Ayah bagi Anak Yatim dan Tunakarya

[ Cecep Maman Suherman ]
 
1
64
Cecep Maman Suherman
Cecep Maman Suherman | Tokoh.ID

[WIKI-TOKOH] Abah adalah panggilan akrab bagi Cecep Maman Suherman, lelaki kelahiran Cirebon, 72 tahun silam ini. Dia menjadi ayah bagi seratusan lebih anak yatim piatu dan tunakarya. Lewat tangannya, para penganggur diajarkan untuk hidup mandiri dan anak yatim piatu bisa tetap bersekolah.

Cecep adalah perintis Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) Gajah Mada. Lembaga yang berkantor di Jalan Brigjen Darsono, Kota Cirebon, Jawa Barat, ini merupakan lembaga sosial yang bergerak di bidang pendidikan.

Setiap tahun ajaran baru, lembaga ini menerima siswa dari berbagai kalangan untuk belajar membuat berbagai kerajinan, atau berwirausaha. Setidaknya ada 23 jenis keterampilan usaha yang diajarkan Cecep, mulai dari membuat kue hingga pengelasan.

Salah satu produk hasil wirausaha yang belakangan sukses sampai ke mancanegara adalah kerajinan fiberglass, di antaranya berupa kap lampu. Produknya itu berhasil menembus pasar daratan Eropa, antara lain Belanda, Perancis, Spanyol, Italia, Amerika Serikat, dan Jepang.

Namun, semua itu tidak diraihnya begitu saja. Cecep merintisnya dari sanggar seni dan kerajinan sejak tahun 1975. Dia memulainya dengan melatih 23 anak yatim piatu dan 12 orang lanjut usia. Mereka membuat kerajinan topeng cirebonan dengan bahan baku tanah liat dan gipsum, serta suvenir miniatur perahu dari bambu.

Lambat laun sanggar seni dan kerajinan itu berkembang. Mulai tahun 1982, kegiatan sanggar bisa menjadi sebuah PKBM dengan tujuan utama meningkatkan keterampilan masyarakat di bidang seni kerajinan. Dia bekerja sama dengan instansi Departemen Pendidikan Nasional daerah.

Anak jalanan

Cecep sejak awal berniat membesarkan lembaga pendidikan yang kini masih berkantor di bekas sekolah dasar di Cirebon ini. Awalnya, yayasan yang ia dirikan tahun 1992 itu ditujukan untuk melatih anak jalanan yang tak mempunyai kemampuan untuk berwirausaha. Tetapi dalam perkembangannya tak hanya anak jalanan yang bisa belajar, para lulusan SMA atau SMK pun ditampungnya.

Mereka dilatih selama sekitar tiga bulan untuk bisa berkarya dan hidup mandiri. Tekad Cecep saat itu adalah mencetak wirausahawan yang terampil berusaha dalam waktu tiga bulan. Mereka tak perlu belajar sampai tiga tahun seperti di sekolah formal.

“Kalau saya lihat pengemudi becak, inginnya melatih dia berkarya lebih baik. Ini agar nantinya dia tak hanya menjadi pengemudi becak, tetapi juga bisa membuat jasa reparasi becak,” kata Cecep.

Soal biaya, Cecep memilih tak mematok tarif tertentu bagi siapa pun yang ingin belajar. Jika ada dana dari hasil penjualan kerajinan untuk menggaji guru dan kebutuhan praktik, kursus pun bisa digratiskan.

Kiprah Cecep di dunia pendidikan pun mendapat perhatian dari Pemerintah Kota Cirebon. Ia kemudian diberi tempat di bekas gedung sekolah dasar di Jalan Brigjen Darsono dan mendapatkan honor Rp 140.000 per bulan.

“Sekarang honor saya sudah Rp 280.000 per bulan. Selama ini honor itu digunakan untuk membiayai kebutuhan lembaga. Memang jumlah itu belum mencukupi karena tagihan telepon saja Rp 500.000. Tetapi, kami berusaha mencari solusi agar tetap bisa mengajar. Kalau hasil kerajinan laku, itu bisa menjadi modal lagi,” kata penyandang gelar pendekar silat itu.

