Popularitas Masakan Indonesia

[ Nila Sari ]
 
0
157
Nila Sari
Nila Sari | Tokoh.ID

[WIKI-TOKOH] Dua kali Nila Sari mendapat penghargaan dari Guinness Book of Record untuk kue buatannya. Dia berharap bisa mendapatkan lagi untuk ketiga kalinya lewat kue Pohon Natal setinggi 33 meter. Penghargaan itu baginya penting agar masakan Indonesia dikenal dunia.

Selain berusaha mendapat penghargaan rekor dunia ini, Nila Sari, nenek tujuh orang cucu itu, juga tetap memberikan kursus memasak dan membuat kue. Dia berharap, dengan semakin banyak orang yang mengenal dan mencoba masakan Indonesia, makanan dari Tanah Air ini pun bakal bisa bersaing dengan makanan dari negara lain.

Sementara di dalam negeri, ia berharap masyarakat tetap menggemari dan mau mengembangkan berbagai masakan asli Indonesia. Apalagi di tengah serbuan masakan dari banyak negara, mulai dari AS, Jepang, sampai Korea, jika tak “dijaga” dan dikembangkan, masakan asli negeri ini bisa semakin tenggelam.

“Mungkin bukan saya yang bisa membuat masakan Indonesia terkenal, tetapi setidaknya dengan apa yang saya lakukan, bisa membantu membuat Indonesia dikenal lebih banyak orang,” kata Nila di sela-sela pameran kue Pohon Natal buatannya di Senayan City, Jakarta, awal Desember 2008.

Kue itulah yang dia ajukan kepada Guinness Book of Record di London, Inggris, sebagai kue tertinggi di dunia. Sebab, rekor yang pernah dicatat di buku itu 32 meter. Nila sebelumnya tercatat sebagai perempuan Indonesia pertama yang namanya masuk Guinness Book of Record di bidang boga pada 1987. Ketika itu ia membuat kue Pohon Terang setinggi 12,6 meter di Balai Sidang Senayan, Jakarta. Tahun 1989 Nila mencatatkan rekor lagi dengan membuat kue Tugu Pahlawan setinggi 23,68 meter di Surabaya.

“Tadinya saya tidak terpikir bisa membuat rekor dunia. Saya hanya ingin memamerkan kue buatan murid-murid saya, lalu kue itu sebagai kue utamanya. Tetapi, ketika diajukan ke Guinness Book of Record, mereka mengakuinya,” kata Nila yang senang memasak sejak kanak-kanak.

Tentang kue Pohon Natal terbarunya itu, Nila menghabiskan 600 kilogram tepung beras, 300 kg tepung ketan, 1.750 kg gula halus, 1.620 kg gula pasir, 1.620 kg mentega, 162 kg susu bubuk, 243 kg cokelat bubuk, dan 3.240 kg telur.

“Kebutuhan bahan bakunya memang banyak, tetapi sebenarnya saya tak mengeluarkan banyak uang karena ketersediaan bahan-bahannya itu bantuan dari Rose Brand dan peralatan memasak Hakasima Korea,” cerita Nila yang juga ikon merek tepung Rose Brand selama 25 tahun terakhir.

Bagi sebagian warga Jakarta, nama Nila Sari tak asing. Selain menjadi nama toko kue, orang mengenalnya lewat berbagai kursus memasak yang secara periodik diadakannya.

“Sebenarnya saya lebih senang menjadi guru memasak daripada menjual kue. Inilah yang membuat saya tidak terlalu berambisi membuka banyak toko,” katanya, meski Nila mengakui kepopuleran namanya membuat penjualan produk kuenya, terutama jajan pasar, meningkat.

Menjadi guru memasak, katanya, lebih memuaskan hati. Sebab, semakin banyak orang yang mau belajar masakan Indonesia, berarti akan makin kecil kemungkinan lenyapnya masakan Indonesia.

