Bahagia dalam Berkarya

[ Happy Salma ]
 
0
53
Happy Salma
Happy Salma | Tokoh.ID

[SELEBRITI] Perempuan cantik peraih Piala FFI tahun 2010 sebagai Pemeran Pembantu Wanita Terbaik ini merangkap beragam profesi mulai dari model, pemain teater, penulis dan aktris sinetron. Kecintaannya pada dunia sastra menghantarkannya keliling sastra bersama Titimangsa, sebuah lembaga budaya yang didirikannya.

Perempuan berdarah Sunda kelahiran Sukabumi 4 Januari 1980 ini mengawali karirnya di dunia keartisan lewat pemilihan Gadis Sampul tahun 1995. Semua berawal saat ia menemani salah seorang kakaknya yang kebetulan menjadi wakil dari Jawa Barat untuk mengikuti pemilihan Putri Indonesia. Happy yang saat itu masih duduk di bangku SMP ikut difoto dengan sisa film yang masih ada. Foto itulah yang kemudian ia kirimkan ke majalah Gadis. Dari ribuan peserta, ia berhasil terpilih sebagai finalis.

Keberhasilannya itu membuat Happy senang luar biasa. Meski saat itu, ia sempat dilanda perasaan cemas karena menjadi seorang model bukanlah perkara mudah, selain harus selalu terlihat cantik juga harus pintar bergaya. Pada saat itu, Happy merasa kedua hal itu tidak dimilikinya. Honor pertama yang diterimanya sebagai foto model kala itu sebesar 150 ribu rupiah.

Belakangan kegiatannya di dunia modeling tidak terlalu ditekuninya. Tapi justru dari ajang modeling, langkah Happy untuk menjajaki dunia hiburan kian terbuka lebar. Putri pasangan Dachlan Suhendara dan Iis Rohaeni ini kemudian ?menjadi presenter di berbagai acara diantaranya Moto Mania (ANTV)?, Obesitas (Global TV)?, A-Mild Biliard (Metro TV)?, dan Digoda (Trans TV)?.

Dari presenter, anak keempat dari enam bersaudara ini merambah ke dunia tarik suara. Sejak remaja, Happy memang dikenal hobi menyanyi. Ia bahkan pernah membentuk sebuah band bernama Fla bersama teman-teman sekolahnya. Selain itu, ia sesekali ikut tampil dalam band beraliran metal bernama Kerrang yang didirikan abangnya. Bersama Kerrang, Happy sering ikut manggung.

Suatu ketika, keberuntungan mulai menghampiri Happy saat ia dan sang abang tengah manggung pada pesta pelajar Bandung. Saat itu Happy dikenalkan dengan Kang Eri, seorang personil band U-camp yang sedang ngetop pada masa itu. Tanpa diduga sebelumnya, Kang Eri mengajaknya rekaman. Sebagai remaja yang menyukai tantangan baru, tawaran tersebut langsung diiyakan Happy. Tepat di usianya yang ke 17 tahun, Happy Salma masuk dapur rekaman.

Tak lama berselang, seniman dan musisi Frangky Sahilatua yang merupakan rekanan Kang Eri mengambil alih untuk memproduseri album Happy. Dengan cepat, video klip tayang di beberapa TV swasta. Namun sayang, album perdana Happy yang berjudul Tapi Kini itu terbengkalai di tengah jalan karena ada masalah internal dengan label.

Gagal berkarir di dunia rekaman, lagi-lagi keberuntungan menghampiri Happy. Ia mendapat tawaran untuk membintangi sinetron produksi teman Franky Sahilatua. Happy kemudian menjajal peruntungannya di dunia akting dengan bermain dalam sinetron berjudul Kupu-Kupu Ungu di penghujung tahun 1998. Di awal karirnya sebagai pendatang baru, ia terbilang beruntung karena tidak harus bersusah payah mengikuti proses casting. Kesempatan emas itu tentu saja tak disia-siakannya terlebih ia mendapat dukungan penuh dari kedua orangtuanya. Meski demikian, ?Happy tak lantas melupakan tanggung jawabnya untuk menyelesaikan pendidikannya sebagai pelajar.

