Ibu Teladan Indonesia 2003

[ Dewi Lailatul Badriah ]
 
0
99
Dewi Lailatul Badriah
Dewi Lailatul Badriah | Tokoh.ID

[DIREKTORI] Dr Hj Dewi Lailatul Badriah MSc Mkes, berhasil meraih Ibu Teladan Indonesia 2003 dengan mengungguli empat finalis lainnya yang sebelumnya disaring dari 14 semifinalis dan 103 peserta dari seluruh Indonesia. Dewi, seorang ibu berprestasi, ini ingin membuat klinik bersalin dan pusat kesehatan masyarakat yang memberi pelayanan gratis bagi orang-orang yang tidak tidak mampu.

Dosen di beberapa perguruan tinggi ini terbilang produktif untuk melahirkan banyak karya ilmiah dan buku, yang menjadi bahan kajian di berbagai seminar nasional. Tulisan-tulisannya juga banyak mengisi surat kabar nasional.

Dalam pencalonan Pemilihan Ibu Teladan Indonesia (PITI) 2003, yang diselenggarakan Rona Communication bekerjasama dengan Kementerian PP, didukung oleh Minyak Goreng Sania, dalam rangka Peringatan hari Ibu (PHI) 75, ini Dewi paling banyak mendapat dukungan promotor. Tak kurang dari 3 LSM, 1 organisasi massa, 1 perguruan tinggi, serta banyak tokoh pendidik dan masyarakat Tasikmalaya melampirkan dukungan pada berkas pencalonannya.

Dewi mengakui, sejak beberapa tahun lalu, banyak pihak memintanya mengikuti ajang pemilihan sejenis. “Namun, pada saat itu Allah belum menggerakkan hati saya,” tutur perempuan asal Tasikmalaya itu. Kemudian, kali ini ia tergugah untuk bersedia disertakan dalam PITI 2003. Alasannya, terinspirasi dari karya dua tokoh yang dikaguminya, yaitu Ibu Teresa dan Mahatma Gandhi. Menurutnya, kedua tokoh tersebut dengan tulus melayani orang lain yang menderita.

Ibu Teladan Indonesia 2003 ini mengatakan berkarya melalui kedamaian akan lebih berhasil daripada melalui kekerasan. Ia mengaku, pernyataan itu. “Suatu negara akan maju kalau para ibunya mampu menjadi soko guru bagi penciptaan dan pelestarian generasi muda yang tangguh, mandiri dan profesional baik di bidang agama, ilmu pengetahuan maupun keterampilan.

Banyaknya dukungan kepada dosen Universitas Siliwangi, Tasikmalaya, ini dinilai berbagai pihak sangat wajar. Maklum saja, pada usia 35 tahun, wanita kelahiran Cirebon tahun 1965 ini menjadi wisudawan terbaik untuk program doktor pada Ilmu Kedokteran Bidang Kajian Utama Kedokteran Olahraga pada Program Pasca Sarjana Universitas Airlangga, Surabaya. Selain menjabat Pembantu Dekan di Universitas Siliwangi (Tasikmalaya), ia juga menjabat Pembantu Rektor di Universitas Bung Karno (Jakarta), Ketua Sekolah Tinggi Kesehatan Tasikmalaya, Konsultan Kesehatan Tasikmalaya dan Konsultan Pengembangan Pendidikan Tinggi.

Ia juga aktif dalam beberapa aktivitas sosial. Dewi aktif memberikan penyuluhan dan melakukan diskusi dari soal seks dan reproduksi, narkoba, sampai kenakalan remaja. Soal keperempuanan juga tak luput dari perhatiannya. Ia aktif sebagai mitra di Asosiasi Perempuan Tasikmalaya (ASPER), Pusat Pelatihan & Informasi Perempuan RAHIMA, serta Korps HMI-wati (Kohati) Tasikmalaya, dan aktif memberikan konseling, penyuluhan dan advokasi kepada kaum perempuan.

