Refleksi Perayaan 165 Tahun HKBP di GBK
Simetri Ilahi: Dari Menara Babel ke Nyanyian Pentakosta (Studi Kasus Misi di Tanah Batak)

Simetri Ilahi: Dari Menara Babel ke Nyanyian Pentakosta (Studi Kasus Misi di Tanah Batak)
Sebuah refleksi seorang anggota jemaat, menyambut kemegahan Perayaan 165 Tahun HKBP di Gelora Bung Karno Minggu 18 Oktober 2028. Belajar Simetri Ilahi: Perjalanan dari Babel ke Pentakosta yang mengajarkan bahwa upaya manusia untuk mencapai Allah melalui kesombongan hanya akan berakhir pada kehancuran. Sebaliknya, ketika Allah yang turun menyapa manusia (Hari Pentakosta), Dia memvalidasi martabat setiap bahasa dan budaya sebagai bejana tanah liat yang layak menampung harta kebenaran ilahi.
Kasus sejarah misi Tanah Batak membuktikan bahwa inkulturasi yang sejati (inti Pentakosta) adalah proses pemulihan, bukan penghancuran. Iman Kristen yang matang, semestinya tidak membuat seseorang menjadi “kurang Batak”—justru semestinya, iman Kristen membebaskan seseorang untuk menjadi versi paling utuh, paling otentik, dan paling bermartabat dari dirinya sendiri, berdiri tegak di hulu eksistensinya. Seluruh aspek kehidupannya—termasuk warisan leluhur yang luhur—telah ditebus, disucikan, dan dipersembahkan kembali kepada Allah yang telah menyatakan wajah-Nya secara sempurna dalam Yesus Kristus.
Mari kita renungkan! Di awal waktu, manusia berdiri di dataran Sinear, menatap langit dengan mata yang penuh ambisi. “Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit,” kata mereka, “dan marilah kita membuat nama bagi kita sendiri.” Itu adalah gerakan pertama—gerakan dari bawah ke atas, dari tanah menuju surga, dari nalar yang ingin melampaui batasnya sendiri. Mereka membakar bata, menyusun rencana, membangun monumen kesombongan kolektif. Dan Allah, dalam kasih-Nya yang unik namun penuh hikmat, mengacaukan bahasa mereka. Bukan sebagai hukuman yang kejam, melainkan sebagai perlindungan agar keseragaman yang dibangun di atas kesombongan tidak menjadi mesin kehancuran yang tak terhentikan. Manusia tercerai-berai, membawa serta kebingungan dan kerinduan akan kesatuan yang hilang.
Namun, kisah itu tidak berakhir di sana.
Berabad-abad kemudian, di sebuah ruang atas di Yerusalem, sekumpulan orang menanti dalam doa. Dan tiba-tiba—tiba-tiba, seperti tiupan angin keras yang tak terduga—langit terbuka. Bukan manusia yang mendaki ke surga kali ini, melainkan Surga yang turun ke bumi. Roh Kudus dicurahkan, dan orang-orang dari segala bangsa—Parthia, Media, Elam, Mesopotamia, Kreta, Arab (tentu, juga hari ini Batak)—mendengar “perbuatan-perbuatan besar Allah” dalam bahasa mereka sendiri. Itu adalah gerakan kedua—gerakan dari atas ke bawah, dari anugerah menuju realitas manusia, dari supranalar yang menyapa nalar.
Pentakosta adalah anti-keseragaman Babel (penyucian, penyelarasan). Di Babel, keseragaman dipaksakan dan berujung pada perpecahan. Di Pentakosta, keragaman dihormati dan berujung pada persekutuan. Roh Kudus tidak menghapus bahasa-bahasa itu menjadi satu bahasa suci yang asing; sebaliknya, Dia menguduskan setiap bahasa manusia, menjadikannya bejana yang layak menampung harta kebenaran ilahi. Setiap suku, setiap bangsa, setiap budaya—semuanya memiliki martabat untuk menjadi wadah bagi nyanyian kemuliaan Allah.