Usai tamat SMA, Happy memutuskan hijrah ke ?Jakarta. Selain untuk kuliah, langkah ini ditempuhnya untuk memudahkan karir sinetron yang sempat ditinggalkannya. Sepanjang karirnya di dunia sinetron tercatat sudah belasan judul yang dibintanginya.

Pada tahun 2005, saat dunia perfilman mulai menunjukkan gairahnya, lulusan Diploma Universitas Trisakti, Jurusan Administrasi Perusahaan ini mendapat tawaran untuk membintangi film Gie. Di film yang dibintangi aktor Nicholas Saputra itu, ia berperan sebagai Santi. Meski hanya kebagian peran kecil, pengalaman ikut ambil bagian dalam film layar lebar tentunya semakin mempertajam kemampuan aktingnya.

Setahun setelah membintangi Gie, Happy sempat mengalami krisis dalam pencarian jati diri. Ketika itu hingar bingar dunia selebritas ternyata semakin membuatnya merasa kesepian. Karena itu, Happy melarikan diri pada dunia yang menenangkan yaitu dunia menulis, hobi yang telah ditekuninya sejak kecil. Awalnya, Happy senang menulis buku harian hingga akhirnya ia mampu membuat majalah dan cerpen. Tentu itu semua hanya untuk kesenangan semata.

Happy sadar, ketika ada keinginan menyajikan tulisannya dalam sebuah buku, maka butuh keberanian untuk memulai perjuangan baru. Di tengah-tengah jadwal syuting yang cukup padat, ia harus mulai rajin mengumpulkan naskah-naskah yang bercecer lalu mengirimkannya kepada penerbit.

Maka ketika banyak orang mengatakan betapa mudahnya seorang selebritis memulai profesi baru, Happy buru-buru menepis anggapan itu. Statusnya sebagai seorang selebriti tak serta-merta membuatnya mudah mewujudkan impiannya untuk mengkomersilkan karya tulisnya. Tulisan Happy sempat beberapa kali ditolak salah satu penerbit karena dianggap kurang sensasional. Tapi penolakan tersebut tidak membuatnya putus asa. Ia malah terus berlatih menulis karena didorong rasa cintanya pada dunia sastra yang sudah amat mendalam.

Hingga di pertengahan 2006, Happy bertemu Rieke Diah Pitaloka, aktris yang juga penggila karya sastra. Pada wanita yang terkenal dalam perannya sebagai Oneng di sitkom Bajaj Bajuri itu, Happy mencurahkan segala kegundahannya terutama tentang minimnya ketertarikan generasi muda pada dunia sastra. Dari hasil diskusi tersebut, Rieke dan suaminya membuka penerbitan yang menerima buku-buku ilmiah dan sastra. Rieke dan Happy kemudian bahu membahu menggiatkan kembali dunia sastra, tulis menulis dan membaca. Penerbit Koekoesan milik Rieke kemudian meluncurkan buku kumpulan cerpen pertama Happy yang berjudul Pulang.

Diakuinya, karya-karya sastra besar Indonesia banyak mempengaruhi cara pandang hidup Happy. Ia bahkan berani menggeluti dunia panggung teater karena kecintaannya pada karya-karya tersebut. Salah satunya, saat ia mementaskan Nyai Ontosoroh yang merupakan hasil adaptasi novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer.

Pementasan itu disutradarai oleh Ken Zuraida dengan mengambil tempat di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Jakarta. “Yah, ini kan pengalaman pertama aku bermain teater. Sempat juga sih merasa grogi tadi, tapi lama-lama berjalan lancar karena udah terbiasa,” papar wanita berkulit sawo matang ini seperti dikutip dari situs info artis.

Happy menjalani masa ‘tenangnya’ selama kurang lebih dua tahun. Di masa itu, waktunya banyak tersita untuk kegiatan-kegiatan seni non komersil, seperti pameran foto, seni teater dan keliling sastra di sekolah-sekolah dan universitas. Bersama sahabatnya, Yulia EB, Happy membentuk sebuah lembaga yang bernama Titimangsa Foundation untuk mengorganisir segala bentuk kegiatan-kegiatan sosial dan seni. Titimangsa bermakna ‘tepat pada waktunya’, nama itu merupakan pemberian mendiang ayahanda tercinta.

