Jadikan Gereja Inklusif

[ Rudolf Tendean ]
 
0
128
Rudolf Tendean
Rudolf Tendean | Tokoh.ID

[DIREKTORI] Sudah tiga dekade ia menjadi pendeta. Selama itu pula, pendeta berpenampilan sederhana dan bersahaja ini, dalam pelayanan menikmati segudang pengalaman persaudaraan dengan umat muslim dan umat beragama lainnya. Ia selalu menjadikan gereja inklusif. Pendeta GPIB ini selalu menjalin persaudaraan kepada masyarakat sekitar di mana ia bertugas.

Di Jember, misalnya, masyarakat Madura di dekat gerejanya selalu menjaga dan bersahabat dengannya. Ke mana pun ia hendak pergi, abang-abang becak (Madura dan dari berbagai suku) siap mengantarnya, itu pun tanpa bayar. Mereka memperlakukannya sebagai saudara. Begitu pun sebaliknya.

Maka, ketika ia menerima kartu ucapan Selamat Natal dari Syaykh Abdussalam Panji Gumilang, pimpinan pondok pesantren modern Ma’had Al-Zaytun, ia merespon dengan tidak sekadar membalas kartu ucapan terimakasih, melainkan dilanjutkan dengan komunikasi melalui telepon dan berlanjut saling mengunjungi penuh rasa persaudaraan dan toleransi.

Pdt. Rudolf Andreas Tendean dilahirkan di Menado, 17 Oktober 1950. Ia menghabiskan masa kanak-kanaknya hingga bangku kuliah di tanah kelahirannya, Menado. Sebenarnya, ia tidak pernah bercita-cita menjadi pendeta. Ia bercita-cita menjadi seorang ahli elektro atau apoteker. Manusia boleh berencana, tetapi Tuhan jualah yang mempersiapkannya menjadi seorang hamba Tuhan dengan mengikuti pendidikan Teologia di Sekolah Tinggi Teologia Intim (Indonesia Timur), Makasar, Menado.

Meski demikian, jauh dalam hatinya, ia masih merasa bimbang dengan keputusannya itu. Sebab, ia menyadari bahwa pelayanan sebagai pendeta tidak memberikan jaminan penghasilan untuk menutupi kebutuhannya sehari-hari bersama keluarganya kelak. Ia bergumul selama kurang lebih 10 tahun hingga akhirnya berbulat tekad bahwa ia dipanggil menjadi seorang pendeta. Berkat pergumulannya itu, jiwanya terbentuk dan kuat menghadapi banyak kesulitan hidup.

Begitu usai menyelesaikan pendidikan teologianya dan memperoleh gelar Sarjana Teologia, ia harus melewati satu tahap lagi sebelum dilantik menjadi seorang pendeta. Sebelum dilantik, ia harus melewati masa pikariat yang berlangsung selama satu tahun, 1 Januari 1974-1 Juni 1975, di GPIB Nazaret, Rawa Mangun. Berhasil melewati tahap ini, dia kemudian dilantik menjadi pendeta pada 22 Juni 1975, di GPIB Immanuel, Gambir yang merupakan pusat dari seluruh gereja GPIB (Gereja Protestan Indonesia bagian Barat) di Indonesia.

Seminggu kemudian, sebagai seorang pendeta, ia diberi tugas pelayanan di Jember, Jawa Timur untuk kurun waktu 1 Juli 1975-1 April 1981. Di kota inilah, selama 6 tahun, pengalamannya menjalin persaudaran dengan umat muslim dimulai.

Pada tahun yang sama, beberapa bulan setelah dilantik menjadi pendeta, Pendeta Rudi, begitu ia biasa dipanggil, menikah dengan seorang gadis yang dicintainya, Silvana Rosita Maksurila. 7 November 1975, menjadi hari yang berbahagia, karena ia sudah memiliki seorang penolong yang sepadan dalam pelayanannya di masa mendatang.

