Identik dengan Jak Jazz

[ Ireng Maulana ]
 
0
88
Ireng Maulana
Ireng Maulana | Tokoh.ID

[DIREKTORI] Ia adalah penggagas dan penyelenggara Jakarta Internasional Jazz Festival atawa Jak Jazz. Berkat jasa gitaris jazz top Indonesia yang juga piawai bermain banjo inilah, event itu kini masuk dalam kalender jazz dunia. Sebagai musisi jazz, karya-karyanya mempunyai ciri khas yang lincah, enerjik dan menyegarkan.

Nama aslinya Eugene Lodewijk Willem Maulana. Namun, di kemudian hari, pria kelahiran Jakarta, 15 Juni 1944 ini lebih dikenal dengan nama, Ireng Maulana. Nama Eugene berganti menjadi Ireng saat ia berusia 7 tahun. Ketika itu Eugene kecil memiliki tabiat yang keras. Oleh karena itu, menurut adat keluarga, ia harus ”dijual”, agar sembuh. Yang ”membeli” adalah tetangga sebelah rumah, yang kebetulan orang Jawa. ”Orang tua inilah yang kemudian memberi saya nama Ireng (hitam),” tutur Ireng. Padahal, kulit Eugene sendiri putih.

Bakat bermusik putra pasangan Max Maulana dan Sientje ini sedikit banyak terinspirasi dari lingkungan keluarganya yang memang dikenal sebagai pecinta musik. Ayahnya adalah seorang gitaris yang juga pandai bermain piano, sedangkan sang ibu berprofesi sebagai penyanyi. Abangnya, Kiboud Maulana dikenal sebagai musisi jazz.

Dengan latar belakang tersebut maka tak terlalu mengejutkan jika di kemudian hari, Ireng Maulana mewarisi darah seni dari keluarganya. Kesenangan Ireng yang berdarah campuran Cirebon dan Sangir ini terhadap musik jazz secara khusus mungkin ditularkan oleh sang paman, Tjok Sinsoe, pemain bass ternama di era jazz tahun 40-an.

Meski demikian, ketertarikannya pada musik belum terlihat di masa kecilnya. Ireng justru mengambil kursus bahasa Perancis dan mengetik, juga kursus pemegang buku bond A dan bond B. Dengan keterampilan di bidang-bidang tersebut, ia berharap dapat membantu perekonomian keluarganya. Keputusan itu diambil sebagai rasa tanggung jawabnya pada keluarga setelah kepergian ayahanda tercinta menghadap Sang Pencipta.

Menginjak usia 16 tahun, musik mulai menggodanya. Ireng remaja mulai berkutat dengan berbagai alat musik, terutama gitar. Ia mulai ikut-ikutan sang kakak, Kiboud, yang waktu itu sudah menjadi gitaris kondang. Semula tujuannya bukan untuk mencari uang, hanya semata-mata untuk bergaya.

Keterlibatannya pada dunia musik mulai menjurus ke arah yang lebih serius setelah ia bergabung dengan grup band Joes & His Band dan mulai turut serta dalam sejumlah festival musik. Ternyata dalam sebuah festival, grupnya berhasil meraih juara ke dua dan ia terpilih sebagai gitaris terbaik.

Seiring berjalannya waktu, ia terdorong untuk terus mengembangkan kemampuan bermusiknya. Ia kemudian bergabung dengan sebuah band bernama Gelora Samudra. Bersama bandnya, Ireng dipercaya untuk mengisi acara di Hotel Des Indes, Jakarta, di lokasi Duta Merlin sekarang. Setelah itu, ia mendirikan band Eka Sapta bersama almarhum Bing Slamet, Idris Sardi, dan almarhum Eddy Tulis.

Menginjak usia 16 tahun, musik mulai menggodanya. Ireng remaja mulai berkutat dengan berbagai alat musik, terutama gitar. Ia mulai ikut-ikutan sang kakak, Kiboud, yang waktu itu sudah menjadi gitaris kondang. Semula tujuannya bukan untuk mencari uang, hanya semata-mata untuk bergaya.

Keinginan memperdalam permainan gitar membuat Ireng bertekad hijrah ke luar negeri selama beberapa tahun. Ia belajar di City Line Guitar Centre Amerika Serikat. Anehnya, dia malah belajar memainkan gitar klasik. Setelah itu dilanjutkan untuk memperdalam musik di Konijnklijk Conservatorium, Den Haag, Belanda. Pada tahun 1964, Ireng yang ketika itu masih berusia 20 tahun berkesempatan bertandang ke New York untuk mengisi acara New York World Fair. Saat itu ia sudah mulai menciptakan lagu. Empat tahun berselang, ia berkolaborasi dengan Mus Mualim dalam grup jazz Indonesia Lima untuk mengisi acara Pojok Jazz TVRI pada tahun 1970-an.

Di awal masa Orde Baru, ia bergabung dengan rombongan penghibur RPKAD (kini Kopassus). Dalam berbagai kesempatan, ikut pula grup tari pimpinan Yuni Amir, termasuk penari Maria Siregar. Tak disangka, Maria langsung jatuh hati pada jejaka yang lihai memetik dawai itu. Di mata Maria, selain piawai bermusik, Ireng juga sangat menghargai kaum hawa. Maka tak perlu menunggu waktu lama setelah masing-masing merasa cocok, pada tahun 1970 keduanya pun bersanding di pelaminan.

Pada tahun 1978, ia mendirikan grup Ireng Maulana All Stars dengan delapan anggota antara lain, Benny Likumahuwa, (trombone), Hendra Wijaya (piano), Maryono (saksofon), Benny Mustapha (drums), Karim Tes (trompet), Roni, (bass) dan Ireng Maulana sendiri pada (gitar dan banjo).