Tahun 2009, Happy mulai turun gunung dari pertapaannya dengan kembali berakting di depan kamera. Ia membintangi film Hantu Aborsi, Mau Donk Ah, Capres, dan 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita. Judul yang terakhir disebutkan bahkan menghantarnya sebagai penerima penghargaan sebagai Pemeran Pembantu Wanita Terbaik dalam Festival Film Indonesia tahun 2010. Awalnya Happy tak menyangka ia berhasil keluar sebagai pemenang, terlebih jika melihat para pesaingnya, salah satunya Henidar Amroe yang terbilang cukup senior di jagad perfilman.

Kemenangan Happy juga dipersembahkannya untuk perempuan Indonesia. “Ini (penghargaan) untuk teman-teman perempuan saya di mana pun berada, yang saat ini memperjuangkan kesehatan, harga diri, dan hakikatnya sebagai manusia seutuhnya,” kata Happy saat di atas podium seperti dikutip dari situs cumicumi.com.

Dalam film besutan sutradara Robby Ertanto ini, Happy berperan sebagai seorang wanita tuna susila. Film yang rilis bulan Oktober 2010 ini mengangkat isu seputar kehidupan wanita muda dewasa ini, mulai dari hamil di luar nikah, bekerja sebagai pelacur, hingga menderita penyakit menular seksual.

Pada 3 Oktober 2010, Happy melepas masa lajangnya dengan menerima pinangan pria berdarah campuran Bali-Australia bernama Tjokorda Bagus Dwi Santana Kertayasa. Pernikahan Happy dan Max, panggilan akrab sang suami sempat diterpa kabar isu perpindahan agama Happy dari Islam ke Hindu. Namun ia menolak memberikan konfirmasi mengenai benar tidaknya isu tersebut, karena bagi Happy agama dan keyakinan adalah ranah pribadinya yang bukan untuk dikonsumsi publik.

Setelah menikah, Happy mulai membatasi kegiatannya di dunia hiburan meski demikian karirnya sebagai aktris tak lantas meredup begitu saja. Memasuki tahun 2011, untuk kali kedua Happy kembali kebagian peran sebagai wanita nakal, kali ini dalam sinetron komedi reliji berjudul Abah arahan Hanung Bramantyo. Meski berperan sebagai wanita malam, Happy tak khawatir peran itu dapat mempengaruhi citranya di mata masyarakat. Selain hanya merupakan bagian dari skenario, dalam sinetron tersebut juga tidak ada adegan yang mengharuskan Happy mengumbar sensualitas. Ditambah dukungan dari suaminya yang juga merupakan seorang pekerja seni, Happy mantap menjalankan perannya di sinetron tersebut.

Masih di tahun yang sama, penggemar senam pilates ini mendapat kehormatan dengan diangkat menjadi Duta Festival Film Dokumenter Bali (FFDB). Happy yang bersuamikan pria Bali itu merasa berkewajiban untuk mengangkat seni budaya Bali. Itu sebabnya dia bersedia terlibat untuk menjadi duta.

Sebagai duta, Happy yakin film dokumenter memiliki keindahan dan kekuatan yang membuat orang makin memahami budaya suatu daerah. Harapan itu pula yang ditunjukannya pada FFDB. Adapun tugasnya sebagai Duta akan dilakukan dengan menggaungkan FFDB di berbagai kesempatan. Wanita berambut panjang itu juga siap menghadiri berbagai acara yang digelar panitia, termasuk acara workshop di sekolah-sekolah.

Tak tanggung-tanggung, untuk menunjukkan komitmennya memajukan budaya Bali, Happy rela menanggung seluruh biaya yang berkaitan dengan tugasnya sebagai duta FFDB. Koordinator FFDB Agung Bawantara juga membenarkan seluruh kegiatan Happy Salma tidak di biayai panitia. “Kami tidak bisa memberikan apa-apa,” ucapnya seperti dikutip dari situs tempointeraktif. Anggaran FFDB yang diperoleh dari APBD Bali hanya Rp 50 juta sehingga penggunaannya difokuskan pada penyelenggaran kegiatan. eti | muli, red

Data Singkat
Happy Salma, Artis / Bahagia dalam Berkarya | Selebriti | Penyanyi, cantik, sinetron, artis, seksi

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here