Misteri Isolasi Indah Batak

RAHASIA AGUNG SEJARAH BATAK

 
0
41
Peta isolasi indah Tanah Batak: Sampai tahun1880, Danau Toba belum ada dalam peta Sumatra.

Sejak zaman Firaun (Mesir kuno), Tanah Batak di Sumatera, telah mempunyai daya tarik penting dengan produk eksklusifnya, kapur barus dan kemenyan, yang bernilai dan berharga sangat tinggi, setara emas; Tapi sumber produknya tak pernah bisa dimasuki oleh siapa pun, jangan­kan orang asing, tetangga pun tidak: Mereka hanya bebas berdagang bahkan membuka Huta (kampung atau kerajaan kampung) di pesisir dan sekitar pinggiran centrum Tanah Batak Raya. Suatu isolasi indah Batak dipimpin Raja Malim sebagai Raja Jungjungan na marsahala harajaon (yang berwibawa kerajaan) kesukubangsaan Batak.

Oleh Ch. Robin Simanullang (The Batak Institute)

 

Selama sekitar 3000 tahun (1250 sM – 1820 M)[1], Suku Bangsa Batak di daerah pusuk-pusuk buhit (puncak-puncak bukit) atau bukit barisan sekeliling Tapian na Uli (Tao Toba na Uli), Sumatera Bagian Utara, hidup dalam hahomion na uli (isolasi nan indah – splendid isolation ala Batak). Tidak seorang pun non-Batak, baik tetangga Aceh, Indragiri-Melayu dan Minangkabau, apalagi orang asing Eropa, Amerika dan sebagainya, yang pernah masuk ke Centrum Tanah Batak (Centrum der Battalander) itu; namentlich auf Tobah (wo seit den ältesten Zeiten das System der Ausschließung vorherrschend war und allen Fremden den Zutritt versagte)[2] – terutama di Toba (di mana sistem eksklusi telah berlaku sejak zaman kuno dan menolak akses ke semua orang asing). Bukti otentiknya, sampai tahun 1820 (tetangga) dan 1853 (Eropa), tidak tahu keberadaan Danau Toba. Keberadaan Danau Toba itu masih dianggap mitos atau ilusi optik belaka.[3]

Namun dalam isolasi indah itu, orang Batak tidak sepenuh­nya tertutup, ada batas wilayah yang ditetapkan sebagai zona bebas, sebagai kawasan perdagangan bebas internasional, seperti Lobu Tua, Barus dan Sibolga, dan pesisir pantai Barat lainnya di pesisir Tanah Batak Selatan (pesisir Angkola dan Mandaheling), sebagaimana disebut Junghuhn, di mana campuran antara suku yang berbeda terjadi secara istimewa berbeda dengan pusat Tanah Batak yaitu Toba di mana sejak zaman kuno telah memberlakukan sistem isolasi dan menolak akses ke semua orang asing;[4] Juga sepanjang pesisir pantai Timur, Nakur, Aru dan Tamiang, pesisir Timur Tanah Batak Raya, terbuka sebagai zona dan pelabuhan perdagangan bebas: Hahomion na Uli, Isolasi nan indah, atau Splendid Isolation ala Batak!

Mengapa kita sebut Hahomion na Uli, Isolasi nan indah, atau Splendid Isolation ala Batak? Secara etimologi, kata hahomion, berasal dari kata homi dengan awalan ha (ke) dan akhiran on (an). Homi artinya bersifat rahasia, tersembunyi, misterius, juga bersifat religius, gaib, agung dan kudus; kerahasiaan, kemisteriusan, keagungan dan kekudusan; Hahomion ni Debata artinya kerahasiaan, kemisteriusan, keagungan dan kekudusan Tuhan (rahasia kemuliaan Allah). Na artinya yang, nan; dan Uli artinya indah, cantik, beautiful. Na Uli artinya nan indah, cantik, beautiful. Hahomion na Uli artinya kerahasiaan, ke­tersembunyian, kemisteriusan, keagungan dan kekudusan yang indah dan sakral.

