Pemimpin Neososialisme Global

 
0
43
Pemimpin Neososialisme Global
Victor Silaen | Ensikonesia.com | dokpri

[OPINI] – Oleh Dr. Victor Silaen, MA | Presiden Venezuela Hugo Rafael Chávez Frías meninggal pada 6 Maret lalu dan langsung dimakamkan dua hari sesudahnya. Jenazahnya dibalsem dan dibaringkan dalam peti kaca seperti Ho Chi Minh, Lenin dan Mao, agar “dapat dilihat untuk selamanya”. Demikian menurut pemimpin sementara Venezuela, Nicolas Maduro.

Selain tubuh dinginnya, nampaknya pemikiran Chavez yang inspiratif juga akan terus dikenang untuk selamanya. Di dunia internasional, Chavez merupakan salah satu pemimpin paling karismatik sekaligus kontroversial karena keberaniannya melawan Amerika Serikat (AS) sebagai pemimpin kapitalisme global.

Di bawah kepemimpinannya selama ini, perusahaan minyak nasional Venezuela, Petroleos de Venezuela SA (PDVSA), pernah memenangkan pengadilan internasional atas proyek-proyek minyak di negeri itu dengan perusahaan minyak multinasional milik AS, ExxonMobil. Pemerintah Venezuela berani membayar sebesar 255 juta dollar AS sebagai ganti rugi aset-aset ladang minyak yang dinasionalisasi. Sebelumnya beberapa ladang minyak di Venezuela memang dimiliki ExxonMobil, namun dengan keputusan pengadilan internasional itu, Venezuela seakan mendepak ExxonMobil dari negeri tersebut.

Chavez meninggalkan legenda tersendiri. Di Venezuela, Amerika Latin (AL), dan kawasan Karibia, Chavez dipandang sebagai pemimpin yang populis dan memanjakan rakyat dari hasil minyak untuk sandang-pangan dan papan. Selama 14 tahun memimpin Venezuela, Chavez berhasil mengentaskan kaum miskin di atas 75 persen dan membebaskan mereka dari buta huruf.

Masih banyak sisi positif Chavez yang bisa diungkap dan dijadikan rujukan bagi para pemimpin, tak terkecuali di Indonesia. Rasanya tak berlebihan jika mengatakan kita rindu sosok pemimpin seperti El Comandante (Sang Komandan) Hugo Chavez menjadi presiden di Indonesia tahun depan.

Menurut laporan Komisi PBB bagi Ekonomi Amerika Latin (CEPAL), Venezuela berhasil menurunkan 44 persen angka kemiskinan: 5 juta jiwa dari total penduduk tak lagi miskin. Dalam hal kesadaran berdemokrasi, partisipasi elektoral mencapai lebih dari 88 persen penduduk. Pada pemilu terakhir, 55 persen suara diberikan untuk Chávez.

Menyangkut anggaran dana sosial, negara-negara sosial demokrasi Eropa tak bisa menyaingi Venezuela, yang mengalokasikan 60 persen dari total produk domestik bruto. Sebanyak 14 juta penduduk mendapat subsidi pangan, dan tahun ini 61 persen penduduk membeli pangan di pusat-pusat perbelanjaan milik negara. Selama 2011, Chávez menyerahkan 146.022 rumah kepada penduduk paling miskin.

Chavez juga menarik perhatian dunia karena kebijakan luar negeri Venezuela telah membawa masalah keamanan di belahan dunia barat (western hemisphere) berhadapan dengan kebijakan luar negeri AS. Diplomasi Chavez yang menggunakan minyak sebagai kuasa lunak (soft power) memungkinkan negara lain ikut tidak tunduk kepada ideologi atau kekuatan militer AS. Sebagai alat kebijakan luar negeri, kuasa lunak memang efektif untuk mendapatkan sekutu sekaligus menyeimbangkan kekuatan yang mengerem nafsu AS untuk menguasai dunia.

Di dalam negeri, Chavez menjalankan reformasi agraria dalam Plan Zamora. Sementara tokoh pembangkang lainnya di kawasan AL, Presiden Bolivia Evo Morales, juga melaksanakan program perbaikan pertanian dan nasionalisasi perusahaan migas. Tak kalah pentingnya peran Presiden Brazil Lula Inacio da Silva (sejak 1 Januari 2011 digantikan oleh Dilma Rousseff, mantan pemimpin gerilya dan presiden perempuan pertama di Negeri Samba itu) yang memimpin Gerakan Petani Tanpa Tanah (Movimento dos Trabalhadores Rurais Sem Terra/MST) demi mewujudkan keadilan agraria.

Dari Paraguay, tahun 2008, terpilihnya Fernando Lugo seakan menambah kekuatan para pemimpin sosialis AL itu. Lugo, mantan pastor miskin penganut Teologi Pembebasan, pernah berpidato begini pertengahan Juli lalu: “Saya akan melanjutkan mimpi Amerika Latin yang lebih kuat, bersatu dan dihormati, tanpa batas.” Terkait itu seorang ahli AL, Alvaro Vargas Llosa, mengatakan: “Populisme sudah datang kembali di Amerika Latin. Kita mengira sudah menanggalkan populisme ini akhir tahun 80-an dan permulaan 90-an, namun ia datang kembali dengan kekuatan penuh. Dan populisme ini akan menjadi komponen utama dari bidang politik dan ekonomi Amerika Latin dalam beberapa tahun mendatang (VOA, 20/1/2006).

