Jadi Pelayan Tuhan

[ Advent Bangun ]
 
0
113
Advent Bangun
Advent Bangun | Tokoh.ID

[SELEBRITI] Bermodal wajahnya yang sangar dan keahliannya berkarate, ia pernah merajai dunia perfilman Indonesia sekitar tahun 80-an sebagai aktor film laga yang banyak memerankan tokoh antagonis. Pengalaman hidup yang pahit pada akhirnya menjerumuskannya menjadi pribadi yang angkuh dan pemarah. Hingga suatu ketika, Tuhan menjamah hidupnya.

Advent Perangin-angin Bangun atau yang lebih dikenal dengan nama Advent Bangun lahir di Kabanjahe, pada 12 Oktober 1952. Namanya sempat merajai dunia perfilman Indonesia sekitar tahun 80-an sebagai aktor film laga, selain sederet nama tenar lain seperti George Rudy dan Barry Prima. Berbeda dengan dua rekannya tadi, Advent lebih sering kebagian peran sebagai penjahat, bandit, serta peran antagonis lainnya.

Pengalaman hidupnya yang pahit sedikit banyak ‘membantu’ Advent menghayati setiap perannya itu. Sejak kecil, ia memang telah terbiasa dengan didikan yang keras. Terlebih dari ayahnya yang bekerja sebagai jaksa, dikenal sangat ketat dalam menanamkan nilai-nilai disiplin dan kejujuran. Trauma mendalam bahkan pernah dialaminya saat menjadi bulan-bulanan sang abang yang ketika itu baru saja keluar dari penjara. Saat kedua orangtua mereka sedang tak berada di rumah, ia kerap dianiaya abang yang seharusnya menjadi pelindungnya. Bahkan pernah suatu ketika, ia ditarik ke pinggir sungai dan diinjak-injak. Hampir saja ia menemui ajalnya akibat terlalu banyak menelan air sungai, untungnya ia berhasil diselamatkan warga setempat.

Peristiwa lain yang hingga kini masih membekas dalam ingatannya adalah saat ia pulang bersama dengan kakak perempuannya melewati sebuah bioskop. Di pinggir bioskop itu banyak anak-anak muda yang sedang berkumpul sambil minum minuman keras. “Mereka lihat kakak saya, dipikir perempuan nakal. Karena diganggu, saya lawan. Saya langsung dipukulin sama sekitar 30-an orang. Saya dihajar sama 30 orang itu, rasanya seperti slow motion semua. Sampai ada yang ambil pisau, saya mau ditikam tapi saya bisa loncat ke belakang seperti salto gitu,” kenang Advent seperti dikutip dari situs cbn.com.

Advent yang tidak berdaya dihajar oleh massa pun terus meronta, dan ketika bisa lepas dari mereka, ia segera lari sekencang mungkin. Kejadian itu menyisakan rasa sakit dan dendam di hati Advent. Hingga suatu hari, saat melintas di Jalan Tendean, ia melihat sekumpulan orang tengah berlatih karate. Ia kagum menyaksikan bagaimana orang-orang itu mampu menghancurkan es balok dan papan dengan tangan kosong. Diam-diam timbul keyakinan dalam hatinya, “Kalau saya latihan seperti itu, 100 orang juga bisa dibabat.”

Tanpa pikir panjang, ia pun mendaftar untuk ikut latihan karate. Dendam dan rasa sakit yang sudah menumpuk dalam hatinya, membuat Advent berlatih ekstra keras, “Kalau orang latihan sejam, saya dua jam. Kalau yang lain latihan dua jam, saya empat jam. Saya ngga mau kalah sama orang, saya harus the best!”, kata Advent.