Barangkali, pengalaman yang paling tak terlupakan bagi Ireng sepanjang karirnya terjadi pada 24 September 1983 ketika tampil bersama Ireng Maulana All Stars, dalam Festival Jazz Internasional di Singapura. Di luar dugaan, Ireng dkk mendapat sambutan dari penonton yang luar biasa. Mulanya penonton terkesima, di akhir pertunjukan mereka berdiri, bertepuk tangan, dan meneriakkan ”bis” (lagi) berkali-kali.

Keesokan harinya, surat kabar The Sunday Times, mengulas kelompok jazz itu dalam sebuah berita berjudul Standing Ovation for Jazz Group. Hal yang konon belum pernah dilakukan sebelumnya oleh penonton Singapura, terutama untuk musik jazz. Pujian juga dilontarkan kritikus jazz Balbier S. Marcus seperti dikutip dari situs tamanismailmarzuki.com, ”Mereka sungguh luar biasa. Sangat sempurna dalam bidangnya masing-masing.”

Ciri khas Ireng Maulana adalah terkenal memakai banjo (sejenis gitar, alat musik asli Amerika). Perkenalan Ireng dengan banjo berawal ketika dia terpaksa bermain banjo di sebuah acara kapal Prancis di Jatiluhur. Karena tidak yang main banjo, makanya Ireng yang terpaksa main dan akhirnya menjadi ciri khas sampai sekarang.

Pada awalnya Ireng biasa memainkan banjo mandolin yang berdawai delapan (satu nada dua senar). Tapi kemudian ia beralih pada tenor banjo bermerek Hofner buatan Jerman. Menurut Ireng, jenis yang tenor sedikit lebih mudah dimainkan. Banjo yang dibelinya tahun 1970 di jalan Surabaya, Jakarta, seharga Rp 80 ribu rupiah itulah yang dipakainya hingga sekarang.

Akhir dekade 80-an, sebagai seniman Tanah Air, Ireng merasa prihatin dengan kondisi Pusat Kesenian Jakarta, Taman Ismail Marzuki (TIM) yang sepi pengunjung. Kebetulan saat itu ia duduk di Dewan Kesenian Jakarta sebagai Assisten Ketua Komisi Musik. Dari situ, muncullah gagasan dalam benaknya untuk ‘menghidupkan’ kembali TIM. Untuk mewujudkan ide tersebut, Ireng menghubungi sejumlah musisi dari berbagai jenis musik, termasuk tokoh dangdut Rhoma Irama. Namun hampir tak satu pun musisi yang peduli akan ide yang diusungnya.

Alhasil, mau tak mau, Ireng harus bekerja seorang diri. Namun, karena merasa hanya paham di bidang jazz maka musik itulah yang diangkatnya. “Karena saya tahunya jazz, maka musik inilah yang saya angkat,” ujar ayah empat anak itu. Ide sederhana itulah yang kemudian melatarbelakangi lahirnya pesta musik jazz internasional Jak Jazz (Jakarta Jazz Festival).

Bukan perjuangan ringan memang. Untunglah, Ireng termasuk orang yang luas pergaulannya. Untuk memuluskan niatnya menggelar Jak Jazz, Ireng meminta bantuan para relasi dan kolega yang beberapa diantaranya merupakan atase kebudayaan asing di Jakarta. Dari situ, Ireng membentuk Ireng Maulana Associates, sebuah organisasi yang beranggotakan para musisi jazz di Jakarta. Dengan lembaga ini pula, Ireng menyelenggarakan Jak-Jazz Festival, festival Jazz terbesar pertama yang bisa mendatangkan musisi Jazz kenamaan luar negeri ke Indonesia.

Pada tahun 1998 dan 1999, karena kondisi yang tidak menentu akibat terpaan badai krisis yang tengah melanda Indonesia, Jak Jazz sempat tidak terselenggara. Namun sebagai tokoh yang membidani lahirnya salah satu ajang jazz level dunia itu, Ireng bertekad akan terus menyelenggarakan Jak-Jazz.

Demi kemajuan musik jazz, pria yang hobi main catur dan bola ping-pong ini juga tidak segan-segan mengkritik musisi jazz lokal yang tidak berlatih dengan sungguh-sungguh. Di sisi lain, walaupun sudah memiliki nama besar, musisi yang pernah tampil di North Sea Jazz Festival di Belanda ini tak sungkan untuk berkolaborasi dengan para musisi jazz junior seperti Bara, Andien, Iskandarsyah Siregar dan Syaharani

Selain itu, untuk mengembangkan dunia musik jazz dengan maksimal, ia juga kerap mengadakan workshop tentang jazz dengan melibatkan musisi-musisi jazz Indonesia seperti Gilang Ramadhan, Indra Lesmana, Riza Arsyad, dan Dewa Budjana. Sementara untuk programnya yang lain, Ireng sering membuat rekaman dengan musisi lokal yang pernah tampil di Jak Jazz.

Jazz yang selama ini diidentikkan sebagai musik kalangan atas membuat Ireng ingin membawa perubahan. Sejak 1988, misalnya, ia mulai menyuguhkan musik jazz di tempat yang mudah dan murah. Food Court Pasar Festival, Kuningan jadi pilihannya. Ireng mempersilahkan siapa pun untuk datang dan menyaksikan pertunjukkan musik jazz tanpa dipungut biaya seperser pun. Dengan begitu Ireng berharap anggapan bahwa musik jazz sebagai musik mahal dan elit sedikit demi sedikit akan terkikis. eti | muli, red

Data Singkat
Ireng Maulana, Musisi / Identik dengan Jak Jazz | Direktori | musisi, jazz

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here