Selain indah juga mengandung misteri religius dan kekudusan (hahomion) yang paradoksal. Dalam kemerdekaan dan kedaulatan isolasi indah (hahomion na uli) itu, orang Batak secara nyata (sempurna) memperagakan misteri kehidupan manusia (Batak) sebagai makhluk paradoksal, sebagaimana sifat manusia umumnya yang ditelaah oleh Prof. Dr. Louis Leahy SJ (L‘homme, ce mystere…, 1981).[5] Serpulus T. Simamora (2002), dosen Kitab Suci pada Fakultas Filsafat Unika St. Thomas Sumatera Utara menjelaskan misteri paradoksal manusia umumnya dan manusia Batak khususnya. Siapakah manusia itu? “Realitas manusia itu sedemikian kaya, sehing­ga tidak satu definisi pun sanggup membahasakannya secara tuntas dan habis. Karena itulah seorang pakar filsafat menyebut bahwa manusia itu sebuah rahasia besar dan suci. Dia adalah misteri.”[6]

Simamora mengatakan ungkapan kemisterian itu, dalam kosa kata filosofis, adalah bahwa manusia disebut sebagai makhluk yang paradoksal. Paradoks berarti bahwa sesuatu tampaknya bertentangan, tetapi tidak berkontradiksi. Maka bila dikatakan bahwa manusia adalah makhluk yang paradoksal, itu berarti bahwa kebenaran atas jawaban dari pertanyaan siapakah manusia, terletak pada dua hal yang tampaknya bertentangan, tetapi tidak berkontradiksi. Simamora mengutip Adelbert Snijders, dalam Manusia, Sebuah Rahasia Besar dan Suci (Anthropologi Filsafat), bahwa manusia adalah makhluk yang ‘otonom’ dan ‘tergantung’; ‘sosial’ dan ‘individual’; ‘faktisitas’ dan ‘possibilitas’; ‘fana’ sekaligus ‘baka’; ‘bebas’ tetapi serentak juga ‘terikat’; ‘mengubah dunia’ tetapi juga ‘diubah dunia’; ‘yang mengukur’ tetapi serentak juga ‘yang diukur’.[7]

Manusia membentuk dunia lewat kebudayaan, tetapi serentak dengan itu dunia, lewat kebudayaan itu, juga membentuk manusia. Orang Batak lah yang menciptakan budaya Batak, tetapi budaya Batak jugalah membentuk manusia Batak. Manusialah yang memberi harga atau nilai kepada air atau emas, tetapi air dan emas juga memberi nilai kepada manusia. Manusia mengukur, tetapi sekaligus diukur (mensurans – mensuratus). Paradoks itu hakekat manusia. Itu bukan sampingan. Demikianlah keadaan kita! Tak seorang pun di dunia ini yang bebas secara absolut. Dia bebas, tetapi sekaligus terikat.[8]

Demikianlah jua misteri orang Batak yang paradoksal. Orang Batak mengisolasi centrum Tanah Batak (hinterland Danau Toba) yang lebih dikenal dengan sebutan Tapanuli (Tapian na Uli, Tao Toba) tapi di sisi pesisir pinggiran pantai Timur dan Barat serta perbatasan Utara dan Selatan membuka zona bebas; Juga sa­ngat (harus, wajib) terbuka (transparan) kepada tamu, terutama kepada tamu asing yang datang dari jauh dengan bermaksud dan beretikat baik. Tertutup tapi wajib terbuka! Hahomion na Uli, misteri Isolasi Indah yang paradoksal! Berpadanan dengan istilah splendid isolation (Bahasa Inggris); Walaupun Hahomion na Uli mengandung makna lebih dalam, bersifat rahasia, religius, sakral, agung dan kudus.

