Peneliti dan Pengamat Intelijen

[ Wawan H. Purwanto ]
 
0
1090
Wawan H Purwanto
Wawan H Purwanto | Tokoh.ID

[DIREKTORI] Namanya mulai populer karena kepiawaiannya memberikan komentar mengenai isu-isu strategis. Sebagai peneliti dan pengamat intelijen, ia memang banyak berbicara tentang perkembangan terbaru ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, dan pertahanan keamanan terlebih bila muncul kasus besar seperti peledakan bom.

Selain sebagai pengamat intelijen, Sekretaris Tim Sosialisasi Wawasan Kebangsaan dan UKM Kantor Wakil Presiden ini sering memberikan komentar yang bertujuan merekatkan wawasan kebangsaan yang belakangan ini semakin terancam sirna. Karenanya, ia pantas dijuluki sebagai pengamat intelijen perekat wawasan kebangsaan.

Wawan H Purwanto adalah seorang peneliti yang banyak melakukan riset mengenai pertahanan dan intelijen. Semua hasil penelitiannya ia serahkan ke pemesan, hanya sebagian kecil saja diantaranya yang bisa disuarakannya langsung ke publik. Itupun, karena ia merasa harus bersuara sebagai bentuk pertanggunganjawab dan kecintaan kepada bangsanya.

Ia sangat prihatinan akan masa depan bangsanya sebab ada banyak ancaman yang menghadang di depan. Ia tak ingin menyaksikan negaranya hancur berkeping-keping seperti Balkan, setelah melihat ada indikasi kuat kemungkinan terjadinya proses Balkanisasi di Indonesia. Ia mendasarkannya pada hasil temuan riset intelijen.

Karena ia bukanlah orang dalam di lingkungan intelijen, melainkan hanya sebagai peneliti, Wawan menjadi sangat lugas manakala menyuarakan berbagai informasi intelijen ke luar. Ia pun membangun citra sebagai pengamat agar suaranya bisa diterima di mana-mana. Ia sangat prihatinan akan masa depan bangsanya sebab ada banyak ancaman yang menghadang di depan.

Maka itulah Wawan akan terus bergerak maju menyuarakan berbagai kemungkinan ancaman agar bisa diantisipasi secara dini, kendati bersamaan itu ia harus rela menerima pesan-pesan ancaman dari para teroris melalui telepon genggamnya.

Di luar negeri sendiri, ia lantang membawakan pesan-pesan perdamaian. Benturan peradaban sebagaimana pernah diutarakan oleh Samuel Huntington, menurutnya harus di-counter dengan sebuah mahakarya baru yang lebih brilian supaya apa yang disajikan Huntington bisa terkoyak dengan sendirinya.

Indonesia dalam Bahaya
Wawan H Purwanto terjun menjadi pengamat intelijen bermula sebagai peneliti yang diminta menyentuh dunia bawah tanah itu dengan riset. Sebagai periset, ia bekerja memenuhi pesanan penelitian dari sebuah departemen yang banyak bersinggungan dengan masalah-masalah pertahanan dan keamanan negara.

Pesanan-pesanan penelitian itu kemudian terus saja berlanjut dan selalu pula menghasilkan temuan-temuan baru yang mencengangkan. Sebagian hasil penelitian harus ditutupnya rapat-rapat, tak boleh diketahui siapa pun kecuali oleh pemesan dan perisetnya sendiri.

Dari sebagian kecil informasi intelijen yang bisa disuarakannya ke masyarakat luas, itu lebih banyak terpaksa disuarakan karena persoalannya sudah menyangkut ancaman ketahanan nasional serta keutuhan negara. Maka itulah sekali-kali, Wawan diminta terjun menjadi semacam speaker atas hasil-hasil temuannya.

Ia kemudian aktif berbicara di mana-mana, menjadi narasumber di berbagai forum seminar, memenuhi permintaan wawancara berbagai media massa cetak, radio dan televisi baik dari dalam maupun luar negeri. Ia juga aktif menuangkan temuannya ke dalam artikel dengan bahasa yang populer dan mudah dipahami, jumlahnya sudah melebihi 500 artikel yang pernah dimuat di media massa nasional dan asing.

