Enerji Alternatif dan Pakan Ternak

 
0
46
Enerji Alternatif dan Pakan Ternak
Rauf Purnama

[WAWANCARA] – Jakarta, 18/04/2003: Sebagai seorang pemikir dan pelaku industri, Rauf Purnama tak pernah berhenti berpikir untuk bisa melahirkan sesuatu demi masa depan bangsanya. Ia ingin mewujudkan obsesinya untuk membangun pabrik enerji (bahan bakar) alternatif terpadu dengan penyediaan bahan baku pabrik pakan ternak. Obsesi ini bergelora dalam pikirannya setelah melihat permasalahan enerji non-renewable (tidak dapat diperbaharui) yang pada suatu saat pasti habis, serta permasalahan pakan ternak yang masih belum swasembada.

Lalu ia pun mengimpikan adanya pabrik terpadu enerji alternatif dan penyediaan bahan pakan ternak. Insinyur kimia alumni Intitut Teknologi Bandung (ITB) ini berpendapat, demi masa depan, Indonesia perlu memprioritaskan pemba-ngunan pabrik enerji alternatif ini. Enerji alternatif dimaksud adalah sejenis etanol yang mengandung oktan lebih tinggi dari bensin. Enerji ini juga tidak mencemari ling-kungan dan renewable (dapat diperbaharui). Tidak seperti enerji fosil (bensin atau minyak bumi) yang non-renewable.

Bahan baku etanol, sebagai enerji alternatif, antara lain jagung, ketela pohon, ubi jalar bahkan tebu. Sehingga ia berpikir, sebaiknya pembangunan enerji alternatif ini terpadu dengan penyediaan bahan baku pa-brik pakan ternak. Sebab pabrik enerji alter-natif mempunyai produk sampingan pakan ternak yang kaya protein. Jadi bak kata peribahasa, ‘sekali mendayung dua pulau terlampaui’. Dengan demikian pabrik ini akan efektif dan sangat feasible.

Pabrik terpadu ini akan memberi berbagai manfaat terhadap perekonomian nasional. Selain akan mengurangi ketergantungan kepada impor bensin sekaligus mencapai sasembada pakan ternak yang akan menghemat devisa, juga membuka lapangan kerja (langsung dan tidak angsung). Selain itu, juga akan dapat meningkatkan pendapatan petani dengan lebih terjaminnya pemasaran pascapanen. Dan yang lebih penting lagi, adanya alternatif enerji yang ramah lingkungan dan dapat diperbarui (renewable) mengantisipasi suatu saat habisnya enerji fosil yang non-renewable itu.

Ia memperkirakan investasi untuk mem-bangun enerji alternatif etanol berkapasitas produksi 200,000 kl/tahun kurang-lebih US$ 80 juta. Pabrik ini membutuhkan jagung se-kitar 600.000 MT per tahun (untuk 1 kl etanol dibutuhkan 3 mt jagung). Demi lebih menjamin penyediaan bahan baku, menu-rutnya, perlu dilakukan intensifikasi dan ekstensifikasi budidaya jagung. Diperkirakan, dengan produktivitas jagung sekitar 5 mt/ha saja, dengan dua kali musim panen per tahun, diperlukan lahan tanam seluas 60.000 ha untuk memenuhi kebutuhan 600.000 mt jagung per tahun.

Sementara, luas tanam jagung di Indone-sia hingga tahun 2000 ada sekitar 3,46 juta ha dan diperkirakan akan mencapai 4,34 juta ha tahun 2003 ini. Produktivitasnya juga sudah semakin tinggi dengan adanya varietas unggul (jagung hibrida) yang menca-pai 8 – 9,3 mt/ha. Diperkirakan, produksi jagung lokal saat ini sebesar 11 juta ton per tahun. Artinya, pengadaan bahan baku akan mudah dilakukan. Walaupun memang sam-pai saat ini kebutuhan jagung dalam negeri seperti masih sering kurang dan terpaksa mengimpor untuk kebutuhan pabrik pakan ternak. Padahal, menurut Rauf, sesungguhnya, jika pengelolaan tanam dan pascapanennya lebih baik, kebutuhan jagung dalam negeri tidak harus kurang.

Permasalahannya adalah produksi jagung berlebih pada musim panen. Maka, menurutnya, masalah pascapanen perlu penanganan lebih serius. Sebab pada saat panen raya, suplai melimpah menyebabkan harga jagung dalam negeri jatuh dan mendorong pedagang mengekspor. Sebaliknya pada saat paceklik, harga jagung lokal naik dan mendorong pedagang mengimpor. Sehingga harga jagung menjadi sangat fluktuatif.

Hal ini disebabkan daya simpan yang masih rendah, sehubungan masih sedikitnya tersedia silo penyimpanan dan pengeringan jagung di sentra-sentra produksi jagung. Padahal penyimpanan sederhana yang terlalu lama di tingkat petani atau pengumpul akan meningkatkan kandungan aflatoksin pada jagung yang menurunkan kualitasnya.

Maka Rauf menyambut baik pernyataan Dirjen Bina Produksi Tanaman Pangan Deptan M. Jafar Hafsah, yang mengatakan pemerintah sedang memfasilitasi pengadaan silo-silo jagung di beberapa sentra produksi jagung khususnya di Jawa Barat. Ia yakin dengan tersedianya silo jagung yang cukup, akan lebih menjamin stabilnya harga dan lebih menggairahkan petani untuk bercocok tanam jagung. Sebab saat musim panen, petani tidak perlu menjual seluruh jagungnya, sehingga harga jagung tidak jatuh. Lalu, setelah musim panen, pasar tidak kekurangan dan harganya pun tetap stabil.

Apalagi jika proyek terpadu penanaman jagung untuk enerji dan pakan ternak dilakukan, maka fluktuasi harga tidak akan terjadi atau harga akan lebih stabil. Masalahnya, kapan proyek ini harus dimulai? Menurutnya, melihat negara-negara lain, seperti Amerika Serikat, China dan Thailand, sudah memulai proyek terpadu ini, maka In-donesia harus mulai sekarang. Kalau tidak, Indonesia bukan hanya akan mengimpor jagung , tapi juga bahan bakar. * crs

*** TokohIndonesia.com (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Tokoh Terkait: Rauf Purnama, | Kategori: Wawancara | Tags: energi alternatif

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here