Prinsip Keberagaman Capres-Cawapres

 
0
81
Prinsip Keberagaman Capres-Cawapres
Jokowi Prabowo Debat | Ensikonesia.com | rpr

[OPINI] – CATATAN KILAS Debat Capres-Cawapres (3) – Pasangan Capres-Cawapres Prabowo-Hatta dan Jokowi-JK pada prinsipnya memiliki visi yang sama tentang keberagaman (bhinneka tunggal ika). Keempat ‘putera terbaik’ bangsa ini sama-sama memegang teguh prinsip keberagaman itu. Lalu, apa yang membedakannya?

I ni catatan sekilas tentang hal ini dari debat Capres-Cawapres pertama di Balai Sarbini, Jakarta Pusat, Senin (9/6/2014) malam. Kita menyaksikan hebatnya pernyataan mereka tentang prinsip keberagaman ini, ketika moderator Zainal Arifin Mochtar mengajukan pertanyaan soal komitmen para calon presiden dan wakil presiden dalam menjaga hubungan antarkelompok agama dan suku dan kerangka hukum apa yang akan dibangun untuk memperkuat terbangunnya masyarakat yang berpegang pada prinsip kebinekaan, serta bagaimana meyakinkan masyarakat untuk menjaga prinsip kebinekaan tersebut.

Prabowo-Hatta
Pasangan Capres-Cawapres Nomor Urut 1, Prabowo-Hatta menegaskan sikap mereka tentang keberagaman dengan berapi-api. Prabowo Subianto menunjukkan bukti bagaimana dia menerapkan Bhinneka Tunggal Ika ketika mengajukan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok menjadi calon wakil gubernur DKI Jakarta. “Saya kira sudah jelas dan tegas kami yang mencalonkan orang minoritas jadi cawagubnya, saudara Ahok, yang ketika itu kontroversial. Saya yang keras mempertahankan waktu ada serangan-serangan bahwa tidak mungkin minoritas jadi wagub. Saya ambil sikap yang diketahui umum, yakni komitmen yang utuh,” jelas Prabowo.

Prabowo mengingatkan bahwa saat ini piranti dalam kebinekaan sudah cukup melalui UUD 1945. Karena itu, ia menilai yang diperlukan saat ini adalah pendidikan, contoh, dan keteladanan. “Kerangka hukum sudah bagus, tinggal keteladanannya saja. Komitmen Gerindra sudah jelas, partai lain di (koalisi) kami juga sudah jelas,” ucap Prabowo.

Pernyataan Prabowo ini ditimpali Cawapres Hatta Rajasa. Dia menegaskan kebinekaan atau keberagaman merupakan pemberian Tuhan yang menjadi kekuatan bagi bangsa Indonesia. Dia meyakini Indonesia bisa menjadi bangsa yang besar jika mampu melindungi, memelihara, menjaga, dan menghormati keberagaman.

“Kebinekaan harga mati dan kekuatan bangsa kita terletak pada keberagaman itu. Kami meyakini keberagaman, kebinekaan adalah rahmat yang justru menjadi kekuatan,” kata Hatta. Hatta menambahkan, negeri ini dibangun dari keinginan bekerja sama untuk hidup bersama yang diaduk dengan sentimen kesejahteraan yang diangkat dari rasa nasionalisme serta multikultural atau multibudaya. Hatta menegaskan, meniadakan salah satu unsur pembangunan negeri tersebut sama saja dengan merusak unsur yang lainnya. “Saya yakin kita akan menjadi besar manakala mampu menjaga itu semua,” Hatta meyakinkan.

Paling tidak ada dua cara untuk mencari kehebatan dan kelemahan kedua pasangan ini dalam hal kesungguhan dan ketegasan (taat asas) tentang prinsip keberagaman itu, atau hanya sekadar permainan kata untuk tujuan politik.

Jokowi-Jusuf Kalla
Tak kalah hebat, pasangan Capres-Cawapres Nomor Urut 2, Jokowi-Jusuf Kalla, menegaskan prinsip keberagaman itu tak musti dibicarakan dan dibahas-bahas lagi, tapi laksanakan saja. Joko Widodo menyatakan Bhinneka Tunggal Ika yang mengatur keberagaman kita, ini sudah final. ”Sebetulnya, kami sudah tidak ingin mengungkit-ungkit itu lagi. Itu sudah final dan tidak dapat diganggu gugat lagi,” kata Jokowi dalam debat Capres-Cawapres itu.

