Puasa dan Kejujuran

 
0
70
Puasa dan Kejujuran
e-ti | repro

[OPINI] – Hadis Riwayat An Nasai, Baihaqi, Ibnu Huzaimah, dan Thabrani, dari Abi Ubaidah RA: “Saya mendengar Rasulullah bersabda, ‘Puasa adalah perisai selama yang bersangkutan tidak merusak.’ Lalu ada yang bertanya, ‘Dengan apa merusaknya?’ Jawab Rasulullah SAW, ‘Dengan berbohong atau bergunjing.'”

Jadi, kejujuran adalah salah satu tujuan dan kunci keberhasilan puasa kita. Kita pun menjalani puasa Ramadhan dengan penuh kejujuran. Tidak ada orang yang memulai harinya dengan makan sahur, lalu di luar rumah dia secara sembunyi-sembunyi makan atau minum. Tentu kejujuran itu dijaganya tidak hanya dalam makan dan minum, tetapi juga dalam hubungan fisik suami istri.

Mengapa kita bisa menjaga kejujuran dalam masalah dan minum serta hubungan suami istri itu yang sifatnya personal, tetapi tidak (kurang?) bisa menjaga kejujuran dalam masalah lain yang juga menyangkut (merugikan) kepentingan orang lain? Padahal, setelah Indonesia merdeka, kita telah mengalami lebih dari 60 kali berpuasa Ramadhan. Pertanyaan tersebut patut diajukan kalau kita melihat praktik penyelenggaraan negara dan kenyataan dalam kehidupan masyarakat kita yang tidak menunjukkan indikator kejujuran yang jelas dan nyata.

Ada yang salah?

Maka, kita perlu bertanya apakah ada yang salah dalam cara kita berpuasa? Di mana salahnya dan bagaimana memperbaikinya? Tentu amat sulit untuk menjawab pertanyaan itu. Salah satu caranya ialah belajar dengan sungguh-sungguh untuk menerapkan perilaku jujur di dalam kehidupan kita sehari-hari.

Kejujuran adalah dasar dari kehidupan keluarga, masyarakat, dan bangsa. Kejujuran adalah persyaratan utama pertumbuhan dan perkembangan masyarakat yang berlandaskan prinsip saling percaya, kasih sayang, dan tolong-menolong. Kejujuran adalah inti dari akhlak yang merupakan salah satu tujuan dari diutusnya Rasulullah oleh Allah SWT (Innama buitstu li’utammima makaarimal akhlaq).

Seorang ulama menyatakan bahwa hakikat kejujuran ialah mengatakan sesuatu dengan jujur di tempat (situasi) yang tidak ada sesuatu pun yang menjadi penyelamat kecuali kedustaan.

Kejujuran tidak akan datang begitu saja, tetapi harus diperjuangkan dengan sabar dan sungguh-sungguh. Seorang ulama menegaskan bahwa ada beberapa faktor yang dapat membantu kita dalam mencoba meraih kejujuran. Pertama, akal yang wajib memandang buruk kedustaan, apalagi jika kedustaan itu sama sekali tidak mendatangkan kemanfaatan dan tidak mencegah bahaya.

Kedua, agama dan syariat yang memerintahkan untuk mengikuti kebenaran dan kejujuran serta memperingatkan bahaya kedustaan.

Ketiga, kedewasaan diri kita yang menjadi salah satu faktor pencegah kedustaan dan kekuatan pendorong menuju kebenaran.

Keempat, memperoleh kepercayaan dan penghargaan masyarakat. Ada sebuah kata mutiara: “Jadikanlah kebenaran (al Haq) sebagai tempat kembalimu (rujukanmu), kejujuran sebagai tempat keberangkatanmu, sebab kebenaran adalah penolong paling kuat dan kejujuran adalah pendamping paling utama.”

Bukan puasa korupsi

Di sebuah koran saya baca pendapat B Aritonang (BPK) supaya kita puasa korupsi. Menurut saya, pendapat itu kurang tepat. Yang tepat ialah menghentikan korupsi dengan memakai puasa Ramadhan sebagai titik tolaknya. Kalau kita tidak juga mampu menjadikan puasa, yang sudah lebih dari 60 kali dijalani bangsa Indonesia, sebagai faktor pendorong untuk menanamkan kesungguhan meraih kejujuran, menurut saya kita tidak mampu menangkap makna dan esensi ibadah puasa. Kita hanya akan memperoleh lapar dan haus saja dari puasa kita, seperti sabda Rasulullah SAW di dalam sebuah hadis.

Kita juga perlu merenungkan teladan yang diberikan oleh Pak Waras yang mengembalikan uang Rp 429 juta kepada PT Lapindo Minarak karena itu bukan haknya. Dia hanya berhak menerima Rp 56 juta dan ternyata menerima Rp 485 juta. Sebagai penghargaan terhadap kejujurannya itu, Pak Waras menerima hadiah sebuah rumah lengkap dengan isinya. Sungguh suatu kontras dengan sikap sejumlah pamong desa yang konon memotong 20 persen dari dana uang muka (20 persen) uang ganti rugi yang diterima para korban, seperti yang diberitakan sejumlah media.

Kita hanya bisa mengatakan bahwa kita telah menang dalam menjalani ibadah puasa Ramadhan kalau kita mampu mengubah perilaku di dalam kehidupan keseharian kita selama sebelas bulan ke depan. Dari yang tidak jujur menjadi jujur, dari yang pemarah menjadi penyabar, dari yang serakah menjadi suka berbagi, dari yang sombong menjadi rendah hati.

Jadi, menilai kita menang atau tidak bukannya pada akhir Ramadhan 1428 H ini, tetapi menjelang Ramadhan 1429. Semoga kita mampu memanfaatkan Ramadhan 1428 H sebaik-baiknya.ti (Opini Kompas, 18 September 2007)

***TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Tokoh Terkait: Salahuddin Wahid, | Kategori: Opini | Tags: MPR, HAM, Komnas

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here