Abang Beca
Di Jember, bersama sang istri, Pendeta Rudi memulai pelayanannya yang pertama di sebuah gereja yang sederhana. Dengan bekal iman, pengetahuan teologia dan idealisme yang dipegangnya, ia mulai melakukan tugasnya sebagai pendeta. Ia tak pernah menyangka bahwa apa yang dikerjakannya selama di Jember menjadi bekal sangat berharga dalam membentuk jiwanya untuk 30 tahun ke depan.

Saat itu, di samping gereja berkumpul para pedagang yang menjajakan berbagai dagangannya. Suasananya menjadi seperti pasar rakyat. Beberapa orang majelis gereja memberitahunya tentang aktivitas para pedagang itu. Pendeta Rudi mengatakan bahwa mereka bisa memberitahu pedagang itu agar tertib.

Setiap hari, beberapa orang tukang bambu biasanya parkir di halaman gereja. Melihat hal itu, Pendeta Rudi bukannya gusar, malah membuka pintu agar para pedagang bambu itu menitipkannya di halaman gereja sehingga mereka tidak perlu repot membawa pulang barang dagangannya. Tidak hanya tukang bambu, ia juga mengijinkan tukang becak dan pedagang lainnya seperti tukang sate untuk menjajakan dagangannya di samping gereja. Tiga meter sebelah kiri halaman gereja kali empat puluh meter, ia berikan untuk digunakan sebagai pasar. Pendeta Rudi saat itu berpikir bahwa tidak ada salahnya berbuat hal itu daripada pedagang-pedagang itu berdagang di jalan besar atau di jalan gang.

Perlahan-lahan, Pendeta Rudi mulai dikenal oleh para pedagang di pasar itu. Bahkan ada seorang pedagang sate asal Madura yang selalu membakar sate untuk Pendeta Rudi. Biasanya tukang sate ini buka setiap jam 3 siang. Saat baru buka, 10 tusuk sate kambing selalu dibakarnya untuk Pendeta Rudi. Suatu kali ada orang atau jemaat yang memesan dan meminta agar satenya dibakar lebih dulu. Tukang sate itu malah menjawab, “Iya, saya bakar dulu punya Pak Pendeta.

Sebab kalau saya bakar 10 tusuk ini, tidak sampai jam enam atau tujuh malam, pasti sate saya sudah habis.” Rupanya, tukang sate ini punya pemahaman bahwa Pendeta Rudi memberikan keberuntungan untuk dagang satenya. Hampir setiap hari Pendeta Rudi makan sate. Hal itu terus berlangsung meski Pendeta Rudi tidak perlu membayar sate itu.

Abang-abang becak pun mempunyai cara tersendiri untuk berterima kasih. Waktu itu, Pendeta Rudi belum mempunyai kendaraan. Dalam kegiatan pelayanan, ia harus berjalan kaki. Setiap kali Pendeta Rudi hendak ke kota, abang-abang becak ini tidak bisa melihat Pendeta Rudi berjalan kaki. Tukang-tukang becak itu memanggil, “Pak Pendeta naik.. nggak punya tarif…”

Selama di Jember, Pendeta Rudi belum mempunyai gaji tetap. Tapi untunglah, ia bisa hidup dari pasar yang ada di samping gereja. Ia sering kali mendapat makan gratis dari pedagang sate itu, bahkan pedagang-pedagang lainnya ikut memberikan sumbangan sebagai ungkapan terima kasih karena ia sudah memberikan lahan kepada mereka untuk berdagang. Padahal Pendeta Rudi tidak pernah mengharapkannya sebelumnya.

Pendeta Rudi hidup bersama masyarakat Madura dengan pemahaman agamanya sedemikian rupa dan menjalin persaudaraan dengan mereka. Ia tidak membiarkan tembok gereja membatasi geraknya untuk menjangkau masyarakat di sekitarnya. Oleh karena itu, ketika gereja itu dilempar orang jahil, masyarakat sekitar langsung datang untuk menjaga.

Selain berbagi lahan, Pendeta Rudi juga memberikan satu kran air agar bisa dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar.

Daerah Jember yang panas membuat sumur gereja sempat kering pada tahun pertama ia di sana. Akhirnya sumur itu digali lebih dalam sehingga air keluar melimpah ruah. Masyarakat sekitar sangat berterima kasih dengan adanya kran air itu.

