Srikandi Kabupaten Kebumen

[ Rustriningsih ]
 
0
341
Rustriningsih
Rustriningsih | Tokoh.ID

[DIREKTORI] Ia srikandi, bupati perempuan pertama Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Kiprah alumni S2 Magister Administrasi Negara Universitas Gadjah Mada (UGM), ini dalam dunia politik sebagai Ketua DPC PDIP Kebumen telah menghantarnya menjabat bupati (2000-2005) di daerah yang dikenal sebagai penghasil sarang burung walet alami itu. Pelayanannya kepada warga Kebumen melalui radio dan SMS (short message service) turut membantu membawa masyarakat Kebumen ke gerbang kesejahteraan yang lebih baik.

Sewaktu masih kecil, Dra Rustriningsih, MSI yang lahir 3 Juli 1967 sudah akrab dengan ‘atmosfir’ politik di rumahnya. Ayahnya seorang aktivis partai PNI, sering membuat rapat di rumah mereka di Gombong membicarakan soal pembebasan tanah dan pejabat korupsi. Dalam berbagai kesempatan, Rustri kecil sering ikut nimbrung mendengarkan dan tanya-tanya sama ayahnya.

Kini, sebagai Bupati, realita sosial di tengah masyarakat seperti kesenjangan ekonomi, kemiskinan dan pengangguran yang dilihatnya di kala beranjak dewasa dan sekarang justru semakin menjadi-jadi membuat nuraninya berteriak sehingga memaksanya bertindak lebih nyata agar lebih dekat dengan warganya. Ia lalu membuka pelayanan publik melalui program radio dan SMS (short message service). Di kala mentari baru saja terbit di ufuk timur, ia menyapa warga Kebumen dengan lembut melalui radio In FM 90+. Lewat program radio ini, berbagai keluhan dan persoalan warga Kebumen yang disampaikan lewat telepon, ia dengarkan dengan serius dan sabar, lalu ia bantu dengan memberikan masukan dan jalan keluar.

Perempuan lajang berusia 35 tahun yang semasa kuliah suka membaca dan mengkliping halaman opini di koran ini, juga mempersilakan warganya untuk mengadukan berbagai permasalahan mereka lewat SMS (short message service) yang akan dibacanya secara pribadi. Tentu saja, tak ketinggalan pula, SMS ‘rindu’ dari kekasihnya, Don Murdono (44), Bupati Sumedang, yang baru dilantik beberapa bulan lalu.

Dalam kancah politik pemilihan bupati hari Rabu 15/3/02 lalu, ia memenangi pemilihan bupati dalam Sidang Paripurna Khusus DPRD Kebumen. Ia yang berpasangan dengan Kiai Nashirudin Almansyur, meraih 22 suara, mengalahkan pasangan pesaingnya Rahardjo Mocharor – H Farid Subagyo yang meraih 20 suara. Sebanyak 43 anggota DPRD hadir dalam acara itu. Ia dilantik 23 Maret 2000.

Lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto (1991) itu saat pemilihan menjabat Ketua DPC PDI Kebumen dan anggota Fraksi PDIP MPR. Namun, kemenangan anak kedelapan dari 10 bersaudara untuk memimpin kabupaten berpenduduk 1,2 juta jiwa yang tersebar di 460 desa itu tidak mulus. Sebab, ada saja pihak yang mendesak agar dia mengundurkan diri dari pencalonan, dengan alasan yang bersangkutan seorang perempuan. “Aneh pada era reformasi dan keterbukaan masih ada orang berpikiran sempit seperti itu,” ujar Rustriningsih ketika itu.

Kabupaten Kebumen yang berada di jalur selatan Jawa Tengah berbatasan dengan Kabupaten Banyumas di bagian barat dan Kabupaten Purworejo di bagian timur, dikenal sebagai penghasil sarang burung walet alami yang terdapat di gua-gua yang ada di Pantai Karang Bolong. Dalam tiga tahun kepemimpinan perempuan lajang yang alumni S2 Magister Administrasi Negara Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta ini ternyata berhasil membawa masyarakat Kebumen ke gerbang kesejahteraan yang lebih baik.

Mbak Rustri (panggilan akrab Rustriningsih) memang layak disebut sebagai Srikandi-nya Kebumen. Selain cerdas, cantik, juga pintar memimpin dengan naluri kewanitaannya yang halus, kata Gubernur Jateng H Mardiyanto mengomentari keberhasilan Rustriningsih sebagai Bupati Kebumen, saat berkunjung ke Kebumen baru-baru ini.