Setiap pertandingan seakan menjadi ajang pelampiasan dendam baginya. Satu hal yang ia inginkan adalah menjadi juara. Advent tidak mau membagi posisi puncak di dunia karate dengan siapapun. “Begitu dimulai, kaki kanan saya itu seperti punya mata. Begitu jaraknya sesuai, dia otomatis keluar. Waktu itu saya seperti marah. Setiap saya bisa melampiaskannya, saya merasa puas. Puas banget! Dan orang semakin takut sama saya, sampai saya dapat gelar ‘dokter gigi’ karena saya hobinya bikin gigi rontok.”

Kini, Advent yang sombong dan bengis sudah menjadi cerita masa lalu. Mantan pegawai negeri Bea & Cukai, Tanjung Balai, Karimun itu telah menjadi pribadi yang baru. Bukan hanya menyadari kekhilafannya, Advent bahkan memutuskan untuk mengabdikan diri kepada Tuhan dengan menjadi pendeta dengan nama baru, Pendeta Muda Thomas Bangun. Sebagai pendeta muda, ia mempunyai karunia khusus dalam pelepasan dan penyembuhan.

Keinginannya untuk menjadi yang terbaik mulai terwujud di tahun 1971, setelah ia berhasil meraih gelar sebagai juara nasional karate. Setahun kemudian, ia tampil di berbagai kejuaraan tingkat dunia hampir di seluruh Asia, Amerika, dan Eropa. Dunia karate pula yang pada akhirnya mengantarnya menjadi aktor film laga ternama. Sepanjang 20 tahun karirnya di dunia seni peran, sejak tahun 1976 hingga 1996 sedikitnya 60 judul film pernah dibintanginya, di antaranya Sumpah Si Pahit Lidah, Petualangan Cinta Nyi Blorong, Pendekar Bukit Tengkorak, dan masih banyak lagi.

Pada 1989, saat membintangi film produksi PT. Cipta Permai Indah yang berjudul Genta Petarungan, ia bahkan tak hanya berperan sebagai aktor tapi juga penulis skenario bersama Ackyl Anwari. Di tahun 90-an, seperti pemain film lainnya, Advent pun sempat banting setir dengan tampil dalam sejumlah sinetron, diantaranya berjudul Saur Sepuh, Kaca Benggala, Singgasana Brama Kumbara, dan Jaka Sembung. Namanya bahkan pernah masuk dalam nominasi sebagai aktor utama jenis komedi dalam sinetron Suami Suami Takut Isteri pada FSI (Festival Sinetron Indonesia) 1996.

Namun di balik kesuksesan yang digenggamnya, kesombongan dan keangkuhan pun mulai menguasai pikirannya. Sifat kerasnya juga terbawa dalam kehidupan rumah tangganya.

Sang istri, Louis Riani Amalia Sinulingga, mulai menyadari sifat temperamental Advent tak lama setelah mereka menikah. Louis yang baru mengenal Advent selama enam bulan sempat kaget karena pada awalnya Advent bisa bersabar menunggunya pulang kantor. Seiring waktu ternyata tidak sepenuhnya seperti itu. “Waktu pergi ke mall atau ke super market, rupanya dia menunggu saya kelamaan. Saya dateng, dia langsung marah, dan langsung banting pintu,” ungkap Louis seraya mengenang tabiat buruk suaminya. Bukan hanya tidak sabar, Advent ternyata juga pria pencemburu. Jika istrinya pulang tidak tepat waktu, maka sang istri akan menerima luapan amarahnya. Louis sempat merasa menyesal telah menikahi pria yang ditolak oleh kedua orangtuanya tersebut.

“Saya merasa kok rumah tangga saya seperti ini. Saya berdoa, ‘Tuhan tolong saya, kalau semua ini terjadi karena kesalahan saya, karena dosa-dosa saya, saya minta ampun. Saya mau bertobat, saya mau kembali sama Tuhan. Tuhan Yesus tolong saya. Pulihkan rumah tangga saya, buka jalan bagi hidup saya,'” demikian doa Louis dan kembali berharap pada Tuhan agar dapat memulihkan kehidupan rumah tangganya.