Jokowi pun mencontohkan penunjukan Lurah Lenteng Agung Susan Jasmine Zulkifli yang diprotes karena tidak sesuai dengan keyakinan mayoritas warga di sana. Jokowi menegaskan, penunjukan Susan itu sudah melalui prosedur yang baik, yakni melalui seleksi terbuka. Oleh karena itu, dia tidak mau tawar-menawar tentang pengganti Susan.

Sama dengan Jokowi, Cawapres Jusuf Kalla juga menyatakan tak ingin banyak berbicara lagi soal komitmen dalam menjaga keberagaman di Indonesia, dalam memelihara semangat Bhinneka Tunggal Ika. Menurut JK, komitmen untuk menjaga keberagaman bukan hanya dari pidato, melainkan harus dilihat dari apa yang sudah dilakukan dirinya dan pasangan capresnya Joko Widodo.

“Karena tadi saudara moderator meminta kami itu meyakinkan, menurut saya, keyakinan itu yakin kalau ada bukti. Tidak bisa yakinkan orang dengan pidato seperti yang Pak Jokowi yang sampaikan tadi. Bhinneka Tunggal Ika yakinlah kami akan laksanakan itu,” ujar JK dingkat.

JK menegaskan dirinya dan Jokowi tidak akan bicara ide, tapi bukti dalam pelaksanaan. JK menyebut sejumlah bukti bagaimana dia menyelesaikan konflik horizontal yang pernah terjadi di Poso, Ambon, dan Aceh. “Alhamdulillah, saya selesaikan di Poso, Ambon, Aceh. Saya tidak bicarakan harapan, saya tidak bicara keyakinan atau pidato. Tapi, ini yang telah saya laksanakan,” kata Kalla.

Lalu, apa yang membedakannya?
Paling tidak ada dua cara untuk mencari kehebatan dan kelemahan kedua pasangan ini dalam hal kesungguhan dan ketegasan (taat asas) tentang prinsip keberagaman itu, atau hanya sekadar permainan kata untuk tujuan politik.

Pertama, dengan mencermati jejak rekam keempat ’tokoh terbaik’ bangsa ini. (Secara formal keempat tokoh ini pantas diberi predikat putera terbaik bangsa saat ini, setelah mereka memenuhi syarat dan secara resmi ditetapkan oleh KPU sebagai Capres-Cawapres). Dengan mencermati jejak-rekam, kita akan terbantu untuk mendapatkan yang terbaik dari keempat putera terbaik ini untuk menjadi pemimpin Indonesia lima tahun ke depan.

Kedua, dengan mencermati jejak rekam dan kepentingan politik (khususnya tentang prinsip keberagaman) dari partai, ormas dan tokoh-tokoh pendukungnya. Sebagaimana kita ketahui, pasangan Capres-Cawapres Nomor Urut 1 Prabowo-Hatta didukung oleh Partai Gerindra, PAN, PKS, PPP, Golkar dan PBB, juga didukung oleh Front Pembela Islam (FPI), FBR, Pemuda Pancasila, Alumni Masjid Salman, serta banyak tokoh-tokoh sipil dan militer (hijau). Begitu pula asangan Capres-Cawapres Nomor Urut 2 Jokowi-JK didukung oleh PDI Perjuangan, Partai Nasdem, PKB, Partai Hanura dan PKP Indonesia, serta banyak tokoh sipil dan militer (nasionalis), banyak kelompok relawan dan alumni beberapa perguruan tinggi.

Dengan mencermati jejak-rekam dan kepentingan politik partai, ormas, kelompok relawan dan para tokoh kedua pasangan ini, kita akan terbantu untuk mendapatkan siapa yang terbaik dan yang lebih layak terpercaya dari kedua pasangan ini untuk menjadi pemimpin keberagaman (kebhinneka tunggal ikaan) Indonesia lima tahun ke depan. Silakan cermati, siapa di antara kedua pasangan yang kemungkinan akan tersandera oleh kepentingan politik partai, ormas dan para tokoh pendukungnya yang selama ini jejak rekamnya tidak (kurang) sejalan dengan prinsip keberagaman (bhinneka tunggal ika).

Tentukan pilihan Anda dengan cermat! Catatan Kilas Ch. Robin Simanullang | Redaksi TokohIndonesia.com |

© ENSIKONESIA – ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA

 

Tokoh Terkait: Joko Widodo, Jusuf Kalla, | Kategori: Opini – CATATAN KILAS | Tags: Keberagaman, Pilpres 2014, Debat, Capres-Cawapres

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here