Bankir Pimpin Telkom

 
0
217

Bankir Pimpin Telkom

[BERITA TOKOH] – – Jakarta 25/6/2005: Di luar dugaan mantan Dirut Bank Danamon dan Wakil Dirut BNI Arwin Rasyid dipercaya pemerintah menjadi Direktur Utama PT Telkom Tbk dalam RUPS, yang berlangsung di Kantor Divre II Telkom Jakarta, Jumat (24/6/2005). Alumni S1 FE-UI (1980) dan S2 (MBA) International Business-University of Hawaii, USA, itu menggantikan Kristiono yang semula dijagokan akan tetap menduduki jabatan itu.

Terpilihnya Arwin, pria kelahiran Roma, Italia 22 Januari 1957, yang sebelumnya juga dicalonkan dalam bursa Dirut Indosat, di luar dugaan banyak kalangan yang menginginkan dirut Telkom dari orang dalam dan berpengalaman di industri telekomunikasi. Tidak banyak orang yang memprediksi Arwin, bankir yang dekat dengan Sofyan Djalil, Menteri Komunikasi dan Informasi itu setelah gagal menjadi Dirut Indosat akan dipercaya memimpin Telkom.

RUPS juga menetapkan adanya jabatan Wakil Direktur Utama yang dipercayakan kepada mantan Direktur Bisnis dan Jasa Telekomunikasi Garuda Sugardo. RUPS menyetujui susunan Dewan Direksi yang diajukan Dewan Komisaris Telkom untuk menambah jajaran direksi dari lima menjadi tujuh. Sementara susunan Dewan Komisaris tidak berubah, tetap lima orang yang dipimpin Tanri Abeng sebagai Komisaris Utama.

Adapun susunan direksi baru PT Telkom Tbk hasil RUPS 24 Juni 2005 adalah: Direktur Utama Arwin Rasyid, Wakil Dirut Garuda Sugardo, Direktur Keuangan dan Investasi Rinaldi Firmansyah, Direktur Infrastruktur dan Jaringan Abdul Haris Matondang, Direktur Korporasi dan Wholesale Aris Yahya, dan Direktur SDM dan Pengempangan John Welly.

Di hadapan RUPS, Arwin bersama seluruh anggota direksi yang baru terpilih menyatakan kesediaannya menduduki jabatan ketika ditanya Komisaris Utama PT Telkom Tanri Abeng. Arwin Rasyid mengatakan, dirinya tidak akan pura-pura menjadi orang yang mengetahui segala hal soal telekomunikasi. Namun, sebagai bankir, dia akan bekerja sama dengan seluruh direksi untuk memajukan Telkom sebagai ikon perusahaan Indonesia. Maka dia meminta diberi waktu untuk menjelaskan mengenai misi para direksi. Penjelasan tersebut akan disampaikan bersamaan dengan pengumuman kinerja kuartal II Telkom.

Arwin mengatakan, Telkom menghadapi tantangan untuk meningkatkan penetrasi penggunaan telepon, terutama di pedesaan. Saat ini jaringan telepon hanya menjangkau 50 persen pedesaan di Indonesia, padahal di China mencapai 80 persen.

Sementara itu, Menteri Negara BUMN Sugiharto mengatakan, Arwin Rasyid diharapkan dapat mendorong Telkom menjadi perusahaan yang memiliki kapitalisasi sebesar 33 miliar dollar AS, dari kapitalisasi saat ini yang hanya 11 miliar dollar AS. Meski tidak berpengalaman di bidang telekomunikasi, Arwin diharapkan mampu menstabilkan keuangan Telkom sebagai perusahaan terbesar yang terdaftar di pasar modal Indonesia.

Bagi dividen
RUPS juga memutuskan Telkom mengalokasikan dividen Rp3,06 triliun atau 50% dari laba tahun buku 2004. Sedangkan sebanyak 47% atau Rp2,7 triliun digunakan untuk pengembangan perusahaan.

Selama 2004, Telkom memperoleh pendapatan operasi Rp33,95 triliun atau tumbuh 25% dibandingkan tahun sebelumnya, Rp27,12 triliun. Pada tahun 2005, Telkom Group mengalokasikan capital expenditure (capex) atau belanja modal Rp6,1 triliun untuk Telkom dan US$700 untuk anak perusahaan PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel).

