Hemat Pangkal Kaya

[ Dewi Motik Pramono ]
 
0
79
Dewi Motik Pramono
Dewi Motik Pramono | Tokoh.ID

[DIREKTORI] Inilah sosok seorang wanita karir dan seorang ibu rumah tangga yang aktif dalam berbagai kegiatan usaha dan kemasyarakatan. Mantan Ketua Umum Iwapi Pusat ini menggalang bisnisnya bersama-sama dengan pengusaha lemah. Ketua Umum DPP ISIKKI (Ikatan Sarjana Ilmu Kesejahteraan Keluarga Indonesia) ini seorang pengusaha yang hemat.

Pepatah mengatakan, ‘Hemat Pangkal Kaya’. Ungkapan ini sungguh dijiwai oleh Dewi Motik. Berbagai keberhasilan dan kepopuleran yang telah diraih wanita karir ini tak lepas dari sifatnya yang amat hemat. Sifat hemat ini, secara langsung dan tidak langsung, ditularkannya kepada banyak orang. Suatu sifat yang pantas ditiru, terutama di tengah kondisi ekonomi yang sulit.

Bila ditanya tentang profesinya, Dr. Cri Puspa Dewi Motik Pramono, MSc akan menjawab sebagai ibu rumah tangga. Sebab, ia memang seorang ibu rumah tangga, yang sangat membanggakan kodrati perempuan. Jawaban ini mungkin saja membuat banyak orang ragu, sebab ia lebih dikenal sebagai wanita karir dan jarang pula tampil di depan umum bersama suami tercinta.

Tetapi, itu bukan jawaban final dan satu-satunya. Sebab ia memang memiliki aktivitas sebagai pengusaha, penulis, pengajar, dosen, pembicara di berbagai seminar dan juri di berbagai perlombaan. Jadi, ia adalah ibu rumah tangga yang sukses sebagai wanita karir. Aktif dalam berbagai kegiatan usaha, pendidikan dan kemasyarakatan.

Ketertarikannya untuk terjun di bidang usaha dan kegiatan sosial terpatri ketika pada tahun 1975 bersama kakaknya, Dr. Hj. Kemala Motik Abdul Gafur mendirikan Iwapi (Ikatan Wanita pengusaha Indonesia). Saat itu ia menjabat sebagai Honorary President Iwapi Pusat.

Saat ini, Dewi Motik menjabat sebagai direktur berbagai perusahaan swasta antara lain Pimpinan Umum DE MONO Grup (Lembaga Pendidikan Keterampilan dan Kewiraswastaan DE MONO dan Koperasi DE MONO), serta pimpinan di beberapa perusahaan. Ia banyak berkecimpung di usaha koperasi dan usaha kecil-menengah, pendidikan lingkungan hidup dan sosial. Usaha kecil yang tengah diigelutinya adalah moto atau motor toko, sedang dirintis juga becak toko (Bento), mobil, motor distribusi. Semua itu dijalankan oleh rakyat kecil agar mereka dapat hidup sejahtera.

Mengapa ia harus ‘repot-repot’ membina usaha kecil? Jawabannya adalah, yang utama dilakukan adalah berbuat dan berusaha. “Biar kita melakukan sesuatu dari apa yang kita miliki, walaupun kecil tapi solid. Jangan banyak meminta tapi tidak pernah berbuat-buat apa-apa. Prinsip saya selalu make it from nothing to something,” paparnya. Di samping itu, orang sering keliru bahwa usaha kecil itu tidak ada untungnya. Yang benar keuntungannya juga besar, sekaligus bermisi membantu pengusaha-pengusaha kecil.

Niat membantu sesama masyarakat itu dilakukannya dengan tulus. Sebab, kalau niat itu tulus dan benar, menurutnya, “Insya Allah, Tuhan membuat usaha kita berkembang. Tapi bukan seperti orang yang hanya ngomong besar, yang tidak ada hasilnya. Tuhan juga mengerti jika kita buat kesalahan karena tidak tahu.” Dari usahanya itu, sedikit sekali pengusaha kecil yang tidak mematuhi kewajibannya. Sebagian besar dari mereka lancar dalam pembayaran pinjaman.

