Sastrawan Anti Feodalisme dan Kapitalisme

[ Ahmad Tohari ]
 
0
197
Ahmad Tohari
Ahmad Tohari | Tokoh.ID

[DIREKTORI] Ia pernah terancam hukuman penjara akibat salah satu novel triloginya yang berjudul Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jantera Bianglala dianggap Pemerintah Orde Baru kekiri-kirian. Dalam karya-karyanya, kawan dekat almarhum Gus Dur ini memang menunjukkan ketidaksetujuan pada feodalisme dan kapitalisme.

Sebelumnya, Ahmad Tohari tidak pernah berpikir bahwa hobi menulisnya kelak akan membawanya menjadi seorang penulis ternama. Ternyata, melalui tulisan-tulisannya, pria bertubuh kecil ini menjadi salah satu sastrawan Indonesia yang cukup banyak memperkaya perbendaharaan sastra nasional. Puluhan novel, ratusan cerpen, dan berbagai tulisan genre nonfiksi lahir dari tangannya. Kreativitas dan produktivitasnya dalam berkarya pantas dikagumi serta diapresiasi.

Sejak remaja, pria kelahiran Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah, 13 Juni 1948 ini memang hobi menulis catatan harian. Namun ia tidak pernah bercita-cita menjadi seorang penulis. Baginya menulis hanya sekadar hobi.

Awalnya, pria yang menamatkan pendidikan sekolah lanjutan atas dari SMAN II Purwokerto ini ingin menjadi seorang dokter atau menjadi ekonom. Pada tahun 1967-1970, ia tercatat sebagai mahasiswa pada Fakultas Ilmu Kedokteran Ibnu Khaldun, Jakarta, namun karena keterbatasan biaya, ia akhirnya berhenti. Kemudian pada tahun 1974-1975 ia juga tercatat sebagai mahasiswa pada Fakultas Ekonomi Universitas Sudirman, Purwokerto dan pada tahun 1975-1976 sebagai mahasiswa di Fakultas Sosial Politik Universitas Sudirman, namun karena keterbatasan biaya, lagi-lagi ia tak dapat menyelesaikan pendidikannya. Karena hambatan itulah, akhirnya ia mengasah bakat menulis.

Ia kemudian memulai karirnya di bidang jurnalistik dengan bekerja di majalah terbitan BNI 46, Keluarga, dan Amanah. Ia pernah menjadi redaktur Harian Merdeka dan Majalah Amanah. Di Majalah Amanah, Tohari bekerja selama sepuluh tahun lamanya.

Pada tahun 1975, hobi menulis Tohari berhasil mengantarnya menjadi pemenang sayembara Kincir Emas Radio Nederland Weredomroep untuk cerpennya yang berjudul Jasa-Jasa Buat Sanwirya. Keberhasilan itu kemudian melecut semangatnya berkiprah di dunia tulis menulis. Agar dapat lebih memfokuskan diri sebagai penulis, ia memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai redaktur.

Ia kemudian mulai menulis novel. Tulisannya yang berjudul Di Kaki Bukit Cibalak yang terbit tahun 1977 merupakan novel Tohari yang pertama. Sejak berhasil dalam novel pertama itu, ia semakin serius menjalani profesi barunya. Keseriusan itu kemudian melahirkan karya berikutnya yang diberi judul Kubah yang terbit tahun 1980. Kubah berhasil terpilih sebagai karya fiksi terbaik yang mengantarkan Tohari meraih penghargaan dari Yayasan Buku Utama.

Meski namanya telah tercatat sebagai salah satu sastrawan di republik ini, Tohari tetap bersahaja. Tohari yang juga merupakan salah seorang kawan dekat almarhum Presien RI keempat Aburrahman Wahid atau Gus Dur ini dikenal sebagai sosok yang rendah hati. Ia juga dikenal sebagai orang yang terbuka dan memiliki rasa kemanusiaan yang sangat tinggi. Nuraninya akan terusik jika melihat ketidakadilan. Sifatnya itu juga tersirat dalam tulisan-tulisannya yang banyak mengangkat penderitaan rakyat yang pernah disaksikannya dengan mata kepalanya sendiri.