Wawan menerbitkan pula temuannya pada sejumlah buku dan VCD berisi presentasi riset intelijennya di berbagai forum. Seperti VCD presentasi Selat Malaka berisi temuan Wawan, bahwa ternyata 72 persen kapal-kapal niaga antar negara melintasi Selat Malaka. Amerika, yang secara sukarela pernah menawarkan bantuan mengamankan Selat Malaka dari ancaman perompak, menurut perhitungan Wawan, memiliki nilai perdagangan tahunan 3 triliun dolar AS yang melalui Malaka.

Wawan pun menebak tujuan akhir negara adidaya menawarkan bantuan hanyalah untuk mengamankan kepentingan ekonominya semata, yang sedang terseok-seok dengan lilitan utang 7 triliun dolar AS. Wawan melihat kegelisahan Amerika terlihat nyata pada lonjakan harga minyak dunia. Mereka yang menguasai kontrak-kontrak minyak telah dengan sengaja menggenjot harga minyak hingga membubung tinggi yang akibatnya dirasakan oleh banyak negara, termasuk Indonesia.

Masih demi pengamanan jalur kapal asing, Wawan pernah menemukan sebuah dokumen rahasia berisi rencana dan desain pendirian pangkalan militer asing di Sabang, Aceh. Bahkan, Wawan mengindikasikan berdasarkan informasi intelijen ada semacam ‘proyek besar’ Balkanisasi di Indonesia. Ia sendiri sudah bertemu langsung dengan para operator Balkan, dan operator Timtim yang menyebabkan salah satu provinsi Indonesia itu lepas dari pangkuan Ibu Pertiwi.

Mereka memasuki wilayah Indonesia dengan cara bergabung dalam Aceh Monitoring Mission (AMM). Wawan adalah anggota Tim Sosialisasi Perjanjian Damai Helsinki Pemerintah RI-GAM, karenanya ia sering keliling Aceh hingga Eropa untuk menyampaikan ceramah perdamaian di forum-forum dunia dan regional, sehingga ia hafal betul wajah para operator.

Wawan akhirnya memastikan, Indonesia sekarang ini sedang berada dalam keadaan bahaya, ada kekuatan lain yang ingin mengacak-acak Indonesia dengan menciptakan Balkanisasi, termasuk mengadu domba Indonesia dengan negara-negara sahabat sesama anggota Asean. Wawan lagi-lagi mendasarkan keyakinannya itu atas hasil analisis intelijen.

Ketika memberikan ceramah di banyak tempat, Wawan pernah mendengar seorang panelis asing yang mengatakan, bahwa jarak antara Sabang sampai Merauke sama dengan jarak antara kota London hingga Baghdad di Irak. Dan, ini pernyataan yang lebih menarik, sepanjang London-Baghdad itu terdapat 16 negara tetapi di Indonesia hanya ada satu negara.

“Ini ada indikasi apa, indikasi dorongan kepada gerakan separatis,” kata Wawan, yang menyebutkan ada jaringan Inggris maupun Amerika yang mendukung kemerdekaan wilayah-wilayah Republik Indonesia. Mereka melakukan kontrol dari wilayah Bougenville, sebuah negara di sebelah barat Papua Nugini.

Pencabutan UU Anti Subversif
Salah satu buku hasil penelitian intelijen Wawan yang laris bak kacang goreng di pasaran, berjudul “Misteri di Balik Kerusuhan Mei 1998”. Di situ ia menegaskan kemungkinan terlibatnya unsur militer sehingga rejim sekuat Orde Baru pun akhirnya bisa tumbang.

Kemudian buku “Risk Management of Banking”, berisi hasil riset intelijen bahwa di dunia perbankan Indonesia hingga Orde Baru tumbang ternyata belum pernah disentuh oleh intelijen. Yang lebih banyak bermain secara tertutup di situ adalah Bank Indonesia. Ketika spekulan valas semacam George Soros bermain, rupiah akhirnya bisa ambruk dengan mudah.

Dalam buku itu, Wawan berhasil menghitung kekuatan uang para spekulan dunia, yang mencapai hingga 1 triliun dolar AS. Padahal devisa seluruh negara maju yang tergabung dalam G-8 saja, jika semua dikumpulkan hanya mencapai separuh atau 500 miliar dolar AS. Indonesia yang memiliki cadangan devisa tak seberapa ketika disentuh oleh Soros, seorang pria berdarah Yahudi yang sesungguhnya hanya menempati peringkat ke-20 sebagai spekulan terkuat dunia, rupiah mudah saja limbung.

