Komite Normalisasi PSSI Gagal

 
0
69

Komite Normalisasi PSSI Gagal

[NASIONAL] – Olahraga Kongres PSSI Dihentikan – TI Jakarta, 20/5/2011: Kongres PSSI deadlock! Komite Normalisasi bentukan FIFA gagal menyelenggarakan Kongres Pemilihan Pengurus PSSI periode 2011-2015. Pemimpin sidang yang juga Ketua Komite Normalisasi Agum Gumelar menutup kongres secara sepihak dengan alasan jalannya sidang sudah tak kondusif. Suasana tidak kondusif itu terjadi karena Komite Normalisasi (KN) dan Kelompok 78 pemilik suara PSSI sama-sama ngotot.

Dalam kongres yang berlangsung di Hotel Sultan, Jumat (20/5/2011), Komite Normalisasi ngotot  mempertahankan agenda kongres yang telah dipersiapkannya untuk pemilihan ketua umum, wakil ketua umum, dan anggota Komite Eksekutif PSSI periode 2011-2015. Ketua Komite Normalisasi Agum Gumelar sebelum kongres sudah menegaskan bahwa kongres bakal berjalan sesuai dengan rencana, tidak akan ada agenda lain, termasuk memasukkan nama kandidat baru, dalam kongres.

Di lain pihak, Kelompok 78 dari 101 pemilik suara PSSI ngotot meminta pengesahan agenda kongres dengan memasukkan acara memberi kesempatan kepada Komite Banding untuk menjelaskan keputusannya dalam kongres. Sebelumnya, Komite Banding yang diketuai Achmad Riyadh dalam keputusannya meloloskan George Toisutta dan Arifin Panigoro untuk maju dalam pemilihan ketua umum dan wakil ketua umum. Namun, Ketua Komite Normalisasi Agum Gumelar menolak keputusan Komite Banding tersebut. Kelompok 78 menghendaki adanya penjelasan kenapa Arifin Panigoro dan George Toisutta tidak diloloskan. Apa aturan dalam statuta FIFA dan PSSI yang dilanggarnya?

Ketua Normalisasi Agum Gumelar berusaha menjelaskan bahwa hal itu sesuai dengan amanat FIFA. Menurut Agum kongres ini telah dipersiapkan sudah jauh-jauh hari berdasarkan ketentuan yang diamanatkan FIFA kepada KN. Dan Agum pun telah berusaha memberi penjelasan kepada FIFA untuk tidak melarang George Toisutta dan Arifin Panigoro menjadi calon ketua umum. Namun alasan ini tidak memuaskan bagi Kelompok 78, mayoritas pemilik suara PSSI. Sebab menurut mereka, tidak ada aturan dalam statuta FIFA dan PSSI yang dilanggar oleh George Toisutta dan Arifin Panigoro.Ketua Normalisasi Agum Gumelar berusaha menjelaskan bahwa hal itu sesuai dengan amanat FIFA. Menurut Agum kongres ini telah dipersiapkan sudah jauh-jauh hari berdasarkan ketentuan yang diamanatkan FIFA kepada KN. Dan Agum pun telah berusaha memberi penjelasan kepada FIFA untuk tidak melarang George Toisutta dan Arifin Panigoro menjadi calon ketua umum. Namun alasan ini tidak memuaskan bagi Kelompok 78, mayoritas pemilik suara PSSI. Sebab menurut mereka, tidak ada aturan dalam statuta FIFA dan PSSI yang dilanggar oleh George Toisutta dan Arifin Panigoro.

Peserta kongres juga meminta Ketua Komite Normalisasi yang memimpin sidang, mengeluarkan pihak yang tak punya hak suara. Peserta meminta pihak keamanan keluar dari arena kongres karena merasa tertekan. Peserta menilai pihak keamanan telah melakukan intervensi karena melarang pemegang suara berbicara. Hal ini berawal ketika salah seorang panitia melarang pemilik suara untuk menyampaikan interupsi. Beberapa pemilik suara pun langsung beranjak untuk mengusir pihak keamanan tersebut. Agum pun merespon tetapi hanya meminta pihak keamanan agak mundur. Acara pun kembali dilanjutkan.