Inilah fenomena kebangkitan sosialisme di AL yang merupakan upaya “merevisi model kapitalisme yang buas”. Negara-negara di kawasan ini sedang berada dalam orkestra besar memainkan simfoni neososialisme global.

Tahun 2006, untuk memperingati tujuh tahun kedudukannya sebagai presiden, Chavez mengumumkan berlakunya kenaikan gaji atau upah minimum 15% sehingga menjadi 220 dollar AS per bulannya. Ini merupakan kenaikan yang cukup besar, mengingat gaji atau upah minimum di Venezuela pada 1999 adalah 183 dollar AS per bulannya, yang kemudian naik menjadi 188 dollar AS per bulan pada 2005.

Memang, taraf hidup sebagian besar rakyat Venezuela sejak dipimpin Chavez kian meningkat jika dibandingkan dengan kehidupan rakyat negara-negara AL lainnya. Satu hal yang menarik adalah kebijakan Chavez bagi kaum perempuan pada umumnya, dan kaum perempuan dari kalangan yang kurang mampu pada khususnya. Untuk ibu-ibu rumah tangga yang miskin, ditetapkan adanya gaji setiap bulan. Sebab, dalam konstitusi Venezuela diakui bahwa pekerjaan seorang perempuan dalam rumah tangga dan mengasuh anak-anak adalah pekerjaan yang mempunyai nilai ekonomi, dan karenanya harus mendapat gaji dan penghargaan dari negara. Untuk ibu-ibu yang demikian ini diberikan gaji 200 dollar AS per bulan. Ada 200.000 ibu rumahtangga yang menerima gaji sebesar itu per bulan, dan yang jumlahnya kian lama kian bertambah sampai 500.000-an orang.

Menurut data statistik, tahun 1998 sekitar 50% penduduk Venezuela hidup dalam keadaan yang sangat susah. Untuk menghapuskan kemiskinan itu telah dicanangkan program kemanusiaan di bawah bendera Misi Kristus (Misi Cristo), yang bertujuan menciptakan “zero kemiskinan” di tahun 2021. Demi meringankan penderitaan rakyat, pemerintah Venezuela juga memberikan makan gratis kepada 1.270.000 orang dua kali sehari. Ada sekitar 6.000 meal homes yang setiap harinya menyediakan makanan untuk 200 orang di setiap gedungnya, yang terdapat di seluruh negeri. Juga ada program sosial-ekonomi yang diberi nama “Mercal”, yang memungkinkan sebanyak 500.000 penduduk Venezuela membeli bahan makanan dan minuman dengan potongan harga 50% di 14.000 toko Mercal di seluruh negeri. Semua itu mendapat subsidi dari negara.

Tindakan yang luar biasa juga telah dilaksanakan di bidang kesehatan dan pendidikan, yang secara bertahap dimaksudkan untuk mencapai perubahan dalam politik, ekonomi, sosial dan kebudayaan di Venezuela. Ini semua dilakukan dalam rangka sosialisme Bolivarian, yang menjadi bidang perjuangan Chavez dan para pendukungnya. Dewasa ini revolusi sosialisme demokratik ala Chavez itu juga sedang berupaya mengubah kenyataan pahit berikut ini: 77% tanah pertanian di Venezuela dimiliki oleh 3% penduduk yang kebanyakan dibiarkan menjadi tanah kosong dan tak diolah, sedangkan banyak petani yang tak bertanah terpaksa hidup sengsara sejak ratusan tahun silam.

Tak pelak, Revolusi Bolivarian yang dilancarkan di Venezuela adalah prahara anti-imperialisme AS dan anti-neoliberalisme, yang gemuruhnya sudah berkumandang di seluruh kawasan AL dan mendapat simpati dari banyak kalangan di berbagai penjuru dunia. Bukan hanya dari negara-negara yang berdekatan seperti Kuba, Bolivia, Argentina, Brazilia, Cili, Ekuador dan Peru saja, tapi juga dari negara-negara yang jauh letaknya seperti Iran, Siria, India, Rusia, RRC, dan beberapa negara di Eropa.

Masih banyak sisi positif Chavez yang bisa diungkap dan dijadikan rujukan bagi para pemimpin, tak terkecuali di Indonesia. Rasanya tak berlebihan jika mengatakan kita rindu sosok pemimpin seperti El Comandante (Sang Komandan) Hugo Chavez menjadi presiden di Indonesia tahun depan. Opini TokohIndonesia.com

© ENSIKONESIA – ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA

Penulis: Dr. Victor Silaen, Doktor Ilmu Politik, Dosen FISIP Universitas Pelita Harapan dan Ketua Forum Penulis dan Wartawan Indonesia; Diterbitkan juga di Majalah Berita Indonesia (Berindo) Edisi 89 | Juli 2013 di bawah judul: Chavez Sang Pemimpin Neososialisme Global.

Tokoh Terkait: Victor Silaen, | Kategori: Opini | Tags: Pemimpin, nasionalisme, global, FPWI

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here