Menghadapi Advent yang temperamental dan keras, Louis seperti tidak berdaya. Apalagi ketika Advent tidak senang dengan gereja yang dikunjungi oleh Louis. “Kalau kamu ke gereja itu lagi, awas kamu! Saya hajar kamu! Apa itu, lompat-lompat, nyanyi-nyanyi, muji-muji! Gereja apaan itu! Sesat itu!” demikian Advent mencerca istrinya. Karena istrinya memilih gereja yang tidak sesuai dengan keinginan hatinya, Advent tidak mau sekamar lagi dengannya selama satu tahun.

Louis hanya bisa berlari ke kamarnya dan menangis kepada Tuhan. Ia memohon kepada Tuhan agar terus diberikan kekuatan untuk mengasihi Advent. Cintanya pada Tuhan, mengalahkan rasa takut Louis kepada Advent, entah mendapat kekuatan dari mana, Louis membuat keputusan yang sangat berani. Ia mengatakan dengan jujur kepada Advent bahwa dirinya ingin dibabtis selam.

Wajahnya memerah, dan dia hanya bisa menatap istrinya sambil menahan amarah. Namun sungguh ajaib, yang terlontar dari mulutnya adalah, “Ya udah, aku anterin kamu.” Benar, seperti yang dikatakannya. Advent mengantarkan istrinya untuk dibabtis selam. Saat mengikuti ibadah sebelum acara pembabtisan itu, sesuatu terjadi dalam hidup Advent.

“Hamba Tuhan itu mengkhotbahkan tentang kuduslah kamu sebab Aku kudus. Ada dua ayat, yaitu 1 Petrus 1:16 dan Ibrani 12:14, Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan. Firman itu keras, seperti saya kena tendangan di dada saya. Kedua firman itu membuat saya menangis, saya terlalu banyak marah, dendam, benci pada semua orang. Jadi di situ saya seperti tertemplak, seperti ditampar..”

Advent yang malu menangis di depan orang lain, berseru kepada Tuhan di balik sebuah tiang gereja itu. Dia benar-benar menyadari bahwa dirinya memerlukan Tuhan untuk mengubah hidupnya. Sepulangnya dari pembabtisan istrinya, dia bicara empat mata dengan Louis, “Mah, saya mau pelepasan dan saya mau dibabtis.” Namun setelah memutuskan untuk bertobat, proses yang harus dijalani Advent tidaklah mudah. Apa lagi saat ia diperingatkan oleh istrinya tentang kebanggaannya pada semua pialanya, hal itu membuat Advent berang. Tiga hari ia mendiamkan istrinya, Advent merenung dan matanya tertuju pada sebuah ayat.

“Saya lagi baca firman, Filipi 3:7-8, saya sangat kaget membaca firman itu: Semua kuanggap rugi setelah pengenalan akan Kristus. Semua kuanggap sampah. Yesus lebih mulia dari segala-galanya.” Setelah perenungan yang dalam akan ayat tersebut, Advent sadar bahwa dirinya telah terikat dengan semua piala dan kesombongannya. Ia menyingkirkan semua piala-pialanya dan mengucapkan selamat tinggal kepada kesombongan. Sejak itu, Thomas Advent Bangun memutuskan hubungan dengan dunia karate dan lebih memilih Yesus yang menjadi penguasa tunggal atas kehidupannya.

Kini, Advent yang sombong dan bengis sudah menjadi cerita masa lalu. Mantan pegawai negeri Bea & Cukai, Tanjung Balai, Karimun itu telah menjadi pribadi yang baru. Bukan hanya menyadari kekhilafannya, Advent bahkan memutuskan untuk mengabdikan diri kepada Tuhan dengan menjadi pendeta dengan nama baru, Pendeta Muda Thomas Bangun. Sebagai pendeta muda, ia mempunyai karunia khusus dalam pelepasan dan penyembuhan. eti | muli, red

Data Singkat
Advent Bangun, Aktor Laga, Pendeta / Jadi Pelayan Tuhan | Selebriti | Pendeta, karate, aktor laga

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here