Magsaysay Award 2008

 
0
49
Magsaysay Award 2008
e-ti | kompas

[WAWANCARA] – Jakarta, 1 Agustus 2008: Mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah dan Pendiri Maarif Institute, Ahmad Syafii Maarif, dianugerahi Magsaysay Award 2008 kategori Perdamaian dan Pemahaman Internasional. Dewan Pengawas Ramon Magsaysay Award Foundation di Manila, mengumumkan hal itu Kamis (31/7/2008).

Pria kelahiran Sumpurkudus, Sumatera Barat, 31 Mei 1935, ini dinilai punya komitmen dan kesungguhan tinggi dalam membimbing umat Islam di Indonesia dan dunia untuk meyakini dan menerima toleransi dan pluralisme, sebagai basis menciptakan kehidupan yang harmonis dan berkeadilan.

Penghargaan ini diserahkan di Manila, Filipina, 31 Agustus 2008. Ahmad Syafii Maarif, yang akrab disapa Buya, itu menganggap penghargaan ini terlalu besar baginya. Lulusan doktor dari Universitas Chicago, AS (1982) ini merasa apa yang dilakukannya belum banyak, belum signifikan, dan belum memberikan arti besar.

Buya menilai penghargaan ini tak ditujukan untuk dirinya semata. Banyak pihak lintas-agama, kultur, dan etnik yang membantunya mengembangkan penghargaan atas pluralisme dan toleransi. Sikapnya untuk terus mengembangkan hubungan antarmasyarakat lintas-iman diyakini didukung sebagian besar umat Islam di Indonesia.

Dia menilai kehadiran kelompok radikal yang menonjol hal wajar, sebatas beradu argumen dan wacana. “Tetapi, jika sudah melakukan kekerasan fisik, itu tindakan biadab,” tegasnya sebagaimana dikutip Kompas (1/8/2008).

Buya berharap penghargaan ini mampu menginspirasi kaum muda untuk terus mengembangkan kehidupan beragama yang moderat, inklusif, dan plural.?ti/tsl

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)



Orang Tak Beriman pun Berhak Hidup

Kiprah tokoh Indonesia kembali mendapat apresiasi lembaga luar negeri. Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Achmad Syafi’i Ma’arif pada 31 Agustus lalu menerima Magsaysay Award 2008 untuk kategori Peace and International Understanding. Berikut wawancara Jawa Pos dengan Buya Syafi’i.

Anda baru saja menerima pengakuan internasional di bidang perdamaian. Bagaimana perasaan Anda?

Sesungguhnya perasaan saya terbelah dua saat diberi tahu akan mendapat penghargaan ini. Di satu sisi tentu saya bergembira. Tapi, di bagian lain saya juga agak khawatir. Sebab, dengan adanya penghargaan ini, bisa jadi saya dituntut untuk berbuat lebih banyak lagi. Harus diakui, ini yang berat.

Selain itu, sejujurnya saya tidak memahami betul alasan Ramon Magsaysay Award Foundation (Filipina) menjatuhkan pilihan penghargaan itu ke saya. Saat ditanya, hanya dijawab bahwa mereka punya kriteria khusus yang tidak bisa dibuka semuanya. Namun, saya yakin, apa pun alasan mereka, semuanya tidak terlepas dari persyarikatan Muhammadiyah yang telah membesarkan saya. Saya sempat diberi kepercayaan memimpin Muhammadiyah ketika Indonesia menghadapi masalah yang kompleks.

Apa yang Anda lakukan saat itu?

Saya terus berhubungan dan bekerja sama dengan para tokoh lintas agama (Katolik, Protestan, Buddha, Hindu, termasuk Konghuchu). Sebagai kekuatan sosiokultural, keberadaan mereka sangat penting dalam menentukan masa depan Indonesia yang sangat plural di bawah Pancasila. Bersama-sama kami mempromosikan pluralisme, toleransi, dan inklusivisme agar mendapat apresiasi dan dukungan dari arus besar masyarakat Indonesia.

Dengan penghargaan ini, apa harapan Anda selanjutnya?

