Suhu Pengobatan Tradisional

[ Prof. Hembing ]
 
0
161
Prof. Hembing
Prof. Hembing | Tokoh.ID

[DIREKTORI] Sekitar tahun 90-an, pria keturunan Tionghoa ini menarik perhatian publik saat membawakan acara bertajuk “Hidup Sehat Cara Hembing” di layar kaca. Sebagai pakar pengobatan tradisional dan akupuntur, ia telah banyak mengantar pasiennya menuju kesembuhan berkat obat-obatan natural ramuannya. Penerima The Star of Asia Award ini juga banyak menulis tentang kesehatan, akupuntur, chikung, obat tradisional dan tanaman obat-obatan.

Hembing Wijayakusuma lahir di sebuah rumah kontrakan sederhana yang terletak di Jalan Serdang Gang Sado, Medan pada 10 Maret 1940. Semasa kecil, ia sering sakit-sakitan dan dianggap tidak memiliki harapan hidup lagi. Keadaan semakin bertambah buruk dengan kehidupan keluarganya yang pas-pasan. Oleh sebab itu, atas inisiatif sang nenek, Hembing pun “dibuang” alias diberikan kepada orang lain. Untungnya, L.T. Kwan, ibunda Hembing segera “meminta” kembali putranya itu. Untuk menebus kesalahannya, sang nenek yang ahli pengobatan tradisional di Medan, akhirnya menurunkan semua ilmunya kepada Hembing. Gayung pun bersambut, Hembing sangat antusias menimba ilmu pada neneknya dan ia belajar dengan tekun. Hingga pada akhirnya, warisan dari sang neneklah yang menentukan jalan hidupnya.

Sejak kecil, anak keenam dari sebelas bersaudara ini memang sudah tertarik pada dunia pengobatan. Suatu ketika, Hembing kecil mencoba ”menganalisa” komposisi balsam (obat gosok), kemudian mencoba meramu balsam sendiri dengan bahan-bahan yang terdapat di dapur ibunya. Ketika ayahnya, yang penjahit mengeluh pusing, Hembing memberi balsam buatannya. ”Eh, ternyata sembuh,” katanya mengenang, seraya terkekeh seperti dikutip dari situs pdat Tempo.

Saat usianya baru genap 15 tahun, ia sudah mahir mengobati orang. Dalam memberikan pengobatan, ia tak pernah memilih pasien. Siapa saja bisa datang dan berobat kepadanya. Hal ini diakuinya berkat ajaran H.S. Chong, sang ayah dan agama Islam yang dianutnya. Kadang, ia juga tak segan menyelipkan pesan-pesan agama dalam pengobatannya atau berceramah soal pengobatan dalam kegiatan agama. Hembing mengaku sejak kecil sudah terbiasa dengan ajaran Islam. Begitu pula dalam pergaulan sehari-hari, ia tak pernah memilih kawan, ia tak sungkan menjalin kedekatan dengan masyarakat kelas bawah bahkan ia pernah mendapat julukan Kaipang Pangcu atau ketua persatuan gelandangan dan pengemis.

Hembing yang kini dikenal sebagai suhu pengobatan tradisional telah banyak mengantar pasiennya menuju kesembuhan berkat obat-obatan natural ramuannya. Ia juga dikenal sebagai penulis buku tentang kesehatan yang produktif. Sedikitnya 70-an judul buku berhasil ditulisnya, di antaranya Impotensi (Sinar Agung, 1979), Frigiditas (Sinar Agung, 1985), dan Pengobatan Murah (Sinar Agung, 1985), Ramuan Lengkap Herbal Taklukkan Penyakit, Penyembuhan Dengan Terung, Penyembuhan Dengan Labu Parang, 10 Menit Menuju Sehat dengan Terapi Refleksi Telapak Tangan, Psikoterapi Anak Autis, Teknik Bermain Kreatif non Verbal & Verbal, serta 10 Menit Menuju Sehat dengan Terapi Tulang Belakang.

Hembing menempuh pendidikan dari tingkat SD hingga SMA di kota kelahirannya. Setelah tamat SMA pada tahun 1958, ia menuntut ilmu pengobatan tusuk jarum di Chinese Medical Institute – Chinese Pharmacology and Acupuncture, Hongkong dan lulus tahun 1970. Berkat ketekunannya, suami dari Lilian Kusumawati (almh) ini dikukuhkan sebagai guru besar bidang pengobatan timur pada Universitas Won Kwang, Korea Selatan, pada 28 Februari 1976.

Dua tahun berselang, pendiri bagian akupunktur, FK UISU, Medan ini hijrah ke Jakarta. Di ibukota ia mendirikan Klinik Akupuntur Wijayakusuma di bilangan Jalan KS Tubun Jakarta Pusat. Di ruang prakteknya, Hembing menerima puluhan pasien setiap hari kerja. ”Syukurlah, akupuntur sudah diterima sebagai pengobatan alternatif,” kata ayah tiga anak ini.

