Humble dan Humanis

Dr. HC. Haji Qodiran

H. Qodiran
 
0
121
Dr. HC. Haji Qodiran

Dr. HC. Haji Qodiran, seorang tokoh sederhana, bukan pejabat penting dan terkenal. Pria kelahiran suatu dusun di Kabupaten Gunung Kidul, 24 Januari 1958, ini hanya seorang guru SD yang berusaha menapaki jalan hidupnya sebagai seorang muslim yang memiliki sikap humble dan humanis sesuai konsep Hablum Minallah, Hablum Minannas dan Hablum Minal Alam.

Qodiran memahami bahwa agama sejati adalah kehidupan nyata; hidup dengan segenap jiwanya, dengan segala kebaikan dan kebenarannya. Bagi Qodiran ajaran aga­ma tanpa tercermin dan terwujud dalam kehidupan nyata adalah keyakinan yang sia-sia.

Maka, dengan prinsip rahmatan lil’alamin itu, Dr. Haji Qodiran berusaha belajar mencintai tanpa syarat. Berusaha memberi tanpa alasan apapun dan tanpa ekspektasi apa pun. Dia religius, bersahaja, humble, peduli dan humanis.

Dia ekuivalen seperti sosok yang digambarkan oleh Charles Dickens, memiliki hati yang tidak pernah mengeras, temperamen yang tidak pernah lelah, dan sentuhan yang tidak pernah menyakitkan.

Tokoh humble dan humanis yang bangga sebagai guru ini meng­aktulisasikan diri dengan pengabdian yang lebih terpusat pada kaum duafa. Dia pun mendirikan dan memimpin PABU Foundation yang berawal dari langkah sederhana Komgesi (Komunitas Generasi Sehat Indonesia) tahun 2012 de­ngan gerakan tidak merokok dan uang rokoknya didonasikan untuk kepentingan sosial.

Menurutnya, langkah terbaik untuk menyejahterakan kehidupan bangsa Indonesia adalah mengutamakan kepedulian dan keberpihakan kepada kaum miskin. Dia pun menegaskannya dengan Tagline: PABU Foundation, media mendidik generasi muda sehat, cerdas, percaya diri, amanah, mandiri, berjiwa sosial menuju Indonesia unggul.

Itulah Haji Qodiran yang dari semua rangkaian perjalanan hidupnya, tampak jelas lebih mementingkan karakternya daripada reputasinya. Memang, karakter kita adalah diri kita yang sesungguhnya, sedangkan reputasi kita hanyalah apa yang orang lain persepsikan tentang kita. Dari pengalaman hi­dup Qodiran kita juga belajar bahwa dengan peduli dan bersedekah kepada kaum duafa seseorang tidak pernah takut akan menjadi miskin. Bahkan dalam kepedulian kepada sesama, seseorang akan memiliki keberanian untuk bercita-cita hidup seribu tahun lagi dalam bentuk kesiapan untuk mati kapan pun. Sosok seperti inilah tokoh yang terbilang tidak banyak di tengah gaya hidup hedonis.

Ch. Robin Simanullang, Visi Tokoh, Majalah Tokoh Indonesia Edisi Khusus No.48

Advertisement

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini