02 | Dari Akademi Pos Jadi Dirut

Selepas lulus SMA IPA Medan 1971, ia mengikuti ujian Sipenmaru (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru). Ia diterima di Fakultas Hukum USU. Namun, sesungguhnya ia tidak sreg, karena bayangan harus menyelesaikan dalam berapa tahun dan setelah lulus belum tentu langsung ditempatkan. Apalagi, ia bayangkan kondisi keluarga besarnya. Sehingga ketika ada pengumuman di kantor pos mengenai penerimaan mahasiswa di Akademi Pos (angkatan dinas), ia pun mendaftar.

“Sebenarnya pada waktu itu saya bukan orang pilih-pilih. Saya yakin dimana pun orang menekuni suatu bidang akan membawa benefit (keuntungan) bagi dirinya dan orang lain jika ditekuni dengan serius. Itu barangkali yang sekarang diterjemahan profesional. Menjadi ahli di bidangnya, apapun, bisa tukang ukir yang ahli di kampung, jika didalami dan tekuni,” jelasnya.

Akhirnya ia masuk Akademi Pos, dengan tekad akan belajar secara serius. Sehingga dari awal ia termasuk mahasiswa yang belajar serius. Ide-ide yang ada dalam pikirannya pun selalu ia tulis. Ia memang termasuk penulis yang produktif di majalah mahasiswa ketika itu. “Itu karena saya ingin mendalami apapun yang saya kerjakan dan di mana pun saya mengerjakannya secara maksimal,” katanya.

Karirnya dimulai bekerja di Kantor Pos Medan sebagai staf, bersamaan dengan masa pendidikannya di Akademi Pos. Kemudian menjadi Kepala Kantor Pos Sidikalang. Sebuah kota kecil yang ketika magrib datang hampir tidak ada lagi orang yang lewat. Namun di sana ia betah selama 5 tahun (1979 – 1984). Ia pikir kantor pos kabupaten ini bisa mendoronganya mencari inovasi. “Jadi bukan hanya di Jakarta untuk bisa membuat inovasi,” jelas penerima Tanda Kehormatan Satya Lencana Pembangunan Bidang Pembangunan Pos, Presiden RI, 13 September 1999 ini.

Dalam melakukan inovasi, alumni Program MBA (1990) ini banyak bertanya dan berdiskusi dengan Pemda setempat. “Saya berpikir sebenarnya Kantor Pos dapat digunakan menjadi kantornya Pemda. Dalam arti, setiap orang yang ingin mendapatkan surat catatan sipil, sebelum datang ke Kantor Bupati, selesaikan dulu pembayaran di Kantor Pos. Di Kantor Bupati hanya tinggal menanda tangan,” katanya. Ide ini pun terwujud. Pemda menyambutnya dengan baik. Bahkan kemudian, retribusi sampah juga dibayar lewat kantor pos.

Bukan itu saja. Gedung dan dinding kantor pos pun dipergunakan secara maksimal. Karena petugas pengiriman surat terbatas, ia berpikir menggalakkan penggunaan kotak pos. Sehingga tidak perlu merekrut pegawai pengantar pos. Lalu, dinding kantor pos yang lowong digunakan untuk kotak-kotak pos. Terbentuk berapa ratus kotak surat di sana, sehingga masyarakat bisa menerima surat 24 jam. Setiap keluarga punya kunci sendiri. Akhirnya, pengantar pos menjadi berkurang karena masyarakat yang mengambil sendiri. Tetapi masyarakat membayar untuk setiap kotak pos yang ada.

Itu contoh inovasi yang ia kerjakan di kota kecil. Ia seorang yang dikenal kaya inovasi dan mempunyai kebiasaan lebih banyak berada di lapangan dibandingkan di kantor. Ia ‘pegawai pemerintah’ yang berpikir dan mampu melaksanakan apa yang dipikirkannya. Keberanian berinovasi ini terus berlangsung di manapun ia ditempatkan. Baik sebagai Kepala Kantor Pos (Ka.Kp) Batusangkar (1984–1985), Ka. Kp Tanjungpinang (1985), Ka.Ur Kepegawaian Wilpos I Jakarta (1988-1990), Ka. Wasipos-1 Kantor Pusat (1990-1991), Ka.Kpb I Ujungpandang (1991-1993), Ka. Kpb I Jakarta (1993-1995), Wakil Kawilpos IV Wilpos IV Jakarta (1995-1997), Kawilpos IV Wilpos IV Jakarta (1997-1999), sampai menjabat Direktur Utama PT Posindo (sejak 1999). crs, mlp (Diterbitkan juga di Majalah Tokoh Indonesia 03 – Juli 2003)

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here