Menurut Gubernur, sejak Rustriningsih menjabat bupati, pembangunan di daerah ini cukup pesat. Hasil pembangunan yang terbaru adalah Jembatan Karangbolong yang melintas di atas Sungai Suwuk yang menjadi penghubung Kecamatan Puring dengan Kecamatan Ayah.

Jalur selatan-selatan di Kabupaten Cilacap dari Patimuan-Sidareja-Jeruklegi sepanjang 58,95 kilometer dengan lebar 4 sampai 5 meter, serta jalur Adipala Cilacap – sampai Bodo Kebumen sepanjang 28,3 kilometer dengan lebar 5 meter, kini sudah mulus dengan konstruksi aspal hotmix.

Sedang di jalur Kalibodo, Kabupaten Kebumen, sampai Wawar, Kabupaten Purworejo, sepanjang 60 kilometer dengan lebar 4-5 meter, konstruksinya masih penetrasi. Demikian pula jalur Kabupaten Purworejo mulai dari Wawar Purworejo sampai Congot Kulonprogo sepanjang 23,23,45 kilometer dengan lebar 4,5 km konstruksinya juga masih penetrasi.

Banyak Cobaan
Dalam memimpin Kebumen, sebagai orang nomor satu di daerahnya, ia yang kebetulan wanita, sering mendapat cobaan berat dalam melaksanakan tugas. Menurutnya, di Kabupaten Kebumen yang baru saja merayakan HUT-nya ke-67 pada 1 Januari 2003 itu (Hari jadi Kebumen itu ditetapkan berdasarkan peristiwa bersejarah yaitu penggabungan Kabupaten Karanganyar (sekarang Kecamatan Karanganyar) dan Kabupaten Kebumen oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda De Joung pada 1 Januari 1936), masih banyak yang harus dibenahi. Selain itu, bencana alam selalu datang silih berganti. Pada awal musim hujan saja sudah terjadi banjir, tanah longsor, dan angin ribut.

“Pada malam HUT Kebumen yang ke-67 lalu, saya merenung apa yang telah saya perbuat tahun lalu, apa manfaatnya bagi masyarakat Kebumen? Apa pula yang harus saya perbuat di tahun mendatang?” katanya. Walaupun seorang wanita, ia merasa setara dengan pria dalam memimpin suatu daerah.

Menurut Rustri, cobaan selalu datang silih berganti. Ia sering meneteskan air mata bila melihat warganya menjadi korban bencana alam. Misalnya melihat warga yang kehilangan rumah tinggal karena bencana tanah longsor atau banjir. Bukan hanya itu, harta benda miliknya juga banyak yang hilang sehingga para korban banjir sangat menderita.

“Kalau melihat nasib rakyat seperti ini, saya begitu bersemangat mencari dana untuk rehabilitasi serta mencari lahan untuk merelokasi warga yang kehilangan tempat tinggal,” tambahnya. Setiap kali terjadi bencana alam, Rustri mengaku tidak hanya semakin prihatin, tapi juga semakin mawas diri, merenungkan apa yang telah terjadi serta berintrospeksi.

Mendongkrak PAD
Sebagai bupati, keberhasilan Rustri yang cukup spektakuler adalah mendongkrak Penghasilan Asli Daerah (PAD). Pada awal menjabat, PAD Kabupaten Kebumen tercatat hanya Rp 6 miliar. Kini setelah tiga tahun, PAD-nya naik menjadi Rp 23 miliar. Saya belum berhasil menaikkan PAD dalam arti yang sesungguhnya. Saya akan merasa berhasil bila semua rakyat merasa sejahtera hidupnya, ujarnya merendah.

Rustri juga masih sangat berharap pada partisipasi masyarakat dalam pembangunan di daerahnya, terutama dalam pemantapan Otonomi Daerah. Menurutnya, awal pelaksanaan Otonomi Daerah di Pemkab Kebumen adalah menyelenggarakan pelayanan dasar di bidang pendidikan, kesehatan permukiman, dan prasarana wilayah (kimpraswil).

Saat ini bidang pendidikan di Kabupaten Kebumen masih penuh dengan keprihatinan. Ratusan gedung SD rusak berat dan sudah mendesak harus segera diperbaiki. Belasan gedung SD yang ambruk harus dibangun kembali.

