Serukan Pilpres Jadi Perang Badar

[ Amien Rais ]
 
0
138
Amien Rais
Amien Rais | Tokoh.ID

[ENSIKLOPEDI] Ketua Majelis Pertimbangan Pusat Partai Amanat Nasional Prof. Dr. Amien Rais menyerukan Pilpres 2014 jadi Perang Badar. Seruan ini dikemukakannya kepada umat Islam untuk memenangkan Capres-Cawapres Prabowo-Hatta Rajasa.

Seruan ini di mata publik menampakkan sosok Amien Rais yang sesungguhnya. Dia menunjukkan sosok seorang tokoh Islam yang sangat fanatik (konsern) kepada kepentingan eksklusif Islam dengan cara menganggap pihak lain adalah musuh dan kafir. Padahal, mantan Ketua Umum Partai Amanat Nasional itu dikenal sebagai seorang politisi dan cendekiawan Islam yang kadang kala menampakkan sosok kebangsaan yang taat azas (konstitusi) layaknya seorang negarawan.

Namun dalam beberapa kesempatan, ‘jubah kebangsaan’ yang taat azas itu tampaknya terlalu longgar (tidak pas) bagi pria kelahiran Surakarta, Jawa Tengah, Rabu, 26 April 1944 itu. Hal itu terkesan dalam beberapa langkah politiknya yang dirasakan banyak pihak (termasuk oleh penganut politik Islam yang rahmatan lil’alamin) sebagai politik sektarian (fanatisme sempit) dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang telah menyepakati dasar negara (ideologi) Pancasila.

Hal ini jugalah yang dirasakan beberapa pihak dari penampakan sosok (politik) Amien Rais dalam persaingan politik Pilpres 2014 ini. Amien Rais yang juga merupakan tim sukses pasangan Capres-Cawapres Prabowo – Hatta saat berpidato di Masjid Al-Azhar, Jakarta, Selasa (27/5/2014), menyamakan dan menyerukan Pilpres menjadi layaknya Perang Badar. Dia menyerukan perlunya menggunakan spirit perang badar dalam Pilpres. “Saya minta umat muslimin itu jangan minta Perang Uhud tapi minta Perang Badar,” kata Amien Rais.

Dalam acara Isra Mi’raj di Masjid Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, itu Amien mengatakan pemilihan presiden seperti Perang Badar. Amien pun mengajak hadirin memilih Prabowo Subianto-Hatta Rajasa.

Amien Rais menegaskan, PAN akan menggunakan mental Perang Badar dalam menghadapi pemilu presiden ini. “Dahulukan perjuangan ketimbang bagi-bagi harta rampasan perang,” kata Amien. Dia menyerukan agar kaum muslim dalam Pilpres jangan (mental dalam) Perang Uhud, wani pira atau bagaimana nanti rampasan perangnya.

Amien Rais menegaskan, PAN akan menggunakan mental Perang Badar dalam menghadapi pemilu presiden ini. “Dahulukan perjuangan ketimbang bagi-bagi harta rampasan perang,” kata Amien. Dia menyerukan agar kaum muslim dalam Pilpres jangan (mental dalam) Perang Uhud, wani pira atau bagaimana nanti rampasan perangnya.

Amien menjelaskan, prajurit dalam Perang Uhud telah kemasukan kepentingan pribadi yang berorientasi dunia. Dalam Perang Uhud, prajurit berperang bukan untuk kebenaran dan keadilan, melainkan demi harta rampasan perang. Sebaliknya, Amien menyebut bahwa perjuangan para prajurit dalam Perang Badar adalah ikhlas membela kehormatan diri dan tanah air. Karena itu, tutur Amien, kemenangan dapat digenggam dalam Perang Badar. Maka, sebagai kaum Muslimin, Amien pun menganjurkan penggunaan mentalitas Perang Badar alih-alih Perang Uhud.

“Jadi, kalau mulai maju (niatnya seperti di) Perang Uhud, insya Allah kalah. Kalau (niatnya seperti di) Perang Badar, ini siapa, menterinya siapa, itu nanti, insya Allah kita kali ini dimenangkan,” ucap politikus Partai Amanat Nasional yang bergabung bersama lima partai politik lain mendukung pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa sebagai calon presiden dan calon wakil presiden. Lima partai lain dalam poros ‘Perang Badar’ ini adalah Partai Gerakan Indonesia Raya, Partai Keadilan Sejahtera, Partai Golongan Karya, Partai Persatuan Pembangunan, dan Partai Bulan Bintang.

