Birokrat yang Paham Kalteng

[ Achmad Diran ]
 
0
51
Achmad Diran
Achmad Diran | Tokoh.ID

[DIREKTORI] Wakil Gubernur Ir. H. Achmad Diran merupakan pasangan serasi Gubernur Agustin Teras Narang. Semenjak masih dalam pencalonan pun, duet keduanya sudah menunjukkan kesatupaduan dalam berbagai hal. Kini ia bertugas menyatukan visi seluruh aparat Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah supaya sama-sama membuka keterisolasian, memberikan kesejahteraan kepada warga, serta memulihkan martabat mereka.

Teras Narang mantan profesional di bidang hukum, yang lalu terjun menjadi politisi sebagai anggota DPR dari PDI Perjuangan itu memiliki jaringan kuat di tingkat pusat. Teras dekat dengan para pengambil keputusan di level atas, sehingga setiap kebijakan pemerintahan provinsi yang butuh dukungan pusat akan lebih mudah disosialisasikan. Demikian pula program-program pusat, akan mudah diimplementasikan di tingkat bawah karena Teras sudah memahami betul pola pikir para petinggi negara ini.

Sedangkan Achmad Diran lama berkecimpung sebagai birokrat sejati, terakhir kali menjabat sebagai Bupati Barito Selatan. Ia membangun karirnya dari bawah. Kalimantan Tengah yang multietnis dimana terdapat suku terbesar suku Dayak, itu dapat hidup rukun karena saling-menghargai perbedaan masing-masing. Achmad Diran yang penganut agama Islam yang taat, berasal dari daerah Jawa Tengah, begitu pas dipersandingan dengan Teras yang asli suku Dayak Ngaju dan beragama Kristen Protestan.

Ketika menjalankan safari ramadhan ke daerah-daerah, termasuk mengunjungi masjid dan pondok pesantren di situ, Achmad Diran dapat pula sekaligus menjadi penampung aspirasi warga untuk disampaikan kepada Gubernur. Safari Ramadhan menjadi kebiasaan Diran untuk meninjau hasil-hasil pembangunan yang telah dicapai, terutama pembangunan infrastruktur pembangunan jalan, jembatan dan sebagainya. Ketika melakukan safari Ramadhan ke Kotawaringin Barat, misalnya, ia dapat memperoleh peningkatan ukuwah islamiyah, serta memperkokoh semangat dan budaya Islami.

Tetapi, “Yang tidak kalah pentingnya juga, momen seperti ini bisa langsung kita manfaatkan untuk melihat perkembangan pembangunan Kotawaringin Barat, terutama pembangunan infrastruktur, serta pembangunan di bidang kehutanan, perkebunan dan kelautan” cetusnya. Diran serius dan konsekuen untuk selalu mengkoordinasikan serta melaporkan setiap aspirasi dari hasil kunjungan pertemuan dengan masyarakat kepada Gubernur Teras Narang. Achmad Diran yang kini menjadi umaro sejak kecil sudah dididik oleh orangtua, murni sebagai seorang Muhammadiyah.

Penyambung Suara Warga
Banyak ‘pekerjaan rumah’ yang harus Diran selesaikan demi mendukung tugas-tugas kepemimpinan mereka berdua untuk membuka isolasi Kalteng, memberikan kesejahteraan yang lebih baik kepada warga, dan memulihkan martabat warga Kalteng. Diran juga harus mewujudnyatakan keinginan Gubernur untuk membenahi infrastruktur, seperti menyediakan listrik dalam jumlah besar agar Kalteng tak lagi mengalami pemadaman bergilir.

Demikian pula infrastruktur rel kereta api membentang di tengah-tengah hutan dan perkebunan Kalteng, harus pula segera diwujudnyatakan agar produk-produk bumi Kalteng dapat didistribusikan dengan mudah dan murah sehingga selalu mempunyai harga bersaing di pasaran. Ketidaksediaan infrastruktur telah membuat hasil perkebunan, sawah, dan pertanian lainnya lebih banyak membusuk di halaman rumah karena tak terangkut ke pasar. “Sayuran hasil panen banyak yang membusuk dan terpaksa dibuang sebab di desa kami tidak ada alat transportasi yang bisa kami pakai untuk memasarkan jasil kebun dan pertanian,” keluhan warga seperti ini sudah sering didengar sendiri Achmad Diran.

Wakil Gubernur Achmad Diran memang sangat dekat dengan warga. Ia, misalnya, tatkala malam takbiran Lebaran 2006 tak segan-segan turun langsung menghampiri para petugas yang sedang menjalankan tugas Operasi Ketupat Telabang 2006, yang sedang menempati posnya di Bundaran Besar Palangkaraya. Kunjungan mengejutkan di malam hari itu semakin bermakna sebab Diran menyerahkan pula sejumlah bingkisan kepada mereka yang bertugas. Kunjungan yang sama dia lakukan pula di berbagai sudut kota lainnya di Palangkaraya.