—
Dan inilah simetri ilahi yang paling indah: Allah tidak pernah meminta manusia untuk menghapus identitasnya demi bertemu dengan-Nya.
Inkulturasi—proses di mana Injil “menjadi daging” dalam budaya lokal—adalah kelanjutan dari logika Pentakosta itu. Sebagaimana Firman mengambil rupa manusia dalam konteks Yahudi abad pertama yang spesifik, demikian pula Injil terus mengambil rupa dalam budaya Jawa, Batak, Dayak, Papua, dan segala suku bangsa. Ini bukan sekadar adaptasi permukaan—mengganti bahasa nyanyian atau menyesuaikan pakaian liturgi—melainkan sebuah tarian inkarnasional yang mendalam: Injil turun ke dalam budaya (kenosis), mengambil dagingnya, dan pada saat yang sama mengangkat dan memuliakan budaya tersebut (theosis).
Inkulturasi yang sejati adalah dialog simetris. Injil menantang dan menyucikan aspek-aspek budaya yang membelenggu martabat manusia—kasta, perbudakan, ketakutan takhayul yang merusak. Namun pada saat yang sama, budaya memberikan “wajah” baru bagi Injil, memperkaya pemahaman Gereja universal tentang misteri Kristus melalui kearifan lokal, simbol-simbol, dan cara pandangnya yang unik. Ini bukan kompromi yang lemah, melainkan pertemuan yang melahirkan sesuatu yang baru dan hidup: iman yang berakar dalam dan sekaligus relevan secara universal. Iman universal dengan penyembahan lokal!
Studi Kasus Misi Tanah Batak
Namun, sejarah tidak selalu berjalan dengan indah. Dan tidak ada tempat yang lebih jelas memperlihatkan luka ini selain Tanah Batak.
Ketika para misionaris Barat tiba di tanah yang mengelilingi Danau Toba dan dibelah oleh Pegunungan Bukit Barisan, mereka membawa serta kacamata kolonial yang buta. Mereka melihat praktik perdukunan, ritual pemanggilan begu, dan ketakutan pada roh-roh jahat, lalu dengan cepat melabeli seluruh peradaban itu sebagai Sipelebegu—penyembah setan. Mereka menghancurkan “lantai” budaya tanpa menyadari bahwa di atasnya berdiri “atap” teologis yang agung. Mereka menyamakan folklor magis (yang memang perlu dimurnikan) dengan inti teologis (yang sebenarnya adalah persiapan Injil yang sudah ditanam oleh Roh Kudus jauh sebelum mereka tiba).
Padahal, leluhur Batak bukanlah masyarakat yang kosong atau gelap secara rohani. Jauh sebelum salib tegak di bukit-bukit Toba, mereka sudah memiliki teologi tinggi yang selaras dengan wahyu umum Allah. Mereka mengenal Debata Mulajadi Nabolon—Sang Causa Prima, Sumber segala yang ada, Yang Maha Agung. Mereka menyebut-Nya Na so marmula so marujung—Tidak Berawal dan Tidak Berujung, Sang Alfa dan Omega yang melampaui ruang dan waktu. Mereka memahami kompleksitas ilahi dalam konsep Na Sada Sitolu Suhu—Debata Batara Guru, Soripada, dan Mangala Bulan—sebagai kesadaran akan Allah yang dinamis dalam mengelola alam semesta. Dan dalam keseharian, mereka mengakui kedaulatan mutlak Allah dengan penuh penyerahan diri: “Saluhut panggulmit ni ngolu saguru tu lomo ni Debata do”—Segenap denyut nadi kehidupan tergantung pada kehendak Allah.
Itu bukan penyembahan setan. Itu adalah praeparatio evangelica—persiapan Injil yang sudah ditanam oleh Roh Kudus di tanah Batak, menunggu untuk ditemukan, diakui, dan disempurnakan dalam Kristus.
