Politisi dan Pengusaha Sukses

[ Setya Novanto ]
 
0
332
Setya Novanto
Setya Novanto | Tokoh.ID

[DIREKTORI] Setya Novanto merupakan salah satu politisi berpengaruh dari Partai Golkar. Sebelum namanya dikenal sebagai politikus, anggota DPR RI tiga periode berturut-turut ini lebih dahulu membangun karirnya di dunia bisnis.

Setya merupakan putra kelima dari delapan bersaudara pasangan almarhum R.Suwondo Mangunratsongko dengan Julia Maria Sulastri. Di masa kecilnya, pria kelahiran Bandung, 12 November 1954 ini dikenal sebagai anak yang baik hati, periang, serta rajin membantu kedua orang tuanya. Di kota kelahirannya, Setya bersekolah di Taman Kanak Kanak Ibu Dewi Sartika. Setelah itu keluarganya pindah ke Kota Pahlawan, Surabaya dan meneruskan pendidikan dasarnya di SD Negeri 5 Surabaya.

Saat masih duduk di bangku SD, Setya sudah harus menghadapi kenyataan pahit karena perpisahan kedua orangtuanya. Setelah itu, ia beserta saudara-saudaranya yang lain diboyong sang ibu ke ibukota Jakarta, sementara sang ayah tetap tinggal di Surabaya.

Kala itu mereka harus menjalani kenyataan hidup yang teramat memprihatinkan. Hidup di kota besar seperti Jakarta untuk seorang wanita dengan delapan anak bukanlah hal yang mudah. Namun, ibunda Setya tak pernah putus asa. Baginya, masa depan anak-anaknya adalah hal yang paling utama. Untuk menyambung hidup, ibunya mencari nafkah dengan berjualan kue dari rumah ke rumah.

Dari hasil berjualan itu, Setya Novanto dapat melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Setelah menamatkan pendidikan dasarnya, Setya bersekolah di SMPN 73 yang berlokasi di bilangan Tebet, Jakarta Selatan. Kemudian ia melanjutkan studinya ke SMA Negeri 9 Jakarta.

Setelah merampungkan sekolahnya di SMA, ia pun memohon doa restu dari ibunda tercinta untuk pergi merantau ke luar kota. Dengan begitu, ia ingin belajar hidup mandiri agar bisa mewujudkan cita-citanya untuk menjadi orang sukses.

Setelah mengantongi ijin dari ibunda dan dengan berbekal sedikit uang, Setya pergi merantau. Kota Surabaya, menjadi tempat pilihannya untuk mengadu nasib. Di ibu kota provinsi Jawa Timur itu, ia menyelesaikan kuliahnya di Widya Mandala dan mendapat gelar Sarjana muda Akuntansi.

Meski ayahnya tinggal di kota yang sama tepatnya di Jl. Pimerto, ia tak mau tinggal di kediaman sang ayah. Tekadnya untuk belajar mandiri tanpa bergantung pada orangtua dibuktikannya dengan memilih indekost dan tinggal berpindah-pindah dari rumah teman yang satu ke rumah teman yang lain.

Sewaktu mencoba belajar untuk menjadi manusia mandiri itulah, Setya mengerti apa yang dimaksud dengan perjuangan hidup. Di Surabaya hidupnya sangat prihatin. Akan tetapi ia pantang menyerah, ia terus bertekad untuk mewujudkan cita-citanya, merubah nasib dengan menjadi orang sukses.

Untuk membiayai hidup dan kuliahnya, ia berjualan beras dan madu di Pasar Keputran. Ia sangat tekun, pada jam 5 subuh ia sudah berangkat ke Pasar Wonokromo kemudian dengan sabar menunggu orang-orang desa yang membawa beras dan madu, untuk kemudian dibelinya, dan dijual lagi di kiosnya di Pasar Keputran.

Mungkin tak banyak orang tahu, kalau di masa lalunya semasa menetap di Surabaya, Setya pernah menjadi peragawan di FIT & CHIC. Tawaran untuk jalan di atas catwalk membawakan berbagai model busana sering berdatangan. Tahun 1975, ia pernah dinobatkan sebagai Pria Tampan se-Surabaya. Untuk mendanai pendidikannya, selain berdagang dan menggeluti dunia modeling, ia juga menjadi salesman di PT Sinar Mas Galaxy, dealer mobil Suzuki untuk Indonesia Timur. Tak lama berselang, ia diberikan kepercayaan oleh si pemilik, yakni Bambang Wiyanto, menjadi Kepala Penjualan Mobil seluruh Indonesia Timur.