Wawan menulis pula buku “Terorisme Ancaman Yang Tiada Akhir”, berisi hasil penelitiannya tentang ancaman teror bom yang menggejala sejak terjadi serangkaian ledakan bom di berbagai gereja pada malam Natal tahun 2000.

Jauh sebelum itu, pada tahun 1994, ternyata Wawan pernah kedatangan tamu, seorang pejabat penting pemerintahan Amerika Serikat yang memiliki kualifikasi keahlian masalah teror bom. Sang pejabat kala itu membisikkan kemungkinan Indonesia akan menjadi sasaran ancaman teror bom.

Ketika itu dengan enteng Wawan membalas sekenanya, bahwa sang pejabat yang hingga kini masih aktif berdinas, salah alamat jika bicara tentang teroris di Indonesia. Saat itu ancaman teroris memang masih sepi., yang justru lebih ditakutkan adalah bahaya separatisme.

Namun, kata Wawan lagi, jika kemungkinan ancaman sering-sering disuarakan, digosok-gosok, maka bisa-bisa hal itu menjadi kenyataan benaran nantinya. Berselang beberapa tahun kemudian ancaman itu memang terbukti betul ada. Gejala ini terbukti terjadi pula di negara lain, seperti Inggris.

Wawan menyebutkan pencabutan UU Anti Subversif pada tahun 1999, digantikan dengan UU Anti Teroris, adalah akar penyebab ancaman teror bom tidak akan pernah berakhir di bumi pertiwi ini. Dengan perubahan UU, kewenangan aparat sudah berbeda, intelijen tak lagi leluasa bergerak secara pre-emptive mencegah teror bom. Bahkan, intelijen sudah skeptis bekerja takut diajukan ke pengadilan HAM.

Peristiwa yang jauh berbeda terjadi di negara lain seperti Amerika Serikat yang memiliki UU Patriot Act, atau Malaysia dan Singapura dengan Internal Security Act, demikian pula Inggris dan Australia. Intelijen mereka dilindungi dan mempunyai kewenangan menangkap dan menahan siapa saja selama bertahun-tahun tanpa diadili — termasuk kepala negara asing sekalipun — kendati yang ditangkap masih sebatas diperkirakan sedang berpikir hendak melakukan teror.

Pertimbangan ketahanan nasional dan keutuhan negara memungkinkan intelijen negara-negara itu diberi kewenangan melakukan hal-hal yang perlu. Penjara Guantanamo adalah tempat yang ‘aman’ bagi para musuh negara Amerika. Mereka ditahan di sana tanpa batasan waktu.

Laporan Kertas Kosong
Wawan menyebutkan, setelah UU Anti Subversif dicabut setiap laporan intelijen mengenai kemungkinan ledakan bom hanya menjadi kertas kosong saja jadinya.

Laporan-laporan itu tidak merupakan pro justisia. Polisi tidak bisa bergerak meringkus teroris tanpa bukti awal yang kuat. Sistem kerja polisi adalah criminal justice system. Polisi tidak bisa menangkap orang yang dalam otak dan pikirannya sedang merencanakan peledakan bom.

Peledakan bom Bali kedua, 1 Oktober 2005 membuktikan hal itu. Sejak Mei intelijen sesungguhnya sudah memberikan masukan kemungkinan teroris akan kembali bergerak. Berdasarkan masukan ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memang sudah mengingatkan, agar meningkatkan kewaspadaan di Jakarta dan Bali khususnya pada bulan-bulan September-Oktober.

Tetapi ledakan bom tak bisa terhindarkan. Intelijen tak memiliki payung hukum yang kuat untuk mencegah, misalnya menangkapi para perencana ledakan. Intelijen hanya mendapat peran sebagai pemberi dukungan informasi tanpa dapat mengeksekusi teroris.

