Jenderal Pesta Demokrasi

[ Rudini ]
 
0
117
Rudini
Rudini | Tokoh.ID

[ENSIKLOPEDI] Mantan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) dan Ketua Umum KPU Jenderal (Purn) Rudini meninggal dunia pada usia 77 tahun di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta Selatan, Sabtu 21 Januari 2006 malam sekitar pukul 23.00 WIB. Dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta, Minggu (22/1) pukul 13.30 WIB.

Upacara pemakaman yang berlangsung sekitar 45 menit dengan upacara militer itu dipimpin Kepala Staf TNI AD Jenderal Joko Santoso. Prosesi pemakaman itu sempat molor dari jadwal semula yang direncanakan dimulai pukul 12.00 WIB menjadi 13.30 WIB akibat turunnya hujan.

Panglima TNI Jenderal Endriartono Soetarto, Sekjen Departemen Pertahanan Letjen Sjafrie Sjamsoedin, Wakil Ketua MPR AM Fatwa, Mensekkab Sudi Silalahi, Mantan Wapres Try Sutrisno, mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Wiranto, mantan Kepala Staf TNI AD yang juga mantan Ketua Umum KONI Jenderal (Purn) Wismoyo Aries Munandar, tampak hadir di antara ratusan pelayat dalam pemakaman tersebut.

Sebelumnya, Presiden SBY berserta Ibu Ani Bambang Yudhoyono melayat di rumah duka di Jalan Fatmawati 23, Jakarta Selatan, sekitar pukul 10.30 WIB, Minggu (22/1). Presiden yang menggunakan batik gelap mengatakan turut berduka cita atas meninggalnya Rudini. Presiden mengatakan bahwa almarhum adalah tokoh tentara yang baik serta patut diteladani.

Atas berbagai pengabdiannya, Rudini menerima beberapa penghargaan di antaranya tanda jasa Bintang Mahaputra, Satya Lencana Operasi Militer V, Bintang Lencana Santi Dharma, Bintang Lencana Seroja, Bintang Lencana Unicef, Bintang Lencana Kesetiaan 8 Tahun, 16 tahun dan 24 tahun.

***

Rudini

Mantan Menteri Dalam Negeri Kabinet Pembangunan V (1988-1993), ini seorang pejabat Orde Baru yang berkiprah dalam era reformasi. Dia terbebas dari penghujatan yang menerpa pejabat-pejabat Orde Baru pada awal bergulirnya reformasi. Mantan Kepala Staf Angkatan Darat ini, justru dipercaya sebagai Ketua Komisi Pemilihan Umum (1999-2001) yang bertugas sebagai penyelenggara Pemilu 7 Juni 1999. Dia jenderal pesta demokrasi 1999.

Jenderal bintang empat kelahiran Malang, 15 Desember 1929, ini memimpin 52 anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang bertanggung jawab menyelenggarakan pemilihan umum dengan kontestan multi partai (48 partai politik dengan beragam asas dan kepentingan) pertama setelah 44 tahun. Penyelenggara Pemilu pada masa sangat sulit, terjadi krisis multidimensional.

Ketika itu, terjadi euphoria demokrasi. Semua orang merasa berhak melepaskan kebebasan menyatakan pendapat dan berorganisasi. Apa saja didebat dan ditentang jika tidak sesuai dengan kepentingan pribadi dan kelompoknya. Nyaris tak peduli apakah hal itu sesuai dengan aturan main demokrasi atau tidak.

Belum lagi harga dan ketersediaan bahan-bahan pokok masih belum stabil, nilai rupiah berfluktuasi tak terkendali, pemutusan hubungan kerja (PHK) terjadi secara besar-besaran, pengangguran bertambah banyak, dan kekerasan massa yang bergantian meledak di berbagai wilayah.

Namun, dalam kondisi seperti itu, Pemilu 7 Juni 1999, berlangsung dengan baik. Andil kesadaran dan partisipasi masyarakat adalah yang terbesar dalam menentukan keberhasilan Pemilu tersebut. Tapi kepemimpinan Rudini di KPU yang beranggotakan unsur-unsur partai dan pemerintah itu, tentulah mempunyai makna besar.

Penampilannya yang banyak senyum dan tutur katanya yang lembut, serta kedisiplinannya yang sudah terasah dan teruji, telah menopang kepemimpinannya mengendalikan KPU yang beranggotakan unsur pemerintah dan partai-partai dengan berbagai tingkah dan kepentingan.

Rudini, memang seorang jenderal yang telah terlatih dalam soal kepemimpinan dan kedisiplinan sejak masa kecil. Ayahnya, R. Ismangun Puspohandoyo, seorang pegawai dinas pekerjaan umum, telah menerapkan disiplin keras kepadanya bersama saudara-saudaranya. Sang Ayah menetapkan jadual belajar, sholat dan bermain secara ketat. ”Sebelum magrib, semua harus di rumah, untuk salat dan makan bersama.

