Indonesia dan Kemiskinan Dunia

 
0
38
Indonesia dan Kemiskinan Dunia
Ch. Robin Simanullang | Ensikonesia.com | bh

[OPINI] – Oleh Ch. Robin Simanullang | Kemiskinan dan kepincangan pendapatan sepanjang hari, dari abad ke abad, diperbincangkan dengan berbagai terminologi, tanpa akhir. Perbincangan mengenai hal ini terkadang menyesakkan dada, apalagi bila diiringi pengungkapan fakta, oleh para ahli atau pengamat, perihal adanya praktek sistem ekonomi penghisapan yang menggiring perkembangan dunia ketiga ke arah keadaan serba sengsara.

Perbincangan mengenai kemiskinan dan kepincangan pendapatan dunia mencapai tangga-tangga puncak tatkala Bank Dunia menerbitkan Laporan Perkembangan Dunia 1990, yang antara lain mengungkapkan bahwa sekira 1,1 milyar penduduk dunia ketiga masih hidup di bawah garis kemiskinan. Laporan itu menyesakkan dada, karena disebutkan di belahan bumi Sub-Sahara Afrika malah jumlah penduduk miskinnya akan makin bertambah. Sehingga Afrika diperkirakan akan melipatduakan kontribusinya terhadap total penduduk miskin dunia dari 16 persen tahun 1985 menjadi 32 persen tahun 2000. Jadi diperkirakan, Afrika akan berjalan dengan perkembangan menuju keadaan serba sengsara. Bila ini sungguh-sungguh terjadi, bolehlah ini bahan kajian atas kesempurnaan sistem ekonomi penghisapan yang dipraktekkan dunia kesatu.

Laporan Bank Dunia itu menyebut bahwa kemiskinan itu terkonsentrasi di beberapa kawasan. Paling parah di Asia Selatan dan Sub-Sahara Afrika, yang mana 50  persen penduduknya dibelenggu kemiskinan. Namun, Asia Selatan pada tahun 2000 diperkirakan akan mampu mengurangi sekira 150 juta penduduk miskinnya. Serta Asia Timur, malah akan mampu “menghapuskan” kemiskinan dengan akan mengurangi 200 juta penduduk miskinnya.

Jadi, kita berkesimpulan bahwa setiap negara harus lebih dulu berusaha memerangi kemiskinan rakyatnya sendiri. Tanpa prinsip demikian, uluran tangan dunia kesatu justru akan menyempurnakan sistem ekonomi penghisapan yang cenderung mereka praktekkan. Sementara, dunia kesatu kiranya jangan malah mempersempit peluang dunia ketiga dalam usahanya mengejar pertumbuhan ekonominya yang sekaligus memerangi kemiskinannya. Kebijaksanaan proteksionistis dan strategi pemberian bantuan kiranya perlu dikoreksi ulang.

Sementara, Indonesia menurut laporan Bank Dunia itu, dalam periode 1970-1987 berhasil menurunkan jumlah dan persentase penduduk miskin, yakni 67,9 juta atau 58 persen menjadi 30 juta (padahal jumlah penduduk makin besar) atau 17 persen. Sehingga Pejabat Direktur Perwakilan Bank Dunia di Indonesia, Ali A. Sabeti, menyebut kemajuan yang dicapai Indonesia ini suatu prestasi yang luar biasa. “This is a remarkable achievement”, kata Ali A Sabeti. Walaupun dalam laporan itu disebutkan juga bahwa GNP perkapita Indonesia menurun dari US $ 560 tahun 1983 (ketika itu Indonesia sudah tergolong lower middle income group) menjadi US $ 440 pada tahun 1988 (yang menempatkan Indonesia kembali kepada kelompok negara berpendapatan rendah). Perihal penurunan pendapatan perkapita ini, sebaiknya kita memerlukan kajian yang lebih mendalam.