Itulah sebabnya, dalam menulis, Ahmad Tohari tidak pernah melepaskan diri dari pengalaman hidup pribadinya. Misalnya, dalam novel yang mengangkat cerita tentang Peristiwa September 1965, ia menceritakan pengalamannya ketika berada di kampung halamannya. Saat itu ia menyaksikan pembunuhan keji yang dilakukan terhadap seorang anak muda karena diduga sebagai anggota PKI.

Peristiwa Mei 1998 yang ditujukan untuk mengintimidasi etnis Tionghoa juga menyisakan keprihatinan di sanubari suami Samsiah itu. Karena di kampung halamannya, etnis Tionghoa menurutnya menjadi roda penggerak ekonomi. Bahkan ketika ia meminta sumbangan untuk acara bersama di kampungnya, ia mengaku banyak meminta kepada pengusaha Tionghoa.

Tohari yang juga merupakan salah seorang kawan dekat almarhum Presien RI keempat Aburrahman Wahid atau Gus Dur ini dikenal sebagai sosok yang rendah hati. Ia juga dikenal sebagai orang yang terbuka dan memiliki rasa kemanusiaan yang sangat tinggi. Nuraninya akan terusik jika melihat ketidakadilan. Sifatnya itu juga tersirat dalam tulisan-tulisannya yang banyak mengangkat penderitaan rakyat yang pernah disaksikannya dengan mata kepalanya sendiri.

Rasa kemanusiaan yang tinggi pula yang membuat Tohari muak melihat ketidakadilan di negeri ini. “Saya sangat marah ketika pembangunan hanya menguntungkan segelintir orang saja,” katanya. Sebagian kemarahannya tercermin dalam novel Blantik.

Dalam topik lain, ia juga mempertanyakan tentang keadiluhungan budaya Jawa.
“Adiluhung yang mana? Bisakah itu disebut adiluhung kalau dibangun berdasarkan nilai-nilai feodalisme yang justru mematikan hak rakyat kecil dalam memperjuangkan eksistensi hidupnya!” ungkapnya suatu ketika dengan nada getir. Tohari memang sangat alergi terhadap simbol-simbol feodalisme dan kapitalisme yang konon sudah demikian kuat membelit sendi-sendi kehidupan bangsa. Dalam masyarakat Jawa, katanya, dikenal strata berlapis tujuh yang menunjukkan status sosial seseorang. Hal itu terlihat dari undha-usuking bahasa, mulai dari sapaan “Sampeyan Dalem” sampai “Kowe”.

Menurutnya, untuk menduduki strata “kowe”, orang Jawa harus melewati tujuh lapis. “Kapan rakyat kecil bisa memiliki kedudukan yang egaliter?” tanyanya.

Kemarahannya selalu timbul ketika menyaksikan wong cilik diperlakukan secara tidak adil. Dia tak hanya sekadar beretorika, tetapi benar-benar menyatu dan meleburkan hidupnya di tengah-tengah kehidupan wong cilik. Tak heran kalau dia tetap merasa betah dan nyaman hidup di desa Tinggarjaya, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas, yang jauh dari hingar-bingar dan dinamika masyarakat urban. Di kampung halamannya itu, pria yang telah menunaikan ibadah haji ini mendirikan sebuah pesantren.

Di saat masyarakat pedesaan berbondong-bondong meninggalkan desanya menuju ibukota, ia tetap menjadi sosok yang mencintai desanya. Seperti ketika perhelatan pernikahan putri bungsunya, dokter Din Alfina, Tohari sengaja mengambil tema “Kembali ke Kampung” yang menggambarkan “pemberontakan kultural” terhadap menguatnya akar feodalisme dan kapitalisme itu.

“Suasana ini menjadi akar budaya saya, termasuk orang-orang yang kini sudah keluar dari kemiskinan. Sambil mantenan, sah-sah saja dong saya mengajak mereka untuk mengingat orang yang masih kelaparan, di tengah kebahagiaan kita,” kata Tohari yang kerap disapa kiai itu.

Dalam kegiatannya di dunia sastra, penulis yang pada tahun 1996 pernah mengikuti International Writing Program di Iowa City, Amerika Serikat ini tidak selalu mulus. Ia pernah terancam hukuman penjara akibat salah satu novel triloginya yang berjudul Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jantera Bianglala. Novel yang diterbitkan pada tahun 1982 itu mengisahkan pergulatan penari tayub di desa terpencil, Dukuh Paruk, di masa pergolakan komunis.

