Isu NII dan Implementasi Pancasila

 
0
97

Isu NII dan Implementasi Pancasila

[TOPIK PILIHAN] – Pancasila – Hiruk-pikuk berita tentang beberapa mahasiswa yang menghilang dan diduga dicuci otaknya oleh NII (Negara Islam Indonesia) telah mendominasi berita media massa dalam sebulan terakhir. Beberapa orang yang mengaku mantan NII, bahkan juga mengaku ayah-ibunya NII, telah menjadi narasumber ‘utama dan terpercaya’ beberapa media televisi, cetak dan online. Mereka selalu mengaitkan NII KW9 dengan Ma’had Al-Zaytun. Bahkan beberapa media cenderung telah bernada menghakimi.

Isu NII KW9 dikaitkan dengan Al-Zaytun, memang setiap tahun menjelang musim penerimaan santri sering ditiupkan. Namun kali ini isu itu dikaitkan dengan adanya beberapa mahasiswa yang menghilang dan diduga dicuci otaknya serta hartanya dikuras oleh NII. Mereka dicuci otaknya hijrah dari NKRI (Pancasila) ke NII (Syariat Islam Radikal). Dan para narasumber yang mengaku mantan NII selalu mengaitkannya dengan Al-Zaytun. Anehnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) tampaknya lebih percaya kepada para mantan NII daripada kepada pemerintah, khususnya Menteri Agama.

Opini publik pun sempat terbentuk yang memberi stigma radikal, anti Pancasila bahkan sarang teroris yang diarahkan ke Al-Zaytun dan Panji Gumilang pun dipersepsikan sebagai orang paling berbahaya bagi masyarakat, bangsa dan negara. Bahkan, paling menyedihkan, para pakar dan praktisi hukum (penegak hukum) dalam acara Jakarta Lawers Club di TVOne berteriak-teriak ‘menghakimi’: Tangkap Panji Gumilang!

Bukan hanya itu. Siapa-siapa yang telah berkunjung ke Al-Zaytun telah pula dipersepsikan sebagai NII. Beberapa partai pun, terutama Partai Demokrat yang Ketua Umum dan Sekjennya baru berkunjung dan memberi sekadar sumbangan ke Al-Zaytun, disebut telah disusupi NII.

Berbeda pendapat, apalagi persepsi, adalah hal wajar. Namun, bagi manusia yang berpikir rasional dan positif, memberi pendapat dan persepsi atas hal yang subtansi dan kenyataannya tidak (belum) diketahui (buta) adalah hal tidak patut. Apalagi bila persepsi menghakimi itu muncul dari mulut para elit hukum, politik dan ulama bahkan rektor.Berbeda pendapat, apalagi persepsi, adalah hal wajar. Namun, bagi manusia yang berpikir rasional dan positif, memberi pendapat dan persepsi atas hal yang subtansi dan kenyataannya tidak (belum) diketahui (buta) adalah hal tidak patut. Apalagi bila persepsi menghakimi itu muncul dari mulut para elit hukum, politik dan ulama bahkan rektor.

Kita sependapat dengan Ketua Umum DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum yang telah berkunjung ke Al-Zaytun bersama Sekjen DPP Partai Demokrat Edhie Baskoro Yudhoyono dan rombongan, bulan Maret lalu bahwa untuk meluruskan pandangan miring soal ponpes Al-Zaytun, Anas meminta semua pihak yang masih penasaran datang langsung ke ponpes di Indramayu itu. “Silahkan datang dan lihat sendiri Al-Zaytun. Kalau saya, mungkin akan datang lagi, jika berkesempatan. “Jangan ribut sendiri, tuduh-menuduh, jelek-menjelekkan yang tidak jelas juntrungannya,” kata Anas.

Langkah itu pulalah yang dilakukan oleh pemerintah melalui Menteri Agama Suryadharma Ali. Bersama beberapa pejabat Dirjen dan Balitbang Kementerian Agama sengaja datang berkunjung sekaligus mengklarifikasi berbagai isu negatif. Dia pun bersama Syaykh Al-Zaytun menggelar temu pers hampir empat jam menjawab berbagai pertanyaan wartawan.

Menteri Agama pun meyakini bahwa Al-Zaytun tidak terkait NII. Suryadharma Ali mengatakan tidak menemukan keterkaitan Al Zaytun dengan NII KW 9 yang radikal. Dia pun memastikan kesimpulan tersebut juga bersumber dari penelitian Kementerian Agama yang komprehensif dan valid.

Sementara terkait dugaan pengumpulan dana bagi Al-Zaytun dengan menggunakan metode pencucian otak para santrinya, Suryadharma yakin bahwa hal tersebut tidak benar. “Saya yakin tidak ada. Di sana ada ribuan santri, kalau mau cuci, cuci saja. Mereka baik-baik saja,” kata Suryadharma.

Sedangkan Syaykh Al-Zaytun menjawab pertanyaan tentang pengaruh cuci otak itu mengatakan supaya tidak dicuci otak, kembalilah kepada ajaran Illahi lima nilai dasar negara itu. “Kita selalu mengatakan Pancasila, Pancasila, Pancasila. Prakteknya tidak ada lima sila itu. Praktekkan. Al-Zaytun mempraktekkan itu,” tegasnya.

Dia menegaskan agar lima nilai-nilai dasar (Pancasila) itu diajarkan dan diimplementasikan, praktekkan. Al-Zaytun yang bermotto toleransi dan perdamaian, mempraktekkannya. “Kalau sekolah-sekolah itu diadakan seperti ini, tidak ada itu bahasa cuci otak. Tidak ada bahasa-bahasa yang lain-lain. Karena apa? Itu ajaran Ilahi,” jelasnya.

Dalam konteks ini, bagi mereka yang merindukan Pancasila, silakan menikmatinya di Al-Zaytun. Bagi sekolah-sekolah atau pesantren-pesantren yang ingin mengajarkan dan mempraktekkan Pancasila (lima nilai dasar) silakan studi banding ke Al-Zaytun. Sebagai gambaran, redaksi majalah ini lebih banyak beragama Kristen, dan selalu menikmati go home di Al-Zaytun. Di sana (Al-Zaytun), semua umat beragama dihormati sebagai orang-orang beriman. Redaksi Ch. Robin Simanullang | Visi Berita Indonesia 84

© ENSIKONESIA – ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA

Tokoh Terkait: Ch. Robin Simanullang, | Kategori: Topik Pilihan – Pancasila | Tags: Pancasila

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here