Advertisement

Filosofi Ruma Batak (rumah adat tradisional Batak) sangat indah untuk menggambarkan Hahomion na Uli (isolasi indah – splendid isolation) pusat Tanah Batak yang dihuni orang Batak asli (tulen) ini. Ruma Batak itu sangat indah, anggun dan kokoh.  Diukir Gorga tiga warna (hitam, putih dan merah) melambangkan kepercayaan kepada Debata Mulajadi Nabolon na Sada si Tolu Suhu (Allah Tinggi Sang Khalik Mahabesar yang Esa dalam Tiga Unsur) yakni Debata Batara Guru (hitam, agung, homi); Debata Soripada (putih, bersih, tulus, terbuka, Asiasi, kasih anugerah); Debata Mangala Bulan (merah, berani, kuat, indah, penopang); Juga representasi dari sistem sosial Dalihan Na Tolu (Hulahula – hitam, Sabutuha – putih, Boru – merah); Serta representasi makrokosmos dalam tiga atmosfir mikrokosmos: Banua Ginjang (hitam), Banua Tonga (putih) dan Banua Toru (merah).

Ruma Batak itu berdiri anggun dengan tiang-tiang panggung yang kokoh, dinding kayu tebal dan panjang serta ukiran ‘si­nga’ di depan; Atapnya melengkung seperti tunggangan kuda dan ujung depan ada ukiran kepala kerbau. Di pandang dari luar, Ruma Batak itu sangat tertutup. Di bagian depan ada tangga, 7 atau 9 tingkat (ganjil) tapi pintunya tidak kelihatan, jendelanya pun sangat kecil (di samping). Orang asing pasti melihat rumah ini sangat tertutup, bahkan tidak tahu di mana pintunya, karena pintunya rata dengan lantai; Sehingga orang asing mengistilahkannya pintu perangkap (sebutan yang tidak memahami maknanya).

Setiap orang yang ingin masuk ke Ruma Batak, harus menaiki tangga, lalu kedua tangan diangkat untuk mendorong (membuka) pintu ke atas, lalu kepala tampak dan mengucapkan salam Horas, kemudian pijakan kaki mencapai lantai. Sesudah sampai di dalam rumah, ternyata rumah itu sangat terbuka, transparan, tanpa sekat partisi, plong semua terbuka. Tapi di dalam keterbukaan (tanpa bilik) itu ada norma, aturan adat,  tatakrama moral, dimana seseorang pantasnya bisa duduk. Tidak sembarangan, ada norma moral dan adat standar tinggi, yang diistilahkan dengan Jabu na marampang na marjual.

Cukup indah mengggambarkan Hahomion na Uli (isolasi indah) pusat Tanah Batak; Juga menggambarkan misteri manusia Batak, karakter dan moral orang Batak asli. Kelihatan tertutup, tetapi jika masuk dengan sopan, mengangkat tangan, menampakkan kepala dan mengucapkan salam Horas (bermaksud baik), semuanya terbuka, transparan; Atau istilah Batak: Tedek songon indahan di balanga (Terbuka seperti nasi di belanga), terbuka, tangan terbuka. Tapi ada norma dan aturan adat standar moral tinggi yang harus dipatuhi. Harus maradat, berperangai Anak ni Raja dan Boru ni Raja.

Demikianlah tamu asing yang datang (masuk) ke pusat Tanah Batak, jika dengan sopan-santun dan bermaksud baik, wajib disambut dengan tangan terbuka, dan harus dijamu dengan sebaik-baiknya. Sehingga di setiap Huta juga disediakan Ruma Sopo, bertingkat dua. Di atas kolong ada ruang terbuka, tempat menerima tamu dan semacam aula pertemuan; Di tingkat dua, tertutup sebagai tempat penyimpanan padi dan tempat tidur tamu dan para pemuda. Siapa pun orang (tamu) asing yang tidak bermaksud jahat bisa beristirahat di Sopo itu tanpa gangguan, bahkan wajib dijamu oleh tuan rumah.