Enam tahun berlalu, Pendeta Rudi harus meninggalkan Jember sebab ditempatkan di tempat baru, Plaju, Sungai Gerong, Palembang. Saat hendak menaikkan barang-barangnya ke mobil, abang-abang becak Madura yang biasa mengantarnya ke mana pun ia pergi, tidak mengijinkannya naik mobil. Abang-abang becak itu menaikkan barangnya ke atas becak, kemudian mengantar ia bersama istri sampai ke stasiun.

Beberapa tahun setelah ia meninggalkan Jember, banyak pendeta-pendeta yang menggantikan dia berkata bahwa nama Pendeta Rudi sangat harum di tengah-tengah masyarakat di sana. Mendengar hal itu, Pendeta Rudi mengatakan bahwa itu bukan disebabkan karena mempunyai uang banyak. Melainkan karena perbuatan, tutur kata, sikap dan perilaku yang baik. Lebih baik memberi contoh daripada mengumbar-umbar janji.

Setiap kali beberapa rekannya bertanya bagaimana caranya ia bisa dekat dengan masyarakat sekitar, Pendeta Rudi memberi tips yang selama ini sudah ia praktekkan. Ia berkata, “Kamu tidak merokok.. tidak apa-apa… hari ini lima meter ke kanan gereja.. kamu beli rokok satu batang.. isep-isep aja di situ.. tidak usah merokok.. Pulangnya kamu beli gula. Nggak usah sekilo, setengah kilo aja. Minggu berikutnya di sebelah sini. Minggu berikut, radius satu kilometer ke kanan gereja, supaya kamu dikenal oleh orang-orang warung-warung itu. Bulan berikut kamu ke kiri dan seterusnya.”

Anjing Pendeta
Meski demikian, bukan berarti tantangan tidak pernah datang. Saat ia melayani di Bandung pada 1995, ia tinggal di sebuah kompleks yang sembilan puluh sembilan persen dihuni oleh masyarakat Tasik yang beragama Islam. Saat itu, karena sesuatu hal, ia tidak langsung mendapatkan KTP di tempat barunya itu. Masyarakat sekitar yang tampak tertutup dan fanatik membuat ia harus berpikir keras mencari jalan bagaimana agar dekat dengan mereka.

Suatu kali, tiga orang perempuan berjilbab dari keluarga istrinya datang mencari dan menjenguknya ke Bandung. Agar lebih mudah mencari, tiga orang ini mencari gereja yang besar kemudian bertanya di mana pendeta Rudi tinggal. Kebetulan tempat tinggal Pendeta Rudi agak terpencil letaknya.

Kemudian seorang penduduk sekitar melapor kepadanya dan bercerita kalau ada tiga ibu-ibu pakai kerudung mencarinya. Singkat cerita, Pendeta Rudi menyambut mereka. Masyarakat sekitar yang melihat hal itu menjadi bertanya-tanya darimana datangnya ibu-ibu pakai kerudung itu dan mengapa bertemu pendeta. Di rumahnya, tiga orang tamu itu kemudian diberikan sebuah kamar bila hendak melakukan sholat karena saat itu Masjid belum dibangun di komplek itu. Tidak lama bertamu di rumah Pendeta Rudi, mereka akhirnya dijemput melanjutkan perjalanan menuju Tasik, hendak ke sebuah pondok pesantren. Rupanya, diam-diam masyarakat sekitar memantau aktivitas Pendeta Rudi.

Di waktu yang lain, keponakannya datang berkunjung saat mengikuti penataran perwira polisi di Sukabumi. Saat ia datang, masjid sudah dibangun. Karena keponakannya mengatakan hendak sholat, Pendeta Rudi kemudian menyuruhnya pergi ke masjid itu. Kebetulan hari itu adalah hari Jumat. Karena menggunakan seragam perwira, di atas dadanya sebelah kiri, tertulis nama Tendean. Masyarakat sekitar yang melihat itu kembali bertanya-tanya mengapa ada Tendean yang menjadi pendeta dan ada Tendean yang masuk ke masjid. Hari minggu, keponakannya pulang dan Pendeta Rudi mengantarnya sampai terminal.

