Perginya Legenda Ekonomi Pancasila

 
0
50
Perginya Legenda Ekonomi Pancasila
e-ti | pm

[OPINI] – JUDUL di atas sengaja saya pilih untuk mengiringi kepergian Profesor Mubyarto, seorang ekonom yang dalam seperempat abad terakhir gigih memperjuangkan gagasan yang ia sangat yakini, yaitu Ekonomi Pancasila. Pak Muby, demikian kami sehari-hari memanggilnya, telah pergi untuk selamanya pada Selasa, 24 Mei 2005, di usia menjelang 67 tahun.

Peristiwa ini juga menyisakan pertanyaan besar, apakah gagasan Ekonomi Pancasila juga akan berlalu seiring dengan kepergiannya? Akankah wafatnya Pak Muby akan diikuti dengan sirnanya perjuangan mewujudkan ide Ekonomi Pancasila.

Saya yakin tidak sedang sentimentil kalau berani menyebut bahwa bagi komunitas Kampus Bulaksumur (Universitas Gadjah Mada, UGM), Pak Muby boleh disebut sebagai legenda. Saya masih ingat, ketika dulu masuk ke Fakultas Ekonomi UGM sebagai mahasiswa tahun pertama 1981, kami memandangnya sebagai legenda hidup (living legend). Bagaimana tidak. Tahun 1980, Pak Muby bersama sejumlah koleganya-di antaranya mantan Menteri Keuangan Dr Boediono yang saat itu belum lama menyelesaikan Ph.D-nya dari sekolah bisnis terbaik di dunia Wharton School, University of Pennsylvania-sedang getol mengampanyekan gagasan Ekonomi Pancasila.

Media massa nasional pun, dengan gencar memberitakannya. Laporan utama majalah Tempo, misalnya, memuat Laporan Utama, lengkap dengan wawancara dan foto Pak Muby yang tengah berkaus singlet dan bersarung dalam gaya yang sangat natural, khas Yogya. Kontroversi dan liputan media-massa terhadap ide Ekonomi Pancasila, waktu itu benar-benar telah “membesarkan” sosok Pak Muby. Meski hanya liputan sebatas media cetak-karena waktu itu belum ada ingar-bingar televisi swasta-telah melambungkan Pak Muby sebagai sosok “selebriti” dari “kampus ndeso” Bulaksumur.

Dengan setting seperti itu, kami para muridnya pun terkagum-kagum terhadap sosoknya yang amat populer, yang waktu itu mengajar Pengantar Ekonomi Pancasila, dan kemudian juga matakuliah Ekonomi Indonesia. Karena itu, tidak heran kalau Pak Muby menjadi “selebriti”, dan sekaligus “legenda hidup”.

Kini, sang “legenda” itu telah tiada. Raganya yang ringkih tidak lagi sanggup berpacu dengan penyakit jantung yang diidapnya, sejak beliau pertama kali terkena serangan di Canberra, beberapa tahun silam.

Pertanyaannya sekarang, bagaimana kelanjutan gagasannya mengenai Ekonomi Pancasila? Meski almarhum selalu mengingatkan bahwa istilah Ekonomi Pancasila bukanlah diciptakan oleh dirinya, namun oleh Profesor Emil Salim pada tahun 1960-an, namun dalam perkembangannya, Ekonomi Pancasila lebih melekat dengan sosok Pak Muby. Hal ini terutama disebabkan oleh intensnya polemik tentang isu ini, setelah diseminarkan di Dies Natalis Fakultas Ekonomi UGM pada 19 September 1980. Pak Muby adalah Ekonomi Pancasila, dan Ekonomi Pancasila adalah Pak Muby!

EKONOMI Pancasila memang merupakan gagasan yang menimbulkan polemik, dan boleh dibilang kontroversial. Ide dasarnya adalah, upaya untuk menciptakan suatu kondisi agar para pelaku ekonomi di Indonesia mendasarkan perilaku ekonominya pada rangsangan moral. Kalau semua pelaku ekonomi sudah punya dasar moralitas yang kuat, perekonomian nasional pun akan bekerja melalui mekanisme yang sehat sehingga akan menghasilkan output yang baik.