Seruan Amien Rais ini menuai kontroversi. Tentu ada beberapa pihak mengamini seruan Amien ini. Namun banyak pihak yang sangat menyayangkan ucapan Amien yang menyamakan Pilpres dengan Perang Badar tersebut. Seruan ini dianggap sebagai provokasi yang tak pantas karena menggunakan sentimen agama. Sebab, kontestasi dalam Pilpres ini bukanlah perang yang harus ada yang kalah dan terbunuh dan menang lalu pesta dan hura-hura.

Mantan Ketua Umum Tanfidziyah Pengurus Besar NU, Salahuddin Wahid menyatakan tidak pantas Pilpres disamakan dengan Perang Badar. “Perang Badar merupakan perang yang melibatkan kontak fisik. Sedangkan pemilihan presiden sama sekali tak berkaitan dengan kegiatan fisik. Pilpres, merupakan adu gagasan para calon presiden dalam memperjuangkan kesejahteraan rakyat,” kata Salahuddin Wahid.

Salahuddin menegaskan, Perang Badar merupakan perang suci untuk menegakkan agama, sedangkan Pilpres tak bertujuan untuk menegakkan salah satu agama mana pun. “Di mana sucinya. Wong saling ‘tabok’ begitu kok suci,” kata pemimpin Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, ini. Dia merujuk maraknya kampanye hitam yang ditujukan untuk salah satu pasangan capres menjelang pemilu digelar.

Perang Badar adalah pertempuran yang terjadi pada 17 Maret 624 Masehi atau 17 Ramadan 2 Hijriah antara pasukan kecil kaum Muslim yang berjumlah 313 orang melawan pasukan Quraisy (kafir) dari Mekkah yang berjumlah 1.000 orang. Setelah bertempur habis-habisan sekitar dua jam, pasukan Muslim menghancurkan barisan pertahanan pasukan Quraisy, yang kemudian mundur dalam kekacauan. Kekalahan Quraisy dalam Perang Badar menyebabkan mereka bersumpah untuk membalas dendam, dan hal ini terjadi sekitar setahun kemudian dalam Perang Uhud.

Mantan Ketua PBNU, KH. Hasyim Muzadi menegaskan bahwa Pilpres bukan perang badar. Menurutnya, antara perang badar dan pilpres punya perbedaan prinsip yang sangat mendasar. “Perang badar adalah sebuah perang suci untuk mendapatkan surga, sementara Pilpres hanya untuk mencari jabatan,” jelas KH. Hasyim Muzadi kepada pers Sabtu (31/5/2014) di Ponpes Alhikam, Kota Malang.

Hasyim meyesalkan pernyataan yang menganalogikan Pilpres sebagai perang badar, karena akan merugikan Islam. “Kalau orang di luar Islam menilai, o… ternyata perang badar itu untuk mencari kekuasaan,” katanya. Dia mengingatkan, Pilpres hanya sebuah proses duniawi, sehingga tidak sepantasnya disamakan dengan sesuatu yang sakral dalam agama.

Hasyim menyerukan agar seharusnya orang Islam berpolitik dengan cara-cara Islam. “Bukan merasa atas nama Islam, kemudian bisa melakukan perbuatan apa saja,” tegas Hasyim Muzadi.

Menanggapi seruan Amien Rais untuk menjadikan Pilpres layaknya Perang Badar, Juru Bicara Capres-Cawapres Jokowi-JK, Abdul Kadir Karding dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Kamis (29/5) mengatakan jangan menghadap-hadapkan rakyat dengan statement provokasi-provokasi yang mengadu domba rakyat. Menurut Karding, tidak seharusnya Amien Rais yang sudah cukup terkenal menjadi tokoh nasional berpikir sektarian dan berbau SARA. Harusnya semua pihak dan tokoh bangsa ini bisa menjadi katalisator bagi terciptanya suasana kondusif dalam pilpres 2014 mendatang.

