Atasi Krisis dengan Solidaritas

 
0
48
Atasi Krisis dengan Solidaritas
Panji Gumilang

[WAWANCARA] – IDUL ADHA 1429 H: Syaykh al-Zaytun AS Panji Gumilang mengajak segenap lapisan dan komponen bangsa untuk menggalang solidaritas mengatasi krisis ekonomi global saat ini. Menurutnya, untuk mengatasi tantangan ini umat manusia mesti kembali kepada hakekat kehidupannya yakni saling bergandeng tangan menggalang solidaritas, yang kuat menolong yang lemah.

Hal itu ditegaskan Syaykh al-Zaytun AS Panji Gumilang dalam percakapan dengan wartawan Tokoh Indonesia dan Berita Indonesia seusai sholat Idul Adha 1429 H (8 Desember 2008 M) di Kampus Al-Zaytun, Gantar, Indramayu, Jawa Barat. Syaykh AS Panji Gumilang menegaskan hal itu sehubungan dengan tajuk Khutbah Idul Kurban 1429 H yang disampaikannya: Menggalang Solidaritas Sesama Bangsa.

Dalam khutbahnya, Syaykh al-Zaytun mengatakan Idul Kurban tahun 1429/2008 ini, dunia ditandai dengan terjadinya suatu kesulitan besar dalam menata perikehidupan umat manusia penghuni bumi ini. Bumi yang dihuni berbagai bangsa yang tersebar dalam berbagai negara, secara serentak merasakan kesulitan tersebut, semua menyatakan bahwa negara-negara yang ada masuk dalam krisis yang menakutkan.

“Ternyata kesusahan, kesulitan, maupun krisis ini terjadi justru pada saat zaman semakin modern, sains teknologi semakin tinggi; dimana krisis yang dihadapi umat manusia ini bukan semakin tertanggulangi, namun justru semakin meluas dan mendalam,” kata Panji Gumilang.

Ia mengemukakan, di dalam situasi krisis dan tantangan yang semakin menghimpit inilah umat manusia selalu diingatkan agar tidak kehilangan semangat dan harapan, dan agar selamat, umat manusia mesti kembali kepada hakekat kehidupannya yakni saling bergandeng tangan menggalang solidaritas, yang kuat menolong yang lemah.

Menurutnya, adalah suatu kebutuhan apabila manusia memandang kemasa depannya (itulah harapan). “Harapan akan memperoleh sesuatu itulah yang membuat pekerjaan terasa manis. Dimana ada keyakinan dan keimanan kepada Allah Tuhan Yang Maha Esa, yang hidup, yang berprakarsa, bertindak dan bercampur tangan dalam hidup manusia, serta percaya bahwa Ia akan menepati janji-janjiNya, disitu harapan dalam pengertian orang yang beriman menjadi mungkin. Orang beriman yakin, bahwa hal-hal yang ia harapkan akan menjadi kenyataan dan harapannya tidak akan mengecewakannya,” katanya.

Ayaykh al-Zaytun mengemukakan, dalam konteks sebagai bangsa Indonesia, dimana himpitan krisis berskala nasional yang kita alami sejak 10 tahun lalu, belumpun dapat dipulihkan secara menyeluruh, kini krisis global sedang menghadang kembali.

Dalam menanggulangi krisis yang terjadi silih berganti yang belum tertanggulangi secara tuntas ini, sebagai bangsa, kata Syaykh al-Zaytun, kita harus berani mengadakan evaluasi. “Apa gerangan yang kita harus tata ulang?” ujar Syaykh al-Zaytun dalam nada tanya.

Menurutnya, sebagai bangsa, dalam bernegara, sesungguhnya kita telah memiliki landasan dasar yang kokoh yang mumpuni, sebagai landasan strategi budaya, strategi mengelola cara berpikir, bertindak, bereaksi lokal, nasional, maupun global.