Keesokan harinya, hari Senin, datanglah Ketua RT yang selama ini tidak mau memberikan KTP kepadanya. “Itu kemaren hari Jumat ada yang sholat, siapa itu Pak?” tanya Pak RT. “Kenapa, Pak, dia kan polisi?,” sahut Pendeta Rudi. “Iyah… kok namanya Tendean?” tanya Pak RT lagi. “Apa yang janggal?” balas Pendeta Rudi.

Akhirnya Pendeta Rudi memberikan pengertian bahwa baginya Islam dan Kristen tidak ada bedanya bahwa mereka adalah sesama manusia ciptaan Tuhan. Ia mengatakan kalau sudah sering dianggap berbeda karena ia beragama Kristen padahal ia sendiri tidak menganggap mereka yang muslim berbeda. Akhirnya, hati Pak RT luluh juga, ia kemudian mengurus KTP Pendeta Rudi dan memberikannya.

Selama tinggal di komplek itu, Pendeta Rudi memelihara seekor anjing hingga besar. Begitu besar, anjing berbulu coklat dan berbadan besar seperti singa itu mulai berkeliaran di sekitar kompleks. Namun menariknya tidak ada yang mencelakai anjing itu. Masyarakat di kompleks itu menyebutnya anjing pendeta. Bukan semata-mata karena anjing itu milik Pendeta Rudi, melainkan karena memang anjing itu tidak jahat. Ia tidak pernah menggonggong orang kompleks kecuali orang asing. Anjing itu pun suka duduk-duduk di pos satpam.

Seringkali anak-anak sekolah yang hendak masuk kampung harus melalui kompleks itu. Anak-anak itu suka mengganggu anjing yang berkeliaran jika mereka melihatnya. Suatu kali, anjing yang mereka ganggu termasuk galak karena suatu waktu lepas lalu mengejar anak-anak itu. Tanpa pikir panjang, seseorang yang ada di kompleks itu mengeluarkan senapannya lalu menembak mati anjing itu. Si pemilik anjing kemudian mengeluh dan berkata, “Kenapa anjing Pak Pendeta tidak ditembak?”

“Itu anjing pendeta tidak macam-macam,” jawab mereka.

“Itu kan anjing kampung murahan,” sahut orang itu lagi.

“Meski murahan ndak macam-macam,” kata penduduk setempat.

Jawaban kalau anjing pendeta tidak macam-macam memang tidak mengada-ada. Saat anak-anak sekolah itu mengganggu anjing pendeta yang sedang tidur di jalan, anjing itu tenang dan tetap tidur. Lama- kelamaan anak-anak sekolah itu bosan sendiri karena tidak berhasil mengganggunya. Bahkan saat anak-anak sekolah itu pulang, anjing pendeta datang menghampiri mereka sambil mengibas-ngibaskan ekornya.

Saat baru pertama kali tinggal di kompleks itu, masih sedikit rumah yang dibangun, itupun tanpa pagar sehingga kehadiran anjing sangat diperlukan. Perlahan-lahan rumah baru bertambah dan mulai berpagar. Meski demikian suasana komplek masih sepi dan rawan kejahatan.

Jadi, setiap kali Idul Fitri, banyak orang komplek yang pulang kampung. Mereka kemudian meminta Pendeta Rudi untuk berjaga-jaga dan menitipkan rumah mereka kepadanya. Dengan senang hati, Pendeta Rudi bersama teman-teman Kristen lainnya, menjagai komplek itu dibantu oleh anjing peliharaannya. Selama seminggu, mereka pulang kampung, kompleks itu aman-aman saja.

Tiba giliran Pendeta Rudi mengambil cuti dan meninggalkan rumahnya, tetangga-tetangganya menjaga anjing pendeta itu. Tidak lupa mereka juga memberi makan anjing itu. Uniknya lagi, anjing pendeta itu sering tidur di halaman masjid. Padahal, bila ada anjing lain masuk melewati pagar pasti ditembak, meski anjing-anjing itu termasuk anjing keturunan yang berharga mahal.

