Vaksin Rohani

Transformasi diri menghadapi ancaman kematian

 
0
38

Dalam tugas, seruan dan panggilan vaksinasi rohanilah gereja hadir dalam realitas adanya pandemi kehidupan. Gereja pada realitas berpijaknya, harus terus melakukan penelitian terhadap virus yang mengancam kehidupan manusia, dan harus mampu ‘menguasai virus dan menciptakan serum’ untuk kemudian disuntikkan melalui khotbah, pengajaran, pendampingan pastoral, sehingga jemaat tidak putus asa, tetapi mentransformasi diri sehingga menang menghadapi ancaman bayang-bayang wabah kematian.

Oleh Pdt Estomihi Hutagalung, MTh

Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan….. (Roma 5: 8-9)

Fajar harapan menyingsing sejak awal tahun 2021 seiring hadirnya vaksin Covid-19. Harapan itu diserukan oleh Presiden Joko Widodo, sebagai suatu tanda yang sangat kuat bahwa “wabah badai akan berlalu”. Sebagaimana program pemerintah, bahwa vaksinasi akan berlangsung selama satu tahun sejak Januari 2021. Sebuah tindakan medis yang menyuntikkan virus, bakteri yang sudah dilemahkan ke dalam tubuh manusia. Dengan vaksinasi ini, akan merangsang dan menimbulkan reaksi imunitas, daya tahan sistim kekebalan tubuh terhadap virus Covid-19 atau sejenisnya.

Sebagai musuh terbesar kedua setelah kelaparan dan perang menurut Noah Harari melalui bukunya Homo Deus, pandemi Covid-19 telah menghancurkan aspek-aspek fundamental kehidupan termasuk mengancam kehidupan rohani. Walaupun korban pandemi Covid-19 tidak sebanyak korban virus Black Death tahun 1330 atau Flu Spanyol tahun 1520 yang melenyapkan antara 14 juta sampai 75 juta nyawa manusia, tetapi wabah ini telah berdampak pada perubahan besar dimensi fundamental peradaban. Dan pada faktanya, pandemi ini dimaknai oleh banyak orang pada perspektif putus asa sebagai tanda lemahnya daya tahan, imunitas rohani.

Maka, hadirnya vaksin ini, menjadi sebuah jawaban terhadap pergulatan hidup oleh hampir semua umat manusia akibat pandemi Covid-19. Membangkitkan gairah hidup yang telah diancam rasa putus asa. Menggelorakan harapan dalam pergulatan bayang-bayang maut setelah kurang lebih satu tahun kegiatan hidup ditandai seruan bekerja, belajar, beribadah dari rumah, pakai masker, cuci tangan, sosial distance. Itu berarti, bergeloranya antusias masyarakat menyambut vaksin ini dapat dimaknai sebagai sebuah tanda bahwa pergulatan hidup harus terus diperjuangkan.

Di sisi lain, antusias menyambut vaksin dimaksud merupakan penanda yang bermakna psikobiologis bahwa sesungguhnya manusia ingin menaklukkan rasa takut terhadap ancaman kematian demi ketahanan tubuh untuk “teori Darwinisme” bertahan hidup. Dan itu berarti, gelora antusias demikian juga menjadi tanda harapan bahwa manusia dapat bangkit dari “pandemi” bayang-bayang kematian oleh kekuatan iman dalam memaknai hidup yang dianugerahi oleh Tuhan. Sebuah kesadaran iman bahwa manusia sebagai ciptaan Tuhan tidak boleh menyerah terhadap pandemi kehidupan atau wabah apapun.

Sebuah kesadaran orang beriman dalam realitas berpijaknya yang ditandai pergumulan tiada akhir. Sebab sesungguhnya hidup di dunia adalah penanda bahwa tidak ada kehidupan yang tidak ditandai dengan pergumulan atau penderitaan. Walaupun di era modern kaum rasionalisme merasa bahwa kehidupan telah dimenangkan tetapi pada faktanya hidup semakin banyak mengalami “wabah”. Walaupun orang-orang modern dengan kecanggihan teknologi di era Revolusi Industri 4.0 merasa telah mampu menaklukkan kesulitan hidup, pada kenyataannya manusia tidak mampu mengatasi dampak negatif “ciptaan” teknologinya.