Bila Pemkab melakukan sendiri dalam pekerjaan perbaikan, apalagi bila dengan cara reguler ditenderkan, maka satu sekolah saja anggarannya bisa mencapai Rp 30 juta. Namun dengan mengajak masyarakat ikut berpartisipasi, maka dana yang disediakan Pemkab cukup Rp 5 juta sampai Rp 6,5 juta untuk perbaikan gedung.

Menurut Bupati Kebumen, tingkat swadaya masyarakat dalam perbaikan gedung SD pada tahun 2002 lalu cukup tinggi mencapai 80 persen. Sedang dana stimulan sebesar Rp 13,3 miliar untuk membangun 695 lokal, nilainya hanya 20 persen. Model yang dilakukan Rustriningsih ini dijadikan model nasional, dan dikampanyekan setiap hari sebagai iklan layanan masyarakat melalui layar kaca televisi. Dalam iklan tersebut ditonjolkan pemerintah mengajak peran serta masyarakat dalam memperbaiki gedung sekolah yang rusak.

Dana Bencana Alam
Kebumen yang memiliki daerah bencana banjir rutin serta tanah longsor harus menyediakan dana khusus untuk penanggulangan bencana alam. Di bidang kimpraswil, dana tersebut dirasakan sangat berat. Apalagi bila harus menanggung biaya relokasi korban tanah longsor.

Tahun lalu dana untuk perbaikan prasarana umum seperti jalan, irigasi, saluran air dan kantor pemerintah kecamatan mencapai Rp 6 miliar. Sedang di bidang kesehatan, Pemkab berusaha terus meningkatkan pelayanan kesehatan di puskesmas-puskesmas. Bahkan di puskesmas-puskesmas telah dipasang jaringan data komputer yang bisa online dari tiap puskesmas, dan mampu mendeteksi secara dini jika terjadi wabah penyakit di suatu wilayah . Selain itu data kesehatan masyarakat di setiap kecamatan bisa langsung terpantau.

Menurut Rustriningsih, Tahun 2003 ini merupakan tahun pemantapan Otonomi Daerah . Terutama dalam upaya meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, peningkatan pembangunan daerah, dan peningkatan sistem administrasi. Pada tahun 2002 lalu, pelayanan bidang pendidikan berhasil menggalang masyarakat dalam berpartisipasi perbaikan gedung SD yang rusak.

Dukungan dan peran serta semua pihak yang dilandasi kearifan dan etika moral yang terpuji, berhasil mendorong masyarakat Kebumen ke gerang kesejahteraan yang lebih baik katanya.

Pemberantasan KKN
Menurut Bupati Rustriningsih, pihaknya sudah sepakat dengan para pejabat Pemkab dan masyarakat untuk bersama-sama membenahi sistem pemerintahan yang bebas KKN.

Dalam kaitan itu, pihaknya sering mendapat pertanyaan dari masyarakat, berapa maling atau pelaku KKN yang telah ditangkap Ibu Bupati? Menjawab pertanyaan itu, ia selalu mengatakan upaya pemberantasan KKN masih terus dilakukan. Khususnya dengan pendekatan internal di jajaran eksekutif. Ini bukan berarti tidak percaya kepada lembaga hukum, tapi kita percaya pada diri sendiri.

Namun terkadang muncul perbedaan persepsi. Pihak eksekutif menganggap benar, ternyata pihak legislatif atau pihak lain menganggap salah, katanya. Untuk itu, ia mengajak komponen masyarakat agar tidak menyentuh kepada personel, tapi lebih mengarahkan ke sistem. Kita harus lebih percaya diri dengan pendekatan sistem, tanpa harus menempatkan persoalan itu keluar dari sistem.

Dalam kapasitas sebagai bupati, Rustriningsih akan terus mengembangkan penerapan tindakan indispliner. Rustri juga berjanji akan menekankan pada sistem yang ada bukan personel. Jika hal ini dilakukan, hasilnya akan makin mantap dalam jangka panjang.

Program Bank Dunia
Kebumen yang memiliki luas wilayah 128.111,5 hektare dengan 1,2 juta jiwa penduduk yang tersebar di 460 desa dalam 22 kecamatan, saat ini memang cukup diperhitungkan. Saat ini ada empat agenda yang disepakati fasilitator Bank Dunia dan sejumlah LSM. Lewat program Prakarsa Pembaruan dan Tata Pemerintahan Daerah (P2TPD) yang dimulai awal Januari sampai Oktober 2003.