Pendeta Rudi juga menanam berbagai tanaman di depan rumahnya. Jika ada ibu-ibu yang meminta cabe atau tomat kepadanya, ia memberikannya. Ia juga sering jalan-jalan pagi tembus kampung. Selama lima tahun di sana, ia mulai dekat di hati masyarakat kompleks itu.

Saat kerusuhan sedang marak terjadi pada tahun 96/97, sekolah Penabur di samping kompleksnya dibakar. Sebagai tokoh masyarakat Kristen di RW itu, ia hadir menyampaikan beberapa kata dan menyesali adanya kejadian itu. Saat itu, ia menjabat sebagai Ketua PGIW (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia Wilayah) Jawa Barat.

Ia mengingatkan kaum Kristiani agar tidak eksklusif dan jangan selalu menyalahkan keadaan karena tidak diberi ijin. Ia berkata, “Kalau kita pandai bermasyarakat, jangankan mereka kasih ijin, mereka pun ikut membangun. Itu sudah saya alami.”

Begitu pula saat terjadi kerusuhan di Situbondo, Pendeta Rudi pergi ke sana. Kebetulan saat dulu melayani di Jember, ia bertanggung jawab terhadap wilayah Situbondo, Bondowoso dan Banyuwangi. Di sana, kepada pendeta muda, ia berkata, “Jangan jadikan kamu yang memiliki gereja ini, jangan kamu jadikan keluarga memiliki gereja ini, jadikan masyarakat yang memilikinya.”

Delapan tahun berlalu, Pendeta Rudi harus meninggalkan Bandung karena akan ditempatkan di tempat baru. Tercatat, selama di Bandung, ia melayani di GPIB Silih Asih (1 Juli 1992-1 Juli 1995) dan GPIB Bethel (1 Oktober 2000-1 Juli 2003).

Kartu Natal
Pertengahan 2003 di awal bulan Juli, Pendeta Rudi ditempatkan melayani di GPIB Koinonia, Jakarta. Selama beberapa bulan selanjutnya, ia menjalani keseharian dan pelayanannya seperti biasa di gereja tua peninggalan Belanda itu. Begitu memasuki bulan Desember, ia mulai sibuk bersama rekan-rekan gerejanya mempersiapkan perayaan Natal. Seperti kebiasaan tahun-tahun sebelumnya, ia juga disibukkan membaca dan membalas berbagai kartu ucapan Natal yang mulai berdatangan.

Sambil duduk di kursi kantornya, dengan cepat ia membolak-balik setiap kartu Natal, melihat siapa pengirimnya dan apa isi ucapannya. Banyak di antara kartu-kartu Natal itu, coraknya terbilang biasa-biasa saja dengan ucapan selamat yang biasa pula.

Hingga kemudian tangannya berhenti pada sebuah kartu Natal kecil yang terlihat unik. Di dalam kartu itu tertera tulisan “Ma’had Al-Zaytun” yang diikuti serangkaian tulisan Arab. Tiada hentinya ia membolak-balik kartu itu karena selain desainnya yang unik merupakan perpaduan nuansa muslim dan nuansa modern bergaya nasional dan internasional yang sarat budaya, ia juga merasa terkejut karena mendapat kartu ucapan Natal dari sebuah pondok pesantren. Selama pelayanannya sebagai pendeta, ia belum pernah menerima kartu ucapan Natal seperti itu. “Ini menarik…,” katanya penuh penasaran.

Rupanya Pendeta Rudi tidak berhenti hanya memandangi kartu itu. Ia kemudian membuat sebuah rapat dan memutuskan tidak hanya mengirimkan kartu ucapan terima kasih tetapi juga menjalin komunikasi dengan Ma’had Al-Zaytun. Semenjak hari itu, hidup Pendeta Rudi tidak pernah sama lagi. Pengalamannya selama di Jember dan Bandung bergaul dengan saudara-saudaranya yang muslim seakan mengukuhkan bahwa persaudaraan itu tidak pernah berhenti. Ia mulai membuka kran persaudaraan dengan saudara-saudara muslimnya di Ma’had Al-Zaytun yang sudah terlebih dahulu menyodorkan kran itu.