Itulah yang dialami oleh beberapa orang asing yang datang ke Tanah Batak (Toba, Angkola-Mandailing, Simalungun, Karo dan Pakpak Dairi). Antara lain, pada 21 Juni 1772 sampai 22 Juli 1772,  ketika Giles Hollopway, pejabat perusahaan East India Company (Inggris), yang telah membuka pos perdagangan di Pulo Punchong Teluk Tapanuli, sekitar Sibolga, didam­pingi seorang ahli botani bernama Charles Miller berusaha mencari sumber rempah-rempah, di antaranya kayu manis ke sumbernya ke pedalaman Tanah Batak, yang catatan perjalanan mere­ka dikisahkan oleh William Marsden dalam buku­nya The History of Sumatra, Edisi-1-2 terbit 1783-1784 dan Edisi-3 terbit 1811. Mereka di setiap kampung disambut dan dijamu Raja Huta dengan memotong kerbau, makan bersama dengan penduduk. Walaupun mereka tidak menemukan kayu manis yang diharapkannya, karena sengaja disesatkan pemandunya, namun punya pengalaman tentang cara hidup orang Batak pada saat itu.[9]

Juga yang dialami Richard Burton dan Nathanael Ward, misi­onaris Inggris (Baptist Missionary Society) tahun 1824, mereka berada di Silindung selama enam hari, mendapat sambutan dan jamuan dari raja-raja dan penduduk. Sesuai pengakuan Ward, pesta penyambutan ini berlangsung dari jam sembilan pagi sampai jam tiga sore, dihadiri ribuan orang.[10]

Dan, menjadi aneh serta misterius, kenapa Samuel Munson dan Henry Lyman, misionaris muda yang diutus Gereja Zending Boston yang tergabung dalam American Board of Commissioners for Foreign Missions (ABCFM) – Dewan Komisioner Amerika untuk Misi Asing, ke Tanah Batak pada Juni 1834, dibunuh dan diisukan dimakan orang Batak? Itu penyimpangan serius terhadap norma-norma moral dan adat harajaon (kerajaan) Batak, yang mewajibkan setiap tamu yang bermaksud baik mesti disambut dan dijamu dengan terhormat. Ternyata hal itu, rekayasa intelijen dan otoritas kolonialis Belanda, yang tidak menginginkan misionaris Amerika datang ke Hindia karena takut kejahatan penjajahannya terkuak.[11]

Karena, sebelum dan sesudah Munson dan Lyman, orang Batak selalu menyambut tamu asing yang tidak berniat menjajah. Sesudah Munson dan Lyman, Junghuhn melakukan penelitian hampir dua tahun (1841-1842) di Tanah Batak tanpa gangguan. Demikian pula HN van der Tuuk disambut dan dijamu di kampung-kampung sepanjang jalan dari Barus menuju Bangkara, dimana dia disambut dan dijamu Raja Si Singamangaraja XI, pada Februari – Maret 1853. Disusul para misionaris, Gerrit van Asselt, Nommensen, Pillgram, Johannes Warneck, Herling dan lain-lain yang mendapat sambutan dan jamuan di kampung-kampung yang mereka kunjungi.[12]

Menerima, menyambut dan menjamu setiap tamu yang datang dari jauh (kampung lain) adalah kewajiban moral dan adat bagi orang Batak. Untuk menjamu tamunya, orang Batak dibenarkan mengambil ternak tetangga, sepengetahuan atau tanpa sepengetahuan pemiliknya, yang diistilahkan dengan Tangko Raja (curi raja); Raja bukan dalam arti penguasa, tapi berperangai raja, taat norma dan adat. Banyak turiturian (ceri­ta rakyat) yang mengandung pesan moral tentang bagaimana mestinya orang Batak menghormati tamunya. Salah satu ditulis oleh misionaris Johannes Warneck ketika membuka pos misi di Nainggolan Samosir.[13]

