BIOGRAFI TERBARU

Continue to the category
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
More
    28 C
    Jakarta
    Trending Hari Ini
    Populer Minggu Ini
    Populer (All Time)
    Ultah Minggu Ini
    Lama Membaca: 3 menit
    Lama Membaca: 3 menit
    Lama Membaca: 3 menit
    Lama Membaca: 3 menit
    Beranda Berita Catatan Kilas Beberapa Poin Krusial Sebagai Benang Merah Pemikiran

    Beberapa Poin Krusial Sebagai Benang Merah Pemikiran

    Tantangan Gereja Batak Masa Depan (2)

    0
    Miss Hester Needham misionaris putri mumpuni pasifis di Tanah Batak
    Lama Membaca: 3 menit

    Tantangan Gereja Batak Masa Depan (2)

    Dalam buku “Hita Batak: A Cultural Strategy” Jilid 3 perikop “Tantangan Gereja Batak Masa Depan” saya menulis ‘Teras Narasi’ berikut ini: “Lalu, bagaimana masa depan Gereja-gereja Batak (saya menyebutnya: “Gereja denominasi Batak”) antara lain: HKBP, GBKP, HKI, GPKB, GMB, GPI, GKPS, GKPI, GKPA, GKPPD, GKLI, GPP, HKIP, GIKI; dan Gereja-gereja lainnya yang ada di Tanah Batak: Katolik, GMI, Advent, GPdI, GBI, dsb.); Akankah mengikuti ‘induknya’ atau ‘saudara tuanya’ yang di Barat? Kemungkinan sekitar 50-100 tahun yang akan datang kecende­­r­ungan itu bisa terjadi, jika tidak ada perubah­an orientasi, paradigma dan narasi-narasi pengajaran (khotbah) dari yang ‘lazim’ dan stagnan selama ini.

     

    Sebuah refleksi futuristik yang (diakui atau tidak) sangat tajam, berani, dan mendasar, progresif mengenai lanskap gereja-gereja “denominasi Batak” dalam menghadapi gelombang sekularisasi global. Gagasan ini menyentuh akar teologis, sejarah misi, hingga strategi kebudayaan yang selama ini sering terabaikan akibat stagnasi narasi, bahkan disinformasi sejarah. Berikut beberapa poin krusial yang menjadi benang merah dari pemikiran ini:

    Pertama, Peringatan Historis dan Ancaman Sekularisasi: Pembacaan atas peringatan Just Havelaar (De Nieuwe Mensch, 1928) mengenai perangkap “hutan belantara peradaban modern” menjadi alarm yang masih sangat relevan. Jika gereja-gereja Batak hanya mengulang formula pengajaran konvensional yang diwarisi dari misionaris Barat tanpa transformasi paradigma dan strategi budaya, tidak mustahil gereja-gereja di Tanah Batak berisiko mengalami pengosongan penganut dan kehilangan daya spiritualnya, persis seperti yang dialami oleh kekristenan di Eropa modern. Pertanyaan kritis: Apakah anak-anak kita masih bangga sebagai Kristen Batak? Apakah masih bangga sebagai Batak? Apakah masih bangga sebagai Kristen? Mari buktikan di rumah kita sendiri. Jangan-jangan mereka secara sembunyi sudah mengarah jadi agnostik dan/atau ateis kebarat-baratan.

    Kedua, Pergeseran Paradigma dari Taurat (PL) ke Injil (PB): Salah satu kritik teologis yang saya kemukakan atas warisan misi nasa lalu adalah dominasi pola pikir legalistik/Taurat dalam praktis bergereja dan berkhotbah (Injil berparadigma Taurat dan/atau Injil terdistorsi). Tuntutan untuk memperbaharui dan revitalisasi pemahaman Alkitab menuju (semestinya) berparadigma Injil (keselamatan, kasih, kebebasan, dan jalan pasifis Kristus yang cerdik dan tulus – Supranalar Jalan, Kebenaran dan Hidup) menjadi syarat mutlak agar iman tidak berhenti pada hukum-hukum formalis atau aturan kelembagaan gereja semata. Melainkan hidup mengakar dan membudaya dalam tradisi-adat keseharian. Sebagaimana leluhur Batak: Adatnya adalah agamanya dan agamanya adalah adatnya; Dalam sistem kemasyarakatan (sistem kasih intersubjektif kekitaan Batak) Dalihan Na Tolu Paopat Sihalsihal. Serta amsal klasik leluhur Batak: “Saluhut panggulmit ni ngolu saguru lomo ni Debata do”. (Segenap denyut nadi kehidupan tergantung kehendak Allah semata). Totalitas salib agung garam dan terang dunia!

    Ketiga, Revitalisasi Misi dan Misi Balik (Reverse Mission): Gagasan untuk menyiapkan misionaris Batak mumpuni yang mampu “menghidupkan kembali” iman Kristen Barat adalah sebuah lompatan visi (Sebagaimana juga dikemukakan Ephorus Tinambunan di GBK 18/10/2026). Hal ini hanya mungkin terjadi jika gereja Batak (pendeta misi Batak) telah mumpuni mengintegrasikan nilai-nilai luhur kebudayaan Batak—yang menempatkan tondi (roh), batin, hati, dan spiritualitas totalitas (Horas tondi madingin, pir tondi matogu) melampaui sekadar rasionalisme dingin—sehingga gereja suku (Batak) yang diurapi Api Roh (Hari Pentakosta) mumpuni hadir secara inklusif sebagai Garam dan Terang dunia. Bukan menjadikan suku bangsa lain menjadi kebatakan, melainkan menguduskan setiap suku bangsa dalam penghormatan atas hulu eksistensinya. Jangan menjadi “Pengikut Nommensen” yang antagonistis ekstrim di negeri orang.

    Keempat, Dekompresi Pengultusan Figur Misionaris: Catatan kritis mengenai cara pandang terhadap sejarah misi sangat krusial. Membebaskan diri dari pengultusan berlebihan terhadap figur misionaris ahistoris (disinformasi)— Rasul Batak Ompu i I.L. Nommensen—bukanlah bentuk pembangkangan sejarah, melainkan pelurusan sejarah dan “pertobatan sejarah” serta upaya mendudukkan mereka secara proporsional. Langkah ini memberi ruang bagi gereja untuk tidak buta berterimakasih dan terutama untuk kembali pada keteladanan rasuli yang pasifis dan penuh belas kasih, sebagaimana juga dicerminkan oleh figur seperti Miss Hester Needham di Tanah Batak.

    Tantangan ini menuntut respons yang kontemplatif, transformatif, dan kolaboratif dari para teolog, pendeta, serta seluruh elemen awam (imamat am orang percaya) agar Gereja Batak tidak sekadar menjadi fosil tradisi, melainkan komunitas iman yang bernapas dan bernalar relevan bagi zaman. (Bersambung: Konsep Reverse Mission Gereja Batak)

    Ch. Robin Simanullang, penulis buku “Hita Batak: A Cultural Strategy” –  Buku Trilogi Omnibus Kebatakan, Penegak Citra Eksistensi Batak.

     

    Advertisement

    TINGGALKAN KOMENTAR

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini