Kembali ke Habitat

[ Emeria Siregar ]
 
0
91
Emeria Siregar
Emeria Siregar | Tokoh.ID

[WIKI-TOKOH] Bagi Emeria Siregar, kembali ke Praha sebagai Duta Besar Indonesia untuk Ceko di wilayah Eropa Timur/Tengah (ETT) bak pulang kampung. Ia pernah bermukim di Beograd, Yugoslavia, dan juga bertugas sebagai KUAI (Kuasa Usaha Ad Interim) di Bratislava, Slowakia. Sebelum ke Praha, Emeria memangku jabatan Direktur ETT, Kementerian Luar Negeri.

Dalam pembagian tugas di Kementerian Luar Negeri, wilayah Eropa Timur/Tengah mencakup 18 negara. Ada yang besar seperti Rusia atau eks Uni Soviet, sampai yang kecil seperti Ukraina, Albania, Armenia, Belarusia, Moldova, Georgia, dan Macedonia. Ada pula yang bekas Yugoslavia: Bosnia-Herzegovina, Montenegro, Kroasia, dan Serbia. Enam negara ETT yang familiar di telinga kita, Bulgaria, Hongaria, Polandia, Rumania, dan Ceko serta Slowakia (sebelumnya Cekoslovakia).

“Salah satu hambatan yang kerap ditemui dalam upaya peningkatan kerja sama kita dengan negara-negara ETT, masih banyak pihak di Indonesia kurang menyadari 6 dari 18 negara itu di anggota Uni Eropa (Ceko, Slowakia, Polandia, Hungaria, Bulgaria, dan Romania). Juga bahwa Ceko telah berpisah secara damai dengan Slowakia sejak akhir 1992,” kata penggemar cokelat itu.

Demikian pula kenyataan Yugoslavia sesungguhnya sudah tidak ada lagi sejak 1991, dimulai dari berpisahnya Slovenia, Kroasia, dan Macedonia dari Serbia. Lalu diikuti Bosnia-Herzegovina yang memicu konflik Balkan. Negara-negara bekas Uni Soviet juga banyak, termasuk tiga negara Baltik (Estonia, Latvia, dan Lituania) yang juga sudah anggota Uni Eropa.

Penggemar berat traveling ini sudah bolak-balik mengunjungi 16 negara ETT menjalankan fungsi sebagai direktur. Umumnya, penugasan itu berupa kunjungan mempererat hubungan bilateral atau menghadiri Sidang Komisi Bersama atau Forum Konsultasi Antar-Kementerian Luar Negeri. Kurangnya perhatian dan pengetahuan mengenai Eropa Tengah dan Timur menyebabkan kurang tersedianya data akurat menyangkut negara-negara kawasan tersebut di Indonesia. “Sering kali data yang tersedia masih ditulis sebagai data mengenai Cekoslovakia atau data tentang Yugoslavia, walau kedua negara itu sudah tidak ada lagi,” kata putri berayah dan ibu dokter ini.

Tentu saja peningkatan volume perdagangan dan investasi menjadi tujuan utama Indonesia menjalin persahabatan dengan 18 negara itu. Bekerja sama dengan berbagai kementerian lain, dan meyakinkan pebisnis-pebisnis Indonesia bahwa tersedia peluang besar, dan bahwa kawasan Eropa Tengah dan Timur merupakan pasar nontradisional yang menjanjikan bagi kita, sangat tidak mudah.

“Kesulitan yang paling sering dihadapi adalah jarak geografis yang jauh dan bahasa-bahasa setempat yang sulit dipahami. Sementara negara-negara Asia lainnya dengan cepat merebut kesempatan yang tersedia dan telah hadir di kawasan tersebut,” ujarnya. Sebuah hal yang menguntungkan, prospek cerah menjalin hubungan dagang dengan negara-negara itu berpotensi besar, karena kedekatan emosional dan historis negara-negara tersebut dengan Indonesia pada era Orde Lama.

“Dari data Kementerian Perdagangan dalam lima tahun terakhir, total nilai perdagangan Indonesia dengan 18 negara itu tercatat meningkat sampai 2010 (kecuali 2009),” ungkap Emeria. Komoditas ekspor kita ke kawasan itu beragam, dari hasil perkebunan, sepatu, hingga garmen dan tekstil. Sedangkan impor mereka dari besi/baja, aluminium, pupuk kimia, hingga berbagai mesin serta produk-produk kimia.