Jika sudah semikian, maka ketakutan akan bahaya monopoli, ketamakan para kapitalis, hanya yang kuat yang akan bertahan (survival of the fittest), akan dapat dieliminasi. Pendek kata, kalau semua orang berperilaku “baik”, sebagaimana diamanatkan oleh Pancasila, maka perekonomian Indonesia pun akan bekerja secara baik.

Kondisi yang ideal ini memancing kritik. Tentu saja ini wajar. Kritiknya terutama pada, bagaimana semua hal ideal itu diwujudkan? Bagaimana membentuk manusia-manusia Indonesia menjadi Pancasilais sejati, sehingga bisa mengamalkan Ekonomi Pancasila? Apakah dengan penataran P4? Apakah ini tidak utopia? Lalu bagaimana?

Terhadap para pengkritiknya Pak Muby selalu berargumen, bahwa Ekonomi Pancasila memang hal yang tidak mudah untuk diwujudkan. Karena itu, kita perlu bekerja keras, komitmen tinggi bersama, dan harus ada kerja sama di antara berbagai disiplin ilmu sosial. Ilmu ekonomi yang sekarang ada, yang umumnya mengacu pada aliran Neo-Klasik, tidak akan sanggup untuk menyelesaikan sendirian berbagai problem ekonomi yang kian complicated.

Masalah perekonomian sudah berkembang sedemikian kompleksnya sehingga diperlukan bantuan dari disiplin ilmu lain untuk menguraikannya. Misalnya, perilaku korupsi dan perburuan rente ekonomi (rent- seeking behavior), hanya bisa diatasi melalui pendekatan sosiologis, psikologis, maupun antropologis. Isu ini tidak bisa cuma diiris dengan pisau analisis ekonomi semata. Ekonom bakal frustrasi dan tidak sanggup mengatasinya jika cuma mengandalkan Ilmu Ekonomi saja.

Pak Muby adalah sosok yang sederhana dan rendah hati. Sebagai ekonom, beliau terang-terangan mengaku bahwa Ilmu Ekonomi tidak mampu secara sendirian mengatasi problem- problem ekonomi. Dirinya dengan jujur mengatakan perlu minta bantuan disiplin ilmu lain. Hal ini tercermin dari tulisan-tulisan dan diskusi-diskusinya yang selalu mengajak disiplin dan ilmuwan sosial lain.

Kini, masa depan ide Ekonomi Pancasila akan menjadi tanda tanya besar pasca- Mubyarto. Fakultas Ekonomi UGM dan Pusat Studi Ekonomi Pancasila (Pustep) UGM, hendaknya tertantang untuk melanjutkan gagasan beliau. Sejumlah muridnya yang lama berguru kepadanya, mulai dari Profesor Gunawan Sumodiningrat hingga ekonom-ekonom yang lebih muda seperti Revrisond Baswir dan Anggito Abimanyu, diyakini akan menjadi kader-kader penerusnya.

PAK Muby memang telah tiada. Namun gagasan Ekonomi Pancasila akan senantiasa diperlukan, dan praktis menjadi evergreen, terlebih saat kita menyaksikan dan mengalaminya sendiri carut marut krisis ekonomi yang maha dahsyat sejak akhir 1997, yang hingga kini pun masih menyisakan bekas- bekasnya yang menyakitkan.

Selamat jalan, Pak Muby. Terima kasih atas semua jerih payahmu mengisi kantung pemikiran perekonomian Indonesia selama ini. Legenda di Fakultas Ekonomi UGM itu boleh pergi, namun gagasannya tidak boleh mati. Semoga engkau berbahagia memulai kehidupan barumu di sana. Teriring salam dan doa dari kami semua.e-ti/A Tony Prasetiantono Pengajar Fakultas Ekonomi UGM, dan Mantan Asisten Profesor Mubyarto (Kompas, 25 Mei 2005)

***TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Tokoh Terkait: Mubyarto, | Kategori: Opini | Tags: Pancasila, ekonomi

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here