Karyanya ini dianggap kekiri-kirian oleh Pemerintah Orde Baru. Karena itu, Tohari diinterogasi selama berminggu-minggu di Kodim Banyumas hingga menjalani wajib lapor. Lebih celaka lagi, yang menginterogasi soal novel itu menurutnya tidak tahu dunia sastra. Ketika itu, Tohari yang mengaku kaum nahdliyin (Nahdlatul Ulama) ini juga sempat dipaksa mengaku sebagai anggota PKI dan berhaluan komunis. Pemaksaan aparat agar mengaku anggota PKI terus ditampiknya. Hingga akhirnya ia menghubungi Gus Dur. Tentara yang menginterogasinya itu baru mempercayainya dan justru berbalik sikap menjadi hormat pada Tohari. “Saya ucapkan terima kasih pada Gus Dur yang telah membebaskan saya dari jerat hukum dan intimidasi tentara,” ucap Tohari.

Ia sendiri tidak habis pikir mengapa novel yang ditulisnya dihubung-hubungkan dengan pergolakan PKI di Banyumas. Padahal dalam novel itu, Tohari mengaku justru menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya terjadi di Banyumas.

Pengalaman pahit itu hingga lama masih terus membekas dalam ingatannya. Ia masih trauma berhadapan dengan aparat. Sehingga, apabila ada keperluan mengurus sesuatu hal berhubungan dengan aparat keamanan, seperti mengurus perizinan ke kepolisian misalnya, Tohari akhirnya sering minta tolong pada putrinya.

Bahkan, novel yang kental dengan nuansa politik itu sempat terancam batal terbit karena dianggap kontroversial. Salah satu bagian bukunya yang menceritakan pembunuhan terhadap orang-orang PKI membuat bukunya disensor selama 25 tahun. Di tahun 1999, bagian yang hilang itu pun diterbitkan lagi dalam bahasa Inggris, berjudul The Silence of Voices oleh Honolulu University Press, Amerika Serikat. Trilogi ini juga diterjemahkan dalam bahasa Jerman, Belanda, Jepang dan Rusia.

Dalam proses penulisan novel trilogi itu, Tohari mengaku kerap merasa jenuh dan lelah. Bahkan ia sempat mengalami kemandegan ide. Setelah lima tahun tak membuahkan karya, Tohari kembali bangkit. Lingkar Tanah Air, menandai awal kebangkitannya sebagai seorang penulis. Sejak saat itu ia mengerti hal pokok yang dibutuhkan seorang penulis.

Tatkala menulis, seorang penulis harus memiliki sesuatu yang tak dapat diterima dalam diri penulis itu sendiri. Sebab, bila tak terjadi konflik batin dalam diri penulis, maka tak akan ada yang bisa dilahirkan dalam tulisan.

Berkat karya tulis yang dihasilkannya, pria yang pernah mendapat undangan mengajar di UCLA ini dianugerahi penghargaan dari Southeast Asian Writers Award tahun 1995.

Selain menulis, hari-harinya dilalui dengan beternak unggas. Menurutnya, menjadi petani dan peternak dapat menenteramkan hati sembari menikmati royalti dari trilogi novel fenomenal sekaligus kontroversial, Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jentera Bianglala.

Baginya menjadi penulis merupakan profesi yang sangat menyenangkan. Sebab penulis dapat membagi waktu kapan pun si penulis itu mau bekerja. “Mau tidur malam dan bangunnya siang, terserah kita. Asal produktif menulis. Waktu tidak bisa dijadikan patokan,” katanya. “Tapi kalau ide kreatif tidak pernah datang, itu tandanya mati angin. Paling kelayapan ke sana-sini cari inspirasi bahan tulisan,” kata Ahmad Tohari.

Dalam hal pergaulannya dengan banyak tokoh, ia tidak mau memanfaatkan perkenalan itu untuk kepentingan pribadi. “Kalau tidak benar-benar kepepet, saya tidak akan memanfaatkan kolega saya,” ujarnya. eti | muli, red

Data Singkat
Ahmad Tohari, Penulis dan Pengelola Pondok Pesantren / Sastrawan Anti Feodalisme dan Kapitalisme | Direktori | Pesantren, penulis, novel, Universitas Sudirman

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here