Wartawan dan diplomat

Bagi penggemar segala jenis musik itu, penugasan di Ceko membuatnya senang. “Karena, ibaratnya, kembali ke habitat,” katanya. Dirinya telanjur akrab dengan kawasan Eropa Tengah dan Timur sejak tinggal di Beograd (1989-1994), bertugas di Bratislava (2003-2006), dan menjadi Direktur Eropa Tengah dan Timur (2007-2010). “Semua itu pengalaman yang sangat berharga dan menjadikan tugas di Ceko tidak terasa berat karena tidak asing dengan negara-negara kawasan ini,” katanya.

Hubungan Indonesia dengan Cekoslovakia dimulai sejak 1952. Pemerintah RI mengakui kedaulatan Ceko ketika berpisah dengan Slowakia tahun 1992. Ceko yang kemudian merangkul demokrasi, masuk Uni Eropa dan NATO tahun 2004. “Ceko negara yang terus berubah, sudah lebih dari sepuluh tahun terakhir menata kembali hubungannya dengan dunia. Ceko masa kini dipimpin generasi muda. Banyak menteri, pejabat, gubernur, wali kota yang berusia sekitar 35-37 tahun,” ujar perempuan campuran Jawa Timur-Batak ini.

Salah satu misi khusus Emeria sekarang ini mewujudkan kunjungan kenegaraan Presiden Ceko Vaclav Klaus untuk bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, akhir tahun ini. Selain itu, juga mendatangkan mantan Presiden Vaclav Havel, ikon “Revolusi Beludru” yang merobohkan rezim komunis Cekoslovakia tahun 1989.

“Vaclav Havel menyampaikan keinginannya berkunjung ke Indonesia. Saya menjelaskan perkembangan hubungan Indonesia-Ceko yang sama-sama mengalami banyak perubahan menuju negara demokrasi. Saya juga meminta dia menjadi patron pada acara-acara kebudayaan Indonesia di Ceko, mengingat Havel tokoh budaya juga karena latar belakangnya sebagai pemain drama,” kata Emeria.

Atas prakarsa dan upaya Emeria, Kompas mendapat kesempatan mewawancarai khusus Havel yang dimuat dalam edisi 2 Januari 2011 lalu. “Tidak mudah membujuk Havel memberikan wawancara untuk media, bahkan untuk media Ceko. Saya sudah mengantarkan koran yang memuat wawancara tersebut. Itulah yang antara lain membuat Havel tertarik datang ke Indonesia,” katanya.

Kompas juga dibukakan akses seluas-luasnya oleh Emeria untuk menemui berbagai pihak di Ceko, termasuk bertemu dengan pejabat Kemlu, gubernur, pakar, TKI, mahasiswa, dan wartawan. Tak kalah penting, pertemuan dengan para bekas mahasiswa Indonesia yang melanjutkan studi di Ceko pada era Orde Lama dan pada masa Orde Baru dicegah kembali ke Tanah Air.

“Pekerjaan wartawan, peneliti, dan diplomat sama saja, yakni memperluas jaringan lobi tanpa henti dan menulis laporan. Sejak bertugas September 2010, saya dan rekan-rekan diplomat di Praha bertekad membuka akses seluas-luasnya bagi media untuk meliput setiap kegiatan kami. Tanpa media, kami tak berarti apa-apa,” kata Emeria yang akrab disapa “Adjeng” ini.

Pengalaman Kompas selama sepekan mengikuti trip jurnalistik di Ceko telah membuktikan hal tersebut. Jujur saja, trip jurnalistik yang disiapkan KBRI Praha semestinya dijadikan sebagai model bagi Kemlu untuk makin mengakrabkan hubungan dengan media, untuk mengetengahkan citra sebagai ujung tombak diplomasi yang lebih profesional. e-ti

Sumber: Harian Kompas, Selasa, 1 Februari 2011 | Penulis: BUDIARTO SHAMBAZY

Data Singkat
Emeria Siregar, Duta Besar Indonesia untuk Ceko di wilayah Eropa Timur/Tengah (ETT) / Kembali ke Habitat | Wiki-tokoh | Wartawan, Diplomat, Duta Besar

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here