Terpilihnya Kebumen sebagai salah satu daerah penerima program P2TPD karena dinilai ada semangat birokrasi dalam melaksanakan reformasi, kata fasilitator P2TPD yang ditunjuk Bank Dunia, Agus Sarwo Edi kepada Pembaruan.

Bupati Rustriningsih (35) dan Ketua DPRD H Budi Utomo (28), keduanya sama-sama figur muda dari elite birokrasi di eksekutif dan legislatif. Kedua tokoh muda ini dinilai memiliki potensi untuk menjalankan agenda reformasi.

Aspek lain dalam program yang disponsori Bank Dunia adalah masih tingginya angka kemiskininan di Kebumen, namun semangat LSM dan pihak lain di luar pemerintahan dalam menanggulangi kemiskinan serta pengawasan pembangunan di daerah ini cukup tinggi.

Menurut Agus Sarwo Edi, empat agenda yang akan digarap adalah strategi pengentasan kemiskininan, pengadaan barang dan jasa, pengawasan pembangunan partisipasitif, serta pembagian kewenangan daerah dan desa.

Semula SOT (struktur organisasi tata kerja) ikut pula diagendakan. Namun mengingat SOT merupakan masalah besar, maka harus mendapat perhatian secara khusus. Agus Sarwo Edi menjelaskan, selama persiapan program pihaknya mendapat dana hibah dari Pemerintah Jepang dan Inggris.

Sedang program P2TPD yang sudah disepakati itu didanai APBD. Selanjutnya akan direkomendasikan apakah Kebumen layak mendapat pinjaman Bank Dunia atau tidak. Keputusan diterima atau tidak pinjaman dari Bank Dunia itu, tergantung kesepakatan bersama pihak eksekutif, legislatif, dan LSM. Sedang pihak fasilisator tidak berhak memutuskan Kebumen layak atau tidak mendapat pinjaman dari Bank Dunia tersebut.

Sementara itu, Kabid Fisik Prasarana Bappeda Kebumen Ir Djoenedi F MSi menyatakan, Bappeda sangat mendukung program P2TPD. Termasuk pengawasan pembangunan secara partisipatif. Mengingat berdasarkan pengamatan Bappeda, selama ini ada kecenderungan kebocoran anggaran terutama dari sektor fisik. Masih banyak rekanan yang menggarap proyek belum sesuai kualitas yang diharapkan

Pernikahan
TUNTASLAH sudah penantian Rustriningsih, Bupati Kebumen, setelah cukup lama menanti tambatan hati yang dipasangkan oleh-Nya. Minggu 13 Juni 2004, ijab qabul janji setia mengarungi bahtera kehidupan rumah tangga antara Dra. Rustriningsih, M.Si. binti Sukamto (36) dengan H. Soni Achmad Saleh Ashari bin Noorjatno (41) –laki-laki asal Makassar-Sulawesi Selatan diperdengarkan di Masjid Agung Kauman Jln. Pahlawan Kota, Kebumen Jawa Tengah.

Iringan rebana bertalu-talu mengiringi kedatangan Rustriningsih memasuki masjid terbesar di daerah itu.

Akad nikah yang disaksikan oleh sekitar tamu undangan 350 orang dipimpin oleh Penghulu Nadjib Chamidi (Kepala Urusan Agama Kecamatan Kebumen, Kebumen Jawa Tengah). Rencananya, Presiden Megawati Soekarnoputri dan Taufik Kiemas akan hadir sebagi saksi dari pengantin putri pada saat akad nikah, namun ternyata batal hadir.

Sebagai saksi panggantinya Gubernur Jawa Tengah H Mardiyanto, di tengah undangan hadir pula Menteri Agama Said Agil Al Munawar. Gubernur Jawa Tengah Mardiyanto bertindak selaku saksi mempelai perempuan, Pengajar Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Sukandar Rumidi sebagai saksi mempelai laki-laki. Rusmanto (Kakak Rustriningsih,red) bertindak sebagai wali nikah.

Sementara itu, mantan pacar Rustriningisih, Don Murdono, Bupati Sumedang yang ditunggu kehadirannya oleh puluhan wartawan sampai acara resepsi selesai, juga tidak terlihat.

Pada acara akad nikah, kedua pasangan memakai baju adat Jawa dengan sentuhan Islami berwarna putih, hasil rancangan desainer busana pengantin Ir. Nunik Mawasdi dari Bandung.

