Gitaris Rock Legendaris

Ian Antono
 
0
712
Ian Antono
Ian Antono | Tokoh.ID

[DIREKTORI] Selain tercatat sebagai salah satu gitaris rock terbaik Indonesia, Ian Antono juga diakui sebagai pencipta lagu, arranger, produser dan komposer yang telah banyak mencetak lagu-lagu hits. Namanya juga seolah sudah menjadi jaminan mutu bagi musisi dan artis yang ingin mengeluarkan album. Sepanjang karirnya, gitaris God Bless sejak 1974 ini pernah bergabung dengan Gong 2000, Sapta Nada, Bentoel Band dan AKA Band.

Pria kelahiran Malang, Jawa Timur, 29 Oktober 1950 ini terlahir sebagai anak ke-4 dari bersaudara dari pasangan Dharmo P Djoyo dan Siti Mariani. Semenjak kecil, pria bernama asli Jusuf Antono Djojo ini sudah menggeluti musik. Darah seninya mengalir dari sang ayah, seorang guru bahasa Inggris yang juga pemain biola. Ia mulai ikut band dengan memainkan ketipung saat duduk di bangku 5 SD. Saat itu, ia bersama anggota band lainnya tampil dalam acara pernikahan, perpisahan sekolah atau acara reuni sekolah. Setelah itu, ia mengakrabi drum dan belajar gitar. “Honor main band buat jajan,” akunya sambil tertawa.

Setelah lulus dari SMA Santo Albertus Malang pada tahun 1969, ia lebih memilih mendalami musik daripada melanjutkan sekolah. Pilihannya itu membuat orang tuanya marah dan mengultimatum, kalau tetap memilih musik, Ian harus keluar dari rumah. “Aku tetap pilih main band. Ya terpaksa harus keluar dari rumah. Jadi setengah diusir,” kenang Ian yang menjadi satu-satunya anak yang memilih musik di antara saudara-saudaranya.

Ian kemudian bergabung dengan band pimpinan Abadi Soesman yang waktu itu namanya cukup diperhitungkan. Barulah kemudian di tahun 1970, Ian hijrah ke Jakarta dan bergabung dengan Bentoel Band yang menjadi pengiring bagi penyanyi Emilia Contesa dan Trio The King. Awalnya Ian bolak-balik memainkan drum dan gitar hingga akhirnya beralih total ke gitar. Lama kelamaan, pengalamannya kian bertambah seiring dengan pergaulannya dengan rekan sesama musisi yang semakin luas.

Empat tahun berikutnya, nama Ian Antono di panggung musik rock baru mulai dikenal masyarakat saat ia direkrut menjadi gitaris God Bless. Sejak saat itu, sosoknya menarik perhatian karena pada masa itu, gaung musik rock masih kurang terdengar. God Bless-lah yang pertama kali memelopori. Secara otomatis, Ian menjadi gitaris pertama yang berkibar di jalur musik rock Indonesia. Bersama band rock legendaris yang antara lain dipunggawai Ahmad Albar dan Donni Fattah itu, ia menelurkan sejumlah album, yakni Huma di Atas Bukit (1975), Cermin (1980) dan Semut Hitam (1989). Ketika supergrup dunia Deep Purple manggung di Indonesia (1975), God Bless mendapat kehormatan jadi band pembukanya.

Tak lama setelah merilis album Semut Hitam, suami Titik Saelan ini memutuskan untuk hengkang dari God Bless untuk selanjutnya bergabung dengan grup Gong 2000. Ian dan rekan-rekan Gong 2000-nya berhasil merilis tiga album, yang masing-masing berjudul Bara Timur (1991), Laskar (1994), dan Prahara (1996). Menariknya, ketika memperkuat Gong 2000, gaya permainan Ian bisa dibilang berbeda dengan saat ia masih bergabung dengan God Bless. Di Gong 2000, ayah tiga anak ini banyak memasukkan unsur musik Bali. Hal itu dibuktikan pada setiap penampilannya dimana Ian setidaknya mengikutsertakan 20 musisi asli Bali.

Pada tahun 1997, Ian kembali ke pelukan God Bless dan berduet dengan Eet Sjahranie yang masih berstatus sebagai gitaris God Bless. Konsep double gitar ini cukup menarik perhatian meski pada akhirnya album Apa Kabar? gagal di pasaran.

Musikalitasnya yang telah teruji selama puluhan tahun itu kemudian membuat banyak penyanyi lain tergoda untuk menggandeng Ian dalam penggarapan album-album mereka. Dalam setahun ia bisa menggarap album untuk beberapa penyanyi. Misalnya, Iwan Fals, Anggun C. Sasmi, Nicky Astria, Doel Sumbang, Gito Rollies, Ebiet G Ade, dan Ikang Fawzi.