Teroris menjadi tahu persis dan mahfum bahwa mereka bisa beroperasi secara luas di sini. Mereka memainkan, membiayai, sekaligus melindungi dua orang agen yang dijadikan sebagai aktor peledakan bom yakni Dr Azahari dan Noordin Moh Topp. Kedua orang ini bergerak begitu liat di Indonesia, sebab si user yang nota bene merupakan teroris sungguhan, itu begitu piawai melindungi Noordin dan Azahari. Keduanya begitu immun sehingga susah ketangkapnya. Setiap operasi peringkusan dengan mudah bocor ke mana-mana.

Wawan mengajukan bukti bahwa ada user-lah yang memainkan Azahari dan Noordin. Seminggu sebelum bom meledak di Kedubes Australia pada 9 September 2004, keduanya memasuki sebuah Kedubes di Jakarta lalu dikasih uang. Wawan enggan menyebutkan nama Kedubes dimaksud kuatir, akan berimplikasi luas terhadap diri dan keluarganya. e-ti/ht-rh-ws

***TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Sejak Belia Cinta Tanah Air

Sebagai peneliti masalah-masalah intelijen, Wawan berhasil mengubahkan berbagai persoalan yang masih gelap menjadi bloking pemetaan geopolitik strategis, baik itu di lingkungan nasional, regional dan internasional.

Wawan secara lugas membahasakan bahasa bawah tanah menjadi bahasa kaum awam. Dengan kehadiran Wawan sebagai semacam pembicara, persoalan-persoalan intelijen yang biasanya tertutup menjadi akrab di telinga setiap orang tanpa dihantui rasa takut. Dan karena kelugasan itu pula suaranya menjadi didengar dimana-mana, terutama oleh para pemimpin negara.

Wawan menjadi sering dimintakan memberikan masukan agar pemimpin tidak salah mengambil kebijakan. Ia menjaga betul seorang pemimpin tidak pernah salah mengambil keputusan, yang salah adalah masukan yang diterima.

Selain dosen luar biasa di berbagai perguruan tinggi Wawan mendirikan pula Lembaga Pengembangan Kemandirian Nasional (LPKN), sebagai sarana baginya berkiprah membangkitkan semangat kebangsaan dan kebanggaan cinta tanah air. Benih-benih rasa cinta tanah air telah tersemai dalam dirinya sejak belia.

Pria kelahiran Kudus, 10 November 1965 ini menetap di tanah kelahiran hanya sampai kelas dua SD. Selanjutnya pindah ke Ungaran, masih Kabupaten Semarang. Selama SD ia selalu beprestasi sebagai juara, sampai-sampai memperoleh perhatian secara khusus dari Bupati Semarang, Suwarto, demikian pula dari guru-guru di kabupaten tersebut.

Hingga memasuki bangku SMP Negeri I Ungaran prestasi Wawan masih tetap menonjol. Ia tetap memperoleh perhatian secara khusus dari Pemerintah Daerah Semarang. Ia kemudian mengikuti Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) antar siswa se Jawa Tengah, terpilih sebagai Ketua OSIS SMP I Ungaran, bahkan sebagai Ketua IKOSIS (Ikatan Organisasi Siswa Intra Sekolah) se Kabupaten Semarang.

Ketika tampil sebagai pemimpin siswa itulah ia memperoleh pula perhatian khsusus dari Kakanwil P dan K Jawa Tengah, hingga berkesempatan memperoleh beasiswa Super Semar.

Ketika duduk di SMA Wawan aktif di organisasi kepanduan dan prestasinya terus saja menonjol hingga dipercaya menjadi pemandu siswa se Jawa Tengah. Ia tetap mendapatkan beasiswa Super Semar, serta mendapat perhatian khusus baru dari Gubernur Jawa Tengah Soepardjo Rustam, termasuk memperoleh penghargaan dari Menteri P dan K Daud Jusuf.

Wawan menempuh pendidikan S-1 Sarjana Hukum di Universitas Diponegoro, Semarang, lalu mengambil S-2 di Universitas Indonesia (UI) Jakarta, dengan spesialisasi hukum perbankan. Ia kemudian menyelesaikan pendidikan doktor S-3 di Universitas Padjajaran (Unpad), Bandung.