Pembekalan dan penyuluhan kepada perempuan itu dimaksukan agar mereka dalam kodratnya sebagai perempuan tetap dapat mengembangkan potensi di berbagai hal. Dewi prihatin atas kondisi sebagian perempuan Indonesia yang masih menganggap karena kodratnya mereka menjadi pasrah. Dengan penghargaan sebagai Ibu Teladan, ia bertekad lebih meningkatkan kemampuan untuk memperbaiki pola pikir perempuan Indonesia yang salah seperti itu.

Ia sendiri memang membuktikan pernyataannya dalam kehidupannya sehari-hari. Berbagai aktivitasnya itu tak mengubah peran kodratinya sebagai istri dan ibu. Ia juga mencurahkan segala perhatian dan kemampuannya untuk membina keluarga dan anaknya. Ia seorang isteri yang santun dan menghargai suami. Juga selalu membimbing anaknya secara langsung, termasuk mengajarkan baca al-Quran. Terbukti, kedua anaknya Imam Subhki (13) dan Sofia Kusumadewi (11) selalu menduduki ranking atas dan sering mewakili sekolahnya dalam berbagai kesempatan.

Ibu Dewi adalah sosok pejabat, intelektual, ilmuwan, aktivis sosial, serta istri dan ibu bagi keluarganya. Sehingga pantaslah jika Dewan Juri Pemilihan Ibu Teladan Indonesia 2003, Rabu malam (10/10/2003) di Jakarta, menetapkannya sebagai Ibu Teladan Indonesia 2003, menyisihkan 4 finalis lainnya yang juga memiliki prestasi dan aktivitas yang sangat berguna bagi lingkungan.

Sebagai Ibu Teladan Indonesia 2003, Dewi memperoleh tropi Ibu Teladan, uang Rp 20 juta, gratis minyak goreng Sania selama 1 tahun dan memperoleh kehormatan hadir dalam peringatan Hari Ibu Nasional di Istana Negara. Sebelum dinobatkan sebagai Ibu teladan 2003, Dewi juga telah banyak menerima penghargaan dari berbagai instansi.

Ke depan, paling tidak ada dua obsesi Dewi, yakni ingin membuat klinik bersalin yang ditujukan melayani para perempuan yang tidak mampu dan membangun pusat kesehatan masyarakat yang memberi pelayanan gratis bagi orang-orang yang tidak mampu.

PITI 2003
Ketua Panitia Pelaksana Lomba, Retno Wigati Ningrum, yang juga Direktur Utama Rona Communication, mengtakan Pemilihan Ibu Teladan Indonesia (PITI) 2003 ini dimaksudkan untuk memunculkan sosok ibu yang dapat dijadikan ikon sosok ibu yang ideal sehingga menjadi penggerak perempuan Indonesia untuk memperbaiki diri. “Even ini diharapkan menjadi sarana advokasi yang dapat dimanfaatkan pemerintah maupun pemerhati masalah perempuan untuk mencapai idealisasi kaum ibu,” katanya.

PITI terbuka untuk umum baik perorangan, kelompok, organisasi, ataupun instansi pemerintah. Proses penyaringan calon dilaksanakan mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk mengajukan figur yang dianggap layak. Penyaringan dimulai 20 Oktober 2003, dengan memilih 14 semifinalis dari 103 peserta. Lalu dilakukan verifikasi informasi dan data peserta, lalu disaring lagi menjadi 5 finalis. Kelima finalis ini diundang ke Jakarta mengikuti karantina dan malam grandfinal.

Masa karantina dilakukan 8 – 10 Desember 2003, grandfinal 10 Desember 2003 malam, dan disiarkan langsung melalui stasiun tv Indosiar. Seluruh biaya finalis, baik transport dari daerah ke Jakarta pulang pergi maupun akomodasi selama di Jakarta ditanggung penuh oleh Panitia PITI.

Dewan juri terdiri dari Inne Soekaryo (Ketua Umum Kowani), Dr Martha Tilaar (pakar kecantikan), Pia Alisyahbana (tokoh perempuan), Donna Sita (Pemred Tabloid Wanita Indonesia), Titiek Puspa (artis), Eduard Depari (pakar komunikasi), dan Yahya Wiyanto (Sania). TI

Data Singkat
Dewi Lailatul Badriah, Pembantu Rektor di Universitas Bung Karno / Ibu Teladan Indonesia 2003 | Direktori | Dosen, Dekan, ASPER

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here