Belakangan PKBM ini membuka kelas baru pada bulan Juni-Juli. Oleh karena bekerja sama dengan pemerintah, pendaftaran dan perekrutan juga dilakukan lewat Dinas Pendidikan Kota Cirebon.

Kesungguhan Cecep menekuni bidang pendidikan nonformal juga membuat dia dipercaya sebagai Ketua Forum Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat se-Jawa Barat periode tahun 2002-2007. Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) pun menjadikan dia sebagai salah satu mentor untuk pelatihan keterampilan di tingkat nasional.

Terbiasa berbagi

Sedari muda, ayah delapan anak ini memang sudah akrab dengan dunia anak yatim. Sejak berusia 39 tahun, Cecep sudah mengurusi anak yatim piatu dan warga lanjut usia yang harus dibiayai hidup dan sekolahnya. Rasa simpati dan empatilah yang menggerakkan penerima penghargaan Upakarti tahun 2008 ini untuk berbagi dengan anak-anak yatim.

Berbagi, kata Cecep, bukan sekadar menyisihkan sedikit harta, tetapi sebagian besar kekayaan. Tambak udang dan sebuah vila di daerah Kanci, Cirebon, pun, dia jual dengan rela untuk bisa menghidupi dan menyekolahkan anak yatim piatu dan orang jompo.

“Saya ini orangnya tidak tegaan. Jadi, kalau ada keluarga atau orang susah yang datang untuk minta bantuan, ya saya bantu dengan apa yang ada waktu itu. Kalau tidak dibantu, rasanya saya kok tidak bisa enak tidur,” katanya.

Langkah Cecep bisa berlanjut karena dia juga didukung penuh oleh keluarga. Meski awalnya mereka sempat tidak sepakat, pada akhirnya keluarga bisa mengerti, bahkan rela membantu Cecep untuk bekerja sosial.

Salah seorang putranya, Gempur Ali Toupan, mau menjadi penerusnya, dengan usaha mengekspor kerajinan fiberglass ke Eropa. Dia juga mau meluangkan waktu untuk membantu mengembangkan lembaga pendidikan yang dirintis sang ayah.

Sejak awal wirausaha

Dari muda, Cecep tak ingin bergantung pada orang lain sehingga menjadi wirausaha adalah pilihannya. Ia lulus dari IKIP, tetapi bekerja di Bulog sebagai karier awal. Ketertarikannya terhadap dunia usaha membuatnya belajar di Sekolah Tinggi Chemical Industri di Thailand.

Kembali ke Tanah Air, ia tak hanya menerapkan ilmu di bidang yang dia pelajari, tetapi juga di bidang lain, seperti konstruksi dan pertambakan. Dengan berbagai usaha inilah lembaga yang dirintis Abah bisa tetap bertahan.

Meski telah mencetak banyak wirausaha, tetapi Cecep masih terus bekerja mengembangkan lembaga pendidikannya. Sementara para bekas siswanya sudah mampu mendirikan berbagai usaha di sejumlah tempat, seperti di Ciamis, Bandung, Tasikmalaya, Cirebon, hingga Aceh.

“Masih banyak orang yang menganggur. Krisis global sebenarnya tak berdampak banyak karena pasar masih terbuka untuk barang kita. Tapi, sering kali kita tak jeli melihat peluang itu dan tidak semua orang mau bekerja keras, apalagi berwirausaha,” katanya

Sumpah Palapa Gadjah Mada yang menginspirasi dirinya untuk mendirikan lembaga pendidikan pun masih dia pegang. Oleh karena itulah, meski mempunyai kesempatan untuk hidup lebih layak, Cecep memilih tinggal di rumah sederhana di Kabupaten Cirebon. e-ti

Sumber: Kompas, Senin 4 Mei 2009 dengan judul” Cecep, Ayah bagi Anak Yatim dan Tunakarya” | Siwi Yunita Cahyaningrum

Data Singkat
Cecep Maman Suherman, Perintis PKBM Gajah Mada / Ayah bagi Anak Yatim dan Tunakarya | Wiki-tokoh | perintis, PKBM, instruktur

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here