Nama Wawan mulai sangat terkenal sebagai pengamat intelijen pasca ledakan bom Bali 12 Oktober 2002. Ketika itu ia banyak diminta berbicara tentang ancaman bom di berbagai forum. Saat itu sesungguhnya Wawan sudah mengingatkan bom masih akan terus meledak, sebab akar persoalannya adalah kita telah berganti sistem pertahanan setelah pencabutan UU Anti Subversif.

UU ini selama Orde Baru berhasil menjadi kunci utama untuk mendeteksi segala kemungkinan gangguan dan ancaman. Bahkan dengan UU itu jarum jatuh pun bisa dengan peka diketahui. Atau, orang yang sedang berpikir yang tidak-tidak bisa ketangkap sebab UU ini betul-betul sangat efektif melakukan gerakan pre-emptive.

Memperoleh Feedback dari Pemerintah
Sebagai peneliti pertahanan Wawan dianggap berhasil menemukan temuan-temuan intelijen yang cemerlang. Ia kemudian diminta mengajarkan temuannya itu di Institut Intelijen Negara (IIN), Jakarta, di Leiden International Institute, dan di berbagai perguruan tinggi lain mulai sebagai pengajar program S-1 dan pasca sarjana.

Wawan banyak mengajar tentang masalah pemetaan bloking politik, pemetaan terhadap situasi yang sedang berkembang, hingga mengidentifikasi ancaman-ancaman yangmemasuki berbagai daerah. Misalnya, ia diminta mengenali kelompok apakah ini kirikah atau kanan. Wawan sering membawakan mata ajaran pemetaan seperti itu di mana-mana.

Berdasarkan riset-risetnya Wawan ternyata memperoleh feedback yang baik dari Pemerintah. Ia diminta menjelaskan bagaimana link up hasil temuannya, kemudian kalau dikembangkan terus-menerus akan bagaimana, hingga akhirnya temuan-temuan itu menjadi mata ajaran yang dipakai tetap di Institut Intelijen Negara. Karena temuannya pula Wawan berkesempatan menimba ilmu mengenai beberapa persoalan yang berkaitan dengan masalah pertahanan dan kesenjataan.

Bahkan, Wawan yang menjadi sangat familiar dengan masalah intelijen turut pula diminta memperbaharui kurikulum intelijen yang ada, untuk disesuaikan dengan perkembangan yang sekarang dan yang akan datang. Ia mendasarkan perbaikan kurikulim pada Perkiraan Keadaan atau Kirka, sehingga dikenal istilah Kirka tiga tahunan, lima tahunan, dan sepuluh tahunan.

Lobi Adalah Jalan Penyelesaian
Wawan tak pernah berhenti sebatas mengungkap informasi intelijen ke permukaan. Ia turut memberikan solusi atas berbagai persoalan yang muncul. Seperti uuntuk mencegah terorisme ia mengusulkan ada penguatan kewenangan baru bagi intelijen untuk melakukan langkah pre-emptive.

Caranya adalah memperbaharui UU Anti Subversif, kemudian memperbesar anggaran pertahanan agar mampu membeli alat-alat pertahanan yang lebih baru dan modern sesuai perkembangan jaman. Ia juga mengusulkan memperbanyak latihan dan riset-riset intelijen.

Alat-alat yang sering digunakan teroris sudah serba plastik sehingga susah terdeteksi metal detector. Taktik gerilya yang digunakan teroris mulai mengadopsi taktik pejuang Chechnya, yang dasarnya adalah taktik Pakta Warsawa. Sehingga satu-satunya penawar yang paling ampuh adalah taktik gerilya NATO, untuk itu intelijen Indonesia perlu belajar ke NATO.

Wawan juga sangat menyayangkan anggaran intelijen yang diajukan sebesar Rp 1,6 triliun, hanya disetujui Rp 675 miliar saja sudah termasuk untuk anggaran pembangunan, pembelanjaan, sehingga hanya tersisa sedikit saja untuk operasi intelijen.

Dari segi peralatan tempur pun Wawan mencontohkan betapa tertinggalnya kita. Indonesia yang mempunyai 20 unit pesawat angkut Hercules yang jalan hanya enam, dari 39 kapal perang eks Jerman Timur yang jalan hanya 10, lalu empat skuadron pesawat tempur yang jalan cuma empat biji. Pesawat Sukhoi yang kita beli ternyata tak dilengkapi dengan senjata. Karena pesawat itu belum lunas maka penerbang yang menerbangkannya masih orang-orang Rusia.