Minimal, penghargaan ini bisa menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk ikut terus mendorong budaya saling menghargai perbedaan di antara kita. Penghargaan terhadap pluralitas itu harus terus didesakkan menjadi kultur. Sebab, saudara seibu dan seayah pasti memiliki perbedaan, apalagi dengan keberagaman suku, agama, dan ras yang dimiliki Indonesia. Saya begitu merindukan terwujudnya hal itu menjadi sebuah common platform dari masyarakat di sini. Titik akhirnya, tentu adalah perdamaian.

Anda optimistis hal itu akan terwujud?

Saya sadar bahwa perdamaian mempunyai banyak halangan dan tantangan. Tapi, tanpa perdamaian, hidup menjadi tidak relevan (irrelevant) dan tidak bermakna lagi (meaningless). Karena itu, tidak boleh lelah memperjuangkannya.

Untuk menguatkan tekad tersebut, saya ingin mengungkapkan filosofi sederhana hidup saya. Bahwa tidak hanya orang beriman yang berhak hidup di muka bumi, tapi juga orang yang tidak beriman, bahkan ateis sekalipun. Dengan satu syarat, semuanya sepakat untuk hidup berdampingan dengan saling menghargai dan menghormati secara damai. Jika itu kita yakini, semuanya jadi lebih ringan.

Bagaimana Anda membuat hal itu menjadi kesadaran bersama?

Soal filosofi itu ada juga yang marah. Tapi, asal diketahui, saya mengambilnya dari intisari Alquran. Tuhan mengatakan, beriman atau tidak beriman itu persoalan pilihan saja. Orang boleh beriman, boleh juga tidak. Tidak ada seorang pun yang berhak memaksa-maksa. Dalam Surat Yunus ayat 100 dinyatakan bahwa persoalan iman itu bukan urusan Allah. Itu murni hak manusia, muncul dari kesadaran kita semua. Yang paling penting adalah kerukunan dan tidak saling mengganggu. Tidak saling membunuh, tidak pula saling meniadakan. Roda sejarah harus kita putar ke arah itu.

Menurut Anda, sebenarnya bagaimana realitas penghargaan terhadap perbedaan di negeri ini?

Dalam sejumlah kesempatan berbicara di kalangan internasional, saya selalu menyatakan kalau sebenarnya secara umum toleransi umat beragama di Indonesia cukup baik. Memang, ada kelompok-kelompok kecil dengan jumlah yang kecil pula, menurut saya, masih berpikiran sempit. Mereka itulah yang menyesakkan dada. Tapi, saya yakin, seiring keadaan negeri yang makin membaik, keadilan sosial yang makin terjamin, dan sebagainya, seharusnya kelompok-kelompok itu akan menghilang dengan sendirinya.

Apa peran yang harus diambil kelompok mayoritas, semisal NU dan Muhammadiyah untuk mendorong penghargaan terhadap perbedaan?

Itu yang sebenarnya saya prihatinkan. Organisasi masyarakat kita terlalu disibukkan untuk hanya mengurusi masalah-masalah keseharian. Misalnya, sibuk ngurusi sekolah-sekolah atau lembaga kesehatan yang dimiliki. Tapi, masalah kenegaraan yang seperti ini kerap terlewatkan.

Apakah ini artinya kita semakin kehilangan tokoh yang memiliki jiwa kenegarawanan?

Saya memang makin tidak melihatnya saat ini. Dalam diri para pemimpin dan politikus negara ini tidak tecermin ciri tersebut. Tampaknya, kita sedang benar-benar miskin sosok negarawan. Para pemimpin kita, termasuk para pemimpin ormas, sering terjebak pada hal-hal yang sempit dan pragmatis. Padahal, di sisi lain, elite NU maupun Muhammadiyah sebenarnya untuk menggaungkan solusi atas masalah-masalah bangsa. Mereka dituntut bicara tentang persoalan bangsa. Bicaralah yang lantang, tapi sopan. Itu yang seharusnya. (dian wahyudi/nw)

Indopos Minggu,07 September 2008

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Tokoh Terkait: Syafi’i Ma’arif, | Kategori: Wawancara | Tags: Presiden Pertama RI, Budayawan, Guru Besar

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here