Itulah gambaran Hahomion na Uli untuk menjelaskan isolasi indah centrum Tanah Batak kepada pihak asing (non Batak) tersebut. Berpadanan, walaupun lebih bermakna dari istilah splendid isolation (Bahasa Inggris). Istilah splendid isolation tersebut muncul ketika Perdana Menteri Inggris Palmerston pada Februari 1896 mengeluarkan kebijakan luar negeri mengisolasi diri secara diplomatik (1860-1905), yang ditandai keengganan masuk ke dalam aliansi permanen atau komitmen dengan kekuatan besar lainnya; Alasannya: ‘tidak ada sekutu abadi’. Bermakna tidak ada negara lain yang berutang budi padanya dan sebaliknya. Kebijakan Inggris Februari 1896 tersebut dideskripsi Perdana Menteri Kanada Sir Wilfrid Laurier sebagai ‘slendid’ isolation (isolasi indah), yang timbul, ‘dari superioritasnya’.[14]

Kebijakan splendid isolation Inggris tersebut berpadanan dengan kebijakan para leluhur Batak tetang hahomion na uli centrum Tanah Batak selama berabad-abad, tentu sesuai de­ngan kondisinya masing-masing. Selama isolasi indah tersebut, leluhur Batak dari generasi ke generasi mengisolasi dan memproteksi kepercayaan dan adat budayanya di wilayah pusat Tanah Batak (lanskap sekeliling Tapian na Uli – Danau Toba, danau agung orang Batak), tidak bisa dimasuki oleh orang lain atau pihak asing yang bermaksud jahat.

Bukti otentik hahomion na uli (splendid isolation) orang Batak, itu adalah bahwa sampai awal tahun 1853 orang asing sama sekali belum pernah melihat Danau Toba, bahkan Franz Wilhelm Junghuhn, ahli geologi dan botani, yang secara khusus ditugaskan Belanda meneliti Tanah Batak, dalam buku hasil penelitiannya Die Battaländer auf Sumatra (Berlin 1847), masih menyebut keberadaan Danau Toba itu hanya ilusi optik, fatamorgana atau mitos.[15] Juga dalam peta Sumatra yang dibuat berbagai ahli sampai tahun 1870-an, belum ada yang mencantumkan keberadaan Danau Toba: Danau Toba tidak ada! Dianggap hanya ilusi optik, mitos dan fatamorgana. Inggris yang sempat membuat pos perdagangan di Barus (1550), kemudian disusul Belanda yang sudah menetap di Baros sejak (1638), dan telah mengetahui keberadaan Raja Batak di Danau Toba dan dianggap Bartuwah (diberkahi secara luas dengan kekuatan gaib),[16] tidak pernah menjangkau Danau Toba, selama lebih 200 tahun, sampai Van der Tuuk diterima Si Singamangaraja XI di Bangkara Maret 1853.

Charles August Paul Dachsel (1899), seorang mantan tentara kolonial Belanda menulis tentang isolasi Tanah Batak: “Mereka mematikan kontak langsung dengan dunia luar dengan posisi geografis mereka di tengah-tengah dataran tinggi yang dike­lilingi gunung, institusi mereka, yang menganggap setiap orang asing sebagai musuh dan penjahat, telah melakukan isolasi mereka dengan komplit.”[17]

