Rindukan Pemimpin Ideal

[ Adhie M Massardi ]
 
0
179
Adhie M Massardi
Adhie M Massardi | Tokoh.ID

[DIREKTORI] Mantan juru bicara Presiden KH Abdurrahman Wahid ini dikenal tak henti mengkritik keras pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Segala bentuk kritik itu, ia tuangkan dalam bentuk tulisan dan puisi. Demi memperjuangkan idealismenya, wartawan senior ini merapat ke barisan ekonom Rizal Ramli sebagai aktivis Komite Bangkit Indonesia dan Gerakan Indonesia Bersih.

Adhie M Massardi menghabiskan masa mudanya di kota gudeg, Yogyakarta. Sejak kecil bakat seninya telah terlihat karena terpengaruh pergaulan dua saudara kandungnya yakni Norca Massardi dan Yudistira Massardi yang sudah terlebih dahulu terjun ke dunia seni. Kecintaannya pada kesenian makin menjadi karena hampir saban hari, ia bersama Yudistira serta Emha Ainun Najib dan Ebiet G Ade berkumpul di Malioboro hanya untuk membuat puisi. Tak puas hanya sebatas puisi, bapak empat anak ini mulai coba-coba menulis cerita pendek (cerita pendek) dan artikel mengenai kebudayaan.

Keinginan untuk mengembangkan bakat yang dimilikinya mendorong suami dari Dewi ini untuk hijrah ke Jakarta dan bergabung dengan Yudistira di majalah Lelaki. Di sela-sela pekerjaannya sebagai wartawan di media tersebut, Adhie tetap setia menulis cerita pendek di sebuah majalah remaja ternama. Bahkan, ia juga diminta untuk menulis di beberapa surat kabar Ibukota tentang berbagai masalah sosial. Kepekaannya sebagai wartawan kemudian menggiringnya ke jenjang karir yang lebih tinggi dengan berkiprah di majalah wanita “Kartini” dan memimpin majalah pria fenomenal “Popular”. Namun, Adhie cuma dua tahun bekerja di majalah pria dewasa yang terbit pada jaman Orde Baru itu.

Pada awal tahun 90-an, dunia pertelevisian di Indonesia tengah berkembang pesat. Karena kedekatannya dengan Nirwan Bakrie, akhirnya aktivis Gerakan Indonesia Bersih ini diajak bergabung di salah satu stasiun swasta milik pengusaha itu. Di situ, ia memproduseri banyak acara musik, olahraga, dan kuis selama enam tahun.

Bersama ekonom Rizal Ramli dan para aktivis lainnya yang tergabung dalam Gerakan Indonesia Bersih bahu membahu aktif mengkritisi pemerintahan pusat apalagi setelah melihat carut marutnya persoalan bangsa yang tak kunjung menunjukkan tanda-tanda perbaikan.

Kendati telah berkecimpung dalam dunia jurnalistik elektronik, Adhie tetap setia menulis isu-isu yang sedang berkembang di dunia sosial dan politik. Salah satunya menyoroti pemikiran dan kebijakan yang dibuat oleh Gus Dur yang kala itu menjabat sebagai Presiden RI. Contohnya saat Gus Dur mempertanggungjawabkan laporan tahunan yang disajikan dalam bentuk tulisan seperti artikel kebudayaan tanpa angka-angka di dalamnya. “Mungkin bagi sebagian orang hal itu dianggap ‘aneh’ tapi alasan Gus Dur tidak memaparkan angka-angka karena angka-angka tersebut tidak ada maknanya kalau rakyat tidak merasakannya,” terang Adhie saat diwawancarai TokohIndonesia.com, 22 Februari 2012.

Hingga suatu hari saat ada sebuah perhelatan kesenian, Adhie berkenalan dengan Saifullah Yusuf yang merupakan orang kepercayaan Gus Dur. Ia diminta untuk menduduki jabatan sebagai advisor media. Namun, belum sempat Adhie mengaminkan tawaran tersebut, posisinya dinaikkan menjadi juru bicara (jubir) Gus Dur. “Sebelum menjadi jubir, saya sama sekali tidak kenal siapa Gus Dur itu. Waktu saya tanya ke beliau kenapa memilih saya sebagai jubirnya, beliau menjawab karena profesional,” kata Adhie yang meyakini bahwa menjadi jubir presiden adalah jalan Tuhan. Saat itu, ia membatin kalau dulu ia bukan siapa-siapa bahkan saat lewat istana presiden pun canggung tapi setelah menjadi jubir, ia bisa bebas ke sana. “Inilah kalau Tuhan punya mau, apapun bisa saja terjadi,” ujarnya.