Tetapi seusai Gubernur melakukan kunjungan kerja ke China, Desember 2006 lalu pembangunan rel kereta api khusus untuk angkutan barang semakin mendekati kenyataan. Sebuah tim beranggotakan Pemprov Kalteng, PT Satelit Kota, dan Nurinco salah satu perusahaan terbesar di China akan melakukan pengkajian dan bergerak bersama-sama dulu, setelah itu baru melibatkan Pemerintah China. Pertengahan 2007 sudah ada langkah-langkah konkrit menuju ke sana.

Ketua Tim Pemberantasan
Dalam hal pembagian tugas sehari-hari, rakyat Kalteng sudah sangat memahami betul perbedaan antara kedua pemimpinnya. Achmad Diran lebih banyak menjalankan operasional sehari-hari atas setiap kebijakan yang sudah ditetapkan bersama. Seperti, menjadi penanggungjawab sehari-hari pemberantasan ilegal logging. Sebagian tugas pemberantasan ilegal logging ini memang sudah diserahkan ke kabupaten/kota. Namun, bila ternyata tim bentukan pemerintahan kabupaten/kota menghadapi masalah, lalu meminta bantuan provinsi, maka Achmad Diran sudah siap-siap untuk segera turun dan bergerak.

Sejak penanganan kasus ilegal logging diperketat, di bawah kendali Wakil Gubernur, aktivitas illegal logging terbukti sudah mulai berkurang. Berdasarkan pantauannya di beberapa kota di pulau Jawa, yang selama ini menjadi pasar kayu-kayu asal Kalimantan, itu terlihat sudah mulai kekurangan bahan baku.

Hadir pada saat pelaksanaan Raker Gubernur se Indonesia di Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat Achmad Diran memperoleh penegasan dari Kapolri untuk mengikis habis ilegal logging ini.

“Dan perlu diketahui, penegasan Kapolri tentang pemberantasan kasus ilegal logging harus dikikis habis merupakan perintah tegas Kapolri untuk seluruh jajarannya di tanah aiar termasuk Polda Kalteng,” ucap Diran.

Diran memaparkan, untuk memberantas ilegal logging ini Pemprov sudah membentuk Tim Terpadu melalui SK Gubernur Kalteng Nomor 164 Tahun 2005 tanggal 2 Agustus 2005, yang kemudian direvisi dengan Keputusan Nomor 371 Tahun 2006 tanggal 19 Oktober 2006 tentang Pembentukan Tim Gabungan Penertiban/Pengamanan hutan Provinsi Kalteng, yang unsurnya terdiri dari TNI, Polri dan Instansi Pemerintah terkait. Di sini Diran tampil sebagai Ketua Tim.

Kepada setiap daerah kabupaten/kota pun, telah diinstruksikan untuk segera melakukan percepatan pemberantasan penebangan kayu ilegal di kawasan hutan dan peredarannya dengan membentuk Tim Terpadu Pemberantasan Ilegal Logging di daerah masing-masing.

Kata Diran, Kalteng juga sudah menertibkan perijinan di bidang kehutanan dengan surat Nomor 522.21/661/Ek tanggal 8 April 2006, dan menginventarisasi IPK, HPHKm dan industri yang salah satunya dengan pencabutan 36 IPK yang dinilai tidak sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Kemudian melakukan pengamanan jalur keluar hasil hutan melalui 11 daerah aliran sungai (DAS). “Pemerintah Provinsi Kalteng juga melakukan konsultasi dan koordinasi penyelesaian penanganan ilegal logging khususnya di kabupaten Katingan di hadapan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan beserta Menteri terkait,” ujar Diran.

Tim yang dipimpin Diran tak segan-segan untuk menindak tegas dan memberikan sanksi terhadap oknum dan petugas di lingkup instansi yang terlibat dengan kegiatan penebangan kayu secara ilegal di dalam kawasan hutan dan peredarannya. “Kami juga memanfaatkan informasi dari masyarakat yang berkaitan dengan adanya kegiatan penebangan kayu secara ilegal dan peredarannya,” kata Diran.

Mengerti Masalah dan Solusi
Sebagai pemimpin yang tumbuh dari bawah, Achmad Diran sangat mengerti betul persoalan daerahnya. Ia memahami daerahnya sekaligus memiliki solusi untuk memecahkannya.