Mungkin, katanya, yang harus ditata ulang adalah ketaatan dan keberpihakan serta kesetiaan bangsa terhadap asas dan dasar negara yang telah disepakati bersama. “Mungkin sebagai bangsa, belum sepenuhnya konsen, untuk meletakkan dasar-dasar negara ini sebagai suatu sistem yang utuh, sehingga tindakan yang dilakukan, orientasinya selalu belum, bahkan tidak berpihak kepada dasar-dasar yang telah disepakati,” keluhnya.

Bahwa terjadinya perubahan politik (reformasi) yang dibarengi oleh terjadinya krisis ekonomi jilid I di negara kita, yang telah berjalan 10 tahun, kata Syaykh al-Zaytun, kita selalu saja menyaksikan sajian tindakan-tindakan yang selalu antagonistis terhadap dasar-dasar negara yang telah disepakati.

Sebagai negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa dan negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut kepercayaannya. Menurutnya, aminan yang diberikan oleh dasar dan Undang-Undang Dasar Negara Indonesia ini sungguh sangat mendasar dan menyeluruh bagi bangsanya, tidak terkecuali. Namun, keluh Panji Gumilang, dalam praktek kehidupan nyata selama 10 tahun berjalan ini, justru semakin bebas kita menyaksikan kemunafikan sikap sebagian rakyat bangsa Indonesia. “Praktek-praktek kebrutalan atas nama agama, kejahatan kemanusiaan atas nama agama dilakukan dengan enteng tanpa beban, bahkan mereka berkeyakinan bahwa tindakan-tindakan mereka itu mendapat ridlo Tuhan,” uangkap Syaykh al-Zaytun.

Lebih lanjut Syaykh al-Zaytun mengatakan, sebagai negara yang berdasar atas kemanusiaan yang adil dan beradab, yang telah dijabarkan oleh UUD negara dalam bab hak azasi manusia, yang secara panjang lebar diurai dalam berbagai pasal dan ayat-ayatnya, bahkan dipertegas lagi dalam petunjuk detail berupa UU tentang hak azasi manusia. Semuanya itu agar dapat melindungi manusia/kemanusiaan serta mengajak dan mendorong bangsa Indonesia agar dapat memiliki budaya saling mengorangkan orang.

Menurutnya, dalam konteks budaya saling mengorangkan orang ini, kita bangsa Indonesia masih perlu terus memupuk dan meningkatkan kemampuan.

Syaykh al-Zaytun mengingatkan, seluruh dasar negara Indonesia yang kita simpulkan sebagai ajaran Illahi dan merupakan ideologi modern ini, akan menjadi tidak bermakna, jika tidak menjadi pola pikir, sistem berpikir dan bertindak bagi bangsa Indonesia dalam menghadapi berbagai masalah hidup dan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sehubungan tajuk utama pesan Idul Kurban yang disampaikannya tahun ini “menggalang solidaritas sesama bangsa”, Syaykh al-Zaytun mengajak, mari kita yakini bahwa kita bangsa Indonesia ini adalah bangsa yang majemuk, majemuk dalam kesukuan, keagamaan, ras , dan golongan, namun menyatu dalam kebangsaan, yakni Indonesia. “Tidak ada yang lebih tinggi derajatnya kecuali yang hidupnya dapat lebih bermanfaat dan menyebarkan manfaat bagi kemaslahatan hidup bangsanya dan manusia pada umumnya,” tegasnya.

Ia menegaskan, tatkala bangsa ini dapat menyingkirkan/mengendalikan keangkuhannya dan rasa superioritas kesukuan, keagamaan, ras, dan golongannya, maka akan terkikis rasa saling curiga, saling merasa benar sendiri, angkuh, yang pada gilirannya akan tumbuh rasa saling toleransi dan terbukalah semangat dan harapan untuk menata masa depan bersama yang cerah.

