Data Singkat
Agus D.W. Martowardojo, Menteri Keuangan (2010-sekarang) / Calon Tunggal Gubernur BI | 24 Jan 1956 | Ensiklopedi | A | Laki-laki, Islam, , Pejabat, Menteri, Dirut, direktur, bankir
Nama:
Agus D.W. Martowardojo
Lahir:
Amsterdam, 24 Januari 1956
Pendidikan:
Sarjana Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (1984)
Banking & Management Courses di State University of New York, Buffalo, USA, Stanford University, Palo Alto, USA dan Institute of Banking & Finance, Singapore.
Direktur Utama PermataBank terhitung sejak 31 Oktober 2002-2005
Advisor bagi Ketua dan Wakil Ketua BPPN untuk bidang Perbankan (2002).
Managing Director Human Resources and Support Services (2001)
Managing Director Retail Banking and Operation Coordinator (2000)
Managing Director Risk Management and Credit Restructuring di Bank Mandiri (1999)
Direktur Utama di Bank Ekspor Impor Indonesia (1998)
Direktur Utama di Bank Bumiputera (1995–1998)
Deputy Chief Executive Officer di Maharani Holding (1994)
PT Bank Niaga Tbk sebagai Vice President, Corporate Banking Group di Jakarta dan Surabaya (1986– 994).
Bank of America NT & SA (1984) sebagai Officer Development Program dan International Loan Officer
Organisasi:
Aktif di Himbara (Himpunan Bank-bank Miliki Negara)
Ketua Umum Perbanas (Perhimpunan Bank-bank Umum Nasional Swasta) periode 2003-2006.
Penghargaan:
Anugerah Parahita Ekapraya dari Presiden RI atas komitmen Kementerian Keuangan yang dipimpinnya dalam menerapkan strategi pengarusutamaan gender dan pemenuhan hak anak di berbagai sektor pembangunan, 2012
‘Tokoh Publik Pilihan’ versi Serikat Perusahaan Pers (SPS), 2012
Best Finance Minister Asia-Pasific of The Year 2012 versi Majalah The Banker, 15 Februari 2012
1950: Pemerintah Indonesia menetapkan lambang negara Garuda Pancasila.
1981: Presiden AS Ronald Reagan ditembak dalam upaya pembunuhan di Washington D.C.
1856: Perang Krimea berakhir dengan penandatanganan Traktat Paris.
30 Maret
Orang pribumi yang pertama kali menggunakan istilah "Indonesia" adalah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketika dibuang ke negeri Belanda tahun 1913, ia mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Persbureau. Nama Indonesisch (pelafalan Belanda untuk "Indonesia") juga diperkenalkan sebagai pengganti Indisch ("Hindia") oleh Prof Cornelis van Vollenhoven (1917). Sejalan dengan itu, inlander ("pribumi") diganti dengan Indonesier ("orang Indonesia").