Bagaimana hal itu bisa terjadi? Padahal sebelum abad 5 sM (Herodotus) dan abad kedua masehi (Ptolemaeus, 160 M), bahkan sebelumnya, Sumatra sudah dikunjungi ba­nyak orang, di antaranya pelabuhan perdagangan bebas Barus untuk (bersaing) mendapatkan benzoin (kemenyan) dan anfora (Baros Camphor, kapur barus), produk penting dunia yang bernilai ekonomi tinggi zaman itu yang khas Batak. Friedrich Anton Wilhelm Miquel (1862) dalam bukunya Sumatra, Zijne Plantenwereld en Hare Voortbrengselen (Sumatra, Dunia Tumbuhan dan Produk-Produknya), menyebut kapur barus (Baros-kamfer atau Baros Camphor) dan kemenyan (Kemajan atau Kaminjan atau Benzoin) merupakan produk-produk eksklusif Batak yang terkenal dan bernilai ekonomi tinggi, telah memberikan ketenaran pulau Sumatra sejak zaman kuno, dan kamper Baros yang berkualitas luar biasa, menempati urutan pertama.[18]

Dr. Johannes Kowal, dalam disertasinya Berichte über Sumatra bis zum beginn des 16. Jahrhunderts (1922) menyebut daerah di sekitar pelabuhan Baros di pantai barat, bekas Fan­sur yang terutama untuk perdagangan, memiliki kepentingan tertentu untuk perdagangan kapur barus dan benzoin yang sangat penting; daerah ini mungkin tidak dianggap sebagai pusat pemukiman.[19] Barus bukan kota pusat pemukiman Batak, tapi pusat perdagangan bebas Batak.

Kapur Barus dan kemenyan itu digunakan untuk bahan balsem dan parfum. George William Askinson, Dr. Chem.(1892), dalam Perfumes and their Preparation; Chapter I: The History of Perfumery, menyebut, penggunaan resin aromatik ini sangat luas sejak zaman Mesir kuno yang mengonsumsi jumlah banyak untuk membalsem mayat mereka. Askinson juga menyebut betapa tingginya penggunaan resin aromatik (parfum) berharga ini pada orang-orang Timur pada umumnya dapat dipelajari dari Alkitab: orang-orang Yahudi (seperti orang Katolik sampai sekarang) menggunakan resin getah aromatik (olibanum, kemenyan) dalam upacara keagamaan mereka; dalam Song of Solomon disebutkan terbuat dari parfum Hindia, misalnya, kayu manis, spikenard, myrrh, dan gaharu.[20]

Kemenyaan itu digunakan bangsa-bangsa di berbagai belahan dunia sebagai bagian terpenting untuk bahan penyembahan (dupa). Termasuk penyembahan istimewa dan kudus kepada Yahwe oleh orang Yahudi yang disajikan pada altar ukupan (Keluaran 30:34-38) sekitar tahun 1300-900 sM, dan kemenyan tulen dibubuhkan di atas roti sajian di Kemah Suci (Imamat 24:7); Pada tahun 1 M, kemenyan juga dipersembahkan orang majus dari Timur kepada bayi Yesus (Matius 2:11) yang ditafsirkan sebagai lambang keimaman-Nya.[21] Bahkan kelak (akhir zaman) akan dibakar sebagai bagian dupa doa orang-orang kudus (Wahyu 5:8). Namun, para penulis Alkitab, tampaknya tidak eksplisit mencantumkan bahwa kemenyan (benzoin) itu produk khas dan didatangkan dari Tanah Batak, tetapi menyebutnya dibawa orang-orang dari Syeba (Yesaya 6:6) atau dari tanah Arab. Alkitab mencatat bahwa kemenyan menjadi sumber kekayaan para pedagang yang menempuh perdagangan kuno dari Arabia Selatan ke Gaza dan Damsyik (Yesaya 60:6). Kemenyan itu disebut sebagai bahan dupa yang mahal harganya, terbuat dari getah pohon berwarna kuning, rasanya pahit tapi bila dibakar, baunya harum. Harga kemenyan itu setara dengan emas, selalu disandingkan dengan emas dan kapur barus.

Catatan Alkitab tersebut menunjukkan bahwa kemenyan, kapur barus, dan kayu manis merupakan produk penting dan mahal yang telah diperdagangkan oleh pedagang Arab pada tahun 1300-900 sM, yang juga berarti pedagang Arab atau pedagang perantara lainnya (Mesir, Persia atau China) telah menjangkau Barus.