Hampir semua bupati dan pejabat daerah di Jawa Tengah hadir dalam acara resepsi. Seusai akan nikah, Rustriningsih kemudian keluar masjid menumpang mobil sedan menuju ke Rumah Dinas Bupati Kebumen di sekitar alun-alun setempat.

Beberapa saat kemudian Soni meninggalkan masjid menuju rumah pribadi Rustriningsih Jln. Veteran Kota Kebumen (tempat menginap keluarga mempelai laki-laki).

Sebelum memasuki mobilnya, Rustriningsih terlihat melambaikan tangan sambil tersenyum ceria kepada masyarakat yang menunggu di luar masjid tersebut. Sekira pukul 11.00 WIB, berlangsung resepsi pernikahan di Pendopo Rumah Dinas Bupati Kebumen Jln. Sutoyo Nomor 1 Kota Kebumen. Di Alun-alun Kebumen, sejumlah orang sedang menyiapkan panggung pentas wayang kulit, ratusan pedagang juga telah menggelar dagangan di kawasan pusat Kota Kebumen itu.

* *

ADAPUN sebagai tanda kenang-kenangan dan ucapan terimakasih untuk para tamu undangan, diwujudkan dalam bentuk sertifikat derma yang bernilai Rp 9.000 juta/lembar. Seluruh cindera mata dalam bentuk sertifikat derma disampaikan kepada tamu pasangan keluarga baru Rustriningsih dan Soni berbentuk dana sumbangan untuk pengembangan wajib belajar 9 tahun. Jumlah seluruh derma itu diperkirakan mencapai Rp 63 juta.

Derma para tamu pada acara pernikahan nantinya akan diwujudkan dalam bentuk perlengkapan sekolah siswa setingkat SD dan SLTP dari keluarga tidak mampu. Perlengkapan sekolah itu nantinya diwujudkan dalam bentuk baju seragam, buku, dan biaya sekolah. (Eviyanti/”PR”)***

Di Tanah Suci
Jalan hidup manusia memang tidak pernah ada yang tahu. Begitulah kalimat lembut yang mengalir dari bibir Bupati Kebumen Rustriningsih yang Minggu (13/6) besok menikah dengan pengusaha asal Makassar Soni Achmad Saleh (41). Semua serba misteri!

Rustriningsih seakan-akan ingin mengatakan bahwa kisah asmaranya bersama Bupati Sumedang, Don Murdono tidak bisa dilanjutkan ke jenjang perkawinan setelah pulang dari naik haji pada Januari 2004. Hati Rustriningsih tertambat pada Soni yang dikenalnya di Tanah Suci saat naik haji Januari 2004.

“Ketika berangkat naik haji, Mas Don masih berangkat, ” kisah Rustri -panggilan akrab Rustriningsih- saat berbincang khusus dengan wartawan beberapa saat lalu. Tetapi hanya dalam hitungan minggu saja, sepulang dari Tanah Suci, dengan sepnuh hati Rustri telah menancapkan panah asmaranya pada orang yang sebelumnya tidak pernah dikenalnya.

Pertemuannya dengan Soni sebetulnya sangat sepele. Rustri yang ditemani kakak iparnya terkesima dengan rombongan dari Jakarta yang berjalan di Padang Arafah. Rustri yang lahir pada 3 Juli 1967 itu sempat bertatapan mata dengan seseorang yang berjalan berbarengan.

“Memang saat itu saya juga heran, di Padang Arafah kok jalan tidak pakai alas kaki. Ternyata orang itu baru saja kehilangan sandalnya. Disitulah awal perkenalan saya dengan Mas Soni. Saya ingat betul, hari itu adalah tanggal 9 Zulhijjah Januari lalu,” tuturnya. Perkenalan itu serasa ada getaran lain di hatinya, namun perasaan itu dipendamnya dalam-dalam. Apalagi berpikir sampai jauh seperti sekarang.

Namun, perasaan paling di dalam hatinya dia komunikasikan kepada Sang Khalik. Selama menunaikan ibadah haji itu dia sering berada di Al Mutazam, untuk zikir, berdoa dan salat sunah.

Ada tiga hal yang menjadi pokok doanya, yakni meminta kepada Allah supaya diberi kemampuan menjalankan tugasnya, sukses memimpin partai sehingga memenangkan Pemilu serta enteng jodoh. Hampir setiap hari dengan kyusuk, ketiga pokok doanya tidak pernah luput diucapkannya. Tak disangka, pada hari kedelapan usai salat Subuh di Al Mutazam, dia kembali bertemu Soni, seseorang yang tidak sengaja pernah bertemu dengannya di Padang Arafah.

