Penolong Tuna Rungu

[ Ratnawati Sutedjo ]
 
0
93
Ratnawati Sutedjo
Ratnawati Sutedjo | Tokoh.ID

[DIREKTORI] Ratnawati Sutedjo selalu meyakini bahwa hidup semua orang ada dalam rencana Tuhan. Sebelumnya ia tidak pernah berpikir akan membantu orang-orang berkebutuhan khusus, khususnya tuna rungu.

Pengalaman hidup telah menuntunnya untuk memperhatikan orang-orang yang berkebutuhan khusus. Sekitar tahun 2002, ia pernah jatuh sakit hingga berada dalam posisi titik terendah dalam hidupnya. Saat itu, kondisi tubuhnya sangat lemah bahkan susah untuk menggerakkan badan. “Saya benar-benar sakit. Duduk saja lemas,” katanya. Selama dua bulan ia tidak bisa bekerja dan melakukan aktivitas keseharian. Sakit yang diderita membuatnya merasa tidak berguna dan kesepian.

Namun, justru dalam ketidakberdayaan karena sakit tersebut, ia mendapat dorongan ataupun ilham yang ia sendiri tidak memahami darimana datangnya dorongan tersebut. “Entah darimana,” katanya. Saat itu, sakit yang dirasakannya malah membersitkan sebuah tanda tanya dalam pikirannya. “Bagaimana dengan orang-orang cacat itu, mereka juga mengalami kesendirian, ketidakmampuan, dan ketidakberdayaan,” kata suara dalam hatinya.

Suara itu memunculkan kerinduan dalam hatinya untuk menolong mereka yang cacat. “Seandainya dimungkinkan ada sebuah kesempatan bisa bertemu dengan mereka, orang yang mengalami kekhususan dan bisa membantu diri mereka, saya akan melakukannya,” katanya. Bermula dari kerinduan itulah, ia bertekad untuk membuat hidupnya lebih berarti bagi orang lain dengan menolong orang berkebutuhan khusus.

Sebagai langkah awal, ia menjadi teman dari beberapa gadis tuna rungu. Selama berteman dengan mereka, ia merasakan ada hal yang lebih besar yang mesti ia lakukan selain menolong gadis-gadis itu menemukan rasa berharga dalam hidup mereka. Banyak dari temannya itu tidak bekerja.

Dalam ketidak berdayaan karena sakit, ia mendapat semacam dorongan ataupun ilham yang ia sendiri tidak memahami darimana datangnya dorongan tersebut. “Entah darimana,” katanya. Saat itu, sakit yang dirasakannya malah membersitkan sebuah tanda tanya dalam pikirannya.

Ia kemudian mendirikan “Precious One” di Jakarta, sebuah yayasan sosial untuk menolong orang, khususnya tuna rungu yang mengalami gangguan pendengaran dan sulit berkomunikasi. Di sana mereka dibimbing untuk menjahit, memproduksi alat peraga atau gift dan segala macam produksi.

Ia ingin membina mereka sehingga memiliki rasa percaya diri sekaligus menunjukkan kepada masyarakat bahwa orang-orang cacat bisa bekerja. Karena banyak sekali kesempatan kerja yang sulit mereka dapat di lingkungan perusahaan karena keterbatasan fisik tersebut. Padahal menurutnya, kesempatan kerja bagi tenaga kerja penyandang cacat diakui dalam Undang-Undang Tenaga Kerja No. 13 Tahun 2003, pasal 28 yang menyatakan bahwa perusahaan harus mempekerjakan paling tidak satu persen untuk setiap 100 pekerja. Langkanya perusahaan yang mau menerima orang-orang “berkebutuhan khusus” ini membuat mereka tidak dapat berkarya. Banyak perusahaan yang menggunakan berbagai alasan untuk menolak karyawan yang memiliki cacat. Hal ini sangat ia sayangkan.

Ia pun berpikir, seandainya bisa, ia mau membalik peraturan itu. Ia justru mau menerima orang berkebutuhan khusus dibanding orang normal.”Saya, semuanya orang berkebutuhan khusus, hanya satu orang normal yang saya terima,” katanya. Memang, dalam kondisi-kondisi tertentu dengan orang berkebutuhan khusus memang tidak bisa 100% diterima di perusahaan. Namun, sekali lagi kesempatan dan kemampuan mereka perlu juga dipertimbangkan.

Ia sendiri memang mengakui, sudah cukup banyak perusahaan menerima orang-orang berkebutuhan khusus. Seperti di PT Kalbe Farma ada 1 orang yang menderita down syndrome, di rumah sakit pun sudah menerima orang tuna rungu di bagian administrasi.

Ketika ditanya mengenai produktivitas ia mengatakan, kita juga harus memiliki kreativitas. Justru sekarang itu kita harus ditantang untuk kreatif. Kreatif menciptakan lapangan pekerjaan, menciptakan sesuatu yang baru. Serta memiliki semangat, tanpa itu kita tidak akan punya tujuan hidup. Masih ada harapan, jangan pernah berkata, bahwa saya tidak bisa. Dengan belajar dari banyak orang, tidak punya tangan, tapi bisa melukis dengan kaki. Tidak punya tangan tapi bisa menyetir. “Kita bisa belajar dari mereka. Kendala apapun bisa dilewati, asal ada kemauan,” katanya. Bio TokohIndonesia.com | basan-mlp

Juga diterbitkan di Majalah Berita Indonesia, Jumat, 12 Juni 2010

Data Singkat
Ratnawati Sutedjo, Pendiri Precious One / Penolong Tuna Rungu | Direktori | yayasan, aktivis, Precious-One, tunarungu

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here