Masa kecilnya dilalui dengan berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain di Jawa Timur, mengikuti kepindahan tempat kerja ayahnya. Anak ketiga dari sembilan bersaudara ini diboyang dari kota kelahirannya Malang ke Blitar, Tulungagung, Mojokerto dan kembali gai ke Malang saat dia duduk di kelas II HIS.

Kemudian saat ia kelas V, Jepang masuk menduduki Indonesia. Sehingga ijazah HIS-nya ditulis dalam bahasa Jepang. Saat belajar di SMP, dia ikut mendapat latihan kemiliteran dari PETA. Proklamasi Kemerdekaan RI terjadi saat dia kelas III SMP.

Sungguh dia dibesarkan dalam suasana Perang Dunia II dan Revolusi Kemerdekaan. Saat mantan Panglima Kostrad (1981), ini masih remaja, sering menyaksikan parade militer di Malang kota kelahirannya. Dia sangat mengagumi kedisiplinan dan kejuangan para prajurit itu. Sejak itu, dia bercita-cita menjadi tentara. Padahal ayah-ibunya menginginkannya menjadi dokter. Sang Ayah melihat Rudini berpotensi menjadi dokter karena sangat menyenangi pelajaran berhitung dan IPA.

Namun, Rudini kukuh dalam cita-citanya menjadi tentara. Maka setamat SMA di Malang (1950), dia mendaftarkan diri menjadi anggota TNI-AD. Dia beruntung, karena kebetulan, saat itu (1951), ada pengiriman calon perwira ke Akademi Militer di Breda, Negeri Belanda. Rudini mendaftar mengikuti tes dan lulus. Empat tahun (1951-1955) dia belajar di negeri kincir angin itu. Dengan tekun dia belajar dan megikuti setiap latihan sampai lulus tahun 1955. Kemudian dia kembali ke Indonesia dan dilantik KSAD Jenderal AH Nasution menjadi perwira remaja dengan pangkat Letnan II.

Dia pun menjadi instruktur sebapan garran di Inspektorat Pendidikan dan Latihan sebelum menjabat komandan peleton pada Yon 518/Brawijaya (1956-1959). Kemudian dia dimutasi menjadi Pelatih Taruna AMN (1959). Saat menjadi pelatih AMN bagian darat di Magelang inilah dia berkenalan dengan Oddyana, gadis Cirebon, yang kemudian menjadi isterinya dan dikaruniai tiga anak.

Tahun 1961 prajurit yang gemar menyanyi dan meniup klarinet ini mengikuti pendidikan Suski di Bandung. Juga pendidikan Para (1964), Jump Master (1966) dan Suslapa (1967) semuanya di Bandung. Tahun 1967 dia menjabat Dan Yon 401/Para (1967). Lalu mengikuti pendidikan Seskoad (1970) di Bandung dan International Defence Management Course, AS (1973). Sebelum menjabat Panglima Komando Tempur Lintas Udara (1975), dia terlebih dahulu memimpin Brigif 18/Linud (1972). Kemudian ikut Lemhanas, Jakarta (1977). Lalu dipromosikan menjabat Kepala Staf Kostrad (1977) sebelum diangkat menjabat Panglima Kodam XIII/Merdeka (1978).

Tiga tahun kemudian (1981), pengagum Jenderal Eisenhower dan Achmad Yani, ini menjabat Panglima Kostrad. Dua tahun di Kostrad, dia dipercaya menjabat Kepala Staf Angkatan Darat (1983-1986). Dua tahun dia tidak mempunyai posisi penting, setelah pensiun dari jabatan Kasad. Ketika itu, banyak orang menduga bahwa kariernya sudah berakhir.

Namun, ketika Presiden Soeharto mengumumkan susunan personalia menteri kabinet Pembangunan V periode 1988-1993, Rudini dipercaya memegang jabatan penting sebagai Menteri Dalam Negeri, yang kala itu antara lain bertugas sebagai pembina politik dalam negeri.

Pada saat menjabat Mendagri, dia menggagas dan mendirikan STPDN (Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri) di Jatinangor, Jawa Barat. Sekolah tinggi yang disetting dengan kedisiplinan tinggi, namun sayang kemudian di sana sering terjadi kekerasan oleh kakak kelas kepada adik kelas.

Dia seorang pejabat Orde Baru yang tergolong bersih. Maka tak heran, pada awal bergulirnya reformasi dia tidak tergolong pejabat Orba yang dihujat. Bahkan dia dipercaya memimpin bergulirnya pesta demokrasi sebagai ketua KPU. Di luar jalur militer dan birokrasi, dia pernah menjabat Ketua Umum Federasi Olah Raga Karate Indonesia (FORKI), 1984- 1989, walaupun dia bukan seorang krateka. Dia penggemar tenis dan sepeda argo. ti/tsl

Data Singkat
Rudini, Menteri Dalam Negeri (1988-1993) / Jenderal Pesta Demokrasi | Ensiklopedi | TNI, Menteri, KPU, AD

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here