Hatinya berdegup kencang, karena tanpa sengaja dia kembali bertemu dengan seseorang yang sempat membuat hatinya tergetar. “Apakah ini merupakan kenyataan yang telah menjadi rencana Tuhan ? Apakah benar Tuhan telah menjawab doa saya,” katanya dalam hati.

Meski terus bertanya-tanya dalam hati, namun sejak itulah dirinya seperti dituntun alam bawah sadar menjalin komunikasi. Kakak iparnya yang menyertainya turut andil dalam “memprovokasi” kedekatan dia dengan Soni.

Rajutan benang-benang cinta semakin erat tatkala ibadah haji yang ditunaikan selesai. Begitulah, kedua insan itu berusaha untuk lebih mendekatkan tali silaturahminya, bahkan serius untuk ke jenjang pernikahan.

Pesta Rakyat
Pernikahan Bupati Kebumen ini benar-benar akan menjadi sebuah “pesta rakyat” setempat. Semua lapisan masyarakat dibebaskan untuk datang ke alun-alun menikmati berbagai macam suguhan termasuk kesenian wayang serta lainnya. “Saya katakan, saya tidak membeda-bedakan tamu saya. Nanti juga kita undang seluruh anak-anak yatim piatu serta panti asuhan di seluruh Kebumen,”katanya.

Lalu apakah “teman-teman dekat” lama seperti Bupati Sumedang juga diundang? “Tentu saja, semuanya yang kita kenal, diundang.”

Dengan jabatan yang dipegangnya sekarang, tidak gampang menyisihkan waktu berbulan madu, apalagi tengah menghadapi Pemilu. “Saya sudah bilang sama Mas Soni bahwa usai menikah kita belum dapat berbulan madu. Nanti justru Mas Soni saya minta untuk sementara berada di Kebumen. Saya akan ajak dia berkeliling sampai ke desa-desa, biar tahu pekerjaan bupati. Ini lho pekerjaan bupati itu,”ujarnya.

Soal anak sudah ada rencana? “Kalau itu sih kita serahkan sama Yang di Atas. Tapi saya juga sadar kalau kita harus mengingat umur.” (SH/lilik darmawan)

02 | Kini, Srikandi Jawa Tengah

Kini, dia srikandi Jawa Tengah. Terpilih menjadi wakil gubernur perempuan pertama Provinsi Jawa Tengah 2008-2013. Sebelumnya, dia bupati perempuan pertama Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, dua periode. Dia sudah menjadi bupati semasih gadis. Alumni S2 Magister Administrasi Negara Universitas Gadjah Mada (UGM), ini seorang kader PDI-P yang berpotensi menjadi Srikandi Indonesia.

Rustri memenangi Pilkada Gubernur-Wakil Gubernur Jawa Tengah, Minggu 22 Juni 2008, sebagai Wagub berpasangan dengan Bibit Waluyo sebagai Gubernur. Mereka meraih suara di atas 40 persen (hasil penghitungan cepat). Rustri menjadi vote getter pasangan ini.

Sebelumnya, namanya sudah begitu harum di Jawa Tengah, bahkan di seluruh Indonesia, sebagai srikandi Kabupaten Kebumen dan kader PDI-P potensial. Nama baik dan harumnya, telah menjadikannya sebagai vote getter (pengumpul suara) bagi pasangan Bibit-Rustri. Apalagi, dalam Pilgub Jateng, Rustri merupakan perempuan satu-satunya sehingga bisa mencuri perhatian masyarakat Jateng.

Bibit sendiri mengakui bahwa Rustri, cawagub pendampingnya, seorang pemimpin yang teruji dan memiliki kemampuan terukur. “Dua periode menjadi bupati membuktikan Ibu Rustriningsih adalah pemimpin perempuan yang memiliki potensi luar biasa,” ujar Bibit Waluyo.

Sebagai Bupati Kebumen, Rustri terbilang berhasil. Ia mengembangkan hubungan dialogis dengan masyarakatnya. Di bidang politik, da juga seorang politisi handal. Putri bangsa kelahiran Kebumen, 3 Juli 1967, ini sejak kecil sudah akrab dengan dunia politik. Dia sudah sering mendengar rapat politik di rumahnya. Ayahnya seorang aktivis PNI, sering membuat rapat di rumah mereka di Gombong, Kebumen.