Usai menyelesaikan kuliahnya dan berhasil mendapat gelar Sarjana Muda Akuntansi, ia kembali lagi ke ibukota Jakarta. Kemudian dari tabungan hasil kerja kerasnya selama di Surabaya, ia melanjutkan pendidikannya di Fakultas Ekonomi Trisakti. Akan tetapi, uangnya hanya cukup untuk membayar biaya pendaftaran saja, ia pun kebingungan untuk mencari uang kuliah per semesternya. Tapi bukan Setya Novanto namanya kalau tidak banyak akalnya. Sambil kuliah ia pun bekerja secara serabutan. Ia membeli buku kuliah yang harganya mahal lalu diperbanyak. Hasil kopian itu kemudian dijual kepada teman-teman kuliahnya di kampus. Selain tajam naluri bisnisnya, ia juga termasuk orang yang cakap mengelola keuangannya. Kelebihan uang hasil bisnis fotokopian diputar lagi untuk tambah modal kantin di kampusnya, keuntungannya lalu dibagi dua. Dengan cara demikian, Setya Novanto dapat membiayai kuliahnya sendiri.

Kerasnya kehidupan di kota Jakarta, yang semakin bertambah perih karena tanpa kehadiran seorang ayah, tidak menyurutkan langkahnya untuk meniti jalan menuju kesuksesan. Agar dapat bertahan hidup, menurut Setya, modalnya hanya kemauan, jujur, dan tekun. Ia tak malu menjalani berbagai macam pekerjaan demi kelangsungan hidup dan kuliahnya. Naik turun bis merupakan hal biasa baginya. Jika ada kepentingan mendesak yang berbenturan dengan jadwal kuliah, misalnya ada janji dengan klien saat ada kuliah, Setya Novanto titip absen ke temannya. Selain buku pelajaran, ia selalu membawa kemeja dan dasi dalam tasnya. Jadi ia tak kerepotan jika ada janji dadakan dengan klien, tinggal masuk toilet, salin baju dan pakai dasi. Ia pun siap berpresentasi.

Di Jakarta, ia pernah tinggal menumpang di rumah sahabatnya, Hayono Isman. Di rumah yang terletak di kawasan elit, Menteng, tepatnya di Jl. Teuku Cik Di Tiro itu, Setya tak malu membantu pekerjaan di rumah itu. Karena telah terbiasa hidup prihatin dan tahu diri menumpang di rumah orang, ia pun tak mau berpangku tangan, mengurus kebun, menyapu, mengepel, hingga mencuci mobil merupakan kesehariannya kala itu. Semuanya itu dilakukan dengan rasa ikhlas.

Dalam perjalanan hidupnya berikutnya, berkat kejujuran dan keuletannya, ia kemudian dipercaya orang tua salah seorang sahabatnya untuk mengurus dan mengembangkan SPBU miliknya di daerah Cikokol, Tangerang. Di bawah kepengurusannya, SPBU itu mengalami perkembangan pesat. Keberhasilan itu kemudian memotivasinya untuk membuka usaha sendiri. Dengan dukungan sejumlah rekannya, ia kemudian mendirikan sebuah perusahaan di bidang peternakan.

Dalam mengembangkan usahanya itu, ia mengajukan kredit untuk perluasan usaha. Sejak saat itulah ia mulai mengenal jasa bank. Tak lama berselang, ia mulai melebarkan sayap usahanya dengan mencari peluang bisnis ke luar kota. Perjuangan kerasnya tak sia-sia, ia mendapat kontrak pengadaan bahan baku textil untuk Pabrik Textil Naintex di Kota Bandung.Kemudian mendapat order pengadaan bahan baku kertas untuk salah satu pabrik kertas di Padalarang. Di sinilah Novanto mulai berkenalan dengan mitra dagang dari mancanegara. Dengan kesempatan itu, gerbang menuju kesuksesan semakin terbuka lebar pada Novanto.

Setiap hari, ia pun semakin giat berusaha mengembangkan bisnisnya. Sebagai kontraktor yang saat itu masih berstatus mahasiswa, pada tahun 1980, ia juga mendapat kontrak untuk merenovasi kolam renang di Kompleks Senayan dan pembuatan monumen Koldron Senayan. Setelah merampungkan proyek di Senayan, naluri bisnis Novanto kian tajam terasah. Ia pun berkeinginan untuk mempunyai usaha di bidang lain. Industri pabrik kayu di Tangerang menjadi lahan bisnis yang dibidik Novanto selanjutnya.