Untuk memperkuat ketahanan ekonomi akan lebih baik apabila Indonesia melobi langsung para pemilik uang agar mau menjadi investor di Indonesia. Lobi adalah cara terbaik meyakinkan kelompok lobi Yahudi yang terkenal sangat kuat, misalnya melalui IAPAC atau Israelly-American Public Affair Committee. Indonesia perlu menerobos lobi George Soros hingga Julian Robinson, pemegang ranking nomor satu spekulan terkuat Yahudi.

Intelijen Indonesia juga perlu mengetahui masalah-masalah link kelompok mana yang lebih banyak menguasai Departemen Pertahanan Amerika, bagaimana menembusnya, dan bagaimana lobinya serta melalui siapa. Wawan menyebut langkah-langkah intelijen demikian merupakan salah satu hal baru yang harus ditemukan untuk kemudian disarankan ke pemerintah untuk ditindaklanjuti.

Kepada para operator yang sedang merancang Balkanisasi di Indonesia perlu dijelaskan bagaimana posisi strategis kita yang sesungguhnya. Untuk tujuan penanganan terorisme Wawan sering keliling dunia berbicara langsung dengan para pemimpin dunia, atau paling tidak berbicara dengan media asing untuk meminta para pemimpin mau melakukan coolling down. Terorisme sudah menjadi musuh bersama internasional.

Wawan sudah pernah menyempatkan diri berkunjung ke Semenanjung Korea untuk membawa pesan perdamaian. Ia berharap di semenanjung yang lama menjadi arena pertikaian dua negara Korea, itu bisa dijadikan contoh dan sentra perdamaian dunia. Di Korea pula ia pernah hadir dalam sebuah forum pembangunan ekonomi regional, untuk menyakinkan investor agar melirik Indonesia.

Sudah Bergerak Sendiri
Wawan masih akan terus melangkah dan berbuat lebih banyak lagi untuk bangsanya, sesuai pesan Ayahandanya. Ia sendiri sudah banyak membangkitkan wawasan kebangsaan para generasi muda, serta membangun kekuatan ekonomi rakyat berskala usaha kecil dan menengah (UKM).

Wawan adalah anggota Tim Sosialisasi Wawasan Kebangsaan di Kantor Wakil Presiden, dan dipercaya memegang pengembangan sektor UKM. Dari ratusan UKM yang dibina segi permodalan, manajemen, distribusi dan pemasaran, 80 persen diantaranya berjalan dengan baik, menyebar di berbagai daerah, dengan pusat pengendalian di Cijantung, Jakarta Timur.

Wawan memulai pembangunan wawasan kebangsaan dari bawah. Sebagai Ketua Komite Sekolah SDN 08 Kampung Baru, Pasar Rebo, Jakarta Timur, ia aktif memberikan berbagai kegiatan ekstrakurikuler. Tujuannya agar siswa bisa mandiri, bangkit, dan mencintai tanah airnya sejak kecil. Wawan membekali siswa dengan kegiatan latihan drumband, olah vokal, bola voli, musik, teater, komputer, pidato bahasa Inggris, latihan dasar kepemimpinan, hingga bazar murah dan pesantren kilat.

Di kalangan mahasiswa dan generasi muda di berbagai pertemuan nasional Wawan tampil aktif menjadi tutor atau sebagai nara sumber, menjadi pembina pesantren Wilayah III Jawa Barat, membina para mantan pecandu narkoba, tahanan dan narapidana, dan remaja putus sekolah.

Wawan memberi mereka kesempatan terjun ke sektor usaha kecil dan menengah, atau mengisi hari-harinya dengan berolahraga di Sentra Olahraga Cijantung. Semua dimaksudkan untuk menciptakan citra bahwa hidup tak harus kriminal melainkan perlu membangkitkan rasa percaya diri dan prestasi. e-ti/ht-rh-ws

Data Singkat
Wawan H Purwanto, Pendiri, Direktur, dan Peneliti LPKN / Peneliti dan Pengamat Intelijen | Direktori | Unpad, UI, pengamat, intelijen, Undip

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here