Tika Bisono
Tika Bisono | Tokoh.ID

[SELEBRITI] Putri Remaja Indonesia 1978 ini mengawali karirnya dengan menjadi penyanyi dan model. Namun belakangan, perempuan yang sering membintangi iklan televisi ini lebih berkonsentrasi pada profesinya sebagai psikolog dan dosen serta menjadi konsultan di beberapa perusahaan besar.

Tika Bisono terjun ke dunia hiburan setelah menjuarai pemilihan Putri Remaja Indonesia tahun 1978. Dari ajang itu, ia kemudian mencoba peruntungannya di dunia tarik suara. Selain itu ia juga aktif di jalur modelling.

Namun nampaknya dunia hiburan bukanlah jalan hidupnya. Perempuan kelahiran Bandung 1 Oktober 1960 ini kemudian tertarik untuk mendalami ilmu psikologi. Di mata Tika, psikologi merupakan bidang yang menarik karena mempelajari berbagai karakter dan kepribadian manusia.

Selain menjalani profesinya sebagai psikolog, ibu tiga anak ini sehari-harinya juga bekerja sebagai dosen di beberapa universitas ternama di Indonesia.

Sebagai psikolog, pelantun lagu Melati Putih ini berpengalaman memberikan berbagai training tentang human resources dan communication excellence di berbagai perusahaan besar di Indonesia.

Penyandang gelar master ini menjadi trainer di Training Indonesia membawakan materi di sesi pre assessment (Penilaian awal). Sebelum mengikuti sebuah pelatihan, peserta pelatihan akan dinilai dan dianalisa dari berbagai aspek. Ini dimaksud sebagai medical record yang berguna untuk memperbaiki dan mematangkan kemampuan yang akan dilatih.

Wanita yang gemar menonton pertandingan sepakbola ini juga giat mengamati dunia anak dan pendidikan. Tika tajam menyoroti tingkat kekerasan terhadap anak di Indonesia yang dari tahun ke tahun terus merangkak naik terutama yang dilakukan di lingkungan keluarga. Mitos yang berkembang selama ini mengenai ibu atau bapak tiri yang jahat juga dipatahkan Tika. Menurutnya, anggapan tersebut tak berdasar. Faktanya, banyak kasus kekerasan pada anak yang justru dilakukan orang tua kandung.

Lebih jauh pengagum Anjas Asmara, Roni Patinasarani, dan Andi Lala ini menjelaskan, kekerasan yang dimaksud di sini tak hanya menyangkut kekerasan fisik namun juga psikis. Yang jamak ditemukan adalah seringnya orang tua secara sadar maupun tanpa sadar membanding-bandingkan anak yang satu dengan anak yang lain. Menurut Tika, hal itu kelihatan sepele namun bila kerap dilakukan, itu sudah termasuk tindak kekerasan orangtua terhadap buah hatinya.

Hal lain yang membuat batinnya sebagai psikolog sekaligus seorang ibu terenyuh adalah merebaknya pornografi di kalangan anak-anak. Tika menilai lemahnya pengawasan pemerintah terhadap kecanggihan teknologi dewasa ini turut menyumbang mudahnya akses anak di bawah umur mengonsumsi apa yang seharusnya belum pantas untuk mereka serap.

Tika juga menyoroti dunia pendidikan Indonesia. Dalam sebuah seminar di Jakarta yang digelar tahun 2009, Tika menilai keputusan Depdiknas yang menaikkan standar kelulusan menjadi 5.50 sebagai kebijakan yang edan (gila).

“Depdiknas edan! ujug-ujug naikin standar kelulusan jadi 5.50, gila apa?”. Ia berpendapat, meningkatnya standar kelulusan, berarti meningkat pula tingkat stres dan beban yang terjadi pada anak. “Jelas, panik itu suatu hal yang manusiawi banget. Siswa belum selesai dengan rasa takutnya dengan standar kelulusan tahun lalu yang mencapai 5.25, tahun ini naik lagi jadi 5.50. Saya hanya minta para guru juga memperhatikan kondisi si anak, jadi para siswa bukan hanya sekadar menjadi objek saja. Guru juga harus jeli melihat, mana siswanya yang memiliki tendensius mengalami kepanikan atau stress,” ujar wanita yang kehilangan putri keduanya pada Juli 2007 akibat penyakit demam berdarah ini.

Sebagai psikolog, pelantun lagu Melati Putih ini berpengalaman memberikan berbagai training tentang human resources dan communication excellence di berbagai perusahaan besar di Indonesia.

Tika juga menyampaikan kekesalannya kepada pihak Depdiknas yang dinilai kurang vokal dalam menyuarakan kebijakan pemerintah yang telah dibuat. “Aku agak kesal sama Diknas, kerjaannya enggak selesai. Info yang seharusnya disampaikan ke pelosok provinsi, ternyata tidak. Hal ini menimbulkan gap antara yang di kota dengan yang di pelosok. Ini, kan, tugas Diknas, bukan tugas saya,” ungkapnya seperti dikutip dari situs tabloidnova online.

“Saya hanya mau menyampaikan satu saran untuk Diknas, coba gunakan media nasional untuk membantu sosialisasi kebijakan Pemerintah terkait soal pendidikan, supaya yang di daerah juga tahu kebijakan yang di pusat. Wajib!,” tutup perempuan yang hobi naik gunung ini.

Selain soal kekerasan dan pendidikan, ibu dari Janis, Janika, dan Julian ini juga menaruh perhatian mendalam pada kurangnya hiburan bagi anak-anak. Seperti diketahui, sekarang ini jarang sekali stasiun televisi yang menyediakan wadah khusus untuk menampung kreativitas anak-anak.

Khususnya di dunia musik, hampir semua acara musik yang tayang di layar kaca hanya memuat lagu-lagu orang dewasa. Tak heran jika anak-anak SD jaman sekarang sudah fasih melantunkan lagu bertema cinta-cintaan seperti yang dipopulerkan band-band favorit mereka.

Kini lagu-lagu anak bisa dibilang sangat langka. Fenomena miris itu kemudian mendorong Tika dan mantan penyanyi cilik Dina Mariana dan rekan-rekan lainnya untuk membuat sebuah acara bertajuk Ajang Cipta lagu Anak (ACILA) pada Agustus 2010. ACILA merupakan sebuah terobosan untuk mengembalikan musik anak-anak seperti dulu lagi. Dengan hadirnya acara tersebut, Tika ingin agar musik anak-anak kembali seperti dulu dimana anak-anak juga punya lagu mereka sendiri. Tidak seperti sekarang yang menggemari lagu dewasa. eti | muli, red

Data Singkat
Tika Bisono, Psikolog, konsultan, dosen / Lebih Fokus Jadi Psikolog | Selebriti | Dosen, konsultan, psikolog

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here