Tetapi ia mengakui memang ada orang-orang yang kerjanya hanya menipu dengan ucapannya. Yang menipu ini, tidak hanya ada di lingkungan dunia usaha semata, melainkan juga di sektor kebijakan. Banyak janji yang diucapkan kepada masyarakat tetapi, janji tersebut tidak pernah dipenuhi. Dengan kondisi demikian, ia menyatakan tidak heran jika bangsa Indonesia menjadi terpuruk, karena kebanyakan pimpinannya melakukan kesalahan.

Untuk memperbaiki keadaan yang tidak bagus ini, ia memberi resep agar semuanya harus memulai dari diri sendiri. Bukan hanya untuk mengatur orang lain. Sementara sikap saling menuding dan menuduh siapa yang salah hanya akan membuat kepercayaan di dalam masyarakat semakin berkurang. Berangkat dari itu, ia percaya jika suatu saat Indonesia akan dapat pulih. Syarat utama adalah pemimpinnya adalah orang yang benar dan taat kepada Tuhan. Bukan orang yang membodohi dan membohongi rakyat. Jangan menjadikan agama sebagai alat manupulasi untuk mencapai tujuan jangka pendek. “Agama adalah sesuatu yang dirasakan secara pribadi dan tidak dapat dipaksakan kepada orang lain,” ujar pengusaha yang sangat peduli pada pemberdayaan usaha kecil itu.

Aktivitasnya di bidang pemberdayaan usaha kecil cukup membantu untuk membangkitkan gairah masyarakat berusaha di jalan yang lurus. Ia tertarik pada dunia politik tetaoi tidak mau terjun dalam dunia politik praktis. Ia justru khawatir, niat baiknya membantu masyarakat ekonomi lemah akan terabaikan bila harus terjun di dunia politik praktis. Sebab menurutnya, dunia politik sarat dengan persaingan kepentingan yang sering kali harus mengorbankan pihak lain. Lebih dari itu, ia amat yakin bahwa tanpa ikut terlibat di dunia politik praktis pun bisa menghasilkan karya yang lebih baik dibandingkan para politikus itu. Namanya memang lebih dikenal daripada kebanyakan orang yang ada dalam politik praktis.

Sebagai pengajar, ia menanamkan disiplin yang ketat kepada mahasiswa. Namun, penanaman disiplin itu diyakininya tidak akan berjalan bila ia sendiri tidak disiplin. Ia kurang senang bila mahasiswanya terlambat masuk kelas dan di kelas hanya main-main, tidak serius mengikuti perkuliahan. Untuk itu, ia memberi contoh kepada mahasiswa kalau dirinya sendiri bisa tepat waktu dan serius dalam mengajar. Tugas yang diberikan pun pasti diperiksanya dalam waktu secepatnya. Di luar itu, ia juga bisa menerima keluhan, keberatan, bahkan juga saran dari mahasiswanya. Ia ingin mahasiswanya memiliki sikap mental yang tangguh, bertanggung jawab terhadap tugasnya, dan berdisiplin.

Lahir dengan nama Cri Puspa Dewi Motik di Jakarta pada tanggal 10 Mei 1949. Tahun 1975 menikah dengan Pramono Soekasno dan dianugrahi 2 (dua) orang anak yaitu Moza Pramita Pramono dan Adimaz Prarezeki Indramuda Pramono. Setelah pernikahan itulah namanya lebih dikenal dengan dewi Motik Pramono.

Ketika masih lajang, Dewi Motik pernah terpilih sebagai Ratu Luwes di Imada (Ikatan Mahasiswa Djakarta) tahun 1968. Pada tahun yang sama, ia juga terpilih sebagai salah satu pemenang None Jakarta dan sebagai Ratu Jakarta Fair. Kemudian pada tahun 1974 dinobatkan sebagai Top Model of the Year. Tiga tahun kemudian tepatnya pada tahun 1977 terpilih sebagai Wanita Karier Ideal dan pada tahun 1981 terpilih sebagai Wanita Berbusana Terbaik dan pada tahun 1989 terpilih sebagai Wanita Excecutive Berbusana Terbaik.

Ia memperoleh gelar Sarjana Pendidikan IKIP Jakarta dan Sarjana Seni Rupa di Florida International University, Miami, USA. Ia juga telah menyelesaikan S2 Bidang Pengkajian Ketahanan Nasional (PKN) dan mendapat gelar MSi dari Universitas Indonesia. Awal Agustus 2002 Cri Puspa Dewi Motik Pramono, berhasil meraih gelar doktor. Gelar itu diraihnya setelah ia menyelesaikan pendidikan S-3 bidang Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup dari Universitas Negeri Jakarta.