“Solidaritas yang kita maksudkan adalah, sifat satu rasa, senasib, setia kawan, dll. Sifat solider semacam ini baru akan timbul jika kita telah menyatu dalam pola pikir dan sistem berpikir bersumber dari dasar yang sama, yakni nilai-nilai dasar negara Indonesia yang telah disepakati,” kata Panji Gumilang.

Indonesia Kuat Syaykh al-Zaytun berkeyakinan engan didukung oleh potensi-potensi yang dimilki oleh warga bangsa dan didukung oleh rasa solidaritas yang tinggi dalam menghadapi berbagai tantangan, harapan kita untuk masuk ke dalam masa depan yang cerah dalam wujud Indonesia Kuat, menjadi sangat mungkin untuk wujud.

Menurutnya, harapan memasuki masa depan bersama yang cerah dalam bentuk Indonesia menjadi Kuat merupakan pengharapan akan kemuliaan masa depan dan keselamatan nya. Syaykh al-Zaytun menyebut harapan akan keselamatan ini adalah sebuah “topi baja” suatu bagian yang paling penting dari pakaian besi untuk perang melawan kejahatan kemanusiaan.

Ia menjelaskan bahwa harapan yang kita maksud, tidak seperti layang-layang, yang tergantung kepada angin yang berubah-ubah, melainkan seperti “sauh jiwa yang tetap mantap dan tidak berubah”, menembus jauh kedalam alam abadi yang tidak nampak. “Ini maknanya kita harus membuang jauh-jauh rasa cemas menyongsong hari esok, sebab hari esok ada dalam genggaman Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,” seru Syaykh al-Zaytun.

Menurutnya, dengan bermodalkan solidaritas sesama bangsa dan sikap toleransi yang tinggi antara sesama warga bangsa, dan dengan Kekuatan Besar serta kasih sayangNya, akan memampukan kita berbuat hal-hal yang besar, bahkan melebihi apa yang telah kita perbuat selama ini, untuk mengatasi kesulitan, tantangan dan krisis yang menghimpit secara nasional maupun global. Dan kita diberi kemampuan melihat masa depan, ke suatu masa dimana kita akan terus mengambil bahagian untuk kestabilan dan ketertiban dunia.

Syaykh al-Zaytun yakin, karena bangsa Indonesia secara demokratis telah membentuk suatu pemerintahan negara Indonesia, untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa. Kiranya pemerintah dengan bergandengan tangan bersama segenap lapisan rakyat Indonesia yang berjumlah lebih dari 230 juta orang, dan dengan solidaritas yang tinggi, dapat menanggulangi tantangan besar yang dihadapi.

“Pemerintah bersama rakyat Indonesia dalam menata perekonomian nasional dan mewujudkan suatu keadilan sosial semestinya selalu konsisten/istikomah terhadap konstitusi, berpihak pada sebesar-besar kemakmuran rakyat dan berprinsip kebersamaan. Kemampuan pemerintah dalam mengemban tugas negara berdasar konstitusi selalu diuji dan dinilai oleh rakyat. Keberhasilan ataupun sebaliknya, rakyat pula yang akan memberi penilaian, melalui sistem demokrasi,” ujar Panji Gumilang.

Syaykh al-Zaytun juga mengajak segenap komponen bangsa menyukseskan Pemilu 2009. “Pada tahun 2009 yang akan datang ini bangsa Indonesia kembali akan mengadakan pemilihan umum, sebagai penilaian terhadap kerja dan kinerja pemerintah selama periode pemerintahannya, dan untuk memberi mandat baru bagi pemerintah berikutnya.
Kita berharap pilihan rakyat akan membawa hasil, dengan tampilnya pemimpin pemerintahan yang berkemampuan menanggulangi berbagai problem yang dihadapi oleh bangsa dan negara Indonesia, dan untuk itu mari kita sukseskan pelaksanaannya,” demikian Syaykh al-Zaytun.

Tokoh Terkait: AS Panji Gumilang, | Kategori: Wawancara | Tags: panji gumilang, al-zaytun, opini

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here