Mimpi Novita Tandry

[ Novita Tandry ]
 
0
463
Novita Tandry
Novita Tandry | Tokoh.ID

[WIKI-TOKOH] Wataknya keras, apalagi kalau sudah punya ambisi. Sebelum mimpinya menjadi nyata, ia tak akan berhenti berupaya untuk mewujudkannya.

Itulah Novita Tandry (39), Managing Director Tumble Tots Indonesia, serta ibu dua anak yang selalu merasa bahagia ketika berada di antara anak-anak kecil.

“Berinteraksi dengan anak-anak membuat semua stres hilang karena mereka polos dan apa adanya,” kata Novita, awal pekan lalu di Tumble Tots, Mal Taman Anggrek, Jakarta.

Mudahnya Novita berkomunikasi dengan anak kecil tak hanya dilatarbelakangi pendidikan psikologi saat kuliah di Sydney, Australia. Sejak usia SMP, dia suka mengumpulkan sepupu dan keponakan yang masih kecil.

“Saya mandikan mereka, memotong kukunya, menyisir rambut, sampai membacakan cerita sebelum tidur. Karena senang kumpul dengan anak-anak, cita-cita saya sejak kecil juga konsisten, yaitu jadi psikolog anak,” tutur Novita.

Perlakuan Novita pada saudara-saudara kecilnya itu tak tumbuh dengan sendirinya. Dia mendapat perlakuan yang sama dari orangtua, terutama ayahnya, Effendy Tandry.

Novita bercerita, ayahnya selalu menyempatkan diri membacakan dongeng sebelum dia dan kedua adiknya tidur. “Pokoknya papa is the best,” kata Novita.

Saat bercerita mengenai sosok ayah yang tinggal di Kendari, Sulawesi Tenggara, mata Novita berkaca-kaca. Obrolan yang tadinya mengalir sempat terhenti beberapa saat.

Hal yang sama juga terjadi ketika dia menceritakan anak pertamanya, Joel Joshua Jovianus (19), yang baru dilepas untuk kuliah di Australian Institute of Music, Sydney. Seperti Novita dengan orangtuanya, Joshua juga sangat dekat dengan sang ibu.

Meski laki-laki, Joshua tak sungkan bercerita tentang berbagai hal kepada Novita, termasuk soal pacar. Kedekatan ini terjadi karena Novita mengasuh kedua anaknya tanpa campur tangan pengasuh. Semua dilakukan sendiri.

“Usia 0-5 tahun adalah usia terpenting manusia karena 70 persen karakter seseorang dibentuk pada usia tersebut dan saya tidak mau kehilangan momen itu,” jelas Novita.

Prinsip itu pula yang diterapkan Novita melalui Tumble Tots kepada para orangtua. Apalagi di kota besar tempat Tumble Tots berada, banyak orangtua yang menyerahkan anak mereka untuk diasuh babysitter karena sibuk bekerja.

“Mereka beralasan masih bisa mengasuh anak pada akhir pekan. Tetapi, mereka lupa kalau anak tumbuh bukan hanya Sabtu dan Minggu, tetapi setiap hari, bahkan setiap menit,” kata Novita, yang prihatin dengan pola asuh orangtua dan pendidikan usia dini di Indonesia.

Gigih

Novita kemudian tergerak membuka Leaps and Bounds di kota-kota kecil, seperti Kupang, Gorontalo, Banjarmasin, dan Padang. Sistem pendidikannya seperti Tumble Tots dengan beberapa penyesuaian, seperti bahasa pengantar yang tidak sepenuhnya bahasa Inggris.

Lembaga ini didirikan sejak tahun lalu karena kecemasan Novita melihat pendidikan usia dini yang masih diabaikan pemerintah. Padahal, dengan membuka Leaps and Bounds, Novita sebenarnya telah mengambil risiko karena dalam perjanjian dengan Tumble Tots, dia tidak diperbolehkan membuka lembaga sejenis.

“Saya akhirnya memaksa. Saya jelaskan, untuk kondisi di Indonesia, lembaga seperti Tumble Tots tidak bisa bersifat eksklusif seperti di negara lain. Kalau tidak memaksa seperti itu, mimpi saya agar semua orangtua tahu pola asuh yang benar tidak akan terwujud. Dan kalau tidak terwujud, saya tidak akan bisa tidur,” cerita Novita.

Perempuan penggemar musik klasik ini memang terbilang sosok yang teguh saat memiliki ambisi. Dia akan menempuh berbagai cara untuk mewujudkannya, termasuk saat membeli lisensi waralaba Tumble Tots.