Misalnya, sejak deklarasi cacar oleh organisasi kesehatan dunia, World Health Organization tahun 1979, maka selama berpuluh tahun dunia tidak lagi mengalami ketakutan terhadap epidemi virus. Sejak deklarasi kemenangan hidup oleh para pakar kedokteran tersebut, dunia merasa kehidupan sudah ditaklukkan dengan kekuatan dan kemandirian manusia. Dengan kemajuan teknologi, kehidupan dianggap tidak lagi membutuhkan Tuhan dan merasa tidak perlu percaya ada Tuhan. Tetapi pandemi Covid-19 telah merubuhkan agungnya keyakinan modernitas demikian. Pandemi dan persoalan hidup sebagai dampak negatif kemajuan teknologi telah mendorong peradaban pada tepian jurang putus asa.

Maka pada perspektif demikianlah kita mesti menyadari bahwa vaksinasi Covid-19 bukan menjadi tanda berakhirnya segala pergumulan; bukan menjadi sebuah kepastian bahwa persoalan hidup sudah selesai. Kita mestilah menyadari bahwa kehidupan selanjutnya, selalu ditandai wabah kehidupan dalam bentuk, wajah dan pola epidemic yang mungkin berbeda tetapi tetap mengancam kehidupan itu sendiri.

Advertisement

Pemahaman atas realitas fakta hidup demikian, mestilah disadari pada apa arti hidup dan mengapa kita berada dalam kehidupan. Kesadaran religiositas demikian akan mentransformasi pemaknaan hidup orang beriman dalam realitas berpijaknya. Sehingga, walaupun pada faktanya kehidupan ditandai dengan pergumulan yang tiada bertepi, realitas demikian tidak dimaknai orang beriman sebagai hukuman dan kutukan tetapi sebagai suatu kehidupan yang dianugerahi oleh Tuhan Allah.

Jika demikian halnya, maka sesungguhnya kebutuhan fundamental hidup manusia bukan soal apa yang mengancam tubuh, apa yang membuat manusia mengalami kematian kekal. Kebutuhan hidup sesungguhnya adalah vaksin rohani yaitu hadirnya Allah yang menganugerahi iman percaya kepada Yesus Kristus melalui Roh Kudus. Kesadaran iman demikian, merupakan vaksinasi rohani, menyuntikkan keyakinan akan hadirnya Yesus Kristus yang menjadi manusia, menderita dalam kematian salib tetapi kebangkitan-Nya mengalahkan kuasa pandemi kejahatan dan kematian.

Vaksinasi rohani dengan mengimani darah Kristus yang tercurah masuk ke dalam diri setiap orang beriman, akan memberi daya tahan, imunitas, kekebalan tubuh untuk menghadapi wabah apapun dalam kehidupannya. Kehadiran Kristus dalam diri orang beriman akan memberi kepastian bahwa dirinya dijamin bahwa hidupnya berada dalam kehidupan kekal. Dan dengan penerimaan, mengimani Kristus sebagai Juruselamat memberi semangat, merangsang potensi diri untuk mengembangkan daya imunitas, kreatifitas, sehingga bekerja aktif mentransformasi dirinya melampaui penderitaan.

Maka, seruan dan panggilan untuk tugas vaksinasi rohani itulah gereja hadir dalam realitas adanya pandemi kehidupan. Dan pada saat yang bersamaan, gereja pada realitas berpijaknya, harus terus melakukan penelitian terhadap virus yang mengancam kehidupan jemaat. Dan, gereja harus mampu menguasai virus dan menciptakan serum untuk kemudian disuntikkan melalui khotbah, pengajaran, pendampingan pastoral sehingga jemaat tidak putus asa, tetapi mentransformasi diri sehingga menang menghadapi ancaman bayang-bayang wabah kematian. Selamat menuju Orde Hidup Baru.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here