Terkait pernyataan Amien Rais yang menyebut pertarungan kubu Prabowo-Hatta vs Jokowi-JK sebagai Perang Badar tersebut, Pengurus Yayasan Paramadina Ade Armando, dalam akun Twitter @adearmando1 menuliskan: “Lho, Amien kan di kubu Jahiliyah?” Dia menuliskan: “Ya Allah ampunilah pendukung Prabowo karena mereka tidak gunakan otak dan hati yang Kau berikan.”

Pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI) Dr. Arbi Sanit juga mengecam istilah Perang Badar untuk pilpres yang diserukan Amien Rais. Arbi Sanit mengatakan pernyataan Amien Rais yang menganalogikan persaingan di Pemilu Presiden dengan Perang Badar menunjukkan pola pikir dan laku politiknya melebihi Abu Bakar Ba’asyir. (http://pemilu.metrotvnews.com/read/2014/06/01/247832/sebut-perang-badar-pemikiran-amien-rais-dinilai-melebihi-ba-asyir)

Ba’asyir ialah pendiri Pondok Pesantren Ngruki yang kerap dikaitkan dengan aksi terorisme. Arbi menilai Amien yang merupakan motor gerakan reformasi telah menghalalkan segala cara demi membela pasangan Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa. “Perang Badar itu kan agama sedangkan pilpres itu politik. Kalau Amien Rais menyamakan seperti itu, ia berarti sudah kayak teroris, mau mengafirkan musuh politiknya. Hanya demi membela Hatta-Prabowo, demi sepotong kekuasaan, Amien memertaruhkan agama dan demokrasi,” ujar Arbi kepada wartawan di Jakarta, Minggu (1/6/2014). Arbi menyebut Amien sudah Machiavellist, semuanya dipertaruhkan demi kekuasaan.

Menurut Arbi, cara Amien menggunakan analogi Perang Badar sama saja menganggap musuh politik Prabowo-Hatta sebagai pihak kafir. “Itu sama saja mengkafirkan musuh politiknya,” kata Arbi. Arbi pun merasa heran dengan Amien yang dikenal sebagai tokoh reformasi tapi malah getol mendukung duet Prabowo-Hatta. Padahal, kata Arbi, Prabowo adalah bagian dari masalah Orde Baru. “Hanya demi membela Hatta demi Prabowo, demi sepotong kekuasaan, Amien pertaruhkan agama dan demokrasi,” sesal Arbi.

Perang Badar Amien Dipelintir
Wakil Ketua Umum DPP PAN Dradjad Wibowo usai diskusi di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (31/5/2014) mengatakan seruan Amien Rais agar pendukung Prabowo Subianto-Hatta Rajasa menggunakan semangat perang Badar dalam Pilpres 2014 disalah mengerti banyak kalangan.

Dradjad menjelaskan, Amien Rais sebenarnya ingin menasihati tim Prabowo-Hatta agar berjuang seperti semangat dalam Perang Badar, berbeda kedudukannya dengan Perang Uhud. Walaupun seruan itu disampaikan di acara Isra Mikraj di Masjid Al Azhar Jakarta. “Perang Badar lebih didasari kepada keikhlasan sehingga seluruh tim Prabowo-Hatta berjuang sepenuh hati. Sementara dalam Perang Uhud, mengharapkan kedudukan atau hasil rampasan perang,” jelasnya.

Saat itu, Amien hanya menegaskan, pihaknya belum memikirkan posisi menteri dalam koalisi Merah Putih yang diperkuat Gerindra, PAN, PKS, PPP, Golkar, serta PBB tersebut. Mereka lebih konsentrasi memenangkan Pilpres. Untuk memenangkannya, Amien meminta pendukung Prabowo-Hatta menggunakan mental Perang Badar. “Dahulukan perjuangan ketimbang bagi-bagi harta rampasan perang. Jangan (mental dalam) Perang Uhud, wani pira atau bagaimana nanti rampasan perangnya,” demikian kata Amien. Penulis: TSL | Bio TokohIndonesia.com

Data Singkat
Amien Rais, Ketua MPR RI (1999-2004) / Serukan Pilpres Jadi Perang Badar | Ensiklopedi | Islam, PAN, Radikal, Pilpres, Fanatik, Perang Badar

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here