Menanti Kabar Baiknya
Tentu sejarah tidak berhenti di sana. Roh Kudus lebih besar daripada kesalahan manusia, Injil lebih besar dari para pembawanya, dan Dia terus bekerja untuk memulihkan simetri yang sempat rusak.
Hari ini, di Tanah Batak, kita melihat sudah ada kemenangan inkulturasi yang indah, kendati masih terasa suam-suam kuku (bergerak dari antagonistis ke dualistis). Kata “Debata” – dan banyak kosakata Batak religius dan penyembahan – kini secara resmi dan bangga digunakan dalam Alkitab bahasa Batak untuk menyebut Allah Tritunggal. Ini adalah pengakuan teologis bahwa Debata yang disembah leluhur dalam samar-samar, adalah Allah yang sama yang dinyatakan secara sempurna dalam Yesus Kristus. Walaupun masih suam-suam kuku (dualistis). Para pendeta masih “menolak” menyebut Debata Mulajadi Nabolon.
Begitu pula Filosofi Kekerabatan Dalihan Na Tolu—somba marhula-hula, elek marboru, manat mardongan tubu, paopat satia mardongan—yang hingga kini bertahan hidup (tidak terkalahkan antagonisme misionaris), namun belum dipandang sebagai etika Kristen yang praktis tentang bagaimana mengasihi sesama, menghormati otoritas, dan membangun harmoni dalam komunitas.
Memang, baru sejak akhir tahun 1970-an ulos, gondang, dan simbol-simbol budaya lainnya sudah mulai dipersembahkan dalam liturgi, bukan lagi dicap sebagai pengorbanan kepada roh jahat, melainkan sebagai penyembahan yang utuh kepada Debata (Tapi, masih bukan/belum dipahami sebagai Debata Mulajadi Nabolon).
—
Makna Utuh Refleksi
Dan inilah makna utuh dari seluruh perjalanan refleksi ini: Perjalanan dari Babel ke Pentakosta mengajarkan bahwa upaya manusia untuk mencapai Allah melalui kesombongan hanya akan berakhir pada kehancuran. Sebaliknya, ketika Allah yang turun menyapa manusia, Dia memvalidasi martabat setiap bahasa dan budaya sebagai bejana tanah liat yang layak menampung harta kebenaran ilahi.
Kasus Tanah Batak membuktikan bahwa inkulturasi yang sejati adalah proses pemulihan, bukan penghancuran. Iman Kristen yang matang semestinya tidak membuat seseorang menjadi “kurang Batak”—justru semestinya, iman Kristen membebaskan seseorang untuk menjadi versi paling utuh, paling otentik, dan paling bermartabat dari dirinya sendiri, berdiri tegak di hulu eksistensinya. Seluruh aspek kehidupannya—termasuk warisan leluhur yang luhur—telah ditebus, disucikan, dan dipersembahkan kembali kepada Allah yang telah menyatakan wajah-Nya secara sempurna dalam Yesus Kristus.
Pentakosta tidak menghapus Babel; Pentakosta memulihkannya. Dan di Tanah Batak, pemulihan itu dengan tertatih terdengar mulai nyata: dalam gondang yang mengalun di ruang gereja, dalam ulos yang melingkar di bahu jemaat, dalam doa yang menyebut Debata (walau tanpa Mulajadi Nabolon) dengan penuh hormat. Setiap budaya menemukan suaranya sendiri untuk menyanyikan kemuliaan Allah—dalam bahasa ibunya, dengan iramanya sendiri, sebagai bejana tanah liat yang kini dipenuhi dengan harta surga.
Itulah simetri ilahi yang paling indah: Allah yang tak terhingga memilih untuk berbicara melalui yang terbatas, dan dalam pilihan itu, yang terbatas dimuliakan.
Jakarta, 18 Oktober 2026






