Kemudian, atas desakan peserta kongres, Direktur Pengembangan dan Keanggotaan Asosiasi Federasi Sepak Bola Dunia (FIFA) Thierry Regennas akhirnya menjelaskan kenapa George Toisutta dan Arifin Panigoro ditolak oleh FIFA. FIFA menganggap empat kandidat tidak memenuhi syarat, bukan dua kandidat saja. Keputusan ini diambil dari hasil sidang darurat FIFA pada 4 April 2011. “Saya akan menjelaskan sejelas mungkin. Alasan keputusan ditolaknya kedua sosok ini adalah hal yang sangat prinsipal bagi FIFA. Karena agenda Liga Primer Indonesia itu di luar naungan PSSI, liga ini dianggap tidak legal. Jadi, siapa pun yang ikut terlibat dalam LPI tidak bisa maju sebagai kandidat ketua umum PSSI,” kata Regennas.

Regennas juga mengatakan bahwa empat kandidat ini juga dinilai telah memecah PSSI. “Jadi, kami ingin ada pembaruan demi kemajuan PSSI. Di sini ada 19 calon ketua umum, saya yakin Anda bisa memilih orang yang lebih baik,” kata Regennas yang sebenarnya tak berniat berbicara dalam kongres ini karena kehadirannya sebagai wakil dari FIFA hanya sebagai hanya observer. Menurut Regennas, FIFA telah melarang empat orang maju dalam pemilihan ketua umum PSSI periode 2011-2015. Namun, keputusan itu hanya berlaku pada kongres pemilihan periode ini karena FIFA mengizinkan keempat orang tersebut maju dalam kongres pemilihan periode mendatang. Keempat orang yang dilarang adalah Nurdin Halid, Nirwan Bakrie, Arifin Panigoro, dan George Toisutta. FIFA menilai mereka tidak eligible (tidak layak).

Penjelasan Thierry Regennas ini masih tidak memuaskan bagi Kelompok 78, mayoritas pemegang kedaulatan Kongres PSSI. Sebab Regennas, tidak bisa menyebut pasal berapa dalam statuta FIFA dan statuta PSSI yang dilanggar oleh George Toisutta dan Arifin Panigoro. Kelompok 78 mengendaki semua keputusan yang diambil oleh FIFA, Komite Normalisasi dan Kongres PSSI harus mengacu pada statuta FIFA dan PSSI.

Maka untuk mengetahui kejelasan apakah ada pelanggaran statuta FIFA dan PSSI, Kelompok 78 tetap ngotot agar diberi kesempatan kepada Komite Banding untuk memberi penjelasan kepada kongres. Seorang peserta kongres mengusulkan solusi supaya diadakan voting apakah agenda yang telah disiapkan KN disetujui atau ada penambahan agenda baru penjelasan Komite Banding. Dalam suasana terdesak, Agum Gumelar sempat menyetujui usulan ini setelah dia berusaha sebatas kemampuan untuk ngotot mempertahankan agenda yang telah disiapkan KN. Terlihat kesan adanya upaya Agum Gumelar menjadi pengambil keputusan dalam kongres ini.

Hal ini sudah terkesan sejak Komite Normalisasi menganulir keputusan Komite Banding yang meloloskan George Toisutta dan Arifin Panigoro. Sebagaimana dikemukakan Hadiandra, salah seorang anggota 78 pemilik suara, sehari sebelum kongres (Kamis, 19/5/2011) semestinya Komite Normalisasi menjalani keputusan Komite Banding. Menurutnya, keputusan Komite Banding adalah final yang harus dijalankan oleh Komite Normalisasi.