Setelah melalui serangkaian proses dan tahapan komunikasi, Ma’had Al-Zaytun menyatakan akan berkunjung ke GPIB Koinonia. Empat hari setelah Pendeta Rudi diangkat menjadi Ketua Mupel (Musyawarah Pelayanan) Jemaat GPIB untuk wilayah Jakarta Timur dan Bekasi, pada 7 Juli 2004, Syaykh AS Panji Gumilang bersama rombongan membuka lebih besar lagi kran persaudaraan itu. Di sana mereka bersehati menanggalkan perbedaan demi toleransi dan perdamaian.

Kunjungan Syakh AS Panji Gumilang bersama rombongan meninggalkan kesan yang mendalam di hati Pendeta Rudi dan rekan-rekannya. Meski diterpa berbagai sentimen negatif yang datang dari berbagai kalangan termasuk jemaat tentang Ma’had Al-Zaytun, Pendeta Rudi tetap pada keputusannya untuk mengunjungi Ma’had Al-Zaytun. Hari Sabtu, 31 Juli 2004, sedari pagi hingga malam, Pendeta Rudi menghirup udara toleransi dan perdamaian di Kompleks Ma’had Al-Zaytun, Indramayu, Jawa Barat.

Di sana, ia beserta rombongan Jemaat GPIB Koinonia yang berjumlah kurang lebih 205 orang, disambut dengan hangat dan meriah oleh Syaykh AS Panji Gumilang beserta seluruh eksponen Ma’had Al-Zaytun. Mereka berdoa bersama, makan bersama, berolahraga bersama, tertawa bersama dan menangis bersama, meresapi makna toleransi dan perdamaian itu.

Sepulang dari sana, Pendeta Rudi sudah bertekad untuk mengabarkan pesan damai yang dibawanya dari Ma’had Al-Zaytun. Bahkan ia mengaku, pengalaman persaudaraan yang dijumpainya di Ma’had Al-Zaytun, membuatnya sudah siap jika sewaktu-waktu dipanggil oleh Sang Pencipta. Di antara penuturannya selama 3 jam berbicang-bincang dengan wartawan Tokoh Indonesia di ruang kantornya, ia mengatakan punya keinginan untuk menyekolahkan anaknya di Ma’had Al-Zaytun. Ia dikaru-niai tiga orang anak yaitu Zet Immanuel (1981), Jeane Eva (1983), dan Paskah (1987).

Ia mulai berandai-andai sambil tersenyum, apakah itu kelak akan terjadi. Ma’had Al-Zaytun akan mempunyai santri yang beragama Islam, Kristen, Hindu, Budha dan Kong Hu Chu. Di sana akan ada masjid, gereja dan kuil. Dunia akan melihat suatu bukti nyata bahwa toleransi dan perdamaian bukan sesuatu yang mustahil. e-ti | atur-crs

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

02 | Berniat Sekolahkan Anak di Al-Zaytun

Pengalaman yang tak terlupakan di Ma’had Al-Zaytun memberi kesan indah dalam hati Pendeta Rudy. Ia tidak akan berhenti memberitakan kabar baik bahwa Ma’had Al-Zaytun sedang memupuk persaudaraan, toleransi dan perdamaian. Ia tidak akan berhenti meski kelak ia sudah pindah tugas dari GPIB Koinonia. Bahkan ia pun berniat menyekolahkan (kuliah) anak di Al-Zaytun.

Niat ini muncul setelah pendeta ini memimpin rombongan jemaat GPIB Koinonia, Jakarta, berkunjung ke Ma’had Al-Zaytun, 31 Juli 2004. Dalam percakapannya dengan Syaykh AS Panji Gumilang mengenai kemungkinan bisa tidaknya santri nonmuslim sekolah di Ma’had Al-Zaytun, bisakah persyaratan menghapal Juz Amma ‘dikredit” dulu. Syaykh mengatakan, tidak usah menghapalkan Juz Amma, karena itu milik umat muslim.