Rata-rata dalam sehari Nila membuka kursus memasak dalam tiga kelompok. Alasannya agar lebih fleksibel dengan waktu para muridnya. Materi kursusnya pun beragam, mulai dari “sekadar” belajar memasak empat macam kue, khusus memasak kue pengantin atau ulang tahun, sampai berbagai masakan sebagai bekal membuka usaha katering. Biaya kursusnya bervariasi, mulai Rp 175.000 sampai Rp 3,5 juta.

Dilarang orangtua

Menjadi pengusaha makanan dan guru memasak, bagi Nila, bukan karena pengaruh keluarga. Bahkan, dari delapan bersaudara, hanya dialah yang terjun di bidang usaha kue.

“Biar tidak ada keturunan koki, tetapi saya sudah membuat kue sejak berumur enam tahun. Saya mulai mengajari teman-teman sekolah dan tetangga memasak waktu masih 12 tahun,” tutur Nila yang mengaku tak bisa menghitung berapa banyak resep masakan yang sudah dibuatnya sampai sekarang.

Ketika sang ayah, Tjong If Fam, mengetahui hal itu, ia marah besar. Ayahnya tak setuju anak perempuannya ini lebih rajin membuat kue daripada belajar di sekolah. “Kursus” membuat kue itu pun bubar.

“Di mata orangtua, saya hanya membuang uang dan membuat kotor rumah. Begitu marahnya, saya sampai dipukul dengan kemoceng,” kata Nila tentang masa kecilnya. Saat itu, dia memilih tak jajan dan memakai uang sakunya untuk membeli bahan baku kue.

Terkadang ia memang mengambil persediaan telur, gula, mentega, dan tepung yang ada di rumah. Nila mengaku takut dimarahi sang ayah, tetapi dia tak sanggup menahan keinginan untuk mencoba memasak, terutama kue-kue.

Situasi politik tahun 1965 mengakibatkan semua sekolah China ditutup. Nila yang waktu itu berusia 15 tahun dan duduk di kelas II SMP harus berhenti sekolah. Namun, di sisi lain, terbuka kesempatan baginya untuk mengembangkan kesenangannya memasak. Sang ayah bahkan juga mendukung dia untuk mencoba membuat berbagai kue.

“Saya belajar membuat berbagai kue tradisional itu dengan bertanya resepnya kepada tetangga, teman-teman orangtua, sampai tukang kue keliling,” kata Nila yang membuka toko pertamanya di bilangan Jembatan Lima, Jakarta, tahun 1971.

Namun, usahanya tak selalu berjalan mulus. Ketika kerusuhan Mei 1998 terjadi, rumahnya di kawasan Jembatan Lima, Jakarta Barat, ikut terjarah. Semua peralatan masak, persediaan bahan baku kue, kumpulan resep, hingga dokumentasi tentang kegiatannya di dunia memasak pun lenyap dijarah orang.

“Kami sampai mengungsi di rumah ketua RT semalaman. Tetapi saya tidak sampai stres. Semua yang mereka jarah itu hanya harta benda. Semua resep utama kue-kue itu tetap ada di kepala saya,” katanya.

Maka, setelah kerusuhan, Nila pun memulai lagi usaha kue dan kursusnya dengan satu oven dan mikser. “Sekitar seminggu setelah peristiwa itu, saya sudah membuka kursus memasak lagi,” kata Nila yang Januari 2009 akan membuka sekolah masak Hakasima Nilasari Culinary di Jakarta Selatan.

Sebagai pengajar sekaligus pemilik usaha kue, mau tak mau ia harus mengetahui perubahan selera pasar, agar tak tergerus oleh pesaing dari berbagai negara.

“Saya melihat, sebagian masyarakat kita sudah begitu memerhatikan kesehatan. Jadi, mereka lebih senang kue yang tidak berlemak, tetapi di sisi lain mereka amat memerhatikan kemasan,” katanya. e-ti

Sumber: Kompas, Sabtu, 13 Desember 2008 “Nila Sari dan Popularitas Masakan Indonesia” | M Clara Wresti

Data Singkat
Nila Sari, Pengusaha kuliner / Popularitas Masakan Indonesia | Wiki-tokoh | Pengusaha, kuliner, kue, Guinnes Book of Record

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here