Tak berapa lama, sempat berhembus kabar yang menyebutkan, salah seorang kenalannya yang dulu menjabat sebagai direktur pabrik kertas di Kota Padalarang dipindah ke Aceh. Setya tak melewatkan kesempatan emas itu, ia terbang ke Aceh untuk melobi sang kolega. Tak sia-sia, Setya berhasil mendapat proyek untuk pekerjaan transportasi. Setelah itu, ia mendirikan perusahaan yang bergerak di bidang jasa transportasi dan perdagangan yang diberi nama PT Duta Kencana Bakti.

Pada tahun 1986 perjalanannya sudah sampai ke Pulau Batam. Ia mendapat informasi bahwa daerah Nagoya sangat berpotensi. Lagi-lagi Setya Novanto melihat peluang bisnis dari situ, ia pun bergegas menemui Kepala Otorita Batam. Pada presentasinya, ia mengemukakan, karena Batam berdekatan dengan Singapura, maka Batam harus lebih maju dan tidak sekadar memiliki deretan toko saja, tapi harus sekaligus mendirikan hotel dan lapangan golf bertaraf internasional. Kendati tak mudah, namun karena ketekunannya, Novanto berpartner dengan beberapa pebisnis Tanah Air. Akhirnya, ia berhasil mendapatkan lahan tempat dimana Nagoya Plaza berdiri sekarang.
Kemudian untuk mengantisipasi lonjakan wisatawan asing yang bisa mendatangkan pemasukan devisa milyaran per bulan, ia mulai melirik sektor pariwisata. Maka didirikanlah sebuah biro perjalanan dengan nama Simex Tour.

Sukses dengan Hotel Nagoya Plaza Batam, tak membuatnya berhenti untuk terus mengeksplorasi kota Batam. Dalam benaknya banyak sekali lahan kosong di Batam yang bisa dijadikan tambang uang. Berbekal ide briliannya, Novanto menghadap Ginanjar Kartasasmita yang saat itu menjabat sebagai Ketua BKPM.

Ia mempresentasikann idenya untuk membuat lapangan golf pertama di Batam. Gagasan cemerlang Novanto mendapat respon positif dari pihak Otorita Batam. Selanjutnya, Novanto diminta Wakil Ketua BPKM untuk menemui seorang pengusaha, yakni Sudwikatmono yang mempunyai tanah kosong di Pulau Batam, yang juga menyetujui idenya. Kemudian keduanya menghadap BJ Habibie yang waktu itu menjabat Ketua Otorita Batam. Setelah mendapat persetujuan, Setya Novanto diutus ke Jepang, untuk bernegosiasi dengan para pengusaha Jepang yang bergerak di bidang lapangan golf. Di sana ia berhasil melobi pihak Komatsubara Jepang yang mempunyai jaringan padang golf di Vancuver, Canada dan Tahiti, untuk merealisasikan pembangunan lapangan golf di wilayah Nongsa.

Di tahun 1989, pembangunan Padang Golf Nongsa Permai dimulai. Padang Golf itu kemudian diresmikan oleh Presiden RI saat itu, Soeharto dengan didampingi delapan orang menteri. Pada awalnya, padang golf tersebut hanya memiliki 9 hole, tak lama kemudian bertambah menjadi 18 hole sekaligus berganti nama menjadi Padang Golf Talvas. Area padang golf tersebut diperluas menjadi 274 hektar dan berganti nama lagi menjadi Palm Springs Golf & Beach Resort dengan 27 hole, serta dilengkapi dengan fasilitas diving range yang luas dan natural, club house rumah mewah dan hotel. Bisnis tersebut menyerap ratusan tenaga kerja, dengan perincian sebanyak 228 orang pegawai dan 110 caddy. Serta mempunyai member dari mancanegara.

Di tengah kesibukannya mengembangkan bisnis, Setya Novanto bersama temannya pernah membuat buku yang didedikasikan untuk mantan Presiden Soeharto dengan judul “Manajemen Soeharto”. Namun sayang, buku tersebut hanya beredar sebentar karena Presiden Soeharto keburu lengser dari singgasananya setelah 32 tahun berkuasa.

Tak berapa lama kemudian, ayah empat anak itu mulai aktif di Organisasi Bahumas Kosgoro, kemudian di PPK Kosgoro 1957, menjadi anggota di Partai Golkar, aktif di kepengurusan KONI serta organisasi kemasyarakatan lainnya. Kiprahnya di dunia politik kian teruji manakala ia menjadi anggota DPR RI dari Partai Golkar tiga periode berturut-turut, yakni tahun 1999-2004 dan kemudian dilanjutkan pada periode 2004-2009 dan 2009-2014. e-ti | muli, red

Data Singkat
Setya Novanto, Pengusaha dan Ketua DPR RI 2014-2019 / Politisi dan Pengusaha Sukses | Direktori | golkar, Politisi, Pengusaha, DPR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here