Kalau pun GNP perkapita Indonesia menurun dalam periode 1983-1988, namun kenyataan penurunan jumlah dan persentase penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan adalah justru sudah merupakan kemajuan luar biasa yang sekaligus menunjukkan bahwa kesenjangan pendapatan berarti sudah semakin menyempit. Walaupun masalah kesenjangan sosial itu sampai saat ini masih merupakan masalah yang rumit.

Suatu hal yang ingin kita kedepankan dalam kesempatan ini adalah apa dan bagaimana strategi yang sebaiknya ditempuh untuk mempercepat proses “penghapusan” kemiskinan dan mempersempit kesenjangan itu Bank Dunia menawarkan “kuncinya” yakni pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi ini disebut sebagai dasar untuk meningkatkan pendapatan dan investasi pada manusia sehingga memungkinkan mereka yang miskin untuk mengambil manfaat dari income-earning opportunities, yang muncul sebagai konsekuensi pertumbuhan ekonomi.

Kunci yang ditawarkan Bank Dunia, sebenarnya sudah sejak lama diperdebatkan bahkan ditentang banyak ahli. Bahkan ada yang menyebut bahwa pembangunan yang berorientasi mengejar pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu dosa dari para perencana dan pelaksana pembangunan. Namun, Bank Dunia, dalam hal menyebut kunci pertumbuhan ekonomi itu bahwa mereka yang miskin umumnya hanya mengandalkan tenaganya untuk memperoleh penghasilan. Maka sehubungan dengan itu perlu dilaksanakan dua macam strategi. Yakni, (pertama) menciptakan peluang bagi mereka untuk memperoleh penghasilan yang lebih baik, dan (kedua) meningkatkan kapasitas mereka untuk memberikan respon terhadap peluang tadi.

Jadi strategi yang ditawarkan ini adalah pertumbuhan ekonomi yang terpadu dengan upaya langsung memerangi kemiskinan. Yakni dengan harus memberi peluang bagi mereka yang miskin untuk berpartisipasi dan mengambil mafaat dari pertumbuhan ekonomi itu. Sementara dengan terbukanya peluang berpartisipasi dan mengambil manfaat dari pertumbuhan itu, mereka juga sudah memberi kontribusi untuk medorong pertumbuhan ekonomi itu sendiri.

Indonesia pada hakekatnya telah menerapkan strategi ini dengan strategi trilogi pembangunannya. Yang dalam memacu pertumbuhan ekonomi juga sekaligus secara terpadu melaksanakan strategi pemerataan kesempatan kerja dan pendapatan, bersama upaya memelihara stabilitas nasional. Bank Dunia juga menjadikan Indonesia sebagai contoh yang baik dalam strategi mendorong pertumbuhan ekonomi atas dasar yang lebih luas (broad-based). Walaupun Indonesia sendiri sebenarnya masih berhadapan dengan berbagai tantangan dalam gerak kemajuan untuk mencapai tujuan pembangunan nasionalnya.

Jadi, kita berkesimpulan bahwa setiap negara harus lebih dulu berusaha memerangi kemiskinan rakyatnya sendiri. Tanpa prinsip demikian, uluran tangan dunia kesatu justru akan menyempurnakan sistem ekonomi penghisapan yang cenderung mereka praktekkan. Sementara, dunia kesatu kiranya jangan malah mempersempit peluang dunia ketiga dalam usahanya mengejar pertumbuhan ekonominya yang sekaligus memerangi kemiskinannya. Kebijaksanaan proteksionistis dan strategi pemberian bantuan kiranya perlu dikoreksi ulang. Apakah Bank Dunia pernah menawarkan hal ini kepada dunia kesatu? Penulis: Ch. Robin Simanullang | ARSIP | Tajuk Rencana Harian SIB Medan, Kamis, 19 Juli 1990 |

© ENSIKONESIA – ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA

 

Tokoh Terkait: Ch. Robin Simanullang, Soeharto, | Kategori: Opini | Tags: indonesia, dunia, kemiskinan, Bank Dunia

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here