Minat dan talenta di bidang politik itu terus terasah hingga semasa dia kuliah di UGM. Rustri rajin membaca dan mengkliping opini dan berita politik di koran. Darah politik yang mengalir dari ayahnya, disempurnakan dengan pendidikan formal hingga meraih S-1 dan S-2 Administrasi Negara dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dan diaplikasikan dengan memimpin DPC PDI-P Kebumen.

Dia pun terpilih menjadi anggota DPR hasil Pemilu 1999. Namun tahun 2000, kursi wakil rakyat di Senayan itu ditinggalkan dan terpilih menjadi Bupati Kebumen 2000-2005 dan terpilih kembali untuk periode kedua 2005-2010. Tapi sebelum periode keduanya berakhir, dia dicalonkan PDI-P menjadi Wakil Gubernur Jawa Tengah periode 2008-2013.

Rustri, Anak kedelapan dari sepuluh bersaudara itu, menjadi srikandi Kabupaten Kebumen yang berpenduduk 1,2 juta jiwa yang tersebar di 460 desa. Di bawah kepemimpinnya, masyarakat Kebumen meraih kesejahteraan yang lebih baik. Dia pemimpin yang cerdas, cantik, dan bijak memimpin dengan naluri kewanitaannya yang halus.

Dia berhasil membangun beberapa proyek infrastruktur vital. Di antaranya: Jalur selatan-selatan di Kabupaten Cilacap dari Patimuan-Sidareja-Jeruklegi sepanjang 58,95 kilometer dengan lebar 4-5 meter; Jembatan Karangbolong yang melintas di atas Sungai Suwuk yang menjadi penghubung Kecamatan Puring dengan Kecamatan Ayah; Jalur Adipala Cilacap-Bodo Kebumen sepanjang 28,3 kilometer dengan lebar 5 meter berkonstruksi aspal hotmix.

Rustri juga berhasil membangun komunikasi yang efektif dua arah antara pemerintah dan masyarakat. Dia mengajak warganya berpartisipasi aktif melalui dialog interaktif seperti Selamat Pagi Bupati (SPB).

Rustri, srikandi yang cantik dan cerdas, boleh disebut sebagai salah seorang ikon perempuan dan generasi muda yang potensial menjadi pemimpin nasional. Semasih lajang dalam usia muda, duapuluhan tahun sudah berkiprah di partai politik dan pada usia 33 tahun terpilih menjadi bupati. Seorang gadis cantik menang dalam pemilihan bupati.

Empat tahun masih berstatus gadis memimpin Kebumen, kemudian Rustri menikah pada Juni 2004, dengan H Soni Achmad Saleh Ashari bin Noorjatno asal Makassar, Sulawesi Selatan. Mereka sampai Juni 2008 dikaruniai tiga anak, Indra Fahmi Mahendra, 4; Muhammad Alif Ganeswara, 3; dan Shabira Helmalianingsih, 5 bulan.

Kecerdasan dan pengalamannya memimpin sebagai bupati, membuat masyarakat Jateng yakin memilihnya untuk membawa Jateng ke tingkat kesejahteraan yang lebih baik. Rutri sendiri juga tampak sangat siap memulai pengabdian barunya, sebagai Wakil Gubernur.

Rustri telah merancang program kerja 100 hari pertama. Diawali dengan konsolidasi jajaran birokrasi pemerintah provinsi terkait pelaksanaan kegiatan yang dilaksanakan pada APBD murni atau perubahan.

“Di situ tentu akan muncul kegiatan-kegiatan yang seharusnya akan dilaksanakan. Intinya mengawal kegiatan-kegiatan pada APBD murni maupun perubahan,” katanya kepada Suara Merdeka, Senin (23/6/2008).

Dalam 100 hari kerja, menurut Rustri, ada hal-hal yang perlu dievaluasi dan monitoring untuk perencanan APBD 2009. Seperti bagaimana kebijakan-kebijakan tentang model komunikasi yang akan dibangun, itu sudah bisa dilakukan pada saat sekarang. ti/tian son lang

Data Singkat
Rustriningsih, Wakil Gubernur Jawa Tengah (2008-2013) / Srikandi Kabupaten Kebumen | Direktori | Bupati, UGM, DPR, Wakil gubernur

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here