Menurut Adhie, kendati dirinya cukup lama berkecimpung di dunia pemberitaan, ia tetap tetap merasa kikuk saat menjalankan tugas barunya sebagai jubir presiden. “Biasanya saya yang mewawancarai, namun sekarang, puluhan wartawan yang mewawancarai saya,” akunya. Demi membantu kelancaran para pencari berita maka penulis puisi Negeri Para Bedebah ini membuka layanan 1×24 jam. Selama mendampingi Gus Dur kemana pun pergi, Adhie semakin memahami jalan pikiran Gus Dur yang terkadang dianggap banyak orang cukup membingungkan dan suka memancing kontroversi.

Sahabat dekat Emha Ainun Najib ini juga mendapat banyak pelajaran berharga dari Guru Bangsa itu. Misalnya soal persoalan bangsa yang terletak pada kepemimpinan dan soal bekerja di dunia politik. Adhie melihat bahwa bekerja di dunia politik adalah pekerjaan yang mulia karena bisa menolong bukan hanya sebatas ribuan melainkan jutaan orang. “Tentu saja lewat kebijakan-kebijakan politik yang benar dan berpihak kepada rakyat hasilnya akan lebih terasa dibandingkan berjuang secara personal,” ujarnya.

Adhie juga bisa tahu alasan mengapa Gus Dur pernah mengkritik DPR layaknya taman kanak-kanak. Menurut Adhie, DPR periode 1999 pascareformasi adalah orang-orang yang baru bisa ‘ngomong’ sehingga jika dilarang malah dianggap tidak benar sebab mereka masih dalam tahap proses belajar bak taman kanak-kanak.

Dengan modal pengertian yang benar tentang berpolitik yang sehat, Adhie membulatkan tekad untuk terjun ke dunia politik. Adhie kemudian bergabung dengan Partai Kebangkitan Bangsa dengan posisi sebagai anggota departemen komunikasi. Uniknya, meski hanya duduk sebagai anggota namun gara-gara kedekatannya dengan Gus Dur sebagai Ketua Dewan Syuro PKB, Adhie punya kuasa untuk meralat Ketua Umum PKB. “Secara struktural saya anggota departemen komunikasi dimana ketua departemennya adalah Effendi Choirie tapi saya di bawah setingkat Ketua Dewan Syuro dan setingkat di atas Ketum. Makanya saya bisa meralat Ketum PKB sebab dianggap dekat dengan Gus Dur,” katanya tersenyum. Namun semenjak PKB didera konflik internal, Adhie memutuskan keluar dari PKB dan merapat ke barisan Rizal Ramli dkk.

Selama menjadi jubir Gus Dur, Adhie memang nyaris tak pernah membuat kesalahan tentang apa yang ia sampaikan kepada publik maupun wartawan. Namun, pernah suatu kali ia mendapat teguran dari Gus Dur tentang sebuah wacana politik. “Beliau bilang bahwa kalau saya yang bicara akan lain dan jadi terasa sakit hati tapi jika beliau akan terasa beda. Ini hanya soal etika menyampaikan saja sedangkan substansinya 100% tidak ada persoalan,” kenang Adhie tanpa ingin merinci apa wacana politik tersebut.

Seiring dengan berjalannya waktu, Sekretaris Jenderal Komite Bangkit Indonesia ini semakin kepincut hatinya di ranah politik. Apalagi, nuraninya terketuk saat Gus Dur gagal mencalonkan dirinya untuk yang kedua kalinya dalam bursa pencalonan presiden tahun 2004. Menurut Adhie, ada ketidakberesan yang terjadi dalam mekanisme Komisi Pemilihan Umum (KPU) saat itu sehingga terjadi diskriminasi terhadap Gus Dur.

Berangkat dari pengalaman itulah, Adhie terus menyuarakan proses demokrasi yang menurut pandangannya, harus sejalan dengan penegakan hukum. Jika tidak, akibatnya demokrasi akan dikuasai oleh para ‘pencoleng’ dimana orang-orang yang memiliki uang dapat meligitimasi kekuasaan lewat proses yang seolah-olah demokratis. Mereka menghalalkan segala cara agar mendapatkan kekuasaan mulai dari bupati, DPR bahkan sampai presiden. “Pokoknya siapa yang punya uang, bisa menang,” ujar Adhie menyayangkan.

Menurut Adhie, bangsa ini tak hanya cacat dalam bidang hukum melainkan juga bidang-bidang lainnya. Misalnya masalah korupsi yang terjadi di setiap lembaga negara yang memiliki fungsi strategis. Ironisnya, lembaga yang memiliki kewenangan seperti KPK tidak memiliki kemampuan untuk masuk ke kasus korupsi yang sesungguhnya. Korupsi tidak hanya melulu soal memperkaya diri saja melainkan bisa juga memperkaya orang lain atau menyalahgunakan wewenang. Contohnya, lewat kebijakan-kebijakan di sektor keuangan seperti kasus Bank Century dan BLBI yang sudah merugikan negara triliunan rupiah.