“Saya minta kepada Bapak Pendeta, Bibel apa yang harus dihapalkan, harus diketahui oleh pemuda-pemudi Protestan, seumur tertentu tatkala masuk ke Al-Zaytun. Maka persyaratannya nanti, bagi calon santri Ma’had Al-Zaytun yang beragama Protestan, syaratnya harus mempunyai penguasaan Bibel surat apa sampai ayat berapa,” kata Syaykh tatkala mengungkap percakapannya dengan Pendeta Rudy di hadapan eksponen, dosen, guru, karyawan dan para santri Ma’had Al-Zaytun dalam acara pelepasan rombongan jemaat GPIB Koinonia.

Lalu pada kesempatan itu, Syaykh meminta tanggapan eksponen dan sivitas Ma’had Al-Zaytun, baik guru maupun perwakilan pelajar, tentang jawabannya kepada pendeta itu, kalau salah salahkan, kalau betul acungkan jempol, betul. ” Diacungi jempol atau tidak,” tanya Syaykh al-Ma’had. Semua mengacungkan jempol dan menjawab betul.

“Ini Pak Pendeta. Ngacung jempol semua. Jadi, kaum liberal semua ini. Liberal itu cirinya adalah open minded dan toleran, especially in religion and politic. Ternyata anak-anak kita, guru-guru kita liberal semua. Cuma pertanyaannya, apa ada, kapan, kami menunggu,” kata Syaykh seraya menoleh ke arah Pendeta Rudy dan rombongan yang menyambut dengan tepuk tangan.

Kemudian Syayk melanjutkan, “Bila saatnya nanti bulan Mei, karena pembukaan pendaftaran siswa itu bulan Mei, maka, kita harus membuat satu monumen bersejarah kehidupan beragama di Indonesia ini. Ternyata ada pesantren yang santrinya, ada yang Nasrani, ada yang Muslim, satu saat ada yang Budha, satu saat ada yang Hindu, satu saat ada yang Kong Hu Chu, kumpul bersama. Di sana ada gereja kecil, di sana ada kuil kecil, di sana masjid kecil. Terjadi di dalamnya yang kemudian memahami pelajaran-pelajaran agamanya, dan diajarkan seperti Sisdiknas.”

Sisdiknas menghendaki bahwa bagi pelajar beragama tertentu diajar oleh guru beragama tertentu pula. “Maka kami nanti, meminta guru pada Pak Pendeta. Sudah tidak usah ke Departemen Agama, cukup Pak Pendeta, kami ini perlu guru Protestan, cobalah kirim,” kata Syaykh yang selalu disambut tepuk tangan semua hadirin.

“Alangkah indahnya kalau itu terjadi,” kata Syaykh seraya menatap kembali ke arah Pendeta Rudy. Dan, katanya, kalau sudah kita kalaukan biasanya akan terjadi. “Sebab kalaunya pendeta itu adalah doa, dan kalaunya pemangku pendidikan itu pun doa. Doanya pendeta, doanya pemangku pendidikan, doanya guru, doanya pelajar, doanya umat manusia, selalu didengar oleh Sang Pencipta,” kata Syaykh penuh keyakinan.

Sekolahkan Anak
Pernyataan yang indah dari Syaykh ini, tampaknya juga merupakan kerinduan dari Pendeta Rudy. Dia yakin bahwa pernyataan Syaykh itu serius dan tulus bukan hanya basa-basi untuk sekadar menyenangkan hati tamu. Maka, dia akan berupaya menyosialisasikan gagasan dan ajakan ini. “Ini akan menjadi salah satu wujud nyata persaudaraan dan toleransi antarumat beragama di Indonesia,” kata Pendeta Rudy ketika Wartawan Tokoh Indonesia meminta tanggapannya atas hal tersebut.

Sebagai Ketua Mupel (Musyawarah Pelayanan) Jemaat GPIB wilayah Jakarta Timur, ia berharap, bila nanti ada pertemuan khusus wilayah Jakarta Timur, akan mengundang Syaykh AS Panji Gumilang untuk berbicara dalam forum itu. Bahkan tidak cukup sampai di situ, jika Tuhan menginjinkan dia akan mengusulkan agar Syaykh AS Panji Gumilang berkesempatan berbicara pada sidang akbar GPIB yang menurut rencana akan digelar tahun 2005 nanti.

Setidaknya, dia akan mencari jalan untuk memperkenalkan lebih jauh visi dan misi saudara-saudara di Ma’had Al-Zaytun. “Sebuah visi dan misi yang sesungguhnya juga dimiliki oleh umat Kristiani untuk saling mengasihi dalam ikatan persaudaraan meski berbeda agama,” katanya. Bagi Pendeta Rudy, siapa pun orangnya, dari agama mana pun dia, jika membawa damai pastilah berkenan di hadapan Allah. Sebaliknya, biar pun seseorang itu saudara satu agama tetapi membawa permusuhan, pastilah hal itu tidak berkenan di hadapan Allah.

Menurutnya, untuk mewujudnyatakan damai dan toleransi tidak cukup dengan pernyataan atau ajakan. Maka, pendeta ini menyatakan niat untuk menyekolahkan (kuliah) anak di Universitas Al-Zaytun yang tahun depan sudah akan mulai dibuka untuk menampung santri yang mulai lulus SLTA (Madrasah Aliyah). Konon, sebanyak 80% santri Al-Aliyah telah menyatakan akan melanjutkan studi di mah’had ini.

Ma’had Al-Zaytun memang menetapkan pendidikan formal dengan jenjang yang tak terputus untuk mencapai arah dan tujuan one pipe education system, yang diwujudkan dalam pelaksanaan pendidikan dari kelas satu hingga kelas dua puluh. Jenjang pendidikan itu dimulai pada: Pertama, tingkat dasar (elementary) yakni tahun pertama hingga tahun keenam, umur 6-12 tahun; Kedua, tingkat menengah (Secondary and Senior High School) yakni tahun ketujuh hingga tahun ke-12, umur 13- 18 tahun; Ketiga, tingkat S1 yakni tahun ke-13 hingga tahun ke- 15, umur 19- 21 tahun; Keempat, tingkat S2 yakni tahun ke-16 hingga tahun ke- 17, umur 21- 23 tahun; dan Kelima, tingkat S3 yakni tahun ke-18 hingga tahun ke-19, umur 24- 26 tahun.

Jenjang pendidikan tersebut antara lain: 1) Al-Ibtidal, 2) Al-‘Idadi, 3) Al- Tsanawi, 4) Al-Wustho, 5) Al-‘Aliyah dan 6) Al-Jami’ah. Bagi tingkat Tsanawi yang tidak berkeupayaan (dikarenakan keterbatasan kemampuan dan lain sebagainya) mencapai tingkat Al-Wustho, diarahkan kepada Vocational, keterampilan atau kejuruan. Sementara untuk jenjang Al-Jami’ah penyelenggaraannya berdasar prestasi selektif.

Untuk sementara ini, yang dapat ditempuh oleh ma’had barulah pelaksanaan tingkat menengah dan persiapan S1 berupa Program Pendidikan Pertanian Terpadu (P3T), Program Pendidikan Teknik Terpadu (P2T2) dan Program Pendidikan Bahasa-bahasa Terpadu (P2BT). Sedangkan untuk tingkat dasar (asas) sedang dalam persiapan dan pembangunan yang akan diselenggarakan di berbagai daerah. Sementara P3T, P2T2 dan P2BT adalah merupakan embrio Universitas Al-Zaytun.

Kembali ke niat Pendeta Rudy sebagai pionir menyekolahkan anak ke Perguruan Tinggi Al-Zaytun, ia akan membicarakan lebih dulu kepada anaknya, yang salah satu di antaranya akan tamat SMA pada tahun ajaran ini. “Sebagai orang tua kita tidak bisa memaksakan kehendak kepada anak. Anak harus diberi kebebasan memilih. Hanya saja sebagai orang tua, tidak salah memberi penjelasan,” kata Pendeta Rudy. Ia pun akan memberi penjelasan tentang alternatif kuliah di Al-Zaytun e-ti | atur-crs

Data Singkat
Rudolf Tendean, Pendeta GPIB / Jadikan Gereja Inklusif | Direktori | Pendeta, GPIB

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here