Di tahun 90-an, Hembing berkesempatan memandu sebuah acara yang tayang setiap akhir pekan, bertajuk “Hidup Sehat Cara Hembing”. Sesuai namanya, program televisi yang tayang di RCTI itu memuat resep dan tips pengobatan menggunakan obat-obatan herbal yang selama puluhan tahun dipelajarinya.

Hembing yang kini dikenal sebagai suhu pengobatan tradisional telah banyak mengantar pasiennya menuju kesembuhan berkat obat-obatan natural ramuannya. Ia juga dikenal sebagai penulis buku tentang kesehatan yang produktif. Sedikitnya 70-an judul buku berhasil ditulisnya, di antaranya Impotensi (Sinar Agung, 1979), Frigiditas (Sinar Agung, 1985), dan Pengobatan Murah (Sinar Agung, 1985), Ramuan Lengkap Herbal Taklukkan Penyakit, Penyembuhan Dengan Terung, Penyembuhan Dengan Labu Parang, 10 Menit Menuju Sehat dengan Terapi Refleksi Telapak Tangan, Psikoterapi Anak Autis, Teknik Bermain Kreatif non Verbal & Verbal, serta 10 Menit Menuju Sehat dengan Terapi Tulang Belakang. Selain itu, atas permintaan banyak pihak, pria bergelar profesor ini membukukan buku-bukunya sebagai panduan kesehatan dan kecantikan, salah satunya diberi judul Cantik Cara Hembing. Ia telah membuktikan bahwa kesehatan, kebugaran, kecerdasan dan kecantikan dapat terjaga dengan ramuan alami.

Hembing juga menghasilkan buku di luar dunia kesehatan terutama yang berbau sejarah, seperti Muslim Tionghoa Cheng Ho Misteri Perjalanan Muhibah di Nusantara, dan Pembantaian Massal 1740. “Untuk bisa mencapai posisi seperti sekarang, saya harus melalui perjuangan yang cukup keras,” katanya.

Hembing yang pernah menjadi pengawas kesehatan Gubernur Sumatera Utara, Marah Halim Harahap, juga dikenal aktif di berbagai lembaga akupuntur internasional, antara lain pernah menjabat sebagai wakil presiden World Academy Society of Acupuncture yang berpusat di Seoul, Korea Selatan, serta menjadi Penasehat pada Societe Italiana di Agopunctura Italia.

Hembing mengatakan, dengan kembali maraknya gerakan kembali ke alam (back to nature), kecenderungan penggunaan bahan obat alam (herbal) di dunia semakin meningkat. Dalam paparan berjudul “Kekayaan dan Pengembangan Tanaman Obat Indonesia” pada Seminar Warisan Budaya dan Ekonomi Kreatif dalam rangkaian “Pekan Produk Budaya Indonesia 2007” di Jakarta, Hembing menjelaskan gerakan kembali ke alam itu dilatarbelakangi perubahan lingkungan, pola hidup manusia, serta perkembangan pola penyakit.

Menurut Hembing, slogan back to nature menunjukkan minimnya efek negatif penggunaan herbal serta secara ekonomis menarik minat masyarakat kembali menggunakan obat-obatan bahan alami. Herbal memiliki efek samping yang lebih rendah dibanding obat-obatan kimia karena obat herbal bersifat alamiah, dan penelitian tanaman berkhasiat obat secara ilmiah menunjukkan bahwa tanaman itu mengandung zat atau senyawa aktif yang terbukti bermanfaat bagi kesehatan.

Hembing mengutip data WHO bahwa perawatan kesehatan sekitar 80 persen penduduk dunia memanfaatkan obat tradisional bersumber dari ekstrak tumbuhan. Peningkatan kebutuhan obat herbal itu merupakan peluang besar bagi Indonesia dalam pengembangan budidaya dan agribisnis tumbuhan obat maupun industri pengolahannya pada skala yang cukup besar. “Saat ini produksi obat tradisional dan fitofarmaka berkembang dengan pesat sehingga kebutuhan tumbuhan obat untuk bahan baku industri tersebut juga meningkat tajam,” kata Hembing yang juga menjadi pengurus Yayasan Tarumanegara ini.

Di tengah kesibukannya sehari-hari dalam mengembangkan obat-obatan tradisional, penerima penghargaan Bintang Jasa Utama dari Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono ini juga tidak berhenti meneliti berbagai kemungkinan baru di dunia pengobatan akupuntur. Misalnya, ia mencoba menggunakan sengatan lebah sebagai pengganti tusukan jarum dan mendalami Qi Gong (baca: Ci Kung), seni olah napas Cina yang mulai dikembangkan sebagai terapi. eti | muli, red

Data Singkat
Prof. Hembing, Pakar pengobatan tradisional dan akupuntur / Suhu Pengobatan Tradisional | Direktori | pakar, herbal, pengobatan tradisional, akupuntur, tanaman obat

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here