Anehnya, kasus-kasus tersebut tidak dapat tersentuh oleh hukum sebab pemahaman korupsi di tingkat penegak hukum itu lebih kepada memperkaya diri tapi saat terjadi penyalahgunaan wewenang, mereka berdalih tidak memiliki kompetensi untuk mengungkap kasus itu. Oleh karena itu, ia bersama ekonom Rizal Ramli dan para aktivis lainnya yang tergabung dalam Gerakan Indonesia Bersih bahu membahu aktif mengkritisi pemerintahan pusat apalagi setelah melihat carut marutnya persoalan bangsa yang tak kunjung menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Adhie bahkan mengkritik keras Presiden Susilo Bambang Yudhoyono agar segera turun dari jabatannya karena dianggap tidak kompeten menjalankan tugasnya. Kritik kerasnya itu sudah ia tuangkan dalam bentuk puisi berjudul Mosi Tidak Percaya yang pertama kali dibacakan pada Kamis, 12 April 2012 dalam acara Sarasehan Anak Negeri yang disiarkan secara live oleh Metro TV.

Menurut Adhie yang mengutip pendapat Gus Dur, “Demokrasi ini selain untuk mempermudah jenjang kepemimpinan, mempermudah pula suksesi yakni bisa turun secara demokratis. Jadi demokrasi itu untuk naik dan turun jadi makanya saya tidak mengerti kalau mau menurunkan presiden dianggap tidak demokratis padahal demokrasi itu merupakan salah satu perangkatnya”. Hal itu pula yang makin mendorongnya untuk terus bergerak menjadi aktivis yang menentang rezim SBY-Boediono.

Menurut Adhie, salah satu faktor maju atau mundurnya suatu negara terletak pada pemimpinnya dan rekrutmen kepemimpinan di Indonesia sejak awal telah salah. Ia mencoba membandingkan kondisi demokrasi di tahun 1999 dan 2004. “Tahun 1999 saat Orde Baru tumbang, teman-teman yang masuk ke dunia politik berpegang pada visi, misi, idealisme dan ideologi. Sedangkan tahun 2004 mulai masuk unsur-unsur di luar demokrasi dan ideologi dimana kekuatan uang yang bicara dalam proses politik,” jelasnya.

Dalam hal ini, pemimpin lahir melalui produk iklan yang lebih mengandalkan uang daripada pemimpin yang mengedepankan komitmen, visi, ideologi dan leadership. Adhie juga amat menyesalkan bahwa kelahiran pemimpin versi iklan dimotori oleh para konsultan politik. Padahal, secara tidak langsung, pemimpin yang lahir dari iklan bisa dibilang telah menjerumuskan rakyat ke dalam hal-hal yang fiktif. Jadi, ketika terpilih, sosok yang ditampilkan lewat iklan itu berbeda dengan sosok aslinya. Adhie juga menyayangkan pemikiran orang selama ini yang melihat pengganti SBY (calon presiden) hanya diisi oleh para ketua umum dari partai. Hal ini makin mempersempit peluang dari sosok yang lahir dari gerakan perjuangan yang memiliki kompetensi akibat keterbatasan sosialisasi.

Pemikiran umum tersebut menjadi beban tersendiri bagi Adhie. Oleh sebab itu, ia terus memikirkan cara-cara untuk mendobrak kebuntuan figur pemimpin. Baginya, persoalan penting dalam bangsa ini ada dua yakni ekonomi dan hukum dan figur yang cocok untuk duduk dalam masing-masing bidang tersebut adalah Mahfud MD dan Rizal Ramli. “Saya membayangkan jika keduanya digabungkan, kemungkinan bisa menyelesaikan persoalan bangsa ini dengan baik ketimbang orang-orang yang hanya dikenal lewat iklan. Jangankan mengatasi persoalan bangsa, mengatasi masalah partainya saja yang notabene anak buahnya saja tidak sanggup,” ujarnya tertawa.

Adhie memiliki alasan kuat mengapa ia memilih Rizal Ramli. Baginya, Rizal Ramli mempunyai komitmen yang kuat dalam menjalankan program yang dicanangkan dan garis perjuangannya pun hampir sama dengan Gus Dur yang menitikberatkan kepada kesejahteraan rakyat. Karena aktivitasnya bersama Rizal Ramli pulalah, pada tahun 2008, Adhie pernah diperiksa penyidik polisi di Badan Reserse Kriminal Mabes Polri sebagai saksi terkait tersangka Ferry Yuliantono, Sekjen Komite Bangkit Indonesia (KBI) yang diduga terlibat dalam aksi unjuk rasa anarkis menolak kenaikan harga BBM, Mei-Juni 2008 silam.