Untuk mengatasi rawan pangan, misalnya, ia mendorong agar dibentuk lumbung-lumbung padi di desa-desa. Ia menyatakan setuju pembentukan lumbung padi di daerah-daerah tepencil, yang sulit dijangkau sarana transportasi, demikian pula di desa-desa yang masuk kategori rawan pangan. Ia menyebutkan kerawanan atau kelangkaan pangan terjadi karena di daerah itu tidak tersedia sarana transportasi pengangkut, karena minimnya debit air sungai sehingga menjadi sulit untuk dilalui.

Dengan pendirian lumbung padi, kata Diran, pada musim hujan saat debit air mulai meninggi akan diupayakan penyaluran bahan makanan pokok untuk jangka waktu tertentu sebagai persediaan. Ketika isu kelangkaan beras melanda sejumlah daerah pedalaman di Kalteng, Achmad Diran lantas mengirimkan bantuan 100 ton beras sebagai antisipasi tanggap darurat pencegahan rawan pangan di seluruh kabuaten. “Semua daerah yang sering terjadi rawan pangan telah kami kirimi 100 ton beras, sehingga sekarang tidak ada lagi desa rawan pangan. Cuma yang ada kelangkaan beras,” ucap Diran, Desember 2006 lalu.

Ketika asap tebal menutupi sebagian besar wilayah udara Indonesia, yang lalu merembet ke wilayah negara tetangga Asean, Achmad Diran termasuk salah seorang pejabat Indonesia yang bersuara lantang agar negara tetangga yang terkena kabut asap juga menunjukkan tanggungjawabnya. Ia menyebut negara tetangga jangan hanya menyalahkan Indonesia saja, karena asap tebal muncul bukan sepenuhnya kesalahan bangsa Indonesia, dan itupun dilakukan tidak secara sengaja. “Misalnya Singapura mengirimkan alat yang canggih untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan ini,” kata Diran memberi contoh.

Menurut Diran, ketika kabut asap berkecamuk, dunia internasional hanya menyalahkan pemerintah Indonesia, dan hanya bisa mengatakan bahwa Indonesia atau Kalteng sebagai paru-paru dunia. Namun apa yang diberikan dunia kepada Indonesia hingga saat ini belum ada. Oleh karena itu peran semua pihak termasuk negara-negara di dunia untuk turun tangan. “Apa yang dibantu oleh dunia sebagai timbal balik Kalteng sebagai paru-paru dunia,” gugatnya.

“Kita sudah maksimal melakukan pemadaman tapi hasilnya masih belum maksimal. Coba bantu dong alat-alat pemadaman canggih bisa dikirimkan ke Kalteng guna memadamkan api,” serunya kepada seorang wartawan Strait Times terbitan Singapura. Pada saat asap tebal berkecamuk Klateng sangat disorot dunia internasional. Sampai-sampai Gubernur Teras Narang mengancam akan mundur dari jabatannya, apabila pemerintah pusat tak memiliki komitmen serius mengatasinya, seperti menerbitkan Perpu penanganan asap.

Diran sangat mendukung sekali pemberantasan narkoba dari lingkungan anak-anak muda. Ia bahkan mempersilakan pihak sekolah dan kepolisian melakukan razia di sekolah-sekolah. “Lakukan razia di sekolah-sekolah dengan sasaran utama obat-obatan narkoba dan buku-buku porno. Kalau perlu orangtua juga merazia anak-anaknya sendiri di rumah,” kata Diran, dalam suatu kesempatan sosialisasi penyuluhan remaja/SMU/Mahasiswa tentang reproduksi, narkoba, HIV/AIDS, dan pergaulan seks bebas di Palangkaraya.

Usul Diran kepada orangtua untuk melakukan razia bukan main-main. Ia sendiri rupanya sudah melaksanakannya terlebih dahulu. “Saya juga pernah melakukan hal serupa terhadap anak perempuan saya dengan membuka tas dan lemari-lemari di kamar guna mencari narkoba dan kondom. Untungnya tidak saya temukan,” ucapnya. Ia mengatakan upaya paling efektif mencegah anak muda terjerumus ke dalam narkoba dan pergaulan bebas adalah dengan meningkatkan iman dan taqwa sebagai benteng diri melalui agama.

Menurutnya, perkembangan moral generasi muda Kalteng masih jauh lebih baik dibandingkan di perkotaan besar lain yang menganggap narkoba dan seks bebas sebagai gaya hidup.

“Meski di Kalteng ini ada juga yang terjerumus narkoba dan pergaulan bebas, tapi jumlahnya masih sedikit. Karena bahaya narkoba, HIV/AIDS, dan akibat pergaulan bebas, sangat menghambat anak pada usia remaja, pemuda, dan mahasiswa,” kata Achmad Diran. MTI-36-07 crs-ht

Data Singkat
Achmad Diran, Wakil Gubernur Kalteng (2005-2010) / Birokrat yang Paham Kalteng | Direktori | Wakil gubernur

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here