Karya-karya Ian Antono yang berhasil memberi warna pada perkembangan musik Indonesia dari tahun ke tahun pada akhirnya membuatnya kebanjiran penghargaan. Beberapa diantaranya adalah BASF Award (1987-1988) untuk Arranger Terbaik dan Komposer Terbaik untuk album Gersang (Nicky Astria), HDX Award (1989) untuk lagu Buku Ini Aku Pinjam (Iwan Fals), BAFS Award (1989) Album Bara Timur (Gong 2000) sebagai The Best Selling Album dan The Best Arranger & Composer, HDX Award (1994) untuk album Laskar (Gong 2000) sebagai Album Terbaik, dan Diamond Achievement Award 1995 atas dedikasinya yang tinggi di industri musik.

Karya-karya Ian Antono yang berhasil memberi warna pada perkembangan musik Indonesia dari tahun ke tahun pada akhirnya membuatnya kebanjiran penghargaan. Beberapa diantaranya adalah BASF Award (1987-1988) untuk Arranger Terbaik dan Komposer Terbaik untuk album Gersang (Nicky Astria), HDX Award (1989) untuk lagu Buku Ini Aku Pinjam (Iwan Fals), BAFS Award (1989) Album Bara Timur (Gong 2000) sebagai The Best Selling Album dan The Best Arranger & Composer, HDX Award (1994) untuk album Laskar (Gong 2000) sebagai Album Terbaik, dan Diamond Achievement Award 1995 atas dedikasinya yang tinggi di industri musik.

Sepanjang karirnya di dunia musik, pengalaman yang paling berkesan bagi Ian adalah ketika ia mendapat undangan dari Ramli Syarif pada tahun 1999 untuk ikut memeriahkan ajang Formula-1 di Malaysia. Menurutnya, momen tersebut merupakan pengalaman luar biasa sebab di sana turut hadir pula grup kolaborasi dewa gitar dunia, G3 (Joe Satriani dan Steve Vai), serta grup rock legendaris Jethro Tull. Baginya, mendapat kesempatan bertemu dengan musisi rock kaliber dunia, tentu saja sayang untuk dilewati begitu saja. Dengan memanfaatkan sesi check sound, Ian mempelajari perangkat milik Steve Vai yang jumlahnya banyak. Dari situ ia menambah ilmu dan wawasan yang belum pernah ia dapatkan di Indonesia.

Advertisement

Nama besar, dedikasi, kontribusi, serta loyalitasnya bagi dunia musik Indonesia membuat para musisi muda Indonesia menggelar proyek album A Tribute To Ian Antono. Grup EdanE, Sheila On 7, Padi, Gigi, Cokelat, Boomerang, /rif, ikut memeriahkan album yang mendulang sukses di pasaran itu.

Pada 9 Mei 2010, pria penyayang anjing ini tampil memeriahkan Konser Dedikasi dan Apresiasi Gitaris Rock-Konser Instrumental Gitaris Muda Ega Liong di Hard Rock Cafe Jakarta. Dalam konser yang ditujukan untuk gitaris senior dan junior di Tanah Air itu, Ian beradu skill dengan gitaris lain seperti Eet Sjahranie, Totok Tewel, dan Pay BIP. Sebagai seorang gitaris kawakan, Ian Antono menilai, konser yang dikemas dengan instrumental tanpa vokal merupakan suatu keberanian yang harus didukung. Karena menurutnya, tak banyak orang yang berani mengadakan pertunjukkan musik tanpa vokal dan itu adalah sesuatu yang sangat luar biasa.

Bahkan ia menginginkan adanya album instrumental seperti yang dilakukan musisi-musisi luar negeri semacam Steve Vai dan Yngwie Malmsteen. Ian mengaku, sebenarnya hal itu sudah dilakukannya dari dulu, sayangnya belum ada produser yang berani memproduseri karena khawatir kurang laku di pasaran.

Saat usianya sudah tak muda lagi, Ian Antono masih menunjukkan tajinya. Untuk urusan mencabik gitar, kemampuan dan stamina seorang Ian Antono jangan diragukan. Lantaran musik sudah amat menyatu dirinya, ia bahkan menganggap main gitar sebagai olahraga. Kalau sudah naik pentas, meski dalam kondisi kurang fit, ia mengaku lupa akan penyakitnya. Untuk menjaga kesehatannya, ia tak lupa berolahraga secara rutin, mulai dari lari pagi hingga bermain gitar setiap hari.

Selama ini, Ian Antono sering memakai Gibson Les Paul standar dan juga Gibson SG double neck. Untuk perangkat latihan di rumah, ia memakai Marshall, namun untuk LIVE dan rekaman di studio ia menggunakan Mesa Boogie. Tak ada efek macam-macam yang ia gunakan selain sebuah delay. eti | muli, red

Data Singkat
Ian Antono, Musisi, Gitaris / Gitaris Rock Legendaris | Direktori | musisi, gitaris, Rock

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini