Komitmen dalam Berkarya

[ Mathias Muchus ]
 
0
82
Mathias Muchus
Mathias Muchus | Tokoh.ID

[DIREKTORI] Pada tahun 1980-an dia terkenal dengan perannya sebagai Tarjo dalam sinetron “Losmen” di TVRI. Sejak itu, peraih Piala Citra ini menabalkan eksistensinya sebagai aktor profesional dengan membintangi banyak film dan sinetron. Setelah tiga dasawarsa berakting di depan layar, pada tahun 2011, menantu musisi jazz almarhum Jack Lesmana ini mencoba peruntungannya sebagai sutradara. 

Mathias Muchus lahir di Pagaralam, Sumatera Selatan, pada 15 Februari 1957. Sejak kecil Mathias bercita-cita menjadi seorang pilot meski tidak mendapat dukungan dari kedua orang tuanya yang lebih menginginkannya menjadi dokter. Maka dari itu, setelah lulus SMA, Mathias langsung hijrah ke Jakarta untuk mendaftar ke Lembaga Pendidikan Perhubungan Udara (LPPU). Namun sayang, ia harus rela mengubur impiannya sebagai pilot setelah gagal dalam ujian Bahasa Inggris.

Kemudian atas saran seorang sahabat, Mathias berkuliah di Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ) jurusan Seni Teater. Awalnya ia hanya sekadar coba-coba seraya ingin menyalurkan jiwa petualangnya di kampus yang kini dikenal dengan nama Institut Kesenian Jakarta (IKJ) itu. Ia pun tak langsung jatuh cinta pada dunia akting yang sama sekali asing baginya. Setidaknya butuh waktu hingga dua tahun lamanya hingga ia benar-benar menemukan keasyikan tersendiri dalam berakting. Bahkan sebelum menamatkan kuliahnya, tawaran untuk bermain film sudah menghampirinya. Film yang pertama kali dibintanginya berjudul Perkawinan yang disutradarai Wim Umboh.

Sejak debutnya itulah, dari panggung teater ia mulai merambah ke dunia film sebagai aktor profesional. Setelah film Perkawinan, di tahun 1982 ia menjadi pemeran utama pria dalam film berjudul Roro Mendut. Di film arahan sutradara Ami Prijono itu, Mathias beradu akting dengan aktris Meriam Bellina.

Awalnya ia hanya sekadar coba-coba seraya ingin menyalurkan jiwa petualangnya di kampus yang kini dikenal dengan nama Institut Kesenian Jakarta (IKJ) itu. Ia pun tak langsung jatuh cinta pada dunia akting yang sama sekali asing baginya. Setidaknya butuh waktu hingga dua tahun lamanya hingga ia benar-benar menemukan keasyikan tersendiri dalam berakting.

Setahun kemudian, ia bermain dalam salah satu film yang dibintangi si Raja Dangdut Rhoma Irama yang berjudul Satria Bergitar, kali ini ia menjadi pemeran pembantu. Karirnya sebagai aktor baru benar-benar bersinar di tahun 1986 saat berperan sebagai Tarjo dalam sinetron “Losmen” di TVRI yang banyak digemari pemirsa Indonesia.

Masih di tahun yang sama, menantu musisi jazz almarhum Jack Lesmana ini masuk dalam daftar nominasi aktor terbaik Festival Film Indonesia (FFI) lewat film besutan Buce Malawau yang berjudul Beri Aku Waktu. Dua tahun berselang, ia akhirnya berhasil meraih Piala Citra untuk kategori Pemeran Utama Pria Terbaik pada FFI 1988 lewat film yang disutradarai Wahyu Sihombing, “Istana Kecantikan”.

Dari tahun ke tahun Mathias terus mematangkan kualitas aktingnya hingga di tahun 1991 namanya kembali masuk dalam nominasi aktor terbaik lewat film Cintaku di Way Kambas. Pada tahun 90-an, industri film Indonesia mengalami masa paceklik, kalaupun ada hanya diramaikan dengan film-film bertema seks dan mistik. Sinetron juga mulai menjamur di stasiun-stasiun televisi swasta. Sebagai aktor yang telah banyak makan asam garam di dunia perfilman, tentu saja nama Mathias banyak dilirik para produser untuk bermain dalam sejumlah judul sinetron. Sebut saja Guruku Tercinta tahun 1993, Naga Bonar tahun 1996 dan Tahta tahun 1996 merupakan judul-judul sinetron yang pernah dibintangi kakak ipar Indra Lesmana itu.

Mengawali tahun 2000-an saat industri perfilman tanah air mulai bangkit dari mati surinya, Mathias kembali ke dunia film dengan membintangi film keluarga berjudul Petualangan Sherina. Film yang diproduseri sang istri, Mira Lesmana itu meraih sukses besar dan menjadi pelopor kebangkitan dunia perfilman.

Setelah itu, Mathias terus tampil dalam berbagai judul sinetron dan film, diantaranya Petualangan 100 Jam, Romantic, Denias Senandung di Atas Awan, Summber Breeze, Queen Bee, dan yang teranyar adalah film yang diadaptasi dari novel karya Andrea Hirata, Sang Pemimpi.

Di tahun 2011, setelah tiga dasawarsa berakting di depan layar, Mathias mulai mencoba peruntungannya menjadi seorang sutradara. Sebuah film keluarga berjudul Rindu Purnama menandai debut Mathias sebagai sutradara. Film yang mengangkat tema sosial itu dibintangi Teuku Firmansyah dan Titi Sjuman. Secara khusus pria berkacamata ini menjelaskan, film Rindu Purnama menyoroti kemerosotan moral masyarakat kota, terutama di Jakarta akibat urbanisasi dan pembangunan yang timpang. Demi sesuap nasi, masyarakat kota jadi lupa terhadap sesama.

Ia juga mengungkapkan, realitas seperti itu sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari masyarakat kota. Namun, ia menolak apabila film ini bertujuan menyindir. “Saya cuma mengungkapkan problem bersama yang kalau kita biarkan, manusia-manusia akan bejat moral,” tegasnya seperti dikutip dari situs tempointeraktif.

Pria yang gemar naik sepeda ini butuh waktu setahun untuk menggarap film ini. Untuk skenarionya sudah mulai ditulis sejak awal Februari 2010. Sedangkan untuk proses syuting memakan waktu sekitar satu bulan lebih.

Menjadi sutradara merupakan impian yang telah lama dipendamnya. Selain untuk meningkatkan kualitas di dunia akting, pria yang juga mengajar di almamaternya, Institut Kesenian Jakarta jurusan teater ini merasa ‘kurang puas’ dengan apa yang telah dikerjakan oleh sutradara-sutradaranya. “Sebagai pemain saya sering mempunyai keinginan-keinginan yang tidak dibuat oleh sutradara. Saya merasa sutradara seharusnya membuat seperti ini. Angle-nya dari sini, atau harusnya pemainnya berakting seperti ini. Katidakpuasan-ketidakpuasan itu terakumulasi semenjak saya pertama bermain film,” aku ayah dari Galih dan Kafka itu.

Meski tidak memiliki latar belakang pendidikan formal di bidang penyutradaraan, namun dengan bekal pengalamannya selama 30 tahun sebagai aktor, ia yakin mampu menghasilkan sebuah karya yang berkualitas. Untuk itu, Rindu Purnama didedikasikan Mathias untuk istri dan anak-anaknya tercinta. eti | muli, red

Data Singkat
Mathias Muchus, Aktor, Sutradara / Komitmen dalam Berkarya | Direktori | sutradara, film, aktor, sinetron, ganteng

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here