Tersandung Pimpin BPPN

[ Syafruddin Arsyad ]
 
0
106
Syafruddin Arsyad
Syafruddin Arsyad | Tokoh.ID

[DIREKTORI] Dia beruntung mendapat mandat memimpin Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) menggantikan Putu Ary Suta. Kendati alumni ITB, ini tidak berlatarbelakang pendidikan keuangan dan belum pernah memimpin perusahaan. Rupanya Menteri Negara BUMN Laksamana Sukardi percaya kepadanya untuk menangani tugas-tugas besar di BPPN itu. Dia terbilang sukses.

Namun setelah dia diganti, tak lama kemudian dia tersandung, ditahan karena disangka terlibat tindak pidana korupsi dalam pelepasan aset Pabrik Gula (PG) PT Rajawali Nusantara Indonesia Tiga di Gorontalo seharga Rp 95 miliar. Padahal aset tersebut ditaksir bernilai lebih Rp 600 miliar, sehingga merugikan negara Rp 516 miliar. Dia pun ditahan Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta, Rabu (22/2/2006) malam. Dia pun membantah terlibat korupsi dan mengajukan keberatan atas penahannannya.

Pengangkatan Syaf – panggilan akrab Syafruddin Arsyad Temenggung – sempat membuat orang agak terkesima. Banyak orang meragukan kemampuan ‘pendatang baru’ ini untuk memimpin agen penyehatan perbankan yang mengemban tugas pemulihan ekonomi dan menopang anggaran itu. Sebab, nama Syaf memang belum begitu dikenal khalayak selama ini, dibanding dengan nama dua kandidat Ketua BPPN lain yang sempat beredar yakni Arif Arryman dan Arwin Rasyid.

Nama Syaf baru dikenal luas ketika ia menjabat Sekretaris KKSK (Komite Kebijakan Sektor Keuangan). Lagi pula Syaf memang tak punya latar belakang memimpin perusahaan atau pendidikan keuangan. Ia lebih tepat disebut sebagai seorang birokrat yang efisien. Namun soerang petinggi pemerintahan menepis keraguan ini: “Syaf terampil sebagai manajer dan ia tak pernah menghambat urusan orang lain.”

Syaf meraih S1 Jurusan Planologi Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 1983. Setamat dari ITB itu, dia terus-menerus berkarir di pemerintahan. Mula-mula ia bekerja di Departemen Pekerjaan Umum — sekarang Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah. Dikenal sebagai orang yang senang belajar, ia melanjutkan pendidikan di bidang pembangunan perkotaan di University College, London, kemudian memperoleh master di bidang Perencanaan Kota dari Universitas Cornell, New York. Di universitas yang sama pula ia menggondol gelar doktor bidang Ekonomi Wilayah dan Ekonomi Pembangunan.

Sementara itu karir pekerjaan yang hingga kini masih dijalaninya antara lain sejak bulan April 2000 hingga sekarang, ia menjabat Sekretaris Komite Kebijakan Sektor Keuangan (KKSK). Kemudian pada bulan Juni 2000 – 2002 ia mendapat kepercayaan sebagai Deputi Menko Ekuin di bidang Investasi dan Pengembangan Dunia Usaha. Selain itu ia juga mendapat kepercayaan sejak bulan Juni 2000, sebagai Sekretaris Komite Eksekutif dan Pemantau Pelaksanaan Tugas BPPN. Ia juga tercatat sebagai salah seorang Komisaris Lippo Bank. Beberapa jabatan itu dilepas setelah dia menjabat Kepala BPPN.

Sesaat setelah dilantik pada hari Senin 22/4/2002, dia mengatakan akan meneruskan beberapa kebijaksaan yang telah dilakukan para pendahulunya. Dan sebelum melakukan tindakan ke luar, dia lebih dulu melakukan pembenahan internal. Ia memangkas beberapa kewenangan Ketua BPPN sesuai dengan rekomendasi Oversight Committee (OC) BPPN. Nantinya beberapa persoalan tak lagi di tangan Ketua BPPN. Kemudian dia melakukan restrukturisasi dalam tubuh BPPN. Struktur baru yang tidak terlalu sentralistik seperti sebelumnya sehingga diyakini tak akan menghambat prinsip good corporate government di BPPN.

“Tak akan ada lagi unit yang langsung di bawah pengawasan BPPN. Unit itu nantinya akan ditangani oleh Deputi yang ada di BPPN,” tegas Syafruddin. Ia lantas memberi contoh soal penunjukan konsultan yang dulu menjadi di tangan Ketua BPPN akan didelagasikan kepada bawahannya.

“Saya juga tak punya banyak waktu untuk menentukan konsultan,” ujar Syafruddin. Sebelumnya, kewenangan Ketua BPPN dalam menunjuk konsultan sempat disoal karena dicurigai berpotensi dipakai untuk menggolkan beberapa penjualan aset di BPPN.

Bagaimana dengan tim di BPPN yang ada sekarang ini? “Saya kenal semua dengan mereka, kita akan lihat team work dan saya kira yang penting itu tadi saya ingin bekerja dengan satu tim yang kuat, yang profesional, yang punya integritas dan punya komitmen untuk menjadikan BPPN sebagai agent of recovery. Sehingga yang positif kita teruskan yang belum menunjukkan kinerjanya itu harus kita perbaiki,” ujarnya kepada pers di kantornya, Gedung Aetna Danamon, lantai 9, Jl. Sudirman, Jakarta, Selasa (23/4/2002).

Dengan struktur baru itu, lelaki kelahiran Palembang tanggal 9 Agustus 1959 ini berharap kinerja BPPN akan jauh lebih baik. Dia selaku Ketua BPPN hanya menangani hal-hal strategis. Sementara urusan teknis diserahkan kepada deputy dan bawahannya. Maka tak heran, di tengah kesibukannya, dia masih sempat sesekali meluangkan waktu menyaksikan laga Piala Dunia. “Paling hanya satu dua pertandingan yang sempat saya tonton. Itu pun kalau pertandingannya digelar malam hari atau hari libur. Kalau hari kerja, ya wassalam,” katanya, ketika ditanya wartawan. Namun, jika kesebelasan favoritnya Jerman sedang bertanding, ia mengaku harus menyempatkan diri berada di depan layar televisi.

Lantas, ada apa dengan kesebelasan Jerman? “Oh, kalau Jerman yang main, saya harus nonton, Itu kan favorit saya. Apalagi, kalau yang main Michael Ballack. Sejak saya suka nonton bola, saya sudah tertarik dengan kesebelasan Jerman. Dulu waktu namanya Jerman Barat, saya suka dengan Franz Beckenbauer, lantas ada Karl-Heinz Rummenigge, lalu ada Lothar Matthaeus, dan sekarang Michael Ballack,” lanjutnya.

Syafruddin meramal kesebelasan kebanggaannya akan berhasil menembus babak final. “Siapa yang menang? Saya sih berharap Jermang dong,” kata Syafruddin yang berjanji akan mengajak nonton bareng bersama wartawan, di kantornya. e-ti | dari Tempo, Kompas dan berbagai sumber

Data Singkat
Syafruddin Arsyad, Mantan Kepala Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) / Tersandung Pimpin BPPN | Direktori | ITB, deputi, BPPN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here