penting untuk memengaruhinya berbuat atau tidak berbuat sesuatu. Maka banyak yang ‘tertolong’ serta serserakanlah korban-korban. Korban menuntut kebenaran dan keadilan. Sebab kebenaran itu adalah tetap kebenaran dan keadilan adalah tetap keadilan.

Kasihan juga, jika seseorang yang seharusnya tergolong memenuhi syarat tergeser kedudukannya menjadi belum memenuhi syarat. Akibat dipengaruhi adanya pemberian dan katebelece. Tetapi mungkin dalam suasana itu, hal demikian dikira kebijaksanaan yang tepat – bijaksanalah kalian, pesannya – bukan perbuatan salah. Bagaimana kalau anak si anu dinyatakan belum memenuhi syarat? Mungkin di benak mereka ada mengenai hal tertentu.
Relevan dengan cerita Kartini soal besarnya gaji, yang sudah amat sulit menggunakannya untuk keperluan primer. Padahal, guru mengajarkan empat sehat lima sempurna. Bukan itu saja, untuk naik pangkat perlu uang. Lain lagi jika atasan datang, yang notabene gajinya lebih besar dan memperoleh biaya perjalanan dinas. Apalagi ditambah biaya untuk mempertahankan kedudukan. Selain itu, mungkinkah ia rela melihat anak-anak dan istrinya berpakaian buruk? Tidak secantik pakaian anak dan istri pegawai rendahan di instansi lain, kendati dengan sistim penggajian yang hampir sama.

Mereka pun ditindak karena ada penyimpangan. Sebagian dibebastugaskan, sebagian lagi dikenakan tindakan administratif. Berikut dengan hal itu ada yang bertanya: kenapa hanya di sana? Bukankah penyimpangan itu ‘membudaya’ di mana-mana? Mereka yang terkena pun bertanya-tanya: Adakah rekan pegawai yang luput dari penyimpangan serupa? Ah, bukankah itu sudah jamak! Bahkan yang di atas bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar, tapi menimbun harta. Rakus! Jadi, masalah itu tidak berdiri sendiri. Situasi dan kondisi juga ‘memaksa’ mereka berbuat menyimpang. Maka, Kartini menulis kepada Stella: Jangan hakimi mereka dengan keras.

Korupsi tidak bisa diberantas hanya dengan tindakan hukuman yang keras. Tetapi juga harus dibarengi – justru lebih baik – dengan pembenahan sistem, tata kelola dan tata layanan yang lebih baik. Maka, kepada controleur atau atasan, kiranya bawahan tidak perlu menghidangkan makanan dan menyiapkan tempat tidur berbantal dan berselimut indah, saat mereka turne. Kiranya ‘si guru’ pun jangan diperhadapkan kepada kondisi tidak terpuji. Juga jangan tega melihat anak dan istri mereka berpakain buruk.

Maka kelak, harapan kita, para pegawai akan bercerita: Atasan saya bersahaja, tidak harus dihidangi makanan dan disiapkan tempat tidur berbantal dan berselimut indah serta mesti disuguhkan amplop tebal. Tidak, tidak, dan tidak lagi! Kelak, para pegawai akan bangga karena punya atasan yang patut dipanut.

Ditulis di Pematang Siantar, 5 Agustus 1982. Diterbitkan di Harian Sinar Indonesia Baru, Medan, di bawah judul: Jangan Hakimi Mereka dengan Keras. Opini TokohIndonesia.com | Penulis: Ch. Robin Simanullang

© ENSIKONESIA – ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA

Tokoh Terkait: Ch. Robin Simanullang, Kartini, | Kategori: Opini | Tags: Korupsi, arsip, Kartini

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here