 

Cuplikan Buku Hita Batak A Cultural Strategy Jilid 2 Bab Tujuh. Informasi lebih lanjut kunjungi: https://tokoh.id/buku-hita-batak/

 

Footnote:

[1]   The Hilltop Theory, Bab 3.3.

[2]   Junghuhn, Franz Wilhelm, 1847 (Band 2): Die Battaländer auf Sumatra, Berlin: G. Reimer, s.6.

[3]   Junghuhn, Franz Wilhelm, 1847 (Band 1): Die Battaländer auf Sumatra, Berlin: G. Reimer, s.270.

[4]   Junghuhn, Franz Wilhelm, 1847 (Band 2): s.6.

[5]   Leahy, Louis, SJ, 1984: Manusia, Sebuah Misteri; Sintesa Filosofis tentang Makhluk Paradoksal, Jakarta: Gramedia, h.181-184.

[6]   Simamora, Serpulus T., 2002: Boru ni Raja Hatoban, Tinjauan Filsafat Anthropologis atas Kaum Perempuan di dalam Budaya Batak Toba; LOGOS, Jurnal Filsafat-Teologi, Vol.1 No.1 Juni 2002, h.1.

[7]   Simamora, Serpulus T., 2002: h.2.

[8]   Simamora, Serpulus T., 2002: h.2-3.

[9] Marsden, William, FRS, 1783 (1811): The history of Sumatra, The Third Edition, With Corrections, Additions, and Plates, London: J. M’Creery, 365-373.

[10] Rijkhoek, D., 1934: Munson en Lyman de Bloedgetuigen, De Zaaier Bibliotheek, Magelang: Chr. Pers. Ver. “Midden-Java”, p.31-32.

[11] Rijkhoek, D., 1934: p. 28-45; Selengkapnya baca: Bab 11.1.2: Munson-Lyman Martir Siboan Boni,

[12]  Selengkapnya, baca Bab 11: Akulturasi Kristenisasi.

[13] Warneck, Johannes. (Auteur), H.v.L. (Coauteur), 1930: De stichting van een zendingspost op Sumatra naar D.J. Warneck, Amsterdam: Halfstuivers-Vereeniging der Rijnsche Zending, bl.2-3.

[14]  Splendid Isolation, Oxford Reference: https://www.oxfordreference.com/view/10.1093/oi/authority. 20110803100524374

[15]  Junghuhn, Franz Wilhelm, 1847 (Band 1): s.270.

[16]  Bastian, Adolf, 1886: Sumatra und Nachbarschaft: reise-ergebnisse und studien, Berlin: Ferd. Dümmlers Verlagsbuchhandlung, p.18-19.

[17]  Dachsel, Charles August Paul, 1899: Eight Years Among the Malays, Milwaukee, Wis: J.H. Yewdale & Sons Co, p.78.

[18]  Miquel, Friedrich Anton Wilhelm, 1862: Sumatra, Zijne Plantenwereld en Hare Voortbrengselen, Amsterdam: C.G. van der Post; Utrecht: C. van der Post Jr, p.66-73.

[19]  Kowal, Johannes, 1922: Berichte über Sumatra bis zum beginn des 16. Jahrhunderts, Inaugural-Dissertation, zur Erlangung der philosophischen Doktorwürde der Hohen Philosophischen Fakultät der Schlesischen Friedrich- Wilhelms-Universität zu Breslau. Promotion 26 Juli 1922; Wüstegiersdorf (Głuszyca): M. Jacob, s.2-3.

[20]  Askinson, George William, Dr. Chem., 1892: Perfumes and their Preparation, New York – London: N.W. Henley & Co., E. & F.N. Spon, p.1-2.

[21]  Douglas, J.D., dkk (Ed), 1997: The New Bible Dictionary, Terj: Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, h.543.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here