Sebelum kongres, Kelompok 78 telah menunjukkan sikap akan tetap memperjuangkan memasukkan nama George Toisutta dan Arifin Panigoro sebagai calon ketua umum. Di lain pihak, Agum menegaskan bahwa tidak ada agenda baru dalam kongres nanti. Komite Normalisasi bersikukuh mempertahankan hanya 18 calon ketua umum, 16 calon wakil ketua umum dan 51 calon untuk posisi anggota Komite Eksekutif yang akan bertarung dalam kongres sebagaimana telah ditetapkan.

Di tengah tajamnya perbedaan pendapat tersebut, Komite Normalisasi tampak terlalu percaya diri untuk tetap menggelar kongres. Agum tampaknya sangat PD bisa mengendalikan kongres sesuai agenda yang disiapkannya. Kesan ini masih terlihat ketika hujan interupsi begitu hiruk-pikuk dalam kongres. Agum mempersilahkan peserta kongres yang tidak setuju pada agenda yang telah disiapkan KN supaya keluar, dan mempersilakan peserta yang setuju agenda KN tetap di dalam ruang sidang. Hal ini membuat sidang makin gaduh. Seorang peserta menginterupsi dan mengingatkan Agum tentang qorum kongres.Di tengah tajamnya perbedaan pendapat tersebut, Komite Normalisasi tampak terlalu percaya diri untuk tetap menggelar kongres. Agum tampaknya sangat PD bisa mengendalikan kongres sesuai agenda yang disiapkannya. Kesan ini masih terlihat ketika hujan interupsi begitu hiruk-pikuk dalam kongres. Agum mempersilahkan peserta kongres yang tidak setuju pada agenda yang telah disiapkan KN supaya keluar, dan mempersilakan peserta yang setuju agenda KN tetap di dalam ruang sidang. Hal ini membuat sidang makin gaduh. Seorang peserta menginterupsi dan mengingatkan Agum tentang qorum kongres.

Suasana Kongres pun semakin buruk. Kongres pun diskors menjelang magrib. Kemudian dibuka kembali sekitar pukul 19.00 WIB, dan hujan interupsi terus terjadi. Kelompok 78 ngotot meminta voting untuk menentukan ada tidaknya agenda penjelasan dari Komite Banding (KB). Debat berlangsung hingga menjelang pukul 20.00. Agum terdesak dan sempat sedikit melunak dan menawarkan voting tertutup mengenai waktu untuk penjelasan KB, namun ditolak karena ingin voting dilakukan secara terbuka dan meminta semua orang dan petugas yang bukan pemilik suara supaya keluar.

Kepercayaan diri Agum mulai tampak goyah. Bisa dimaklumi, bila voting dilakukan maka Kelompok 78 yang mayoritas akan memenangkannya, bukan hanya meloloskan dan memilih George Toisutta dan Arifin Panigoro bahkan juga menggantinya sebagai Pemimpin Kongres.Namun setelah Agum menyetujui voting dilakukan secara terbuka, ada pula peserta yang mengusulkan agar sekalian dilakukan voting memilih pemimpin kongres dengan tujuan mengganti pemimpin kongres, yakni Ketua Komite Normalisasi. Hujan interupsi semakin gaduh. Kepercayaan diri Agum mulai tampak goyah. Bisa dimaklumi, bila voting dilakukan maka Kelompok 78 yang mayoritas akan memenangkannya, bukan hanya meloloskan dan memilih George Toisutta dan Arifin Panigoro bahkan juga menggantinya sebagai Pemimpin Kongres.

Apalagi, setelah salah satu anggota Komite Normalisasi FX Hadi Rudiatmo memutuskan untuk mundur dan melakukan walkout dari arena kongres. Agum tampak semakin sulit meloloskan agendanya. Akhirnya, sekitar pukul 20.45, Agum Gumelar memutuskan untuk menutup kongres karena menilai suasana kongres sudah tidak lagi kondusif. Dia pun mengetuk palu seraya berucap: “Dengan ini kongres saya tutup. Agum pun meninggalkan ruang kongres bersama anggota KN lainnya. Begitu pula perwakilan FIFA, Thierry Regennas dan Frank van Hattum, serta perwakilan AFC Alex Assosay dan Christopher James, dan Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Rita Subowo.