Adhie yang duduk sebagai deklarator organisasi tersebut mengungkapkan bahwa sebenarnya yang menjadi target adalah Rizal Ramli karena dia adalah tokoh oposisi yang paling dikenal. Adhie bersedia sebagai deklarator karena menurutnya pemikiran Gus Dur sama dengan pemikiran Rizal Ramzli. Selain itu, rasa penasaran dan ketidakpuasannya lebih kuat dibandingkan dengan ancaman-ancaman yang selama ini muncul sehingga Adhie sama sekali tidak gentar.

Saat ditanya apakah ada niat bergabung dengan partai yang ada, Adhie menjawab tidak ada niat ke arah sana. Baginya, masuk ke partai bukan perkara utama. Yang penting sekarang adalah bagaimana agar muncul pemimpin yang memiliki kompetensi, integritas, kejujuran dan elektabilitas. Sejauh ini, syarat-syarat tersebut ada pada Rizal Ramli dan Mahfud MD yang dianggap sebagai tokoh yang tepat dalam menuntaskan dua persoalan bangsa yakni ekonomi dan hukum. Adhie sangat percaya jika pemimpinnya benar atau lurus maka di bawahnya juga akan demikian. Sebaliknya, jika pemimpinnya menyimpang 15-20 derajat maka di bawahnya akan menyimpang 90-100 derajat.

Kendati perjuangannya belum menuai hasil, Adhie bersama para aktivis lainnya tetap optimis dapat turut serta mengiring proses kepemimpinan nasional sehingga Indonesia bisa memiliki pemimpin ideal yang diidam-idamkan selama ini. Sebab bagi Adhie, pemimpin yang baik akan melahirkan sistem yang baik dan bukan sebaliknya. bety, san, mlp | Bio TokohIndonesia.com

***

 

KUMPULAN PUISI ADHIE MASSARDI

 

Mosi Tidak Percaya

Oleh: Adhie Massardi (April 2012)

Aku merasa harus menulis sajak ini
Karena semakin banyak orang bunuh diri
Akibat depresi menghadapi tekanan ekonomi
Yang dikendalikan rezim tanpa nurani

Maka sebelum berangkat demonstrasi
Menentang rezim yang basi
Yang dikelola para buaya
Aku tulis sajak: ‘Mosi Tidak Percaya!’

Aku tidak percaya kamu pemimpin besar
Karena pemimpin besar tanggungjawabnya juga besar
Aku tahu kamu adalah pemimpin bongsor
Karena pemimpin bongsor hanya ingin jadi kesohor

Rakyat Indonesia butuh: leader
Sedangkan kamu lebih mirip dealer
Pagi transaksi, siang transaksi, malam transaksi
Sampai-sampai dari nafasmu bau terasi

Maka sebelum ayam berkokok
Dan muadzin mengumandangkan adzan
Memecah pagi yang getir
Aku nyatakan dengan lantang kepadamu

Mosi tidak percaya : “Aku sudah tidak percaya…!”

* Puisi karya Adhie M. Massardi berjudul Mosi Tidak Percaya, pertama kali dibacakan pada Kamis, 12 April 2012 dalam acara Sarasehan Anak Negeri yang disiarkan secara live oleh Metro TV (namun disensor).

***

Negeri Para Bedebah

Oleh:Adhie Massardi (November 2009)

Ada satu negeri yang dihuni para bedebah
Lautnya pernah dibelah tongkat Musa
Nuh meninggalkan daratannya karena direndam bah
Dari langit burung-burung kondor jatuhkan bebatuan menyala-nyala

Tahukah kamu ciri-ciri negeri para bedebah?
Itulah negeri yang para pemimpinnya hidup mewah
Tapi rakyatnya makan dari mengais sampah
Atau jadi kuli di negeri orang yang upahnya serapah dan bogem mentah

Di negeri para bedebah
Orang baik dan bersih dianggap salah
Dipenjarakan hanya karena sering ketemu wartawan
Menipu rakyat dengan pemilu menjadi lumrah
Karena hanya penguasa yang boleh marah
Sedang rakyatnya hanya bisa pasrah

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Jangan tergesa-gesa mengadu kepada Allah
Karena Tuhan tak akan mengubah suatu kaum
Kecuali kaum itu sendiri mengubahnya

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Usirlah mereka dengan revolusi
Bila tak mampu dengan revolusi,
Dengan demonstrasi
Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi
Tapi itulah selemah-lemahnya iman perjuangan

Data Singkat
Adhie M Massardi, Aktivis Komite Bangkit Indonesia dan Gerakan Indonesia Bersih 2.0 / Rindukan Pemimpin Ideal | Direktori | Wartawan, aktivis, puisi, juru bicara, Kritik

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here