Bangsa Maritim

 
0
47
Bangsa Maritim
Rokhmin Dahuri | Majalah Tokoh Indonesia 07

[OPINI] – Sudah lama bangsa ini hidup terlena di darat. Orientasi kegiatan dan pembangunan terkonsentrasi di darat. Padahal sejak doeloe bangsa ini tahu bahwa negerinya yang disebut tanah-air justru lebih luas lautan daripada daratan. Dua per tiga wilayah Indonesia berupa laut dengan panjang garis pantai sekitar 81.000 km dan terdiri dari sekitar 17.506 pulau.

Apalagi, sesungguhnya bukti historis juga menunjukkan bahwa sejak kerajaan Sriwijaya (683 M-1030 M) bangsa ini telah menampakkan eksistensinya sebagai bangsa maritim, walaupun masih terbatas pada pemanfaatan laut sebagai sarana penghubung antarpulau maupun antarnegara.

Kesadaran yang tinggi tentang eksistensi dan kedaulatan bangsa maritim mencuat mencapai puncak ketika Perdana Menteri Ir. Djoeanda, mendeklarasikan kepada dunia bahwa laut Indonesia adalah termasuk laut di sekitar, di antara, dan di dalam Kepulauan Indonesia, yang dikenal sebagai “Deklarasi Djoeanda” pada 13 Desember 1957. Deklarasi Indonesia sebagai Archipelagic State ini setelah melalui perjuangan panjang, akhirnya diterima dan ditetapkan di dalam konvensi hukum laut PBB (UNCLOS, 1982).

Namun, anehnya, setelah itu bangsa ini seperti menelantarkan potensinya sebagai negara kepulauan itu. Kekayaan yang terkandung di laut dan sepanjang garis pantai tak termanfaatkan dengan semestinya. Bahkan bangsa asing begitu leluasa menjarah ikan dan kekayan laut dan pulau-pulau kecil Indonesia. Pulau Sipadan dan Ligitan pun terlepas dari pangkuan ibu pertiwi. Sementara nelayan-nelayan kita pun terpinggirkan dan terbelenggu dalam kemiskinan.

Syukur, reformasi membuahkan peningkatan kesadaran bangsa ini atas eksistensi jati dirinya sebagai bangsa maritim. Ditandai dengan lahirnya Departemen Kelautan dan Perikanan dan ditetapkannya Hari Nusantara 13 Desember. Adalah Presiden KH. Abdurrahman Wahid pada tahun 1999 yang pertama kali mencanangkannya dan kemudian, Presiden Megawati Soekarnoputri menetapkannya melalui Surat Keputusan Presiden Nomor 126 Tahun 2001, tertanggal 11 Desember 2001 bahwa tanggal 13 Desember dinyatakan sebagai Hari Nusantara, dan resmi sebagai hari perayaan Nasional.

MAJALAH TOKOH INDONESIA 07 TOKOH UTAMA: Rokhmin Dahuri = TOKOH MAESTRO: Bung Karno, Berdikari = SANG JUARA: Christian Hadinata = TOKOH PILIHAN: Jaya Suprana = SELEBRITI: Arnold Schwarzene-gger dan Mira Lesmana = WAWANCARA: Rokhmin Dahuri = TOKOH DUNIA: Gloria Macapagal-Arroyo.Kini perhatian mulai dipusatkan ke arah potensi kelautan Nusantara. Presiden Megawati Soekarnoputri mencanangkan Gerbang Mina Bahari, di Teluk Tomini, 11 Oktober 2003 lalu. Gerakan Nasional Pembangunan Kelautan dan Perikanan, ini diharapkan mampu mempersatukan seluruh komponen bangsa untuk mendayagunakan sumberdaya kelautan dan perikanan bagi kemajuan, kemakmuran dan kemandirian bangsa ini.

Sehingga tak berlebihan bila hal ini disebut menjadi trade mark keberhasilan Kabinet Gotong Royong. Depatemen Kelautan dan Perikanan diharapkan sebagai armada pengendali, penggerak dan pelaksana utama. Departemen ini dinakhodai seorang yang berkompeten di bidangnya. Orang yang sepanjang hidup dan keahliannya menyatu dengan kelautan. Dia, Rokhmin Dahuri yang pantas digelari sebagai ‘pejuang kelautan dan perikanan’ yang profil dan pemikirannya kami tampilkan pada edisi ini. Jakarta, Desember 2003 *Redaksi Kapur Sirih, Majalah Tokoh Indonesia Edisi 07

Tokoh Terkait: Albert Hasibuan, Jaya Suprana, | Kategori: Opini | Tags: Kelautan, Kapur Sirih, Majalah Tokoh Indonesia, Maritim

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here