Kongres yang dibuka Menpora Andi Mallarangeng di Hotel Sultan, Jakarta, Jumat (20/5/2011 dan diikuti 101 pemilik suara yang terdiri atas 16 klub ISL, 16 Divisi Utama, 14 Divisi Satu, 12 Divisi Dua, dan 10 Divisi Tiga serta 33 pengprov, itu berakhir dengan kegagalan.

Bang Yos (Sutiyoso) salah seorang Calon Ketua Umum PSSI, menyesalkan keputusan Ketua Komite Normalisasi Agum Gumelar terburu-buru menutup Kongres. Bang Yos menyatakan kecewa atas jalannya kongres ini. “Saya menyesalkan putusan Agum dalam hal ini Komite Normalisasi yang sebenarnya bisa menjembatani kelompok-kelompok yang berseberangan,” kata mantan Gubernur DKI Jakarta, itu saat meninggalkan ruang kongres, Jumat malam 20 Mei 2011. Bang Yos menilai Komite Normalisasi gagal menggelar kongres. “Komite Normalisasi tak sanggup melaksanakan amanat FIFA,” katanya. Bang Yos yakin kongres akan berhasil dilakukan jika Komite Normalisasi lebih dulu melakukan pendekatan intensif kepada semua pihak terkait, terutama Kelompok 78 pemilik suara.

Bang Yos tampak langsung ikut memberi komando agar jajaran keamanan segera mengamankan wakil FIFA, Tierry Regenas, Van Hattum dan Rayna Saei, serta wakil AFC, Alex Soasay dan James C. Johnson, sesaat setelah Agum mengetok palu menutup kongres.

Pendapat berbeda dikemukakan Jusuf Rizal, juga salah satu calon Ketua Umum PSSI periode 2011-2015. Dia menilai Komite Normalisasi sudah menjalankan tugasnya dengan baik dalam menyelenggarakan kongres. Kalaupun pada akhirnya kongres berjalan deadlock, Jusuf Rizal lebih menyalahkan beberapa peserta kongres yang dia nilai terlalu memaksakan kehendak.

Pendapat lain disampaikan mantan pemain sepak bola nasional, Simson Rumah Pasal, yang juga sangat menyesalkan situasi kongres yang deadlock. Tadinya dia berharap, kongres kali ini bisa memilih pimpinan PSSI yang mau bekerja keras untuk memajukan sepak bola nasional. Menurut Simson, penyelenggaraan kongres kali ini mestinya mengacu pada ketentuan FIFA. Simson mengaku tidak mempersoalkan siapapun sosok yang akan terpilih. Yang penting ketua PSSI yang baru bisa meciptakan prestasi persepakbolaan nasional di kancah internasional.

Akibat deadlocknya kongres pemilihan Ketua Umum PSSI tersebut, kini PSSI terancam hukuman FIFA. FIFA sendiri menyatakan akan menetapkan nasib PSSI pada 30 Mei 2011. Sutiyoso berharap FIFA memberikan kelonggaran dan tidak menjatuhkan sanski terhadap Indonesia. Aschanul Qosasi, salah seorang calon ketua umum PSSI lainnya juga berharap tidak adanya sanksi dari FIFA setelah gagalnya kongres. “Kasihan Sriwijaya FC dan Persipura Jayapura yang tampil di AFC. Apalagi, kita jadi tuan rumah SEA Games,” katanya. rbh | Berita TokohIndonesia.com

© ENSIKONESIA РENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA

Tokoh Terkait: Agum Gumelar, | Kategori: Nasional – Olahraga | Tags: Kongres PSSI

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here