Untuk meraih gelar itu, ia mengikuti perkuliahan secara reguler, membuat desertasi, dan mengikuti ujian sidang doktor. Meskipun ia sudah memiliki nama besar dan cukup dikenal, tetapi dalam mendapatkan ilmu, ia ingin menjalaninya dengan benar dan wajar. Sehingga, ketika menyandang gelar, ia tidak malu karena memang memiliki kompetensi.

Padahal, bila sekadar ingin mendapatkan gelar, saat ini banyak lembaga yang ramai-ramai mengobral gelar tanpa harus mengikuti proses pendidikan yang seharusnya ditempuh calon peraih gelar. Harganya pun tidak begitu mahal. Dan, untuk mendapatkannya, tidak perlu repot-repot datang ke kampus, mendengarkan kuliah, membuat tugas, melakukan penelitian, cukup dengan mendaftar dan tinggal menunggu saat wisuda atau bayar langsung dapat gelar.

Terhadap mereka yang mendapatkan gelar dengan cara itu, Dewi Motik menyebutnya sebagai pencuri. Perbuatan kriminal terhadap dunia keilmuan. Criminal science. Sebab, dia sebenarnya tidak layak menyandang gelar itu, tetapi mereka mau dan bahkan bangga memakai gelar itu, sementara kompetensinya tidak ada. Repotnya, menurut Dewi Motik, banyak juga pejabat yang membeli gelar dengan cara seperti itu. “Bagaimana tidak hancur negara kita jika para pemimpinnya begitu?” katanya dengan nada risau.

Bila ingin mendapatkan gelar dan tidak diributkan masyarakat, maka semua orang harus melaluinya dengan tahapan yang wajar. Jika semuanya jujur, maka tidak akan ada sentimen negatif yang memojokkan seseorang. Bahkan, bila masih ada juga yang memandangnya dengan sebelah mata, hal itu akan sangat mudah dipatahkan, mengingat ia mendapatkan ilmu secara benar dan tinggal membuktikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Akan berbeda halnya dengan yang memiliki gelar dengan cara membelinya pada lembaga yang akreditasinya sangat diragukan. Meskipun ada pameo hal itu adalah hak setiap orang, ternyata bagi Dewi Motik semua itu adalah akal-akalan. Memang benar ada hak asasi, tetapi hak itu bukan untuk berbuat semaunya.

“Saya tidak setuju dengan pemikiran liberal ‘Freedom to free’ tapi yang benar adalah ‘Freedom for right’. Setiap orang memang memiliki hak asasi namun setiap orang juga memiliki tanggung jawab dan kewajiban,” jelasnya.

Bila seseorang ingin mendapatkan gelar dengan harapan nantinya ia akan lebih dihormati, maka pandangan itu dianggapnya naif. Sebab menurutnya, penghormatan itu tidak serta merta datang dari luar hanya karena memiliki gelar yang banyak. Untuk dihormati atau dicintai banyak orang, maka sebaiknya terlebih dulu diri kita sendiri yang memulai penghormatan itu kepada orang lain. Cepat atau lambat orang-orang itu akan menghormati kita.

Kini aktivitas Dewi Motik bukan hanya terbatas di dalam negeri, tetapi sudah mendunia. Ia banyak mendapat undangan dari luar negeri, baik pemerintahan, lembaga asing, maupun PBB, untuk menyampaikan pandangannya di bidang lingkungan hidup dan pembangunan hidup berkelanjutan atau di bidang ekonomi dan kewanitaan.

Selama menjadi pembicara, ia konsisten dengan prinsip hidupnya, “from nothing to something”. Maka, kalimat kedua yang dikemukakannya adalah “Make it happen” menghadirkan sesuatu menjadi nyata. Bukan hanya berbicara konsep, namun mengadakan tindakan nyata dan berpengaruh terus. Dan, jangan lupa ungkapan yang mengatakan: ‘Hemat pangkal kaya’. e-ti

Data Singkat
Dewi Motik Pramono, Ketua Umum Kowani (2009-2014) / Hemat Pangkal Kaya | Direktori | Pengusaha, Dosen, IKIP, UNJ, Kowani

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here