Ceritanya, sekitar 18 tahun lalu, Novita tertarik dengan sistem pendidikan Tumble Tots ketika memasukkan Joshua di lembaga tersebut di Singapura. Dia mendatangi Angeline Yeo, pimpinan Tumble Tots wilayah Asia Pasifik, untuk membeli lisensi, tetapi ditolak.

“Mungkin karena dia melihat saya anak ingusan. Apalagi usia saya waktu itu masih sekitar 21 tahun dan dia lebih tua dari ibu saya,” ujar Novita.

Ditolak sekali, Novita tak berhenti. Bersama Joshua yang usianya belum sampai setahun, dia mengikuti Yeo ke mana pun pergi, termasuk ketika harus terbang ke Malaysia, Thailand, dan Inggris. Petualangan demi mendapat kepercayaan ini dilakukan sekitar sebulan. “Saya seperti mau camping. Dianggap gila oleh orang lain, termasuk suami sendiri ha-ha-ha,” katanya.

Melihat kegigihan ini, hati Yeo luruh. Novita diberi izin membuka Tumble Tots meski izinnya hanya untuk membuka satu cabang, bukan memegang lisensi untuk wilayah Indonesia.

Perjuangan memperkenalkan Tumble Tots di Jakarta dilakukan sendiri, mulai dari mengajar, membersihkan karpet di ruangan, sampai membagikan brosur di lampu merah. Bukan apa-apa, selain sulit mencari staf, hal ini dilakukan untuk menekan biaya pengeluaran.

Apa yang dilakukan Novita membuahkan hasil. Hanya dalam waktu 2 tahun, lima cabang didirikan. Dan saat ini, sudah ada 48 cabang Tumble Tots di lebih dari 10 kota. Anak didiknya mencapai 1 juta orang, termasuk anak menteri dan cucu Presiden.

Punya Daya Jual

Selain bisa membentuk karakter anak, Novita punya pandangan sendiri tentang pola asuh anak, terutama bagi seorang perempuan. Baginya, mengetahui pola asuh anak bisa menjadi “daya jual” seorang perempuan lajang untuk memikat laki-laki.

“Berpikir tentang pola asuh anak jangan setelah menikah, apalagi setelah punya anak, tetapi harus sejak sebelum menikah. Saya juga dulu begitu sama calon suami. Saya bilang, saya tahu caranya ngurus anak dengan baik. Jadi, dia bisa irit, tidak perlu mengeluarkan biaya untuk pengasuh, ha-ha-ha,” kata Novita setengah bercanda.

Selain tahu cara mengasuh anak, Novita juga punya “daya jual” lain, yaitu hobi memasak. Setiap harinya, dia memasak sendiri makanan untuk sarapan, untuk bekal anak ke sekolah, dan memasak untuk makan siang sang suami.

“Saya masak makan siang di kantor. Setiap siang, suami datang ke kantor saya untuk makan,” kata Novita yang memasak sendiri agar keluarganya bisa selalu mengonsumsi makanan sehat.

Di balik kesibukan sebagai seorang perempuan pekerja, istri, dan ibu, Novita selalu menyisihkan waktu untuk menjalani hobinya menulis dan olahraga angkat beban.

Dari hobinya menulis, perempuan yang gemar membaca buku teologi ini sudah menghasilkan buku berjudul Bad Behaviour, Tantrums, and Tempers, yang membahas pola asuh yang benar saat membesarkan anak.

Sementara, untuk olahraga angkat beban yang sudah dilakukan sejak SMA, dilakukan Novita sebanyak 3-4 kali seminggu bersama suami. Saat akhir pekan, tak jarang Novita mengajak buah hatinya.

Karena rutin, saat ini Novita sudah bisa mengangkat beban hingga 140 kilogram untuk latihan kaki, 50 kilogram untuk otot dada, bahu, dan punggung. Sit-up, push-up, dan pull-up juga sudah menjadi makanan sehari-hari. Maka, tak heran kalau di balik kelembutan saat berinteraksi dengan anak-anak, Novita adalah perempuan berotot.

“Kan dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat,” ujarnya. (IYA) e-ti

Sumber: Kompas, Minggu, 6 Februari 2011 | Penulis: Yulia Sapthiani

Data Singkat
Novita Tandry, Managing Director Tumble Tots Indonesia / Mimpi Novita Tandry | Wiki-tokoh | Pendidikan, cantik, psikolog, Tumble Tots Indonesia

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here