PDAT
LAHIR di Roma, Italia, ia kemudian melewatkan masa kanak-kanak di Swiss selama enam tahun dan Singapura lima tahun. Ketika ia pulang ke Indonesia, apa yang terjadi? Arwin Rasyid tidak bisa berbahasa Indonesia. “Saya pikir bahasa Indonesia itu bahasa Padang,” tutur Direktur Utama Bank Danamon ini. Karena sehari-hari keluarganya berbahasa Inggris dan bahasa Padang. Ayahnya seorang diplomat asal Sumatera Barat; ibunya berdarah Sumatera Barat pula. Atas dispensasi dari Departemen P&K, Arwin masuk sekolah internasional, The Gandhi Memorial School Jakarta, yang tidak memakai bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar.

Tapi, setelah lulus sekolah internasional itu, ayah dan ibunya menginginkan Arwin kuliah di dalam negeri. Tapi kalau ayahnya menginginkannya masuk fakultas hukum, mau sang ibu agar bungsu dari empat bersaudara itu masuk fakultas kedokteran. Padahal, Arwin berpeluang kuliah di University of New Delhi di New Delhi, India, dengan beasiswa dari The Gandhi Memorial School.

Apa yang terjadi, Arwin menentukan sendiri pilihannya. Ia masuk Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, sambil mengambil kursus intensif bahasa Indonesia. “Tahun pertama dan kedua kuliah, setiap pertanyaan, saya jawab dengan bahasa Inggris,” papar MBA dari Universitas Hawaii, Honolulu, AS, ini. “Untung dosen UI banyak yang lulusan Amerika, seperti Emil Salim, Sri-Edi Swasono, Miranda Goeltom,” tambahnya. Saat mahasiswa, selain pernah jadi asisten Sumitro Djojohadikusumo, ia sudah aktif di Lembaga Penelitian Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia.

Lulus kuliah, 1980, ia bekerja di Bank of America sambil menyebar permohonan beasiswa. Impiannya melanjutkan studi di luar negeri terwujud berkat beasiswa dari HISWA Center untuk kuliah di Universitas Hawaii, AS, selama dua tahun. Baru satu setengah tahun, ia sudah meraih gelar M.A. ekonomi; kemudian sekalian ia memanfaatkan sisa waktu dengan mengambil gelar MBA di universitas yang sama, 1982.

Pulang ke Tanah Air, Arwin kembali ke Bank of America. Setelah tujuh tahun di bank tersebut, ia bekerja di Bank Niaga. Sepulang dari naik haji, 1999, ia hijrah ke Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) sebagai staf ahli, sampai akhirnya menjadi Wakil Ketua BPPN. Sejak Oktober 2000, Arwin dipercaya memimpin Bank Danamon.

Dalam memimpin perusahaan, ia senantiasa meningkatkan kualitas karyawan, sebagai aset utama perusahaan. Caranya melalui training dan menerapkan budaya profesional, serta mengambil bankir-bankir yang profesional, supaya ada dinamika baru.

Prinsip hidupnya: “Saya mau hidup tenang, tapi dengan taraf hidup sesuai dengan zaman sekarang.” Seperti yang diajarkan orangtuanya, Arwin mendidik anak-anaknya agar tidak manja. “Saya tidak pernah dimanja orangtua. Saya harus sekolah yang benar, bekerja yang benar dan keras. Orang tua hanya memberikan nilai-nilai hidup dan itu lebih penting daripada harta,” kata ayah lima anak ini. Untuk itulah, Arwin berupaya memberikan pendidikan yang terbaik bagi anak-anaknya, termasuk ingin menyekolahkan mereka di sekolah paling top di dunia.

Selain boling, Arwin hobi main squash sejak 1985. Olahraga ini bisa membuatnya berkeringat banyak tanpa mengenal cuaca, peralatannya tidak mahal, dan tidak menyita banyak waktu. Sebagai anggota Persatuan Menembak Sasaran dan Berburu Seluruh Indonesia (Perbakin), ia tentunya gemar berburu. Ia juga pengoleksi berbagai senjata api terdaftar.e-ti/atur

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Tokoh Terkait: Arwin Rasyid, | Kategori: Berita Tokoh – | Tags: bankir, TELKOM

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here