Bersenang-senang Itu Penting

[ Melli Nuraini Darsa ]
 
0
388
Melli Nuraini Darsa
Melli Nuraini Darsa | Tokoh.ID

[WIKI-TOKOH] Bersenang-senang adalah cara untuk menyeimbangkan hidup. Itu pandangan Melli Nuraini Darsa (43), pendiri firma hukum Melli Darsa & Co. “I know how to have fun,” katanya.

Maka, jadilah Melli yang sehari-hari dikenal sebagai sosok yang pendiam, serius, dan tegas ketika sedang bergelut dengan pekerjaan. Namun, ia menjadi pribadi yang berbeda saat bersenang- senang. Ia tampil ceria ketika memainkan jemarinya di tuts piano mengiringi band MDC, di mana Melli menjadi salah satu anggotanya.

Pagi itu, Kamis (29/4/2010), Melli mengajak kami bertemu di kantornya, Lantai 19 Gedung Menara Standard Chartered Bank Jalan Prof Dr Satrio, Jakarta. Melli muncul dengan setelan blus putih dengan rok mini hitam. Tubuhnya mungil, tetapi lincah. Polesan wajahnya sederhana.

Ia mengaku agak grogi diwawancara karena mengaku tidak terbiasa bercerita panjang lebar tentang kisah hidupnya kepada orang yang baru dikenal. Kami mengawali pembicaraan tentang keterlibatan dia sebagai anggota American Bar Asociation, yaitu wadah para advokat di Amerika. Ia bergabung di asosiasi itu agar kualifikasi hukumnya diakui internasional.

“Lawyering adalah bisnis kepercayaan. Karena, menurut kode etik, seorang pengacara dilarang beriklan untuk mempromosikan jasa, maka reputasi menjadi sangat penting bagi seorang pengacara,” kata Melli.

Dari situ pembicaraan mengalir tentang kegiatan Melli di luar jam kantor. Termasuk tentang Band MDC yang dibentuk para pengacara muda di kantornya tahun 2008. “Mereka adalah anak-anak band ketika masih kuliah dulu,” kata Melli.

Pembentukan band ini seperti membuka sisi lain Melli yang hobi bermusik. Sejak umur empat tahun Melli sudah bermain piano hingga ia dewasa dan punya dua anak. Ia senang membawakan lagu-lagu awet milik komposer Cole Porter yang dibawakan penyanyi Ella Fitzgerald atau Frank Sinatra.

Ketika ada acara di kantornya, Melli mencoba menjadi pemain piano di Band MDC. Kebetulan waktu itu band tersebut belum punya pemain piano. “Dari situ saya merasa main musik ramai-ramai itu menyenangkan. Rasanya seperti masuk ke dunia lain,” kata Melli. Ia mengaku tidak merasa risi ngeband bareng anak-anak muda yang usianya jauh di bawahnya karena rasanya seperti bermain musik bareng anak-anaknya atau keponakannya yang juga doyan bermusik.

Sastra

Selain musik, Melli menyukai sastra. Sejak kecil ia sudah terbiasa membaca buku-buku Mark Twain, sastrawan Amerika penulis novel petualangan Tom Sawyer dan Huckleberry Finn atau Victor Hugo, sastrawan Perancis, penulis Les Misérables dan Notre-Dame de Paris. Kecintaannya pada sastra membuat ia tumbuh menjadi remaja yang gemar menulis dan hobinya itu diteruskan hingga ia menginjak dewasa. Ia menulis hal-hal yang menyentuh hatinya, seperti tentang ibunya yang sangat menginspirasi hidupnya atau menulis tentang dua anaknya Pradhana Abhimantra (17) dan Andhika Abhiyantara (10), yang menjadi sumber kekuatan hidupnya. Kumpulan tulisan karyanya kini sedang ia kumpulkan untuk diterbitkan menjadi sebuah buku dalam bahasa Inggris. Ia mengaku menulis dalam bahasa Inggris lebih mudah daripada bahasa Indonesia karena sejak kecil Melli memang sudah tinggal di luar negeri, mengikuti ayahnya yang bertugas menjadi seorang diplomat di Geneva, Swiss, dan New York, Amerika Serikat.

Dengan seni, Melli bersenang-senang untuk menyeimbangkan jiwanya. Ia merasa bidang hukum yang digelutinya adalah dunia yang kering. “Padahal, saya menyukai hal-hal yang berbau seni dan butuh penyaluran,” kata Melli.

“Workaholic”

Keseharian Melli memang dikepung dengan jadwal yang padat. Sebagai pengacara korporat yang menjalankan usaha sendiri di bidang firma hukum sejak tahun 2002, ia memiliki klien- klien perusahaan besar di dalam maupun luar negeri, seperti perusahaan perbankan, pertambangan, dan telekomunikasi.

Ia juga harus terjun langsung menentukan visi, misi, dan juga pertumbuhan yang hendak dicapai firma hukumnya agar bisa terus menghidupi 35 pengacara dan 30 anggota staf yang bernaung di kantornya. Belum lagi kesibukannya menjadi pembicara di berbagai pertemuan di bidang hukum korporat berskala internasional.

Kegiatannya yang padat, ditambah dengan pekerjaan yang menuntut ketekunan dan ketelitian karena berkutat dengan banyak dokumen, membuat Melli dan anak buahnya mudah stres. Karena itu, ia berpegang pada prinsip work hard, play hard. “Pada saat kita dalam kondisi santai, nikmatilah. Lupakan semua jabatan dan pekerjaan,” tutur Melli. Melihat kegiatannya yang seabrek, Melli sering dituding sebagai orang yang keranjingan kerja, workaholic. Ah… seandainya orang yang menuding itu melihat Melli bernyanyi atau bermain piano….

***

Ia Ikut Mendorong Karier Saya

Melli tertarik di bidang hukum korporat karena kebetulan semata. Setelah ayahnya meninggal dunia, anak bungsu dari lima bersaudara ini harus pulang ke Tanah Air dan meninggalkan kuliahnya di Georgetown University, Amerika Serikat. “Biayanya mahal,” kata Melli.

Kembali ke Tanah Air, Melli harus memulai segalanya dari nol. Sebagai anak diplomat, ia biasa dengan kehidupan yang mapan. Begitu ayahnya meninggal dunia, ia harus menyesuaikan diri untuk hidup seadanya. “Saya beruntung karena orangtua memang mendidik saya dan kakak-kakak saya untuk hidup sederhana,” kata Melli.

Dengan kemampuan berbahasa Inggris, Melli mencari pekerjaan dan akhirnya mendapat pekerjaan pertama sebagai editor suatu penerbitan yang diterbitkan bersama oleh Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) dan Yayasan LBH Indonesia. “Saya datang ke LP3ES naik bus umum,” kenang Melli.

Dari situ Melli lalu kuliah lagi di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, kemudian melanjutkan ke Harvard Law School, Cambridge, AS. Setelah bekerja di banyak kantor firma hukum di Jakarta dan Washington DC, AS, akhirnya keinginan Melli untuk memiliki kantor firma hukum sendiri terlaksana tahun 2002. Selama bekerja di firma hukum itulah Melli lebih banyak belajar tentang hukum korporat khususnya di bidang keuangan, pasar modal, merger, dan akuisisi perusahaan.

“Saya harus berterima kasih kepada mantan suami. Bagaimanapun dia pernah ikut berperan mendorong karier saya,” kata Melli.

Membesarkan anak

Melli dan mantan suaminya memang terus menjaga hubungan baik demi anak-anak mereka. Ia berbagi peran dalam membesarkan kedua anak laki-lakinya. “Kehadiran ayah bagi anak-anak membuat tugas saya menjadi orangtua tunggal lebih mudah,” tutur Melli yang membawa kedua anaknya setelah bercerai.

Sebagai orangtua tunggal, Melli bersyukur karena tinggal di Indonesia. Menurut dia, negara ini memiliki sistem pendukung yang memudahkan perempuan tetap bekerja sambil membesarkan anak. Sistem pendukung yang dimaksud Melli adalah kemudahan untuk mencari pekerja rumah tangga yang bisa mengurus kedua anaknya ketika Melli sibuk bekerja. Orangtua Melli yang tinggal di lain rumah juga ikut membesarkan dan tidak keberatan bila sewaktu-waktu Melli menitipkan kedua anaknya saat ia harus bepergian ke luar kota atau ke luar negeri. e-ti

Sumber: Kompas, Minggu, 9 Mei 2010 “MELLI DARSA, Bersenang-senang Itu Penting” | Lusiana Indriasari

Data Singkat
Melli Nuraini Darsa, Pemilik firma hukum Melli Darsa & co / Bersenang-senang Itu Penting | Wiki-tokoh | Advokat, pendiri, cantik, hukum, firma

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here